Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7.
"Kamu punya ponsel, kan?" Bukannya menjawab pertanyaan Zeya, gadis itu justru balik bertanya.
Zeya mengangguk pelan, netranya menatap gadis di depannya yang tengah tersenyum tipis, tetapi terasa sangat menyebalkan baginya.
"Kalau begitu, cari saja sendiri. Beritanya sudah menyebar ke mana-mana." Usai berkata, gadis itu kemudian berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Zeya yang masih diliputi tanda tanya.
Ia hanya mampu menatap punggung gadis itu hingga menghilang di tikungan jalan. Hatinya mulai diliputi firasat buruk. Pikirannya kembali teringat pada kejadian yang menimpanya bersama Daniel sehari sebelumnya.
"Apa jangan-jangan... ada seseorang yang memang sengaja menjebak kami? Tapi... siapa? Dan kenapa?" batinnya.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Namun, ia sadar bahwa sekarang bukan waktunya untuk memikirkan semua itu. Rantang makanan di tangannya harus segera diantarkan sebelum para warga beristirahat.
Zeya pun mempercepat langkahnya menuju sawah bengkok milik Pak Kades. Tak lama kemudian, tampak olehnya dari kejauhan Daniel bersama Pak RT dan beberapa warga masih sibuk mencangkul lahan.
Setibanya di gubuk, Zeya segera meletakkan rantang, keranjang berisi gelas, serta termos air di atas bale-bale bambu.
"Daniel, Pak RT, semuanya!" panggilnya lantang sambil tersenyum. "Makan siangnya sudah siap!"
Mendengar suara Zeya, para warga menghentikan pekerjaan mereka.
"Alhamdulillah... akhirnya makanan datang juga," celetuk salah seorang warga sambil mengusap keringat di lehernya.
"Perut saya sudah protes dari tadi," timpal warga lainnya yang langsung mengundang gelak tawa.
Daniel ikut tersenyum. Dia meletakkan pacul, lalu berjalan menghampiri gubuk. Sejak tadi perutnya juga sudah keroncongan minta diisi. Selanjutnya mereka pun mengambil posisi duduk masing-masing.
Zeya mengambil satu bungkus nasi dan lauk lalu diberikannya pada Daniel.
"Makasih," ucap remaja itu seraya menerima bungkusan nasi dari istrinya.
"Wuiiihhh... romantisnya!" celetuk seorang pemuda yang duduk di seberang Daniel.
"Maaf ya, Nak Daniel dan Nak Zeya," ucap Pak RT. "Apakah sebelumnya kalian ini memang sepasang kekasih atau bukan?"
Ditanya seperti itu, Daniel dan Zeya pun saling berpandangan. "Bukan, Pak," jawab mereka serentak.
"Kami sudah berteman dari kecil, tapi saya memang menyukainya," jawab Daniel jujur, membuat pipi Zeya merona.
"Berarti teman tapi mesra, dong," seloroh pemuda tadi.
Tawa langsung menggema di gubuk tersebut, sambil menikmati makanan dengan lahap dalam suasana penuh kebersamaan.
....
Sementara itu, di kediaman keluarga Al Ghifari, tampak Mami Mia mondar-mandir sambil memegang ponselnya, menghubungi seseorang. Namun, hingga beberapa kali panggilan tetap tak terjawab. "Ke mana mereka? Kenapa nggak ada satu pun ponselnya yang aktif?"
Mami Mia lantas mengirim pesan kepada Daniel agar bisa dibaca setelah ponsel putranya itu aktif.
["Kakak, apa kalian baik-baik saja?"]
["Mami mohon jangan membuka media sosial atau laman berita di internet, oke!"]
Selesai mengirim pesan, Mami Mia bergegas pergi menemui Papi Baim di kantor Al Gha Corp. Setiba di sana, wanita itu bergegas menghampiri sekretaris suaminya.
"Mbak, tolong buatkan janji temu khusus dengan Pak Bastian, ya," perintahnya dengan sopan.
"Baik, Bu," sahut sang sekretaris patuh.
Setelahnya Mami Mia segera masuk ke ruangan suaminya. Ia langsung menjatuhkan bobot tubuhnya ke sofa panjang.
Papi Baim yang sedang memeriksa berkas di tangannya, seketika terkejut begitu melihat kedatangan istrinya. Pria bersahaja itu meletakkan kembali berkas di atas, kemudian berdiri dan menghampiri belahan jiwanya.
"Ada apa, Mi? Kenapa wajah Mami begitu serius seperti sedang memikirkan beban berat?" tanyanya seraya duduk di samping Mami Mia dan merangkul pundak istrinya.
