NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:37.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

"Pak Ibra, tunggu!"

Langkah Ibra terhenti saat mendengar seseorang memanggil namanya. Ia menoleh. Azel berlari kecil menghampirinya sambil sedikit terengah.

"Ada apa?"

"Arjun gimana, Pak? Keadaannya sekarang sudah membaik?"

Raut wajah Ibra sedikit melunak. "Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik. Lukanya masih terasa nyeri, tapi kondisinya stabil."

Senyum lega langsung menghiasi wajah Azel. "Syukur, Alhamdulillah. Arjun sekarang di rumah sama siapa, Pak?"

"Sama asisten rumah tangga di rumah saya."

"Oh..." Azel mengangguk pelan. "Alhamdulillah ada yang jagain."

Lalu ia tersenyum. "Tolong sampaikan salam saya buat Arjun ya, Pak. Saya senang akhirnya dia sudah jauh lebih baik. Kalau begitu saya pamit pulang dulu. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Azel baru melangkah beberapa langkah ketika suara Ibra kembali menghentikannya. "Azel."

Gadis itu menoleh. "Iya, Pak?"

Ibra tampak ragu sejenak. Entah mengapa, ia merasa tidak enak harus meminta bantuan lagi. Namun mengingat tingkah Arjun sejak pagi, ia akhirnya memberanikan diri.

"Kalau... kamu tidak ada kegiatan setelah ini bolehkah saya meminta tolong?"

"Tolong apa, Pak?"

"Arjun minta kamu datang ke rumah."

Azel tampak sedikit terkejut. "Hah?"

"Dia harus minum obat siang ini. Dan..." Ibra tersenyum tipis, meski terdengar pasrah. "...dia maunya ditemani kamu. Tadi pagi saja saya harus membujuknya cukup lama supaya mau minum obat."

Mendengar itu, Azel terkekeh kecil. "Arjun memang ya... Tapi lucu juga."

Lalu tanpa berpikir panjang, ia mengangguk. "Ya sudah, Pak. Nanti saya datang."

"Kamu nggak keberatan?"

Azel menggeleng. "Enggak kok. Kalau itu bisa bikin Arjun semangat minum obat dan cepat sembuh, insya Allah saya senang membantu."

Jawaban itu membuat Ibra merasa lega. "Terima kasih. Saya benar-benar merepotkan kamu beberapa hari ini."

Azel tersenyum kecil. "Pak, jangan bilang begitu terus. Saya juga sudah menganggap Arjun seperti adik sendiri. Jadi nggak merasa direpotkan."

Untuk sesaat, Ibra hanya terdiam.

"Adik ya.." batinnya.

"Kalau begitu saya duluan."

"Iya, Pak."

"Oh iya." Azel mengangkat telunjuknya. "Saya naik motor ya, Pak."

"Iya. Hati-hati di jalan."

"Bapak juga."

Keduanya saling mengangguk pelan.nLalu berjalan ke arah yang berbeda. Namun tanpa mereka sadari, dari kejauhan, Fariz yang baru keluar dari gedung fakultas sempat melihat Azel berbincang cukup lama dengan Ibra.

Keningnya berkerut tipis. "Perasaan akhir-akhir ini mereka sering ngobrol, ya?"

***

Ibra akhirnya tiba di rumah. Begitu membuka pintu, suasana rumah tampak jauh lebih sunyi dari biasanya.

Di ruang keluarga, Arjun duduk di sofa dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajahnya cemberut, bibirnya mengerucut, tanda ia sedang merajuk.

Di sampingnya, Bi Siti masih setia memegang sepiring nasi lengkap dengan lauk yang sejak tadi tak tersentuh.

Melihat Ibra datang, Bi Siti langsung berdiri.

"Pak."

"Iya, Bi?"

"Sejak tadi Arjun nggak mau makan."

"Sudah saya bujuk berkali-kali, tetap nggak mau."

Ibra mengangguk pelan. "Baik, Bi. Nanti biar saya yang membujuk. Kalau pekerjaan Bibi sudah selesai, silakan pulang saja."

