Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34.
Setelah mengucapkan kalimat pernyataan itu, Seokjin menoleh. Menatap Viola yang tengah berdiri menatap ke arahnya. Selama beberapa detik tatapan mereka bertemu. Pria itu tidak memperdulikan pertanyaan Wartawan yang semakin penasaran dengan pernyataannya tadi.
Tatapan Seokjin membuat Viola yang semula tercengang berubah menjadi gugup. Ia masih belum mampu mencerna apa yang baru saja dikatakan pria itu di hadapan puluhan wartawan.
Belum sempat Viola membuka mulut, Seokjin lebih dulu melangkah mendekat. Tangannya terulur, jemari pria itu meraih tangan Viola.
Tersentak kecil, mata Viola membulat. Tubuhnya sempat menegang ketika telapak tangan Seokjin menggenggam tangannya tanpa ragu.
Menatap tangan mereka yang kini bertaut, Viola perlahan mengangkat wajah.
Seokjin sama sekali tidak terlihat ragu. Genggamannya justru semakin erat, seolah ingin memberitahu bahwa apa yang dikatakannya barusan adalah sebuah kebenaran.
Jantung Viola berdetak semakin liar. Ia tidak pernah membayangkan Seokjin akan melakukan suatu hal hingga sejauh ini. Bahkan sebelumnya, ia sempat membayangankan Seokjin akan marah dan langsung membantah, jika tadi ia yang terpaksa memberikan pernyataan bahwa dirinya memiliki hubungan dengan pria itu.
Namun, semua bayangannya salah. Seokjin-lah yang justru berdiri di hadapannya dan mengakui memiliki hubungan khusus. Bukan hanya mengakui, tetapi pria itu bahkan tidak ragu menggenggam tangannya di depan semua orang.
Seokjin berdiri dengan tenang di tengah sorotan itu. "Hubungan kami belum terlalu lama terjalin." Suara Seokjin terdengar jelas. Tatapannya menyapu seluruh orang yang hadir.
"Karena itu belum terlalu banyak orang yang tahu tentang hubungan ini," lanjutnya tenang.
Beberapa wartawan kembali saling berbisik, sementara yang lain sibuk mengabadikan pernyataan itu dengan foto dan merekamnya. Suara kamera terdengar bersahut-sahutan, memenuhi ruangan yang semakin riuh.
Meski menatap ke arah seluruh orang yang hadir dengan ekspresi tenang. Namun, jantung Viola masih berdetak dengan begitu kencang, keringat dingin mulai keluar hingga jemarinya yang masih digenggam Seokjin terasa basah. Sementara, pikirannya dipenuhi begitu banyak pertanyaan hingga kepalanya terasa berat.
Bagaimana Seokjin bisa tahu ia dan Sagara mengadakan acara itu? Bahkan pria itu bisa datang tepat waktu.
Dan yang paling membuatnya tidak mengerti ... mengapa Seokjin justru melakukan semua ini?
Viola melirik pria di sampingnya. Seokjin masih terlihat tenang. Tidak ada keraguan atau penyesalan yang tampak di sana. Bahkan setelah mengatakan pada semua orang bahwa mereka adalah sepasang kekasih, pria itu masih berdiri seolah semuanya berada di dalam kendalinya.
Pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan para pencari berita terus terdengar. Namun, Seokjin hanya mendengarkannya dengan ekspresi datar, sementara genggaman tangannya pada Viola semakin mengerat, seolah memberi isyarat agar Viola juga tetap diam.
Hingga beberapa saat kemudian. Seokjin kembali berbicara.
"Saya rasa, tidak ada lagi yang perlu saya jelaskan." Pria itu mengedarkan pandangannya pada para wartawan.
"Saya hanya ingin menegaskan. Jika pemberitaan yang beredar tentang saya dan Nara adalah sebuah kesalahpahaman." Ia berhenti sejenak. Tatapannya mengeras.
Suasana yang sebelumnya riuh kembali tenang.
"Saya harap setelah ini tidak ada lagi pihak yang mengaitkan Naraya dengan pemberitaan apa pun. Dan saya akan memberi perhatian tegas terhadap oknum-oknum yang sudah mencemari nama baik saya maupun Naraya."
Seokjin menoleh sejenak pada Viola, lalu kembali menatap ke depan.
"Saya tutup sampai di sini. Terima kasih."
Setelah memberi pernyataan itu, Seokjin menarik lembut tangan Viola.
"Ayo!" bisiknya.
Viola terpaksa mengikuti langkahnya.
Di belakang mereka, ruangan kembali dipenuhi suara riuh wartawan. Kilatan kamera terus mengikuti langkah Seokjin dan Viola menuju pintu keluar.
"Tuan Seokjin, tunggu!"
"Apakah Tuan Dhanubrata mengetahui hubungan kalian?"
"Sejak kapan kalian dekat?"
"Apakah Anda dan Nara benar-benar tidak memiliki hubungan khusus?"
"Apakah bangunan Sweet Cake benar milik Anda?"
Pertanyaan - pertanyaan itu terus menghujani mereka hingga ke ambang pintu.
Sagara masih berdiri di tempatnya. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras, matanya mengikuti tangan Seokjin yang masih menggenggam tangan Viola.
Sedari Seokjin muncul, Sagara memang tidak mengatakan apa-apa. Bukan karena tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan. Ia justru tengah berusaha keras mengendalikan emosinya. Namun begitu, ia tidak bisa mengabaikan setiap kalimat pernyataan yang keluar dari pria itu.
Seokjin memang beberapa kali membantu Viola dalam urusan Sweet Cake. Tetapi semua itu atas permintaan Nara, bukan semata-mata keinginan pria itu sendiri.