Sebelum menjawab Mami Mia menghela napas panjang lalu mengembuskannya kasar. "Ada orang yang nggak bertanggungjawab mengunggah foto-foto pernikahan anak-anak di media sosial dan laman berita. Judulnya sengaja dipelintir untuk menjatuhkan mental mereka berdua," jawab Ayah Bastian.
"Apa!" seru Papi Baim kaget. "Siapa orang yang berani melakukan hal ini pada mereka?" tanyanya lagi.
"Entahlah... Tapi mami sudah meminta sekretaris Papi membuat janji temu dengan Pak Bastian untuk membahas masalah ini. Semoga dia nggak sibuk."
Tak lama kemudian orang yang baru saja mereka bicarakan pun datang. Dan langsung disambut dengan raut wajah serius oleh kedua besannya tersebut.
"Terima kasih sudah menyempatkan waktu datang kemari, Pak Bastian," ucap Mami Mia membuka pembicaraan. "Saya meminta Anda ke sini karena ada hal yang perlu kita bahas bersama."
"Apakah ini, mengenai berita yang sedang viral tentang anak-anak kita?" tanya Ayah Bastian tak kalah serius.
"Benar...dan jika dibiarkan, maka akan semakin tak terkendali," sahut Mami Mia.
Ayah Bastian menarik napas panjang. Kedua tangannya mengepal di atas sandaran lengan sofa yang didudukinya. "Tim saya sudah menghubungi beberapa laman berita untuk men-takedown berita tersebut."
"Saya merasa ada orang yang sengaja menjebak Daniel dan Zeya, lalu menyebarkan fitnah ini, demi keuntungan pribadi," sambungnya dengan geram.
"Aku juga berpikir seperti itu," sahut Papi Baim. "Kita nggak bisa diam saja. Kita harus mencari tahu siapa pelaku sebenarnya, dan memulihkan nama baik anak-anak kita."
"Menurut saya, kita butuh bantuan pihak ketiga yang profesional guna melacak akun itu, atau menyewa jasa detektif swasta yang terpercaya, agar kebenaran yang sebenarnya terjadi di desa kemarin cepat terungkap," usul Mami Mia.
Papi Baim mengangguk pasti. "Bagaimana menurutmu, Bas? Apa kamu, setuju?" tanyanya seraya menatap Ayah Bastian dengan serius.
Namun, Ayah Bastian langsung menggeleng. "Tidak perlu. Kalau hanya melacak akun itu, Zeya juga mampu melakukannya sendiri," kata Ayah Bastian.
Sejenak ruangan tampak hening, hanya embusan napas panjang dan berat yang terdengar mengisi keheningan. Pria kharismatik itu lantas menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapan matanya berubah tajam. "Yang perlu kita ungkap adalah siapa orang yang dengan sengaja membuat mereka tersesat pada hari itu."
Papi Baim mengangguk pelan setelah mencerna ucapan itu. "Berarti kita harus mulai dari lokasi kejadian?"
"Tepat," jawab Ayah Bastian seraya menyilangkan kedua tangannya. "Aku sudah siapkan tim untuk menyelidiki siapa saja yang berada di sekitar Daniel sama Zeya saat itu dan yang terakhir melihat mereka. Kemudian siapa yang paling diuntungkan dengan tersebarnya fitnah ini."
Mami Mia mengembuskan napas panjang. "Kalau begitu... ini bukan lagi sekadar kasus pencemaran nama baik biasa?"
Ayah Bastian mengangguk mantap. "Ini seperti jebakan yang sudah direncanakan sejak awal. Tapi yang menjadi pikiranku -- apakah dia juga orang yang sama atau bukan. Itu yang harus kita gali lebih dalam."
...
Kembali ke sawah
Begitu selesai makan, Zeya segera menarik tangan Daniel -- membawanya menjauh dari warga.
"Ada apa...?" tanya Daniel sambil mengernyit bingung.
Zeya menoleh sekilas ke arah warga yang masih duduk beristirahat. Ia menghela napas pelan, lalu berbisik dengan lirih,
"Barusan pas aku mau ke sini... ada seorang gadis menghentikan aku di jalan."
"Apa dia mengganggumu?" tanya Daniel lagi, suaranya terdengar serius.
Zeya menggeleng. "Mengganggu secara langsung sih, nggak. Tapi, dia bilang kalau kita sedang viral di media sosial."
"Apa...? Kok, bisa?" Daniel tersentak kaget, raut wajahnya seketika berubah serius.
.emaknya datang😁