~
Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
***
Keesokan paginya, matahari terbit dengan memancarkan sinar keemasan yang menembus celah-celah jendela kaca besar di rumah ndalem. Angin pagi pedesaan yang sejuk membawa aroma tanah basah dan wangi bunga melati yang bermekaran di halaman. Di dalam kamar perawatan, botol infus ketiga Nayanika akhirnya telah kosong. Dokter Anwar baru saja melepas jarum dari punggung tangannya, meninggalkan bekas plester kecil di atas kulitnya yang masih agak pucat, namun tenaganya perlahan-lahan mulai kembali berkat istirahat penuh dan asupan nutrisi medis.
Suasana di dalam rumah utama keluarga pengasuh itu terasa begitu sunyi, namun bukan lagi kesunyian yang mencekam seperti kemarin siang. Tirai penyekat ruang tengah telah dibuka. Di sana, di atas karpet tebal bergaya Turki yang dikelilingi oleh kursi-kursi kayu jati berukir, Mbah Yai Usman dan Bu Nyai Halimah sudah menunggu.
Gus Zayyan berdiri di dekat pilar kayu, penampilannya tetap rapi dengan baju koko abu-abu muda dan sarung gelap, namun tatapan matanya terus terarah pada pintu kamar perawatan, menanti sosok wanita yang kini statusnya telah berubah total di dalam hidupnya.
Ketika pintu jati berdecit pelan, Naya melangkah keluar. lIa mengenakan gamis hitam longgar milik Bu Nyai yang tampak agak kebesaran di tubuh ringkihnya, dipadukan dengan jilbab instan berwarna senada. Langkah kakinya masih agak pelan, namun dagunya terangkat tegak. Jiwa pemberontak dan gengsi tingginya sebagai anak Jakarta tidak membiarkan dirinya terlihat menyedihkan di depan keluarga besar ini.
"Kemari, Nuk... Duduk dekat Ummi," panggil Bu Nyai Halimah dengan suara yang teramat lembut, melambaikan tangannya dengan mata yang kembali berkaca-kaca menahan haru.
Naya mengangguk tipis, lalu berjalan mendekat dan mengambil tempat duduk di sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan Mbah Yai Usman. Zayyan melangkah perlahan, memilih duduk di sofa panjang yang berada di sebelah Naya, menjaga jarak yang cukup namun tetap memancarkan aura protektif yang kuat.
Mbah Yai Usman menghela napas panjang, meletakkan tasbih kayu kokka yang sejak tadi diputar di jemarinya. Beliau menatap Naya dengan tatapan mata seorang kakek yang dipenuhi rasa bersalah yang amat mendalam.
"Nayanika..." Mbah Yai Usman membuka suara, suaranya yang berat dan berwibawa bergaung lembut di ruang tengah. "Pertama-tama, atas nama seluruh pengasuh, pengurus, dan nama besar Pondok Pesantren Al-Falah, Abah meminta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu. Kejadian kemarin... kezaliman yang kamu terima dari Ustadzah Maryam dan Fida, adalah murni kelalaian kami dalam mengawasi pondok ini."
Naya tertegun. lIa tidak menyangka seorang Kiai Besar yang dihormati dan dicium tangannya oleh ribuan santri, kini menundukkan kepala di hadapannya untuk meminta maaf secara resmi.
"Abah tidak akan membela diri," lanjut Mbah Yai Usman, matanya menatap lekat-lekat manik mata Naya. "Sanksi pemecatan Maryam dan pengusiran Fida kemarin sore hanyalah langkah awal untuk membersihkan kotoran di pondok ini. Tapi Abah tahu, rasa sakit, lelah, dan syok yang kamu alami tidak akan hilang begitu saja hanya dengan kata maaf."
Mbah Yai Usman menjeda kalimatnya, melirik sekilas ke arah Gus Zayyan yang tetap menyimak dalam diam, sebelum kembali menatap cucu kandungnya itu.
"Oleh karena itu, Nak... Abah dan Ummi tidak akan memaksakan kehendak lagi kepadamu. Perjodohan lama, pernikahan siri yang terjadi kemarin, atau status tanah ini... Abah serahkan sepenuhnya keputusan di tanganmu sekarang. Jika kamu merasa tempat ini terlalu kejam, jika kamu merasa kecewa dan ingin kembali ke Jakarta hari ini juga... Abah yang akan mengantarmu langsung ke depan papamu. Abah tidak akan menahanmu lagi di Al-Falah."
Mendengar tawaran dari Mbah Yai Usman, ruangan itu seketika menjadi senyap. Bu Nyai Halimah menahan napasnya, menatap Naya dengan cemas karena teramat takut kehilangan cucu perempuannya lagi. Di sudut lain, jemari tangan Gus Zayyan yang bertumpu di atas lutut diam-diam mengepal erat. Ada ketegangan yang tidak biasa di rahang tegas pria itu, menanti kalimat apa yang akan keluar dari bibir istrinya.