Tidak pernah ada hubungan khusus, semua kedekatan mereka murni karena permintaan Nara yang ingin membantu Viola lewat Seokjin. Setidaknya itulah yang Sagara ketahui.
Namun, sekarang, di depan banyak orang dan kamera yang terus menyorot, Seokjin justru berdiri dengan tenang dan mengakui Viola sebagai kekasihnya.
"Dia benar-benar gila ...," gumam Sagara pelan. Tatapannya tidak lepas dari tangan Seokjin yang masih menggenggam tangan Viola saat akhirnya mereka berdua berhasil keluar dari ruangan ini.
Asisten Kim yang berdiri tidak jauh darinya pun membeku.
Pria berkacamata itu bahkan seperti kehilangan kemampuan untuk berfikir. Matanya terpaku pada punggung atasannya yang menghilang di balik pintu.
Han Seokjin. Atasannya, pria yang selama ini ia kenal begitu hati-hati dalam setiap perkataan dan tindakan. Pria yang tidak pernah mengambil keputusan tanpa perhitungan.
Namun, apa yang terjadi saat ini? Pria ambisius dan tidak tergoyahkan itu baru saja mengumumkan sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya.
Asisten Kim berkedip beberapa kali. Seolah berharap ia salah mendengar. Namun, suara Seokjin masih terngiang jelas di kepalanya.
Jantung Asisten Kim berdetak aneh. Ada sesuatu yang tiba-tiba menekan dadanya dari dalam, sesak yang datang begitu saja. Tangannya menggenggam tablet lebih erat, seolah menyalurkan perasaan aneh itu agar segera memudar.
Sagara yang menyadari Asisten Kim masih berdiri membeku di sampingnya akhirnya menoleh. Dahinya berkerut, ia lalu mengangkat tangannya dan menepuk pundak pria itu. "Kenapa kau masih di sini?"
Asisten Kim tersentak.
Sagara menunjuk ke arah pintu tempat Seokjin dan Viola menghilang. "Sebaiknya, cepat susul atasanmu dan cari tahu apa yang sebenarnya sedang dia lakukan."
Asisten Kim baru tersadar. Ia merapikan kacamatanya yang sedikit bergeser. "Baik, Tuan."
Tanpa membuang waktu, ia bergegas meninggalkan ruangan.
Langkahnya cepat, hampir berlari. Namun, bahkan ketika kakinya membawa tubuhnya keluar dari ruangan konferensi, pikirannya masih tertinggal pada pernyataan Seokjin yang terus berputar di kepalanya.
****
Sementara itu, Seokjin tidak berhenti berjalan. Tangannya masih menggenggam tangan Viola dengan erat. Ia menarik wanita itu melewati lorong menuju lift pribadi di sisi lobi.
Viola hampir harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah panjangnya.
"Tuan Han ...."
Seokjin tidak menjawab.
Pintu lift terbuka. Seokjin langsung menarik Viola masuk.
Begitu mereka berada di dalam, pintu lift perlahan menutup.
Suara riuh dari ruangan konferensi pun lenyap. Beruntung para pencari berita tidak sampai mengejarnya, karena dihadang beberapa pengawal pribadinya.
Di dalam lift yang sunyi, suara Viola yang masih terengah-engah terdengar jelas.
Seokjin akhirnya melepaskan genggamannya. Jemari mereka terpisah. Tangan Viola yang tadi digenggamnya perlahan turun ke sisi tubuh.
Selama beberapa detik, Viola menatap tangannya sendiri. Masih terasa hangat. Sebuah rasa yang tiba-tiba membuat jantungnya semakin sulit diajak tenang.
Menarik napas panjang, dada Viola naik turun dengan cepat. Ia menundukan wajah, berusaha mengatur napas yang berantakan.
Apa yang baru saja terjadi?
Tadi dia datang ke sana untuk menyelamatkan Nara. Memberi penjelasan agar nama Nara tidak lagi terseret dalam skandal itu.
Ia tidak pernah membayangkan dirinya justru akan berdiri di hadapan puluhan wartawan dan mendengar Seokjin mengatakan bahwa dirinya adalah kekasih pria itu.
Viola mengangkat wajah.
Han Seokjin berdiri di sampingnya. Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membuat seluruh dunia percaya bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Menggigit bagian dalam bibirnya, ada satu pertanyaan yang begitu ingin Viola ajukan. Tentang alasan sebenarnya Han Seokjin melakukan itu.
Viola mengumpulkan keberaniannya sejenak. "Tuan Han ...," ucapnya akhirnya.
"Nanti saja!"
Jawaban singkat itu langsung memotong ucapan Viola.
Viola langsung terdiam. Seokjin sendiri bahkan tidak menoleh. Matanya lurus menatap angka lantai yang terus berubah di atas pintu lift
Dua orang itu kembali tenggelam dalam kesunyian dan pikirannya masing-masing.
Pintu lift terbuka.
Seokjin melangkah keluar lebih dulu. Viola mengikuti dengan langkah ragu. Begitu mereka tiba di lobi, sebuah mobil hitam sudah menunggu tepat di depan pintu utama.
Seokjin berjalan menuju mobil itu tanpa mengatakan apa pun. Sementara, Viola berada beberapa langkah di belakangnya. Menatap punggung pria itu dengan dada yang kembali berdebar.
Ia belum mendapatkan satu pun jawaban dari semua pertanyaan di kepalanya. Namun, satu hal yang sudah pasti.
Setelah hari ini, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi.
Karena kebohongan yang diucapkan di depan puluhan kamera mungkin akan menjadi sebuah kenyataan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
****Bersambung.
tpi kasian viola nikah tanpa di cintai.sll jdi lilin menerangi org lain .tpi kena tanga sndri 🙏🙏😭😭