The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mitenn Highroad
Selama dua hari berikutnya, hutan Gisa terasa seperti tidak pernah benar-benar berubah. Jalan setapak naik dan turun di antara pepohonan, menyeberangi aliran air dangkal, melewati tanah berlumpur, akar besar, dan semak yang tumbuh terlalu dekat dengan jalur. Kami hanya berhenti ketika Marlow merasa tempatnya cukup aman untuk menyalakan api kecil atau ketika tubuhku mulai berjalan lebih lambat daripada yang bisa kusembunyikan.
Pagi pada hari ketiga, pepohonan mulai menipis.
Cahaya matahari jatuh lebih lebar ke tanah. Semak tidak lagi tumbuh setinggi pinggang, dan udara kehilangan bau lembap yang selama ini melekat di hutan. Angin datang dari depan, membawa hawa dingin yang lebih bersih, disertai bau batu, rumput kering, kuda, dan asap dari banyak api yang dinyalakan jauh di luar pandangan.
Marlow tidak mengatakan apa-apa, tetapi langkahnya menjadi sedikit lebih cepat.
Aku mengikutinya melewati dua batang pohon terakhir yang berdiri dekat jalan. Tanah di depan kami turun landai, lalu hutan Gisa berakhir begitu saja.
Mitenn Highroad terbentang di bawahnya.
Aku berhenti tanpa sadar.
Jalan itu jauh lebih besar daripada yang kubayangkan. Permukaannya dibuat dari batu padas kelabu yang dipotong menjadi balok-balok tebal, kemudian ditanam rapat ke dalam tanah. Sebagian batu sudah aus dan mengilap di bagian tengah akibat dilalui roda, tapak kuda, serta ribuan kaki selama ratusan tahun. Lumut tumbuh tipis di sela-selanya, tetapi tidak cukup banyak untuk menutupi garis-garis susunan batu yang masih jelas.
Lebarnya cukup untuk dua gerobak besar berjalan berdampingan tanpa harus turun ke bahu jalan. Di kedua sisinya terdapat parit dangkal yang menampung air hujan dan salju cair dari dataran tinggi. Beberapa batu penanda berdiri dalam jarak teratur, meskipun tulisan pada permukaannya sudah terkikis oleh waktu.
Jalan itu membelah dataran terbuka, kemudian menghilang di balik bukit-bukit jauh. Panjangnya tidak bisa kuukur dengan mata. Ia tampak mengular tanpa akhir, semakin mengecil sampai akhirnya menyatu dengan warna tanah dan langit.
Di kejauhan, High Mountain menjulang di atas semuanya.
Gunung itu begitu besar sehingga untuk beberapa saat pikiranku kesulitan menerima jaraknya. Lereng bawahnya masih tampak gelap oleh hutan, tetapi semakin tinggi warnanya berubah menjadi abu-abu batu, lalu putih. Puncaknya tertutup salju dan masuk ke dalam lapisan awan tebal. Sebagian bentuknya hilang di sana, membuat gunung itu terlihat seperti tidak mempunyai ujung.
Mata Asterra.
Aku pernah memandangnya dari menara tertinggi Izengard pada hari-hari yang cerah, hanya sebagai garis pucat di batas pandangan. Dari sini bentuknya jauh lebih besar. Ia tidak tampak seperti bagian dari tanah yang sama dengan kami, melainkan sesuatu yang berdiri sendiri di atas benua.
Konon Mitenn Highroad dibangun bersamaan dengan Kuil Besar Jessiah, ratusan tahun sebelum kelahiran Dad. Batu-batunya diangkut dari tambang yang kini sudah ditutup, dipotong dengan tangan, lalu ditanam satu per satu oleh pekerja, tahanan, dan pengikut Jessiah pertama. Jalan itulah yang memungkinkan para pendeta membawa ajaran mereka keluar dari High Mountain menuju kota-kota di dataran rendah.
Kuil di puncaknya adalah kuil Jessiah pertama di Izengard. Beberapa kitab bahkan menyebutnya sebagai yang pertama di seluruh Asterra, tempat ajaran itu mulai menyebar ke kerajaan-kerajaan lain. Sejak saat itu para peziarah terus datang, berjalan mengikuti jalan yang sama, menyentuh batu yang sama, lalu kembali ke rumah dengan debu dari High Mountain masih menempel pada pakaian mereka.