Naya terdiam selama beberapa menit. lIa menatap telapak tangannya yang masih menyisakan bekas lecet memerah. Pikirannya melayang kembali pada rentetan kejadian fiksi beberapa hari ini. lIa mengingat rasa sakit di kantin, lirikan penuh kemenangan dari Fida, dan bentakan kejam dari Ustadzah Maryam yang menyebutnya sebagai "anak baru liar jalur titipan yang tidak punya masa depan dan dasar ilmu".
Mereka semua menganggapnya sebagai sampah buangan dari kota Jakarta yang hanya bisa berbuat onar. Mereka berpikir Naya akan menangis, menyerah, dan merangkak pulang ke rumah mewahnya seperti seorang pecundang yang kalah sebelum berperang.
Naya menarik napasnya dalam-dalam, membusungkan dadanya yang masih terasa agak sesak. lIa menegakkan punggungnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata teduh Mbah Yai Usman tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Enggak, Mbah Yai... Abah," ucap Naya, suaranya terdengar jernih dan tegas, meskipun masih ada sisa serak akibat sakit. "Gue... maksud saya, saya enggak mau pulang ke Jakarta sekarang."
Bu Nyai Halimah terkesiap, senyum kebahagiaan langsung merekah di wajah sepuhnya. Sementara Gus Zayyan perlahan melepaskan kepalan tangannya, ada embusan napas lega yang teramat tipis keluar dari sela bibirnya.
"Kamu yakin, Nuk? Di sini hidupmu akan jauh berbeda dengan kemewahan di kota," tanya Mbah Yai Usman, memastikan kemantapan hati cucunya.
"Saya yakin, Abah," jawab Naya, sepasang matanya berkaca-kaca menahan luapan emosi, namun dagunya tetap terangkat angkuh. "Si lampir tua Maryam sama si Fida itu... mereka berdua udah meremehkan saya. Mereka pikir saya ini cuma anak buangan yang lemah dan bisa mereka injak-injak sesuka hati. Kalau saya pulang ke Jakarta sekarang dalam keadaan kayak gini, itu artinya mereka menang. Saya bukan pecundang yang bakal lari dari arena balapan cuma gara-gara ditabrak sekali, Abah."
Naya melirik sekilas ke arah Gus Zayyan yang saat ini tengah menatapnya dengan binar kekaguman yang tersembunyi di balik lensa kacamatanya.
"Dan soal... pernikahan itu," Naya menjeda kalimatnya, rona merah tipis sempat melintas di pipinya yang tirus. "Saya masih syok, dan saya jujur belum bisa menerima status sebagai istri sekarang. Tapi saya memutuskan untuk tetap tinggal di Al-Falah. Saya mau membuktikan sama semua orang di pondok ini kalau penilaian mereka tentang saya itu salah. Saya bisa berubah dengan cara saya sendiri. Dan... saya juga butuh waktu di sini untuk mencari tahu, apakah saya benar-benar bisa menerima Gus Zayyan di hidup saya atau enggak."
Mbah Yai Usman tersenyum lebar, sebuah senyuman penuh kebanggaan yang teramat tulus. Beliau mengangguk-anggukkan kepalanya. "Masya Allah... darah keturunan ndalem dan sifat keras kepala ibumu memang mengalir murni di dalam dirimu, Nuk. Abah hargai keputusanmu. Mulai hari ini, kamu tidak perlu kembali ke asrama umum. Kamu akan tinggal di ndalem dan menjadi asisten pribadi Ummi Halimah."
Setelah pembicaraan berat mengenai masa depan itu selesai, Mbah Yai Usman dan Bu Nyai Halimah pamit keluar menuju ruang depan untuk mengurus berkas administrasi kepengurusan pondok yang sempat terbengkalai. Ruang tengah kembali sunyi, menyisakan Naya dan Gus Zayyan yang masih duduk berhadapan.
Naya meremas ujung gamisnya. Rasa rindu, bingung, dan keinginan untuk menuntut penjelasan dari orang-orang yang telah melahirkannya mendadak membuncah di dalam dadanya. lIa menoleh ke arah Zayyan yang sedang merapikan beberapa kertas dokumen di meja.
"Gus..." panggil Naya, suaranya mendadak melunak, kehilangan nada ketusnya.
Zayyan menghentikan aktivitasnya, menoleh penuh perhatian. "Iya, Nayanika? Ada yang sakit?"
"Gue... gue mau ketemu sama nyokap dan bokap gue," ujar Naya, matanya menatap Zayyan dengan pandangan penuh harap yang teramat polos. "Semua rahasia gila ini kan bersumber dari mereka. Gue mau ketemu Papa. Gue mau nanya langsung ke dia, kenapa dia tega nikahin gue diam-diam sama lu tanpa ngomong apa-apa ke gue. Gue mau telpon mereka sekarang, Gus. HP gue mana?"