"Iya, Pak." Bi Siti mengangguk, lalu berpamitan. "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Kini hanya tersisa ayah dan anak itu di ruang keluarga. Ibra meletakkan tas kerjanya, lalu duduk di samping Arjun.

"Kenapa nggak mau makan?nIni kan sudah siang."

Arjun tetap memalingkan wajah. "Nunggu Kak Azel."

Ibra tersenyum tipis. "Kak Azel nanti datang."

"Beneran?"

"Beneran. Tapi sekarang Arjun makan dulu."

Arjun langsung menoleh. "Ayah nggak bohong, kan?"

Ibra menggeleng pelan. "Ayah nggak bohong. Tadi Ayah sudah minta tolong sama Kak Azel. Insya Allah, setelah urusannya selesai di kampus, Kak Azel ke sini."

Mata Arjun langsung berbinar. "Serius?"

"Iya. Tapi..." Ibra mengangkat satu jari telunjuk. "Arjun juga harus menepati janji."

"Janji apa?"

"Kemarin bilang mau jadi anak hebat. Anak hebat itu makan tepat waktu. Supaya nanti bisa minum obat."

Arjun tampak berpikir. Beberapa detik kemudian ia menggeleng.

"Nggak. Aku maunya makan disuapin Kak Azel."

Ibra terdiam sejenak. Lalu ia mengembuskan napas pelan sambil tersenyum pasrah.

"Kalau Kak Azel datang terus lihat Arjun belum makan. Menurut Arjun, Kak Azel senang atau sedih?"

Arjun langsung menundukkan kepala. "...Sedih."

"Nah... Arjun mau bikin Kak Azel sedih?"

Bocah itu buru-buru menggeleng. "Nggak mau."

"Kalau begitu makan dulu sedikit. Nanti waktu Kak Azel datang, Arjun bisa bilang kalau Arjun sudah jadi anak hebat."

Arjun masih tampak ragu. "Sedikit aja?"

"Sedikit dulu. Nanti kalau Kak Azel datang, siapa tahu Kak Azel mau nemenin Arjun makan buah atau minum obat."

Mendengar nama Azel disebut, Arjun akhirnya mengangguk pelan. "Yaudah... Asal Kak Azel beneran datang."

Ibra mengusap lembut kepala putranya. "Iya."

Perlahan, Ibra mengambil piring di atas meja. Ia menyendokkan sedikit nasi lalu menyuapkannya ke mulut Arjun. Kali ini bocah itu tidak lagi menolak. Meski makannya masih pelan, setidaknya ia sudah mau membuka mulut.

Melihat itu, Ibra mengembuskan napas lega. Di dalam hati, ia hanya berharap, Azel benar-benar datang.

Karena ia tau, jika sampai gadis itu berhalangan hadir, ia akan kembali kesulitan membujuk putra kecilnya.

Tak lama kemudian...

Ting tong...

Suara bel rumah berbunyi. Arjun yang sedang mengunyah langsung menoleh ke arah pintu. Matanya berbinar.

"Kak Azel!"

Belum sempat Ibra berdiri, Arjun sudah lebih dulu turun dari kursinya.

"Eits. Pelan. Kepalanya masih sakit."

"Iya..." Meski mengangguk, Arjun tetap berjalan secepat yang ia bisa menuju pintu.

Ibra akhirnya mendahuluinya dan membukakan pintu.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Di depan pintu, Azel berdiri sambil merapikan anak rambut yang keluar dari balik hijabnya. Di tangannya masih tergenggam helm yang baru saja dilepas.

"Kak Azel!" Arjun langsung memeluk pinggang Azel dengan hati-hati.

Azel tersenyum hangat lalu mengusap lembut kepala bocah itu, berhati-hati agar tidak mengenai bagian yang diperban.

"Hei, anak pintar. Gimana keadaan Arjun hari ini?"

Arjun tersenyum lebar. "Kalau ada Kakak, Arjun langsung tambah lebih baik."

