"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Macha minuman rumput?
Semilir angin berhembus, menyisakan dingin yang perlahan merayap sepi.
Ingatan itu kembali membawanya menelisik pada saat pertama kali ia akhirnya menginjakkan kaki di tempat ini.
Hangat sambutan yang ia terima sedikit demi sedikit mampu mengobati luka batin yang sebelumnya hadir. Sejuk tempat itu turut membawanya pada ketenangan. Terasa begitu nyaman.
Namun pagi ini, ia harus merelakan semua itu pergi. Barang-barang telah ia kemas rapi. Ia harus segera pergi. Pergi ke tempat dimana disana ia bisa menyembuhkan sang putri yang tengah di dera sakit.
"Sudah siap, Lin?" Ummi Hannah menatap perempuan itu dengan mata berair. Alina segera merengkuh tubuh itu. "Maaf jika selama ini Alina banyak salah sama teteh."
Ummi Hannah menarik nafas panjang untuk menahan tangis. "Tidak ada yang perlu di maafkan Lin." Tangannya menepuk-nepuk bahu itu menguatkan.
"Setelah sampai disana, kabar-kabar ya Lin."
"Iya Teh. Terimakasih ya Teh, selama ini teteh selalu ada untuk Alina. Maaf jika selalu merepotkan."
"Tidak sama sekali."
Tak lama, Dira dan Marsha akhirnya kembali.
"Mommyh, Kak Dilla kashih ini buat Macha. Ihhh lutu naaa..." gadis kecil itu gembira sekali mendapatkan hadiah dari Dira.
"Ayo sayang, kita sudah harus berangkat."
Gadis kecil itu mengernyit bingung. "Kak Dilla shama Ummi endak ikut, mommy?"
Alina bungkam, tak tahu harus menjelaskan bagaimana pada putri kecilnya.
"Nanti kami akan main kesana, Marsha. Marsha harus jadi anak yang baik ya, tidak boleh nakal." Timpal ummi Hannah, mengusap wajah itu dengan tatapan sendunya.
"Kami pergi dulu ya, Teh..." pamit Alina.
"Hati-hati ya Lin. Semoga Marsha bisa sembuh."
"Aamiin.
Bus itu akhirnya membawa mereka jauh meninggalkan desa yang selama ini menjadi tempat ternyaman nya. Manik mata itu menatap barisan kebun teh itu dengan tak rela.
Semoga suatu hati nanti mereka bisa kembali ke tempat ini dengan kondisi yang sama.
Dua jam berlalu, mereka akhirnya sampai di pemberhentian terakhir.
Terik begitu menyengat, angin panas itu seketika menampar wajahnya yang terlihat kelelahan karena insomnia semalaman.
"Wow, beshak shekali mommy. Itu apa?" Gadis kecil itu menunjuk pada sebuah bangunan megah bertingkat saat bus kota itu berhenti di pemberhentian.
"Itu mall, sayang?"
"Mall itu apa mommyh?"
"Mall itu tempat orang-orang belanja."
"Shepelti walung?"
Alina sontak menyunggingkan senyum, "Iya. Nanti kapan-kapan mommy ajak kesini, mau?"
"Ashik... Macha mau ke wallung lashasha mommy."
Tak lama, mereka akhirnya sampai di sebuah kontrakan khusus putri. Selain lingkungannya yang sedikit ramah anak, Alina memilih tempat itu karena dekat dengan rumah sakit.
"Mba penghuni baru ya?"
Baru saja akan memasuki kontrakan itu, seorang perempuan itu menegurnya.
Dengan ramah, Alina pun mengangguk. "Iya mba."
"Kenalin saya Cyntia, tetangga mba. Itu kontrakan saya di sebelahnya mba." Alina segera membalas uluran tangan itu. "Alina, mba."
"Ini anak mba ya?" Tunjuknya pada Marsha yang hanya menyimak karena kelelahan.
"Iya."
"Bule ya mba?"
Alina sedikit tersentak mendengarnya. Agaknya perempuan itu terlalu blak-blakan untuk ukuran orang yang baru di kenal.
"Ngga usah di jawab juga ngga apa-apa mba. Maaf ya, saya suka asbun orangnya."
Alina mengernyit bingung, "Asbun?"
"Itu bahasa gaul mba, asal bunyi. Mulutnya saya kadang asal bunyi kayak terompet, ahahaha."
Bersamaan dengan itu, tawa si kecil Marsha akhirnya pecah. "Tante na lutu shekalli ya myh. Hihihi."
Membuat Cyntia pun meleleh, "kamu juga lucu, imut dan menggemaskan dek. Namanya siapa?"
"Macha, tante."
Cyntia mengernyit. "Macha? Macha minuman rumput itu?"
Membuat Marsha seketika itu memberengut sebal. "Macha ndak shuka lumput ya...." sentaknya dengan berkacak pinggang. Membuatnya malah semakin menggemaskan.
"Maksudnya, Marsha mba."
"Oalah, tak kira macha rumput. Hehe... ."
☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong chingu
Happy reading
Happy weekend
Saranghaja 💕💕💕
tapi tunggu up nya harus bersabar