Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Hari pertama di toko roti
Nadine sudah kembali dari jalan-jalan pagi bersama dengan sang tante. Tubuhnya terasa pegal, mungkin saja efek dari dirinya yang jarang berolahraga.
Tante Almi tertawa kecil ketika melihat Nadine yang sedang mengatur napasnya di halaman depan rumahnya. “Capek, ya, Nad?”
Nadine ikut tertawa kecil. “Lumayan, Tan. Nadine, kan jarang berolahraga, Tan, tapi ini termasuk ‘okay’ untuk ibu yang hamil muda sih, Tan.”
“Besok lagi, ya. Biar badan kamu terbiasa.”
Nadine menganggukkan kepalanya. “Iya, Tan.”
“Ayo, masuk.” Tante Almi merangkul pundak Nadine untuk masuk ke dalam rumah. “Kamu mandi dulu, ya. Tante mau bantu Om Divaz bikin adonan roti.”
“Iya, Tan. Nanti setelah selesai, Nadine kesana ikut bantu om dan tante.”
“Boleh, tapi tidak usah sampai capek, ya, Nad.”
“Aman, Tan.”
Nadine membersihkan dirinya di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ia mandi dalam waktu cukup lama, setelahnya ia segera berpakaian dan memberi sedikit riasan untuk wajahnya.
Segera ia melangkahkan kakinya bergabung dengan sang om dan tante di toko roti ‘Pelipur Lapar’.
“Sarapan dulu, Nad.” Tante Almi mengangkat salah satu styrofoam. “Tante beli nasi uduk dari tukang belanja yang lewat. Tante masih malas untuk masak di dapur, makan ini dulu tidak apa-apa, kan, Nad? Atau kamu mau tante masakin apa?”
Nadine menganggukkan kepalanya. “Tidak usah, Tan. Nadine sarapan pakai nasi uduk ini saja.”
“Makan dulu, Nad. Duduk disini, ya.” Om Divaz membawa sebuah kursi dari belakang untuk Nadine dengan pakaian bercorak tepung.
“Sarapan sini, Nad, tante temani.”
“Nadine sarapan sendiri tidak apa-apa, tan, kalau tante ingin bantu Om Divaz.” Nadine duduk di kursi yang letaknya berada di sebelah sang tante.
Tante Almi menggelengkan kepalanya. “Tante temani kamu sarapan dulu. Di belakang hanya tinggal menunggu rotinya matang dari oven.”
“Sebentar lagi buka, tan?” Nadine mengambil sesendok makan nasi uduk bercampur dengan lauknya untuk dimasukkan ke dalam mulut.
“Iya, 20 menitan lagi.”
“Langsung banyak yang antri, Tan?”
Tante Almi menganggukkan kepalanya. “Beberapa ada yang ambil pesanan dari beberapa hari sebelumnya. Ada juga yang sudah langganan beli roti disini. Ada juga anak sekolah yang beli untuk bekal. Yang bikin laris, ya tetangga-tetangga ini, Nad.”
“Lingkungan disini positif, ya, Tan. Saling memberi dukungan.” Nadine menatap sang tante dengan tersenyum tipis. “Nadine tidak apa-apa tinggal disini, Tan? Nanti tetangga tante gimana?”
“Tidak apa-apa, Nad. Tante sudah melapor ke Pak RT tentang kamu. Keponakan tante yang ikut tinggal disini.”
Nadine mengusap perutnya. “Perut Nadine, kan pastinya semakin besar, Tan. Tidak apa-apa Nadine bareng tante dengan kondisi hamil tanpa suami?”
“Kamu, kan sudah bercerai, Nad. Nanti kalau ada yang tanya, biar tante yang jawab. Iya? Tidak apa-apa, Nad. Tidak usah dijadikan pikiran, ya. Hiduplah dengan sehat. Sesekali ajak bayi di perutmu bercerita.” Tante Almi mengusap perut Nadine.
“Benar, Nad. Buat bahagia untuk dirimu sendiri, ya. Jangan selalu berpikir dan menyalahkan dirimu untuk kesalahan yang bukan dari kamu.” Om Divaz datang dengan membawa nampan yang berisikan puluhan roti. Om Divaz memasukkannya ke dalam display di depan Nadine.
“Tante bantu Om Divaz di belakang dulu, ya, Nad.”
“Nadine ikut, Tan.”
“Kamu disini saja.” Tante Almi menahan tubuh Nadine yang akan berdiri. “Bantu Tante jaga di kasir sini, ya. Tokonya segera Om Divaz buka. Harga terbarunya sudah tertera di catatan komputer.”
“Okay, Tan.” Nadine menganggukkan kepalanya dengan antusias. “Hari pertama menjadi kasir di toko roti.”
Om Divaz tertawa kecil. Tidak menatap Nadine karena Om Divaz menatap roti yang sedang ia susun di dalam display.
Seorang pembeli datang dengan berpakaian sekolah. “Roti gandum 2, Pak Divaz.”
“Sebentar, ya, Takrim.”
Takrim menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya ketika Nadine melihat dan tersenyum ke arahnya. “Siapa yang jaga kasir hari ini, Pak? Bukan Kak Andin, ya.”
Om Divaz tertawa kecil. “Bukan. Namanya Nadine, keponakan saya.”
Takrim menganggukkan kepalanya. Ia menerima paperbag berisi pesanannya.
“Bayarnya di keponakan saya, ya. Boleh kenalan, tapi tidak boleh jatuh cinta ke keponakan saya,” canda Om Divaz.
Nadine tertawa kecil ketika melihat Takrim menggaruk rambutnya. Terlihat salah tingkah.
“Ini, Kak.”
Nadine mengambil paperbag dari tangan Takrim. Ia mulai scan kode dari paperbag. Karena setiap jenis roti memiliki paperbag sendiri agar memudahkan scan harga.
“10.000, Takrim.”
Takrim menganggukkan kepalanya. “Ini, ya, Kak. Terima kasih. Besok masih disini, kan, Kak?”
Nadine menerima uang pemberian Takrim. “Masih, Takrim.”
“Besok Takrim kesini lagi, ya, hehe…” Takrim mengangkat tangannya ke udara. “Terima kasih, Pak Divaz. Takrim berangkat sekolah dulu, ya.”
“Hati-hati, Takrim.”
Om Divaz dan Nadine tertawa kecil menatap kepergian Takrim. Wajahnya santai dan mudah berbaur.
“Namanya Takrim. Rumahnya ada di 2 rumah setelah rumah kita, Nad.”
Nadine menganggukkan kepalanya. “Senang, ya, Om, punya tetangga seperti Takrim.”
Om Divaz tertawa. “Itu musuh Andin kalau pulang ke rumah, Nad. Sama-sama berisik. Apalagi kalau sore hari, dua-duanya saling kejar-kejaran di depan rumah.”
“Di rumah Adinata tidak ada tetangga yang saling berbaur, Om. Semuanya sibuk.”
“Mungkin disini bisa jadi pelipur lara kamu, Nad,” sambung Tante Almi.
“Seperti nama toko ini,” ucap Om Divaz.
“Pelipur Lapar, Om.”