Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Yang Bersama Alicia
Refleks, Naomi segera memundurkan tubuhnya hingga berlindung sepenuhnya di balik tiang beton. Jemarinya mencengkeram ponsel begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Beberapa detik terasa begitu panjang perlahan, Naomi memberanikan diri mengintip dari balik tiang.
Alicia masih berdiri di tempat yang sama. Namun tatapannya ternyata bukan mengarah ke minimarket, melainkan kepada seorang petugas parkir yang baru saja menyerahkan kunci mobil.
Naomi mengembuskan napas lega. "Syukurlah...."
Tak lama kemudian, pria yang sejak tadi menemani Alicia membuka pintu mobil berwarna hitam mengilap dengan begitu sopan.
"Silakan, Sayang."
Alicia tersenyum manis sebelum masuk ke dalam mobil. Pria itu kemudian mengusap lembut rambutnya, lalu ikut masuk ke kursi pengemudi.
Pemandangan itu kembali membuat Naomi terdiam. Semua terlihat begitu hangat dan begitu mesra. Sama sekali tidak menunjukkan bahwa wanita itu pernah menghancurkan hidup orang lain.
Mobil perlahan meninggalkan area pertokoan.
Naomi terus menatap hingga kendaraan itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Nyonya?"
Suara salah seorang pengawal membuyarkan lamunannya.
"Nyonya tidak apa-apa?"
Naomi tersentak. Ia buru-buru menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Saya... saya tidak apa-apa."
"Kalau begitu, mari kita kembali ke mobil."
Naomi mengangguk pelan sepanjang perjalanan pulang, ia hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang datang silih berganti.
Mengapa Alicia muncul kembali? Siapa pria yang bersamanya? Dan yang paling mengganggu pikirannya, apakah semua yang terjadi beberapa minggu lalu memang telah direncanakan sejak awal? Naomi kembali membuka galeri ponselnya. Dua foto yang baru saja diambil memenuhi layar.
Ia memperbesar gambar itu perlahan wajah Alicia terlihat sangat jelas begitu pula pria di sampingnya. Naomi menatap foto itu cukup lama.
"Maafkan aku, Kak...." Air matanya hampir jatuh. "Kalau memang semua ini adalah rencanamu... aku tidak bisa terus diam."
Perlahan ia mengunci layar ponselnya. Baru pertama kali sejak tinggal di Wijaya Mansion. Naomi memutuskan tidak akan lagi menyimpan semua kebenaran seorang diri.
Ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan Alicia, sekaligus membuktikan kepada Nathan bahwa dirinya bukan wanita yang selama ini ia tuduhkan.
Sementara itu. Di dalam mobil yang melaju meninggalkan kawasan pertokoan, Alicia tiba-tiba menoleh ke kaca spion entah mengapa sejak tadi ia merasa seperti ada sepasang mata yang terus mengawasinya.
Perasaan itu membuat sudut bibirnya perlahan menghilang.
"Ada apa?" tanya pria di sampingnya.
Alicia menggeleng pelan. "Tidak, mungkin hanya perasaanku saja."
Alicia memilih mengabaikan firasat itu. Baginya, tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya saat ini. Ia pun kembali tersenyum dan melanjutkan percakapannya dengan pria di sampingnya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malam kembali menyelimuti Wijaya Mansion. Seperti biasanya, makan malam berlangsung dalam suasana tenang. Nathan sesekali berbicara singkat dengan Alan mengenai pekerjaan, sementara Leon lebih banyak diam menikmati makanannya. Naomi sendiri hanya sesekali membantu para pelayan sebelum akhirnya kembali ke kamar lebih dulu.
Sesampainya di kamar, Naomi mengeluarkan ponselnya. Tatapannya kembali jatuh pada dua foto yang ia ambil siang tadi.
Ia mengembuskan napas panjang entah bagaimana reaksi Nathan nanti percaya atau tidak setidaknya ia merasa pria itu berhak mengetahui apa yang ia lihat dan tak lama kemudian...
Klik.
Pintu kamar terbuka. Nathan masuk sambil melonggarkan dasinya. Wajahnya tampak lelah setelah seharian bekerja. Ia hanya melirik sekilas ke arah Naomi sebelum berjalan menuju meja kecil dan meletakkan tas kerjanya.
"Masih belum tidur?" tanyanya datar.
Naomi berdiri perlahan. "Saya menunggu Tuan."
Nathan menghentikan gerakannya. "Menungguku?"
"Iya," sahutnya pelan. "Ada yang ingin saya bicarakan."
Nathan mengembuskan napas pelan. "Kalau soal Leon, besok saja."
"Bukan." Naomi menggeleng. "Ini tentang Kak Alicia."