Azel terkekeh geli. "Ih... Pinter ya, sekarang bisa gombal."

"Hehe... Ayo, Kak, masuk."

"Iya."

Begitu masuk ke ruang tengah, pandangan Azel langsung tertuju pada sepiring makanan yang masih tersisa.

"Lho... Arjun belum habis makannya?"

Arjun menggeleng pelan. "Masih."

"Loh, kenapa?"

"Nunggu Kakak."

Azel menghela napas kecil sambil tersenyum gemas. "Arjun, kan kemarin Kakak sudah bilang, makan harus tepat waktu."

"Iya... Suapin ya, Kak."

"Boleh. Tapi habis itu langsung minum obat, ya."

Arjun mengangguk cepat. "Iya. Terus kakak jangan langsung pulang."

Azel tersenyum. "Iya. Kakak temenin Arjun sampai sore."

"Asyik!"

"Tapi..." Azel mengangkat telunjuknya. "Arjun juga harus nurut sama Kakak."

"Iya!"

"Nggak boleh pilih-pilih makan."

"Iya."

"Nggak boleh susah minum obat."

"Iya."

"Nggak boleh lari-lari."

"Iyaaa."

"Nah, gitu dong."

Azel mengambil sendok, lalu mulai menyuapi Arjun. "Ayo... Suapan pertama buat anak saleh."

"Haaam..." Arjun langsung membuka mulut lebar-lebar.

"Masya Allah, pinter."

"Suapan kedua."

Di samping mereka, Ibra hanya memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat tipis. Tadi, ia sudah menghabiskan cukup banyak waktu membujuk Arjun agar mau menghabiskan makan siangnya. Namun hasilnya tidak banyak berubah.

Sekarang baru beberapa menit Azel datang. Arjun justru makan dengan lahap, bahkan sesekali tertawa mendengar candaan gadis itu.

Melihat pemandangan sederhana tersebut. Entah mengapa, rumah yang selama ini terasa sunyi perlahan mulai dipenuhi kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Nah..." Azel tersenyum puas sambil menepuk pelan pundak Arjun. "Sekarang waktunya minum obat."

Arjun mengangguk. "Iya, Kak."

Tanpa banyak membantah, bocah itu langsung meminum obatnya hingga habis.

Azel tersenyum bangga. "Masya Allah. Hebat banget, sih."

Ia mencubit pelan hidung Arjun. "Anak saleh."

Arjun terkekeh geli.

Di samping mereka, Ibra yang melihat tingkah putranya ikut mengembuskan napas lega.

Setelah memastikan Arjun baik-baik saja, ia menoleh kepada Azel.

"Azel."

"Iya, Pak?"

"Kamu sudah makan siang?"

Azel buru-buru mengangguk. "Sudah, Pak."

Belum sempat kalimatnya selesai... Grrrkk...

Perutnya justru berbunyi cukup jelas. Ruangan seketika hening.

Azel langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ya Allah... Malu bukan main."

Sementara Arjun menoleh polos. "Itu suara apa, Kak?"

Azel tertawa kikuk. "Hehe... nggak tau."

Ibra menahan senyum. "Jadi kalau sudah makan itu bunyi apa?"

Azel semakin salah tingkah. "Itu... Perut saya lagi latihan nyanyi, Pak."

Ibra sampai terkekeh pelan. "Alasan yang menarik."

Azel hanya bisa nyengir. "Tadi saya langsung kesini, belum sempet makan."

Ibra mengangguk pelan. "Sudah saya duga."

Ia lalu berdiri dan berjalan menuju dapur. "Ayo."

Azel mengernyit. "Ke mana, Pak?"

Ibra tidak langsung menjawab. Ia membuka tudung saji, lalu mengambil sepiring nasi hangat. Dengan tenang, ia menyendokkan nasi, sayur, ayam kecap, tempe orek yang dimasaknya pagi tadi.

Setelah selesai, piring itu ia letakkan di depan Azel. "Silakan dimakan."

Mata Azel langsung membulat. "Lho, Pak... Nggak usah. Saya nanti makan di rumah aja."

