NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.

Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan Yang Terlambat Dan Permintaan Maaf Yang Tertunda

Bab 18

Hari hari setelah kepergian Vanessa berlalu dengan kesunyian yang berat di rumah ini. Setiap sudut ruangan seolah olah masih menyisakan bayang bayang kehadirannya yang dulu penuh dengan senyum palsu dan kata kata manis yang ternyata beracun. Tidak ada satu orang pun yang berani menyebut namanya lagi seolah olah menyebut namanya saja akan membawa kembali kejahatan yang baru saja pergi dari rumah ini. Namun yang lebih berat dari itu adalah penyesalan yang menghantui setiap sudut hati anggota keluargaku sendiri. Penyesalan yang datang terlambat saat segala sesuatu sudah terlanjur hancur dan terlanjur pergi jauh dari jangkauan tangan mereka.

Mereka mulai melihat betapa besarnya kesalahan yang telah mereka perbuat kepadaku. Setiap kali mereka berpapasan denganku di lorong rumah tatapan mereka penuh dengan rasa malu dan rasa bersalah yang tidak bisa disembunyikan lagi. Mereka tidak lagi berani memalingkan wajah saat melihatku seperti yang dulu sering mereka lakukan. Sebaliknya merekalah yang sering menundukkan wajah saat berpapasan denganku seolah olah tidak berani menatap mataku yang selama ini selalu mereka anggap penuh dengan kebohongan padahal penuh dengan ketulusan yang terus ditolak berulang kali.

Suatu pagi saat aku sedang duduk di halaman belakang menatap ke arah pepohonan yang dulu sering kulihat dari balik jendela kamarku yang kecil itu Ayah berjalan mendekat ke arahku dengan langkah yang pelan dan berat seolah olah ada beban yang sangat besar yang memikul di pundaknya. Ia berdiri di sebelahku untuk waktu yang cukup lama tanpa mengucapkan satu kata pun hanya ikut memandang ke arah halaman yang luas itu. Akhirnya ia membuka suaranya dengan suara yang terdengar lemah dan penuh penyesalan yang mendalam. Ia berkata dengan suara yang bergetar penuh keraguan dan rasa malu yang sungguh sungguh Maafkan kami Maya. Maafkan Ayah. Selama ini kami buta dan tuli. Kami membiarkan orang asing merusak rumah kami dari dalam sementara kami justru membuang jauh jauh anak kandung kami sendiri yang paling tulus hati. Kami tidak mendengarkanmu saat kau berbicara kami tidak mempercayaimu saat kau menunjukkan bukti dan kami tidak melindungimu saat kau berada dalam bahaya yang nyata. Semua yang terjadi padamu adalah kesalahan kami dan tidak ada alasan yang bisa membenarkan perlakuan kami kepadamu. Aku tidak berani berharap kau memaafkan kami dengan mudah namun aku berharap kau tahu bahwa kami akhirnya sadar siapa yang benar dan siapa yang salah meskipun kesadaran ini datang terlambat sekali.

Aku menatap wajah Ayah yang terlihat jauh lebih tua dari beberapa bulan yang lalu rambutnya yang dulu hitam pekat kini mulai banyak beruban dan kerutan di wajahnya semakin dalam terlihat jelas di bawah sinar matahari pagi. Hatiku terasa hangat namun juga terasa pedih mendengar kata kata itu. Kata kata yang dulu sangat aku dambakan didengar dari mulutnya kini akhirnya terucap namun diucapkan di saat banyak hal yang sudah tidak bisa kembali seperti semula. Aku berkata dengan suara yang tenang dan lembut namun tegas Maaf sudah diberikan sejak lama Ayah. Aku tidak pernah membenci kalian meskipun kalian memalingkan wajah dariku. Aku tetap berjuang dan tetap bertahan karena aku tahu bahwa suatu hari nanti kalian akan melihat kebenaran. Yang penting bukanlah seberapa cepat kita melihat kebenaran melainkan apakah kita berani menerimanya saat kebenaran itu akhirnya datang.

Tidak lama setelah Ayah Ibu juga datang menghampiriku ke halaman belakang. Matanya masih terlihat sembab dan pandangannya penuh dengan rasa bersalah yang mendalam. Ia memelukku erat erat seolah olah takut jika melepaskan pelukannya aku akan menghilang seperti halnya kepercayaan yang dulu hilang dari hati mereka. Ia menangis di bahuku sambil berbisik dengan suara yang terputus putus Maafkan Ibu Maya. Ibu salah besar. Ibu lebih percaya pada air mata palsu gadis asing daripada kata kata anak kandungku sendiri yang tumbuh besar di depan mataku. Ibu tidak pantas mendapatkan anak sebaik kau. Biarlah apa yang hilang itu hilang saja yang penting kau masih ada di sini dan masih mau memaafkan kami. Pelukan Ibu yang dulu terasa hangat namun kini terasa sedikit asing namun aku membalas pelukannya dengan tulus karena aku tahu bahwa di balik kesalahan besarnya ia tetaplah ibuku yang melahirkanku dan membesarkanku selama bertahun tahun sebelum ada orang asing yang datang merusak semuanya.

