Arin adalah gadis tomboi yang suka bercanda, sebagai anak SMA yang merayakan kelulusan. Arin atau Rin Rin bertamasya bersama rombongan sekolah nya, tanpa sengaja Arin menginjak kucing berbulu putih yang begitu cerah, setelah itu sebuah kejadian membuat Rin Rin terjatuh di sebuah lubang yang membawanya kesebuah dimensi lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
Plass..
Byurrr...
tiba-tiba saja seekor ikan melompat dari dalam sungai. Arin yang tidak siap tentu saja dia dibuat terkejut air membasahi wajah Arin.
"Brurrrr..., hais... ini ikan kurang ajar banget sih, masak dia tiba-tiba langsung meloncat ke mukaku sih. nggak punya sopan santun dia nggak tahu kalau ketangkap akan ku panggang dia ujar Arin dengan sangat kesal dia kemudian melinting lengan bajunya.
"Kakak Arin kelihatannya marah." ucap Fan.
"Iya, dia sangat menakutkan kalau marah."
sahut Fen.
Di tempat lain seorang pria memerintahkan anak buahnya untuk meratakan seluruh hutan yang ada di sekitar perbatasan dunia siluman.
"Komandan, apakah kita akan menghancurkan tempat ini?" tanya salah satu prajurit.
"Tentu saja, ratakan semua pohon-pohon yang ada di tempat ini, jangan sisakan satu pohon pun." jawab pria bertopeng.
"Komandan Yong-an benar-benar sangat membenci para siluman." bisik beberapa prajurit.
"Iya, yang aku dengar seluruh keluarga komandan Yong-an sudah dihabisi oleh para siluman." jawab prajurit yang lain.
"Komandan adalah satu-satunya orang yang bisa menyegel pergerakan para siluman, selama ini komandan selalu membantai para siluman dan membatasi pergerakan mereka." kata para prajurit Yong-an.
"Komandan, di sudut hutan itu adalah tempat para hantu penasaran." lapor salah satu prajurit.
"Biarkan saja, selama segel itu masih menancap di sana para hantu gentayangan itu tidak akan bisa memasuki tempat ini. Tapi, kalian harus berhati-hati, ketika kalian berjaga di sini kalian tidak boleh sampai lalai dan kebobolan." jawab komandan Yong-an.
"Baik komandan." jawab prajurit.
Arin yang sedang mencari ikan di sungai itu tanpa sengaja dia menginjak sesuatu, setelah itu Arin tercebur masuk ke dalam sungai yang dipenuhi ikan. Sialnya sungai yang berbatasan dengan negeri para siluman itu mengalir memasuki dunia para manusia.
Krakk..
tiba-tiba saja dinding pembatas antara dunia manusia dan dunia siluman tiba-tiba retak, komandan Yong-an yang berada di tempat itu dia melihat retakan halus namun berubah menjadi besar.
"Sialan, siapa yang berani menghancurkan segel pembatas dinding ini, para siluman itu benar-benar tidak tahu diri." ucap komandan Yong-an yang kemudian merapal mantra untuk membuat dinding pembatas baru. namun ketika dinding itu retak semakin besar tiba-tiba saja dari dalam retakan itu Arin terbawa derasnya aliran sungai.
Trakk..
BYURR..
komandan Yong-an ikut terseret aliran sungai, dia nampak belum siap ketika aliran deras itu menghanyutkan tubuhnya.
"Wo.. Wo.. Wo.. airnya deras banget." ucap Arin yang terbawa derasnya aliran sungai.
si kembar dan Hu-bao yang melihat Arin melewati batas antara dunia manusia dan dunia siluman, mereka tidak bisa melakukan apapun, langkah mereka tiba-tiba terhenti ketika pembatas itu tiba-tiba aktif.
BYURR...
Hupp..
Hupp..
Arin berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari aliran sungai yang terlalu deras.
Deg..
Kedua mata Arin dan komandan Yong-an saling bertemu.
"Aaaaa!!!! Ada ikan duyung!!!" seru Arin yang kemudian menendang tubuh komandan Yong-an. Setelah menendang tubuh komandan Yong-an, Arin bergegas berenang ke tepian sungai.
"Dasar siluman licik." ucap komandan Yong-an yang kemudian berenang ke tepian.
"Aduh.. Ini pak tua yang jahat, aku harus segera pergi dari sini." Arin langsung kabur.
