Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4 (Revisi)
Suasana ruang makan itu tersana sedikit canggung. Hanya Helena yang berbicara, berusaha mencairkan suasana.
“Selina, makan yang banyak. Besok, kau harus pergi kuliah,” ucapnya mencoba terlihat sebagai kakak yang perhatian.
Selina yang sejak Maxime masuk hanya diam itu mengangguk. Matanya sama sekali tak berani menatap Maxime, begitu pula dengan pria itu.
Helena yang melihat kecanggungan antara adik dan suaminya menghela nafas pelan.
“Aku ... aku akan tinggal di asrama saja mulai besok,” ucap Selina pelan.
Helena berkedip. Namun, sebelum ia berbicara, Maxime lebih dulu mendahuluinya.
“Tidak boleh!”
Selina mengeratkan cekalan tangannya pada sendok. Matanya menatap Maxime yang kali ini juga menatapnya.
Maxime sendiri, yang tak bisa menahan diri saat mendengar Selina akan kembali pergi itu langsung menolak gagasan itu.
“Kakak iparmu benar. Tidak perlu pindah. Kau bisa tinggal di sini. Kakak iparmu bahkan sudah setuju.”
Maxime mengangguk. Matanya menatap ke arah Selina yang kembali menunduk dan bergumam.
Ia tahu, Selina pasti merasa canggung dan bersalah. Terlebih, ia bisa melihat bagaimana dekatnya Selina dengan Helena.
Namun, ia juga tak bisa menahan diri saat mendengar Selina ingin pergi.
“Ini bukan karena aku yang tidak bisa melupakannya. Ini ... pasti karena rasa bersalahku,” gumamnya mencoba mencari pembenaran.
“Aku sudah selesai. Aku kembali dulu ke kamar. Kak Helen, dan kakak ipar, aku permisi dulu,” ucap Selina yang langsung berdiri dan meninggalkan ruang makan itu.
Helena yang melihat betapa perhatian adiknya itu diam diam tersenyum. Matanya menatap ke arah Maxime yang kembali memasang wajah dingin.
“Tolong jangan tersinggung. Adikku, dia memang pemalu,” ucapnya mencoba mencairkan suasana lagi.
Maxime hanya bergumam. Nafsu makannya juga menghilang.
Helena yang ingin mengembangkan hubungan mereka, dengan memanfaatkan kepergian Selina berkedip saat melihat Maxime yang langsung berdiri.
“Aku sudah selesai,” ucap Maxime yang langsung meninggalkan ruang makan begitu saja.
Ia bahkan tak melirik Helena sama sekali. Janji untuk memperlakukan Helena jauh lebih baik benar benar ia lupakan, tepat saat ia melihat Selina juga berada di rumahnya, dan tahu jika Selina adalah adik iparnya.
Perasaannya saat ini benar benar rumit.
***
“Kakak ipar,” gumam Selina terkejut saat melihat sosok tegap yang berdiri di tengah kamarnya.
Ada ketakutan dan kejutan di mata Selina yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia benar benar memerankan peran adik Helena yang polos dengan baik
Maxime, yang bahkan tak sadar malah membalikkan kakinya pada kamar tamu yang jelas jelas ia tahu jika kamar itu sekarang di huni oleh Selina terdiam.
Namun, saat melihat ketakutan Selina, ia memilih masuk dan menutup pintu begitu saja, membuat wajah Selina berubah panik.
“Kita harus berbicara,” ucap Maxime seolah mencari alasan atas pembenaran tindakannya saat ini.
Selina masih terlihat panik. “Kakak ipar, tidak ada yang perlu kita bicarakan. Sebaiknya, kakak ipar cepat keluar. Jangan sampai kak Helena tahu.”
Alis maxime berkerut. “Kita harus berbicara.”
“Kak_”
Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu membuat Selina terkejut, bukan hanya Selina, tapi juga Maxime.
“Selina, apa kau sudah tidur?” tanya Helena dari luar.
Setelah itu, terdengar suara gagang pintu yang bergerak. Namun, karena Maxime mengunci pintu itu, Helena tak berhasil masuk.
“Selina, kau mengunci pintu?” pertanyaan dengan nada sedikit terkejut dari Helena, membuat Selina tak membuang waktu lagi.
“Kakak ipar, kau ... kau harus bersembunyi,” ucapnya panik.
Ia bahkan tanpa ragu menarik tangan Maxime, membawa Maxime menjauh dari pintu dan mencari tempat yang paling aman untuk menyembunyikan Maxime yang memiliki tubuh kekar itu.
Maxime sendiri yang terdiam dan terus melihat tangan Selina yang memegang pergelangan tangannya itu tampak patuh.
