Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah Di Ruang Sidang
Malik tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap Anjani dengan sorot mata yang penuh ketakutan. Ia tahu, Anjani selama ini adalah orang yang paling mengerti operasional perusahaannya. Jika Anjani benar-benar memiliki bukti itu, maka tidak ada tempat untuk lari.
"Jadi," Anjani kembali menatap mereka bertiga, "sekarang, siapa yang sebenarnya tidak punya kelas? Kalian yang datang ke sini untuk menghina, atau aku yang datang dengan membawa keadilan?"
Dara berusaha membela diri, "Ini gila! Kamu pikir dengan membawa orang asing ini kamu menang? Malik, jangan biarkan mereka bertindak kurang ajar!"
Namun Malik tidak bergerak. Ia berdiri mematung. Bu Anne bahkan kehilangan kata-kata. Suasana yang tadinya penuh dengan penghinaan kini berubah menjadi suasana penuh teror bagi keluarga Wiratama. Mereka menyadari bahwa mereka bukan lagi predator yang sedang memburu mangsa, melainkan sedang terperangkap dalam jaring yang dibuat oleh wanita yang selama ini mereka anggap remeh.
Anjani berbalik, ia berjalan menuju pintu rumah dan membukanya lebar-lebar. "Silakan keluar. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku lebih lama dengan orang-orang yang tidak memiliki hati nurani. Pengacaraku akan menghubungi kalian terkait jadwal persidangan berikutnya. Jangan coba-coba menghubungiku secara pribadi."
Dara menatap Anjani dengan wajah yang memerah padam, sementara Bu Anne masih berusaha merangkai makian, namun tidak ada suara yang keluar. Malik menatap Anjani untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya berbalik, merasa bahwa dunia yang ia bangun selama ini perlahan-lahan runtuh tepat di depan matanya.
Saat mereka bertiga melangkah pergi dengan langkah yang tidak lagi mantap, Anjani menutup pintu dengan perlahan. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, napasnya sedikit terengah-engah karena menahan emosi.
Di luar, mobil mewah Oliver Jones perlahan bergerak menjauh. Oliver tersenyum puas. Ia tahu bahwa Anjani sudah melewati langkah pertama dengan sangat baik. Poin kuncinya sekarang adalah memastikan Malik tidak memiliki kesempatan untuk menghancurkan bukti-bukti tersebut.
Anjani menyadari bahwa meskipun ia telah membuat mereka ketakutan, Malik dan keluarganya tidak akan menyerah begitu saja. Mereka akan mencoba segala cara, mungkin lebih kotor, lebih kejam. Namun, untuk saat ini, Anjani merasa satu beban besar telah terangkat. Ia tidak lagi peduli pada kemesraan palsu Dara atau makian cempreng Bu Anne. Yang ia inginkan hanyalah melihat keadilan ditegakkan, dan ia telah berada di jalur yang benar.
****
Ruang sidang Pengadilan Agama itu terasa seperti oven raksasa yang menyesakkan. Udara di dalam ruangan tidak bergerak, hanya aroma kayu tua dan debu yang menguar, menambah sesak dada Anjani. Di kursi pengunjung, ia duduk sendirian, sementara di sisi lain meja, Malik Wiratama duduk dengan angkuh didampingi oleh dua pengacara bayaran yang dikenal karena reputasi mereka yang kotor dalam memenangkan perkara.
Di luar ruang sidang, sebelum proses dimulai, Anjani sempat menyaksikan keributan kecil di lorong. Bu Anne, dengan wajah memerah menahan amarah, tampak sedang mencaci maki Dara Mitha Dahayu.
"Dasar perempuan pembawa sial!" seru Bu Anne dengan suara cemprengnya yang khas, tanpa peduli pada tatapan orang-orang di sekelilingnya. "Karena kau, Malik jadi terlalu banyak gaya dan mengabaikan urusan perusahaan! Sekarang lihat, perusahaan terancam diaudit hanya karena kau membuat istri sahnya itu marah dan nekat menyimpan bukti-bukti konyol!"
Dara yang biasanya tampil percaya diri kini tampak ciut. "Bukan salahku, Tante! Malik sendiri yang bersikeras ingin menceraikan Anjani karena merasa bosan!"
"Tutup mulutmu!" bentak Malik, wajahnya tampak lelah dan penuh tekanan. "Kalau sampai perusahaan ini jatuh, kau jangan harap bisa menikmati harta Wiratama sedikit pun!"
Anjani mendengar setiap kata itu dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia hanya bisa menghela napas, merasa mual melihat bagaimana orang-orang yang dulu ia anggap keluarga dan sahabat itu kini saling mencakar seperti binatang buas yang terpojok.