Ibra menggeleng. "Tolong jangan menolak. Saya tidak mau kamu sakit karena datang ke sini."

Arjun ikut mengangguk semangat. "Iya, Kak. Makan aja, masakan Ayah enak."

Azel masih terlihat ragu. "Tapi... Saya jadi nggak enak."

"Kamu datang ke sini membantu saya. Anggap saja ini ucapan terima kasih." Ibra berkata tenang.

Azel akhirnya mengembuskan napas pelan. "Yaudah deh. Terima kasih, Pak."

Ia mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Baru satu suapan, matanya langsung membesar.

"Wah... Enak."

Ibra yang sedang menuangkan air minum menoleh. "Benarkah?"

"Iya. Serius ini enak banget."

"Pak, ini benar Bapak yang masak?"

"Iya."

"Bukan ART?"

Ibra mengangkat sebelah alisnya. "Kamu meragukan kemampuan saya?"

"Bukan meragukan..." Azel tersenyum usil. "Saya cuma agak sulit percaya."

"Kenapa?"

"Soalnya Bapak kelihatannya lebih cocok pegang spidol daripada spatula."

Ibra terkekeh pelan. "Jadi menurutmu dosen tidak bisa memasak?"

"Bisa... Tapi saya kira Bapak tipenya yang hidup dari kopi sama mi instan."

"Kesimpulan yang sangat tidak berdasar."

"Soalnya Bapak kaku banget, sih."

"Orang kaku tidak boleh pandai memasak?"

"Boleh. Tapi probabilitasnya kecil."

Ibra menyilangkan kedua tangannya. "Oh, jadi sekarang kita memakai statistika untuk menilai kemampuan memasak seseorang?"

Azel langsung tersenyum lebar. "Lho, Bapak kan dosen Statistika. Berarti saya pakai pendekatan yang sesuai."

Ibra menggeleng pelan sambil menahan tawa. "Analisis yang keliru. Sampelnya cuma satu. Belum cukup untuk menarik kesimpulan."

Azel langsung menyahut cepat. "Berarti saya harus sering makan masakan Bapak dulu supaya datanya valid?"

Begitu kalimat itu keluar, Azel langsung membeku. Matanya membulat.

"Eh... Bukan maksud saya begitu."

Ibra pun terdiam beberapa detik. Lalu sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Tenang. Saya paham maksudmu."

Azel langsung menunduk malu sambil kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.

Sementara di samping mereka Arjun tertawa kecil melihat keduanya kembali berdebat. "Hehe.... Kak Azel sama Ayah kalau ngobrol pasti debat terus."

***

Setelah selesai makan, Azel membawa piring bekasnya ke dapur. Ia membuka keran, lalu mulai mencuci piring itu. Baginya, sudah menjadi kebiasaan untuk mencuci piring yang ia gunakan, meski sedang bertamu.

Di ruang keluarga, Ibra sempat menyalakan televisi untuk menemani Arjun yang sedang duduk di sofa. Setelah memastikan putranya asyik menonton, ia berjalan menuju dapur.

Begitu melihat Azel sedang mencuci piring, ia langsung bersuara. "Kenapa dicuci?"

"Ya Allah!" Azel sampai tersentak.

Untung saja piring di tangannya tidak terlepas. Ia menoleh dengan napas masih memburu.

"Pak... Bapak ini kayak hantu aja. Tiba-tiba muncul."

Ibra mengangkat sebelah alisnya. "Bukan saya yang seperti hantu. Kamu yang terlalu fokus."

Azel mengembuskan napas pelan sambil mengusap dadanya. "Jantung saya hampir copot."

Ibra menahan senyum. "Sudah, nggak usah dicuci. Biar saya saja."

Azel menggeleng. "Nggak apa-apa, Pak. Ini juga tinggal dibilas."

Ibra melangkah mendekat. "Saya bilang biar saya saja."

"Pak."

"Hm?"

Azel mematikan keran, lalu berkata pelan tanpa berani langsung menoleh. "Bisa... menjauh sedikit?"