Mitenn Highroad sedang ramai pagi itu.
Puluhan orang bergerak di kedua arah. Sebagian berjalan menuju High Mountain dengan tongkat, tas kain, dan jubah perjalanan yang panjang. Yang lain berjalan menjauh darinya, wajah mereka terbakar matahari dan pakaian mereka dilapisi debu putih dari dataran tinggi.
Beberapa datang sendirian. Ada pula keluarga yang membawa anak-anak, orang tua, serta keranjang berisi makanan. Seorang perempuan mendorong gerobak tangan kecil dengan seorang anak yang tertidur di antara kain dan karung. Dua pria tua berjalan bergandengan agar salah satunya tidak jatuh ketika kakinya kehilangan keseimbangan.
Mereka yang memiliki banyak koin datang dengan cara berbeda.
Kereta beratap kain bergerak perlahan di atas jalan batu, ditarik oleh kuda atau keledai yang dihiasi tali berwarna dan lonceng kecil. Beberapa bangsawan rendah duduk di dalam kereta dengan tirai setengah tertutup. Pelayan berjalan di belakang, membawa peti, selimut, makanan, dan kendi air.
Di sisi salah satu kereta, empat tentara bayaran berjalan dengan pedang dan tombak. Mereka tidak mengenakan lambang kerajaan mana pun. Baju zirah mereka tidak seragam, sebagian terbuat dari besi, sebagian lain dari kulit tebal yang diperkuat lempengan logam. Salah seorang dari mereka menatap orang-orang yang lewat dengan mata sempit, tangannya tidak pernah jauh dari gagang pedang.
Lebih banyak peziarah memilih berjalan kaki.
Mereka membawa apa yang sanggup mereka angkut sendiri. Sepasang sepatu tambahan digantung pada tas. Selimut dililitkan di pundak. Makanan disimpan dalam bungkusan kain. Beberapa memakai kalung Jessiah di leher, dibuat dari kayu, tulang, tembaga, atau perak, tergantung kemampuan masing-masing.
Bau jalan itu segera sampai kepadaku ketika kami turun dari tepian hutan.
Kotoran kuda, debu, kulit basah, keringat, minyak roda, jerami, asap, dan makanan. Seseorang memanggang kacang di tepi jalan. Tidak jauh darinya, seorang pedagang menjual roti pipih dari keranjang besar. Bau roti hangat membuat perutku bergerak, meskipun kami sudah makan sebelum meninggalkan tempat perkemahan pagi tadi.
Suara-suara bercampur di udara. Roda kayu berderak di atas batu. Tapak kuda berdentang. Anak-anak merengek karena lelah. Pedagang memanggil pembeli. Para peziarah berbicara dalam logat berbeda-beda, sebagian dengan bahasa yang nyaris tidak kupahami. Lonceng kecil bergoyang mengikuti langkah keledai.
Setelah dua hari mendengar suara daun, burung, dan langkah kami sendiri, keramaian itu terasa terlalu besar.
Aku menarik tudung jubah lebih rendah hingga bayangannya menutupi dahi, rambut, dan sebagian wajah. Luka di pipiku sudah mulai mengering, tetapi masih cukup jelas untuk menarik perhatian. Rambutku, pakaian pinjaman Marlow, dan cara berjalanku mungkin tidak cukup untuk membuat orang langsung mengenaliku, namun aku tidak ingin mengambil risiko.
Di antara puluhan orang di jalan itu bisa saja ada simpatisan Dann. Bisa juga ada pedagang yang hanya membutuhkan beberapa koin sebelum menceritakan bahwa mereka melihat seorang pemuda berambut gelap berjalan bersama pria bersenjata dari arah Gisa.
Aku menundukkan kepala dan mengikuti Marlow turun menuju Highroad.
Begitu telapak sepatuku menginjak batu, perbedaannya langsung terasa. Setelah berhari-hari berjalan di tanah lunak, permukaan keras itu mengirimkan benturan kecil melalui tumit hingga ke lutut. Kakiku masih nyeri. Bahu kiriku kembali sakit akibat tali tas, sementara kulit di bagian belakang leher mulai terasa panas oleh gesekan jubah.