****
Saat sidang dimulai, atmosfer di dalam ruangan berubah menjadi dingin. Hakim ketua, seorang pria paruh baya dengan kacamata yang terus merosot ke ujung hidungnya, tampak lebih sering memandang ke arah meja Malik daripada ke arah Anjani.
Sidang berjalan dengan tidak adil sejak detik pertama. Setiap kali pengacara Anjani mencoba mengajukan bukti-bukti transaksi fiktif dan dokumen penggelapan dana yang telah disiapkan bersama tim dari Jones Group, hakim selalu memotong pembicaraan dengan alasan yang dicari-cari.
"Pengacara Anjani, bukti-bukti ini tidak relevan dengan pokok perkara perceraian," ujar Hakim dengan nada monoton yang terasa sangat dipaksakan.
Anjani mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu apa yang sedang terjadi. Ia bisa melihat kilatan licik di mata Malik dan seringai tipis dari pengacara suaminya setiap kali hakim menolak bukti-bukti tersebut.
Puncaknya terjadi ketika hakim mulai membacakan putusan sela. Bukan hanya mengabulkan perceraian secara sepihak, hakim justru melontarkan tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal.
"Berdasarkan bukti yang diajukan oleh pihak tergugat (Malik), ditemukan indikasi bahwa penggugat (Anjani) telah melakukan tindakan yang merugikan nama baik keluarga Wiratama selama pernikahan, termasuk menyebarkan fitnah tentang keuangan perusahaan. Oleh karena itu, pengadilan memutuskan bahwa penggugat wajib memberikan kompensasi kerugian sebesar lima miliar rupiah sebagai biaya penggantian atas kerusakan reputasi keluarga Wiratama," ujar Hakim dengan nada datar, seolah ia sedang membacakan daftar belanjaan.
Dunia Anjani seolah berhenti berputar. Matanya melebar, napasnya tertahan di tenggorokan. Lima miliar? Itu adalah angka yang mustahil baginya. Itu adalah jebakan yang dirancang agar ia tidak punya pilihan selain menyerahkan seluruh haknya dan mungkin menghabiskan sisa hidupnya dalam lilitan hutang.
"Ini tidak masuk akal!" Anjani tidak bisa lagi menahan amarahnya. Ia berdiri dengan gemetar. "Hakim, ini adalah bentuk ketidakadilan yang nyata! Ada bukti penyuapan dan perselingkuhan yang saya bawa!"
"Diam, Saudari Anjani!" gedoran palu hakim terdengar nyaring di ruangan itu. "Jika Saudari terus mengganggu jalannya persidangan, saya akan mengeluarkan Saudari dari ruangan ini!"
Bu Anne yang duduk di kursi pengunjung tidak bisa menahan tawa kemenangannya. Ia menatap Anjani dengan tatapan menghina, tatapan yang penuh dengan kebencian yang mendalam. Malik, di sisi lain, menatap Anjani dengan pandangan dingin, sebuah kemenangan semu yang kini ia genggam karena ia yakin telah membungkam pihak pengadilan.
****
Dara, yang berada tepat di samping Malik, menatap Anjani dengan senyum meremehkan yang membuat hati Anjani teriris. Dara seolah ingin mengatakan, kau lihat? Bahkan hukum pun berlutut di bawah kaki kami.
Anjani menatap hakim, lalu menatap Malik. Air mata sempat menggenang, namun ia segera menghapusnya dengan kasar. Ia tidak akan membiarkan mereka melihatnya menangis. Kebencian yang ia rasakan terhadap ketidakadilan ini justru membakar semangatnya menjadi api yang lebih besar.
"Anda sudah disuap, bukan?" Anjani berbisik, namun suaranya cukup keras untuk didengar oleh hakim. "Anda mungkin bisa membuat keputusan ini hari ini, tapi jangan harap ini akan berakhir di sini."
Setelah sidang ditutup, Anjani melangkah keluar dari ruang sidang dengan kepala tegak. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Di luar gedung, ia disambut oleh udara siang yang panas. Ia berjalan menuju mobil yang telah menunggunya di depan gedung—mobil mewah milik Oliver Jones.
Oliver sudah berdiri di sana, bersandar di pintu mobil dengan tatapan mata biru yang teduh namun tajam. Ia melihat Anjani yang keluar dengan mata merah, namun rahang yang mengeras.
"Mereka membayar hakimnya, bukan?" tanya Oliver pelan saat Anjani mendekat.
Anjani mengangguk, ia tidak sanggup bicara. Ia langsung masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, Anjani akhirnya membiarkan dirinya melepaskan ketegangan. Ia memukul sandaran kursi dengan kesal.
"Lima miliar, Oliver! Mereka menuntutku lima miliar karena alasan reputasi! Bagaimana mungkin sistem hukum bisa sebusuk ini?"