Ibra mengernyit. "Kenapa?"

Azel baru menyadari posisi mereka. Tanpa sadar, Ibra berdiri tepat di belakangnya. Jarak mereka hanya beberapa senti. Kalau ia bergerak sedikit saja, bisa saja bahunya menyentuh dada laki-laki itu.

Pipi Azel mulai menghangat. "Posisinya... terlalu dekat."

Ibra baru menyadarinya. Matanya sedikit membulat.

"Maaf." Ia segera mundur beberapa langkah.

Kini jarak di antara mereka kembali normal.

Azel mengembuskan napas lega. "Udah selesai juga, kok."

Ia mengambil lap kecil, lalu mengeringkan tangannya. Setelah itu Azel berbalik.

Namun ternyata, Ibra masih berdiri tepat di hadapannya. Karena sama-sama tidak memperkirakan arah langkah masing-masing, jarak mereka kembali menjadi sangat dekat.

Azel refleks menghentikan langkahnya. Matanya membulat. "Eh..."

Tubuhnya sedikit kehilangan keseimbangan karena berhenti mendadak. Sebelum sempat mundur, Ibra dengan sigap mengulurkan tangan, menahan lengan Azel agar tidak terpeleset oleh lantai dapur yang sedikit basah.

"Hati-hati." Suara Ibra terdengar tenang.

Azel menatap tangan yang masih menahan lengannya beberapa saat.

Entah kenapa, nantungnya tiba-tiba berdetak jauh lebih cepat.

Deg.. Deg.. Deg.

Ia buru-buru menarik napas pelan, lalu mengalihkan pandangan. "M-makasih, Pak."

Ibra pun segera melepaskan pegangannya. "Sama-sama."

Beberapa detik tak ada satu pun yang berbicara. Suasana dapur mendadak terasa canggung.

Untung saja, dari ruang keluarga terdengar suara Arjun memanggil dengan lantang. "Ayah! Kak Azel!"

Keduanya spontan menoleh ke arah ruang keluarga. Tanpa sadar mereka sama-sama mengembuskan napas lega karena keheningan yang canggung itu akhirnya terpecahkan.

***

Azel duduk di atas sofa sambil menemani Arjun menonton televisi. Sesekali ia ikut tertawa melihat tingkah tokoh kartun yang sedang ditonton bocah itu. Arjun yang sejak siang menahan kantuk karena efek obat akhirnya mulai mengusap-usap matanya.

"Kak..."

"Hm?"

"Ngantuk."

"Kalau ngantuk ya tidur. Sini sama Kakak."

"Iya..."

Tanpa pikir panjang, Arjun merebahkan kepalanya di atas paha Azel.

Azel hanya tersenyum, lalu mengusap pelan rambut bocah itu dengan penuh kasih sayang.nTak butuh waktu lama napas Arjun mulai terdengar teratur. Ia benar-benar tertidur.

Ibra yang baru keluar dari dapur melihat pemandangan itu.

"Lah... Dia tidur?"

Azel mengangguk pelan. "Iya, Pak. Baru beberapa menit."

"Kamu bangun saja. Nanti pahamu pegal."

Azel menggeleng sambil tersenyum kecil. "Nanti aja, Pak. Kasihan Arjun, dia baru juga tidur."

Ibra akhirnya mengangguk. "Baiklah."

Ia memilih duduk di sofa yang berhadapan dengan Azel.

Ruangan kembali hening. Hanya suara televisi yang terdengar pelan. Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Hingga akhirnya, Ibra membuka suara.

"Azel."

"Iya, Pak?"

"Kamu benar-benar tidak mengingat saya?"

Azel tampak bingung. "Maksudnya?"

"Yaaa maksudnya ya itu."

Azel berpikir sejenak. "Ya saya ingat, Pak Ibra, dosen Statistika."

Ibra terkekeh pelan. "Bukan itu. Sebelum saya jadi dosenmu. Saya Abang Iba."