Zayyan menatap mata Naya yang penuh harap itu dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi redup dan sarat akan rasa iba. Pria itu menghela napas pendek, meletakkan kembali pulpennya ke atas meja. lIa memajukan tubuhnya, menatap Naya dengan tatapan yang teramat serius namun lembut.
"Nayanika, dengarkan saya baik-baik," buka Zayyan, suaranya rendah dan berhati-hati. "Saya tidak akan melarangmu untuk menghubungi mereka lagi. Kontrak ponsel kita sudah saya batalkan sejak kemarin. Tapi... untuk bertemu atau berbicara dengan mereka saat ini, sepertinya belum bisa."
Naya mengerutkan keningnya, jantungnya mendadak berdegup tidak nyaman. "Kenapa belum bisa? Lu mau nyembunyiin mereka dari gue?!"
"Bukan begitu," sanggup Zayyan dengan sabar. "Dua hari yang lalu, tepat setelah mereka memastikan kamu aman di bawah pengawasan Ummi Halimah di sini, papa dan mamamu... mereka sudah berangkat ke luar negeri."
DEG.
Bagai dihantam oleh godam besar sekali lagi, dada Naya mendadak terasa sesak dan kosong secara bersamaan. "Ke... ke luar negeri? Maksud lu apa?"
"Papamu harus mengurus ekspansi bisnis baru dari Pangestu Grup di Eropa, dan mamamu, Ning Jihan, ikut mendampinginya untuk pengobatan medis sekaligus urusan keluarga di sana selama beberapa bulan ke depan," jelas Zayyan runtut, mencoba menyampaikan kenyataan pahit itu selembut mungkin agar tidak melukai perasaan istrinya. "Mereka sengaja mematikan nomor kontak pribadi mereka sementara waktu demi fokus pada urusan di sana, dan menyerahkan seluruh otoritas kepengurusan serta perlindungan dirimu sepenuhnya kepada saya dan Abah Usman."
Mendengar penjelasan dari Gus Zayyan, pertahanan mental Naya yang baru saja ia bangun dengan tegak seketika runtuh berantakan. Mata indahnya membelalak lebar, air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah deras membanjiri pipinya yang pucat.
Tawa hambar yang terdengar sangat menyedihkan keluar dari sela bibir Naya. lIa menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap langit-langit ndalem dengan pandangan kosong yang teramat hancur.
"Hahaha... keren banget," bisik Naya di sela isak tangisnya yang mulai pecah. "Keren banget cara mereka menyingkirkan gue dari Jakarta. Jadi... gue beneran dibuang ya di sini? Di saat gue sendirian, di saat gue baru tahu kalau hidup gue diatur kayak boneka, di saat gue butuh penjelasan dari mereka... mereka palah asyik pergi ke luar negeri dan ninggalin gue di tempat asing begini sendirian?"
Naya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang lecet, tangisannya kini meledak memenuhi kesunyian ruang tengah ndalem. Rasa kesepian yang teramat dalam, rasa dikhianati oleh orang tua sendiri, dan rasa asing terhadap takdir barunya melebur menjadi satu kehancuran emosional yang teramat masif bagi gadis berusia sembilan belas tahun itu. lIa merasa benar-benar sebatang kara di tengah dunia yang tidak pernah ia inginkan.
Zayyan menatap pemandangan di hadapannya dengan hati yang terasa seperti diremas kuat. lIa tidak tahan melihat air mata wanita yang kini telah menjadi belahan jiwanya itu mengalir deras. Tanpa memedulikan lagi dinding pembatas di antara mereka, Zayyan bangkit dari sofanya, lalu berlutut di atas karpet tepat di hadapan Naya. lIa meraih kedua pergelangan tangan Naya, menariknya perlahan dari wajah gadis itu agar mereka bisa saling beradu pandang.
"Kamu tidak sendirian, Nayanika. Jangan pernah berpikir bahwa kamu dibuang," ucap Zayyan dengan nada bariton yang teramat dalam, bergetar oleh ketulusan yang mutlak. "Mereka tidak membuangmu, mereka hanya menitipkan pemilik singgasana Al-Falah ini ke tempat yang paling aman. Dan ingat kata-kata saya kemarin... mulai detik ini, kamu adalah tanggung jawab saya. Saya yang akan berdiri di sini sebagai rumahmu, pelindungmu, dan tempatmu bersandar saat kamu merasa dunia ini terlalu asing untukmu."
Naya menatap mata elang Gus Zayyan dari balik kabut air matanya. Di tengah badai sunyi yang menghancurkan hatinya, genggaman tangan hangat pria kaku di hadapannya ini mendadak terasa seperti satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut tenggelam ke dalam kegelapan.
BERSAMBUNG
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr
lanjut thor up yg banyak