Baru saat tubuhnya di dorong masuk ke dalam lemari, dan dipaksa untuk berjongkok, matanya berkedip.
“Kakak ipar, maafkan saya. Tolong bersembunyi di sini. Aku benar benar tidak ingin kakak melihat kakak ipar di sini. Jika kakak tahu kakak ipar di sini, kakak akan salah paham,” ucapnya cepat.
Tanpa menunggu tanggapan Maxime, ia langsung menutup pintu dan bergegas untuk membuka pintu untuk Helena.
Maxime sendiri yang tak tahu bagaimana ia bisa bersembunyi di dalam lemari tampak seperti pencuri itu terdiam. Aroma Selina memenuhi hidungnya, membuat ia tanpa sadar memejamkan mata dan menikmati aroma yang menurutnya menenangkan itu.
“Kak Helen,” sapa Selina mencoba terlihat tenang.
Helena yang melihat Selina akhirnya membuka pintu menghela nafas. Namun, matanya menatap selidik ke arah dalam.
“Apa kau menyembunyikan seseorang?” tanyanya setengah menyelidik.
Tubuh Selina menegang. Bukan hanya Selina, tapi juga maxime yang diam diam mencium aroma dari pakaian Selina.
“Ak ... aku tidak,” jawabnya gugup.
Helena menyipitkan mata. Melihat kegugupan adiknya, ia semakin curiga.
“Kau benar benar menyembunyikan seseorang. Apa itu laki laki?”
Tubuh selina gemetar. Jejak ketakutan tak bisa ia tutupi. Sementara itu, Maxime juga ketakutan. Ia bahkan tak bisa lagi menikmati aroma tubuh selina yang tertinggal di lemari itu.
“Tidak, aku tidak menyembunyikan siapa pun. Kakak jangan berbicara omong kosong,” sangkal Selina mencoba tenang.
Namun, Helena malah menyeringai. Ia langsung menarik selina untuk duduk di ranjang, kemudian menatap sekeliling.
“Kau tidak perlu berbohong. Kakak benar benar tidak akan marah jika kau menyembunyikan pria di sini. Hanya saja, kau perlu hati hati. Kakak iparmu sudah kembali, jadi, kau tidak bisa sembarangan membawa pria ke kamarmu,” ucapnya serius.
Maxime yang mendengar kata kata helena mengerutkan kening. Sebersit rasa tak suka muncul di hatinya.
“Apa maksud Helena? Kenapa ia sama sekali tidak khawatir jika adiknya membawa pria masuk ke kamarnya? Apa dia tidak tahu, reputasi seorang wanita itu sangat penting,” gumamnya dalam hati merasa kesal.
“Oh, apa pria itu pria semalam,” goda Helena yang sepertinya tidak ingin menyerah.
Tubuh maxime menegang. Tangannya yang memegang gaun milik Selina mengerat.
Selina yang mendengar itu pun menegang. Perubahan emosi itu benar benar dilihat oleh Helena, membuat Helena tertawa puas.
“Lihat, sudah kakak katakan. Kalau kau menyukainya, kau harus merebutnya. Tak peduli, jika dia memiliki seorang istri.”
“Kak, apa yang Kakak katakan. Aku tidak akan melakukannya!” tegas Selina dengan mata memerah.
Helena mendengus. Ia mengetuk kepala adiknya itu. “Bocah, kau benar benar naif. Sekarang sudah 2026, kebebasan mencintai adalah hak semua orang. Apa yang perlu kau takutkan. Apa kau takut dijuluki sebagai simpanan.”
“Kak ... aku tidak akan pernah memilih pria yang sudah memiliki pasangan!” tegas Selina yang membuat helena tertawa kembali.
“Bodoh! Selama pria itu menyukaimu, dan mengejarmu, kenapa kau harus menolaknya.”
Selina terdiam, namun, penolakan di matanya masih terlihat jelas.
"Benar benar wanita tidak bermoral," gumam Selina dalam hati.
Sementara itu, Maxime yang berada di dalam lemari terdiam. Kata kata Helena membuatnya sedikit terguncang.
“Dengarkan aku, hanya wanita yang tidak dicintai yang layak disebut simpanan. Jadi, jika kau menyukai pria malam itu, tak peduli jika pria itu memiliki seorang istri, hal itu tak menutup fakta jika di sudah merebut ke p3rawananmu. Jika di mengejarmu, kau tidak perlu menolaknya. Jangan mengengkang dirimu sendiri hanya karena belenggu moral.”
Selina terdiam. Matanya menatap Helena yang sama sekali tak berpikir jika kata katanya salah.
"Sepertinya Helena bahkan lebih kejam dibanding penjelasan sistem," gumamnya dalam hati.