Nama itu membuat Nathan langsung menoleh. Gerakan tangannya yang semula hendak melepaskan jam tangan seketika terhenti. Sorot matanya berubah tajam, sementara keningnya perlahan berkerut. Ada keterkejutan yang berusaha ia sembunyikan di balik wajah dinginnya.
"Alicia?" ulangnya pelan, seolah memastikan dirinya tidak salah dengar.
Tatapannya kini tertuju lurus kepada Naomi, menunggu penjelasan lebih lanjut. Meski ekspresinya tetap datar, nada suaranya terdengar jauh lebih serius dibanding beberapa detik sebelumnya.
"Iya."
"Apa lagi yang ingin kau katakan tentang wanita itu?"
Nada suaranya kembali dingin. Naomi tidak membalas. Ia hanya membuka galeri ponselnya, lalu menyerahkannya kepada Nathan.
"Tolong lihat ini."
Nathan menerima ponsel itu dengan enggan. Awalnya ia hanya berniat melihat sekilas tapi
beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah. Keningnya berkerut seolah terpaku pada wajah pria yang berdiri di samping Alicia.
"Ini..." Nathan memperbesar foto itu. Napasnya seketika tertahan. "Mustahil..."
Naomi memperhatikan perubahan ekspresi pria itu. "Tuan mengenalnya?"
Nathan tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras sorot matanya berubah menjadi dingin, bahkan lebih dingin daripada saat mendengar nama Alicia.
"Di mana kau mengambil foto ini?"
"Siang tadi... di depan minimarket."
Nathan mengangkat wajah perlahan. Tatapannya kini tertuju lurus kepada Naomi, seperti mengintimidasi perempuan itu.
"Di depan minimarket?" ulangnya pelan.
"Iya, Tuan."
"Siapa yang mengizinkanmu keluar?" Suara Nathan berubah lebih berat.
Naomi sedikit menundukkan kepala. "Saya sudah meminta izin kepada kepala pelayan. Beliau mengizinkan setelah menugaskan dua pengawal untuk mendampingi saya."
"Itu bukan yang kutanyakan." Nathan meletakkan ponsel di atas meja dengan sedikit lebih keras. "Aku bertanya, siapa yang memberimu izin keluar tanpa memberitahuku?"
Ruangan seketika dipenuhi keheningan. Naomi menggenggam jemarinya sendiri, ada rasa takut yang tiba-tiba menyeruak akan tetapi ia tahu jika yang dia sampaikan sebuah fakta baru.
"Saya hanya ingin membeli beberapa kebutuhan rumah dan menghirup udara sebentar. Saya tidak menyangka akan bertemu Kak Alicia."
Nathan mengembuskan napas panjang. Rasa kesal jelas tergambar di wajahnya. "Apa kau tahu kalau sesuatu bisa saja terjadi di luar sana?"
"Saya minta maaf, Tuan."
"Lain kali, jangan pernah keluar tanpa sepengetahuanku."
Naomi mengangguk pelan. "Baik."
Beberapa detik Nathan hanya berdiri memandangnya. Kemarahannya perlahan mereda. Ia kembali melirik layar ponsel yang masih menampilkan foto Alicia.
Namun begitu pandangannya jatuh pada sosok pria di samping wanita itu. Ekspresinya langsung berubah tatapannya menajam. Jemarinya bergerak memperbesar foto itu beberapa kali, seolah memastikan bahwa matanya tidak sedang keliru.
"Kenapa dia..." Nathan berbisik pelan, "bisa bersama pria ini?"
Naomi mengangkat wajah. "Tuan mengenalnya?"
Nathan tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras. Urat di pelipisnya tampak menegang kemarahan yang tadi sempat ditujukan kepada Naomi kini seolah lenyap, digantikan oleh amarah yang jauh lebih besar.
"Aku mengenalnya." Suara Nathan terdengar dingin. "Bahkan terlalu mengenalnya."
Ia kembali menatap foto itu tanpa berkedip. "Pria ini bernama Adrian."
"Selama bertahun-tahun dia menjadi orang yang paling sering mengganggu Grup Wijaya. Berkali-kali dia mencoba merebut proyek perusahaan kami, bahkan tidak segan menggunakan cara-cara licik."
Nathan mengepalkan salah satu tangannya. "Kalau Alicia benar-benar berhubungan dengannya..."
Kalimat itu terhenti. Pikirannya mulai menyusun potongan-potongan kejadian yang selama ini terasa janggal dan tatapannya perlahan beralih kepada Naomi.
"Kau yakin mereka terlihat sangat dekat?"
Naomi mengangguk mantap. "Saya melihatnya sendiri. Mereka keluar dari butik bersama. Pria itu bahkan menggandeng tangan Kak Alicia."
Nathan kembali menunduk menatap foto di layar entah kenapa ia merasa keyakinannya mulai goyah apa mungkin selama ini memang ada sesuatu yang belum pernah ia ketahui.
Bersambung ....