Azel mengernyit. "Maaf, Pak. Kalau waktu kecil saya benar-benar nggak ingat."

Ibra mengangguk pelan. "Wajar. Waktu itu kamu masih kecil. Usiamu bahkan baru 3 tahun."

Azel tersenyum canggung. "Makanya, belasan tahun berlalu. Mana mungkin saya masih ingat."

Ibra hanya menganggukkan kepala. Ada sedikit rasa kecewa yang sebenarnya ia sembunyikan. Namun ia sadar itu memang bukan kesalahan Azel.

Hening kembali menyelimuti ruang tamu. Beberapa saat kemudian...

"Azel."

"Iya?"

Ibra tampak ragu. Seolah sedang menimbang apakah pertanyaan itu pantas ia lontarkan. Namun akhirnya ia tetap bertanya.

"Boleh saya bertanya sesuatu?"

"Boleh."

"Kamu... mencari suami yang seperti apa?"

"Hah?!"

1
Syti Sarah
psti ktemu Ihsan sama sekar deh 😋
syora
pasti lht sekarang sm ikhsan ya bunda acel hehe
Raisha
Ibra cepet banget dah sampai ruang dosen (ntah di lantai brp),dah keluar lagi dari ruangan pdhal Azel & Fariz aja masih naik tangga,apa ada lift di kampusnya Thor / ada jalan pintas dari parkiran sampai ruang dosen?🤔🤔
Fegajon: Iya Kak makanya aku gak jelasin karna pasti tiap kampus beda. Dan lagipula posisinya disini aku buat ruang dosen Ibra sendiri ya.
Oh iya, posisi ruang dosennya sederetan sama tangga bukan bisa melihat ke tangga.
Langkah kaki cowo kan panjang ya jadi cepet gitu loh, cmiiw 🥰
total 3 replies
syora
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣mngkin ibra biasa
tp bunda acelll pasti mualuuuuu🤣
Herman Lim
waduh anda salah paham loh pak cuma Ingi tau aja azel bnran cinta apa ga 🤪
Nifatul Masruro Hikari Masaru
wah kepergok. makanya kalo main ya di kamar
Syti Sarah
hahaha wasit nya dtang .🤣🤣🤣🤣
Anak manis
masalahnya ada pada kmu bra
cutegirl
wkwk gagal dah🤣
&1n@
hayoo ibra,, kamu apain bundanya Arjun😂😂
syora
mslhnya itu dipanggil fariz beda lagi dong acellll
apalagi fariz dah tau klau klian udah mnikah🤣
Fegajon: biarin kak biar ibra tau rasa😋
total 1 replies
syora
masyallah opa trima kasih nasehatnya
kadang kejujuran mmng bth waktu tuk dtrima
tanpa menutup sisi baik dr sebuah kejujuran yg diiringi perbaikan diri
ya allah support family mmng 👍👍
mkasih thor
klau bisa up 1 lg soalnya kmrin cmn up sekali kan heheh
syora: lah itu bedanya mreka pintar bkn di otak tpi didengkul
mski kmu rakyat biasa tp kan kmu menghasilkan karya yg blm tentu mreka bisa👍👍👍👍👍
jg nggak PD harus bangga krna kamu jujur
total 4 replies
syora
kecewa dan sedih pastinya
tapi lbh baik dselesaikan dl ya bunda acel mslhnya biar ndak brkpnjangan tnpa tau kebenarannya
anakkeren
ganggu trs hidup org, urusin celine noh
Syti Sarah
emang dasar pmbuat onar ya Andra.
Nifatul Masruro Hikari Masaru
gak tau diri banget tuh orang. kayak nya gak suka hidup ibra tenang
&1n@
pasti Andra nih
Syti Sarah
huuh psti itu Ibra deh
Syti Sarah: Andra mksud nya Thor 🤣🤣🤣
total 3 replies
syora
ya allah sda sj gangguan dlm kluarga,smoga baik ibra/acel bs melewati stiap cobaan mnuju samawa
Syti Sarah
mau nunjukin klau dia lgi bermesraan dgn acel 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!