Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.
Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.
Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.
Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Tepat setelah sambungan telepon terputus, sensasi dingin dari perintahnya masih terasa menusuk, namun kali ini sesuatu di dalam diriku mendadak patah bukan ketakutanku, melainkan kesabaranku. Aku mematikan ponsel dan menatap layar hitam itu dengan tekad yang baru.
Biarkan saja apa yang akan terjadi nanti, pikirku. Aku memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu memutar tumitku menjauh dari pintu yang biasanya selalu kujaga untuk menunggunya. Tanpa menoleh ke belakang, aku melangkah keluar dari ruang kerjaku. Saat aku menghampiri perawat nency dan mengatakan bahwa aku akan ikut bergabung ucapku dengan nada yang lebih tegas dari yang pernah kulakukan sebelumnya.
Karena aku tidak membawa mobil, aku akhirnya menerima ajakan Dokter Pravda untuk berangkat bersama. Saat pintu mobilnya tertutup, aku sadar sepenuhnya bahwa ini adalah kesalahan besar. Berusaha mengabaikan kenyataan bahwa pria di balik kemudi ini memiliki sejarah yang cukup rumit denganku.
Dulu, dia adalah pria yang mengejarku dengan tulus pria yang pernah menyatakan perasaannya padaku, dan aku sudah menolaknya, kami dulu cukup dekat, sebelum aku menarik batasan tegas karena dia pernah menyukaiku.
Sementara sekarang, aku terjebak di sini justru karena sedang melarikan diri dari pria lain yang jauh lebih posesif. Berada satu mobil dengannya demi menghindari perintah dia terasa ironis.
Suasana di dalam mobil dipenuhi oleh sisa-sisa perasaan yang tak pernah benar-benar terselesaikan di antara kami. Berada di ruang sempit bersamanya setelah aku baru saja membangkang pada dia terasa seperti berjalan di atas tali tipis yang siap putus kapan saja.
Aku mencoba fokus melihat pemandangan di luar jendela, namun aku tahu bahwa keputusan untuk ikut makan malam ini akan menjadi pemicu kemarahan yang luar biasa bagi pria yang sedang menungguku di ruang kerjaku.
Mobil Dokter Pravda melaju, membawa kami menjauh dari area rumah sakit.
Dokter Pravda " Tumben sekali kamu mau ikut makan malam bangsal "ucapnya pelan, memecah kesunyian.
Aku hanya tersenyum tipis sebagai jawaban. Aku tidak bisa memberitahunya bahwa alasan utamaku ikut bukan karena acara makan malam itu, melainkan karena aku sedang mencoba untuk tidak menjadi tawanan di ruang kerjaku sendiri.
Namun, aku merasa sedikit tidak nyaman berada dekat dengan pria yang pernah menyukaiku di saat aku sedang berada dalam pengawasan ketat pria lain adalah sebuah risiko yang sangat berbahaya.
Malam itu berakhir jauh lebih hangat dari yang kubayangkan. Aku tertawa lepas, melontarkan lelucon-lelucon konyol yang membuat seisi meja bergemuruh, Aku benar-benar menjadi diriku sendiri, cerewet, jahil, dan penuh energi, Aku benar-benar menikmati setiap detik kecerewetan yang keluar dari mulutku sendiri, sesuatu yang sudah sangat lama tidak kurasakan, bahkan Dokter Pravda tampak tak bisa menyembunyikan senyumnya melihat sisi diriku yang lama dan sempat berkomentar bahwa dia rindu melihatku seceria ini.
Semuanya terasa begitu menyenangkan sampai akhirnya acara harus usai. Aku masih sibuk dengan celotehanku saat kami bersalaman satu per satu untuk pulang. Rasanya sangat melegakan bisa menjadi aku yang apa adanya tanpa perlu merasa terintimidasi.
Suasana riuh restoran perlahan menjauh, bayangan tentang dia kembali menyelinap di pikiranku. Senyum di wajahku perlahan memudar, digantikan oleh kegelisahan yang mulai muncul saat aku menyadari bahwa malam yang menyenangkan ini harus berakhir, dan mungkin, akan ada 'harga' yang harus kubayar karena telah menghabiskan waktu dengan cara yang tidak dia izinkan.
Tawaran Pravda baru saja kutolak saat suara pintu mobil yang terbuka di sisi lain jalan membuatku menoleh. Aku mengenali mobil itu dengan sangat baik. Tanpa perlu melihat plat nomornya, aku tahu dia sudah di sana sejak tadi, mengawasi setiap detik tawa yang kubagikan dengan rekan-rekanku.
Sosok pria itu berdiri bersandar di pintu mobilnya, menatapku dengan tatapan yang lebih dingin dari es. Dia tidak berbicara, tidak melambaikan tangan, hanya berdiri di sana menungguku. Kehadirannya begitu mendominasi hingga membuat udara di sekitar restoran terasa tipis.
Pravda yang menyadari perubahan raut wajahku pun terdiam, ketegangan di antara kami bertiga begitu nyata hingga suara detak jantungku sendiri terasa seperti gema yang memekakkan telinga.
Dokter Pravda yang tadi begitu ramah kini tampak kikuk dan segera menjauh, menyadari siapa yang kini berada di hadapanku. Aku merasa seluruh kebebasanku malam ini hanyalah sebuah ilusi, dan kini, saatnya membayar harga atas pembangkanganku.