Belum lama berlalu ketiga kakakku datang bersama sama mendekat ke tempat kami berdiri. Wajah mereka yang dulu penuh dengan keangkuhan dan ketidaksukaan kini terlihat lembut dan penuh penyesalan yang tulus. Kakak Dika yang paling tua dan paling tegas itu berbicara mewakili mereka bertiga dengan suara yang rendah namun penuh perasaan yang sungguh sungguh Maya kami malu sekali menghadapimu. Kami adalah kakak kakak yang tidak berguna. Kami yang seharusnya melindungimu justru menjadi orang yang paling menyakitimu di dunia ini. Kami membiarkan gadis asing itu memisahkan kita dan kami tidak berani membela mu sedikit pun. Kami tidak meminta banyak hal kami hanya meminta kesempatan untuk menebus kesalahan kami sekecil apa pun yang bisa kami lakukan. Biarkan kami berdiri di sisimu mulai sekarang seperti yang seharusnya kami lakukan sejak awal.

Mendengar kata kata ketiga kakakku hatiku terasa penuh sekali seolah olah beban berat yang selama ini membebani pundakku perlahan mulai terangkat satu per satu. Aku menatap mereka bertiga satu per satu dengan senyum yang tulus dan berkata Kalian adalah kakak kakakku dan tidak ada yang bisa mengubah hal itu. Aku tidak pernah meragukan kalian dan tidak pernah berhenti menyayangi kalian meskipun kalian tidak mempercayaiku selama ini. Kalian sudah sadar dan itulah yang paling penting. Mulai sekarang kita berdiri bersama tidak ada lagi yang terpisah tidak ada lagi yang saling curiga dan tidak ada lagi yang membiarkan orang asing masuk merusak kebersamaan kita dari dalam.

Mereka semua tersenyum mendengar kata kataku meskipun senyum itu masih terlihat sedih dan penuh rasa syukur yang mendalam. Untuk pertama kalinya sejak kehadiran Vanessa ke dalam rumah ini kami berkumpul bersama sebagai satu keluarga yang utuh kembali tanpa ada kebohongan di antara kami tanpa ada rahasia yang disembunyikan dan tanpa ada orang asing yang berdiri di tengah tengah memisahkan kami satu sama lain. Penyesalan mereka memang datang terlambat dan kerugian yang diderita keluarga ini tidak bisa dikembalikan sepenuhnya seperti sedia kala namun setidaknya kami masih memiliki satu sama lain dan kami masih memiliki kebenaran yang menyatukan kami kembali.

Sore itu aku duduk bersama mereka di ruang tengah dan menceritakan segala hal yang masih belum sempat mereka ketahui secara lengkap. Aku menceritakan tentang ancaman yang ditinggalkan oleh Vanessa di atas kertas kecil yang ditinggalkannya saat ia melarikan diri. Aku menceritakan bahwa kelompok orang yang mengirimnya itu masih ada di luar sana dan mereka mungkin akan mencoba lagi dengan cara yang berbeda atau dengan orang yang berbeda. Mendengar hal itu wajah mereka semua kembali menjadi serius dan teguh. Ayah berkata dengan suara yang mantap dan penuh tekad yang baru kali ini terdengar benar benar kuat Kita tidak akan menunggu mereka datang lagi. Kita akan mencari tahu siapa mereka dan kita tidak akan membiarkan mereka merusak keluarga ini untuk kedua kalinya. Kali ini kita berdiri bersatu dan tidak ada satu orang pun yang bisa memisahkan kita lagi.

Malam itu sebelum tidur aku membuka buku catatanku yang tebal itu dan menuliskan halaman terakhir dari babak pertama penderitaan ini. Aku menuliskan bahwa mereka akhirnya kembali ke jalan yang benar meskipun terlambat. Aku menuliskan bahwa penyesalan yang tulus lebih berharga daripada pujian yang penuh kepalsuan. Dan aku menuliskan bahwa meskipun bahaya masih menunggu di luar sana aku tidak lagi takut karena aku tidak lagi berjuang sendirian. Seluruh keluargaku kini berdiri di sisiku dan kebenaran yang kita miliki adalah senjata yang tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun atau kelompok mana pun. Aku menutup buku itu dengan perasaan yang damai dan menyimpannya kembali di tempat yang paling aman di dalam laci meja kamarku. Babak yang penuh kesepian dan penderitaan telah berakhir dan babak baru yang penuh pertarungan dan harapan baru saja dimulai.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!