"Dasar siluman licik." komandan Yong-an kemudian membaca sebuah mantra untuk mengikat kaki Arin. "Aliran darah, berhenti."
"Kaburrrrr...," nyatanya mantra yang diucapkan oleh komandan Yong-an tidak mempan pada Arin, dia masih bisa berlari dengan begitu kencang dan melarikan diri darinya.
"Kurang ajar, bagaimana mungkin siluman itu tidak mempan dengan mantraku." ucapnya. komandan Yong-an kemudian kembali membaca mantra, namun sayangnya mantra itu seperti tidak berguna sama sekali pada Arin.
"Hos.. Hos..," Arin menata nafasnya. Dia melihat kebelakang dan tidak ada sosok pria bertopeng. "Hais... Apes banget sih, siapa sih pria itu?"
Tubuh yang basah kuyup dan nafasnya memburu, Arin mencoba mencari tempat perlindungan. Langkah kaki Arin berjalan tak tentu arah, dia terus melangkah seolah angin menuntunnya entah kemana.
"Ayo buruan!" seru seorang pria yang sedang menyeret seorang wanita.
"Jangan jual aku, suamiku..," ucap lemah si wanita. Tangannya di tarik paksa oleh seorang pria yang di panggil 'suami'.
"Ini dimana sih..," tubuh sedikit basah itu sedikit menggigil.
Beberapa pria yang sedang berjalan itu dari tadi memperhatikan Arin. Mata yang menatap penuh dengan pemikiran kotor. "Lihatlah, gadis itu dari mana?"
"Apaan sih? Apa matamu mau aku congkel?" tanya Arin dengan nada ketus ketika beberapa pria menatapnya dengan tatapan mata seperti kelaparan.
"Kamu mau kemana nona cantik?" seorang pria mendekati Arin.
"Apaan sih?!" jawab ketus Arin yang kemudian pergi. "Krucukkk... Krucukk..," perut Arin tiba-tiba berbunyi. "Aishhhh..., kenapa pakek bernyanyi sih nih perut." gerutunya dalam hati.
"Tolong aku suamiku, jangan jual aku!" seorang wanita meronta ketika dia di tarik paksa masuk kerumah bordir.
"Sudah diam, kamu itu tidak berguna! Lebih baik aku menjual mu!" seru si pria yang kemudian menampar isterinya. "Plakk!!"
"Aku mohon suamiku... Jangan menjual ku, apakah kamu tidak mencintaiku lagi." si wanita terus menangis. Tangannya terus berpegangan pada pintu kayu rumah bordir.
Bugg..
sebuah tendangan tiba-tiba mendarat di tubuh si pria hingga membuatnya tersungkur cukup jauh. Pria itu memegang dadanya, menatap seseorang yang tiba-tiba menendang dirinya.
"Kamu itu berani banget ya, sebagai seorang suami kamu benar-benar tidak punya hati!" seru Arin yang terlihat menepuk pelan roknya. Barusan Dia menendang si pria yang menjual istrinya di rumah bordir. "Kamu tidak apa-apa kak?" tanya Arin ketika melihat di wanita terduduk tidak berdaya.
Arin membantunya berdiri, menatapnya dengan begitu lembut kemudian membantunya membersihkan pakaiannya. "Terima kasih nona, terima kasih.. tapi pergilah dari sini, jika tidak pasti suamiku akan menghajar mu." ucap penuh ketakutan dari si wanita.
"Aku mau tahu, suamimu seperti apa? satu kali tendangan dariku saja dia sudah seperti itu, aku yakin kalau beberapa kali tendangan dia pasti tidak akan bisa jalan." jawab Arin sembari menatap si pria yang tersungkur di depan rumah bordir itu.
"Siapa kamu? beraninya kamu melakukan hal ini padaku?!" teriak si pria marah. dia kemudian berdiri hendak menarik istrinya kembali, melihat itu Arin langsung membuat ancang-ancang dan melakukan kuda-kuda.
Arin melompat kemudian memutar tubuhnya, alhasil pria itu dia tendang dengan kekuatan yang lumayan besar, pria itu terlempar cukup jauh.
"Dasar pria brengsek, kamu ini benar-benar harus diberi pelajaran ya." ucap Arin dengan percaya diri.
Julukannya sebagai tukang rusuh di sekolah dan di luar sekolah memang pantas di sandang oleh Arin, karena dia memang selalu suka berkelahi dan menjaga diri dari bullying ataupun pemalakan para preman.
*bersambung*