Marlow memilih berjalan dekat sisi jalan.
Ia tidak bergabung dengan rombongan mana pun dan tidak berusaha menyusup di antara peziarah. Ia hanya menjaga langkahnya tetap biasa, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Tudung mantelnya belum dinaikkan, tetapi ia menundukkan wajah setiap kali melewati kereta atau orang bersenjata.
Aku berjalan di sampingnya.
Beberapa orang memandang kami sebentar. Tidak lama. Marlow tampak seperti pemburu atau pengawal yang sedang pulang dari perjalanan. Dengan tudung menutupi wajah dan tas di punggung, aku mungkin terlihat seperti anaknya, pembantunya, atau kerabat muda yang tidak cukup kuat untuk membawa perlengkapan sebanyak dirinya.
Aku berharap itulah yang mereka lihat.
Kami melewati sebuah kereta yang salah satu rodanya rusak. Dua pria sedang berjongkok di sampingnya, mengangkat badan kereta menggunakan batang kayu. Seorang perempuan berdiri dekat kuda sambil memegangi tali kekang. Wajahnya merah karena marah, tetapi suaranya tertutup bunyi roda gerobak lain yang lewat.
Di seberang jalan, sekelompok anak muda berjalan sambil menyanyikan doa. Mereka mengenakan kain biru muda yang dililitkan di lengan. Suara mereka tidak terlalu bagus, tetapi mereka menyanyi dengan keras dan tidak peduli siapa yang mendengar.
Kami menunggu kereta besar lewat sebelum menyeberang ke sisi lain jalan.
“Apa tidak ada jalan lain menuju Dark Mountain selain lewat sini?” tanyaku.
Aku menjaga suara tetap rendah, meskipun tidak ada orang yang cukup dekat untuk mendengar dengan jelas.
“Ada,” jawab Marlow. “Kita bisa memutar melalui Blue Lake.”
“Kenapa tidak lewat sana?”
“Jalurnya lebih jauh.”
Hanya itu yang ia katakan.
Aku tidak memaksa penjelasan lain. Jalan memutar mungkin berarti tambahan beberapa hari, mungkin lebih. Persediaan kami tidak banyak, dan pasukan Dann sedang bergerak. Mitenn Highroad terlalu terbuka, tetapi setidaknya ia membawa kami ke barat lebih cepat.
Kami melanjutkan perjalanan mengikuti arus peziarah yang menjauh dari Gisa.
Matahari naik semakin tinggi. Udara tetap dingin karena angin dari High Mountain, tetapi punggungku mulai berkeringat di bawah jubah. Kain bagian dalam menempel pada bahu. Setiap kali aku menarik tudung agar tidak bergeser, jari-jariku menyentuh keringat di pelipis.
Debu putih muncul semakin banyak pada permukaan jalan. Ia terangkat oleh roda dan kaki, lalu menempel di bagian bawah celana serta sepatu. Tenggorokanku mulai terasa kering. Marlow memberikan kantong air tanpa menghentikan langkah. Aku minum dua teguk, meski ingin menenggak lebih banyak, lalu mengembalikannya.
Kami melewati batu penanda yang lebih besar daripada yang lain.
Tulisan pada permukaannya sudah tua, tetapi masih terbaca. High Mountain berada sembilan puluh tiga mil dari sana. Mitenn disebutkan di sisi lain, bersama tanda panah yang mengarah ke barat. Aku belum pernah mengunjungi Mitenn. Yang kutahu hanya kota itu berada di persimpangan jalan dagang, sebelum dataran mulai menurun menuju lembah-lembah barat.
Marlow terus berjalan, mengikuti arah penanda.
Di sisi jalan, seorang pendeta Jessiah sedang membalut kaki peziarah tua. Kaki pria itu penuh lecet dan darah. Sandalnya diletakkan di samping, solnya sudah hampir terlepas. Pendeta itu membersihkan luka menggunakan air dari kendi, lalu membungkusnya dengan kain putih yang segera berubah merah muda.
Tidak jauh dari sana, seorang anak menjual botol kecil berisi air yang katanya dibawa dari mata air High Mountain. Ia mengangkat botol-botol itu ke arah siapa pun yang lewat, menjanjikan keberuntungan dan kesembuhan. Sebagian orang membelinya. Sebagian lain tertawa dan terus berjalan.
Aku memperhatikan semuanya dari bawah tudung.
Kehidupan terus bergerak begitu saja. Orang berdoa, berdagang, bernyanyi, memperbaiki roda, mengobati kaki, dan bertengkar soal harga makanan. Tidak ada tanda bahwa istana baru saja berubah menjadi tempat pembantaian. Tidak ada wajah yang menunjukkan bahwa Raja Jerrod mungkin sudah diumumkan mati.
Mungkin kabarnya belum sampai sejauh ini.
Mungkin sudah, tetapi orang-orang tidak tahu apa yang harus dilakukan selain melanjutkan perjalanan.
Kami berjalan sampai matahari berada tinggi di atas kepala. High Mountain tetap tampak jauh, meskipun kami terus bergerak ke arahnya. Awan di sekitar puncak berubah bentuk. Beberapa kali angin membukanya, memperlihatkan lereng putih yang terkena cahaya, lalu menutupinya kembali.
Marlow tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali memperlambat langkah ketika kerumunan menjadi terlalu rapat atau ketika sekelompok penunggang kuda datang dari belakang. Setiap kali mendengar derap, tubuhku menegang lebih dahulu sebelum sempat kupikirkan.
Aku berusaha tidak menoleh.
Sekitar tengah hari, jumlah peziarah mulai berkurang. Jalan masih ramai, tetapi ruang di antara rombongan semakin lebar. Di depan kami tampak daerah berbukit rendah. Mitenn Highroad menanjak perlahan, lalu hilang di balik punggung bukit yang ditumbuhi rumput pucat.
Kami baru saja melewati sebuah gerobak penuh gentong ketika Marlow berhenti.
Ia tidak berhenti mendadak. Langkahnya hanya melambat, lalu tubuhnya menjadi lebih kaku. Tangannya bergerak kecil di sisi tubuh, mendekati mantel tempat belatinya tersembunyi.
Aku mengikuti arah pandangannya.
Di atas tanjakan, sebuah pos penjagaan berdiri melintang di sisi jalan.
Bangunannya sederhana, terbuat dari kayu kasar dengan atap miring. Sebuah palang panjang membatasi separuh jalan, memaksa kereta dan pejalan kaki melewati bagian sempit di sebelah kanan. Dua kuda diikat dekat pagar. Beberapa pria bersenjata berdiri di bawah atap dan di sisi palang.
Salah satu dari mereka sedang memeriksa isi kereta. Yang lain berbicara dengan seorang peziarah sambil memegang lembaran kulit atau kertas di tangannya.
Tidak ada orang yang tampak panik. Kereta berhenti, diperiksa, lalu dibiarkan lewat. Namun setiap orang harus mendekat cukup lama untuk dilihat wajahnya.
Aku merasakan panas di bawah jubah menghilang begitu saja.
“Pos itu seharusnya tidak ada,” kata Marlow pelan.
Aku menoleh kepadanya.
Wajahnya tidak berubah, tetapi matanya terus menilai bangunan, jumlah penjaga, kuda, palang, serta jalan di kedua sisinya. Semak di kiri terlalu tipis untuk menyembunyikan orang. Sisi kanan turun ke parit dan tanah terbuka. Berbalik sekarang akan terlihat lebih mencurigakan daripada terus berjalan.
Jarak kami dengan pos itu tidak terlalu jauh.
Kurang dari seratus langkah.
Aku menarik tudung lebih rendah. Jari-jariku dingin meski telapak tanganku berkeringat. Tali tas terasa semakin berat di bahu, sementara setiap bunyi logam dari arah pos membuat perutku mengencang.
Marlow mulai berjalan lagi.
Langkahnya tidak berubah. Ia tetap berada di sampingku, cukup dekat hingga bahu kami hampir bersentuhan ketika sebuah gerobak melewati kami dari belakang.
“Aku yang mengurusnya,” katanya tanpa melihatku. “Kau diam saja.”
Aku menelan ludah dan mengangguk di bawah tudung, dan kami terus berjalan menuju pos penjagaan.