Bagi Bara Mahendra, lima belas tahun lalu adalah malam jahanam yang merenggut segalanya. Di bawah guyuran hujan lebat, ia dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji.
Sebuah nama yang dibisikkan sang ibu sebelum mengembuskan napas terakhir melekat abadi di kepala Bara: Darma Amartya. Sejak detik itu, Bara bersumpah akan menukar masa mudanya demi satu tujuan tunggal—balas dendam.
Kini, Bara kembali sebagai pengusaha muda yang dingin, genius, dan penuh taktik. Baginya, kematian terlalu instan dan mudah untuk seorang Darma.
Pria tua itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa, yaitu melihat permata paling berharga dalam hidupnya hancur berkeping-keping: Senja Amartya, putri tunggalnya.
Senja adalah perwujudan dari namanya sendiri, hangat, tulus, dan murni. Ia tidak tahu-menahu tentang dosa masa lalu sang ayah. Ketika perusahaan ayahnya berada di ambang kebangkrutan, Bara hadir layaknya seorang kesatria penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu yang Membakar
Tiga minggu berlalu setelah badai demam tinggi yang merenggut sisa tenaga Senja. Fisiknya perlahan pulih, namun tatapan matanya tetap redup. Baginya, setiap detik di dalam penthouse adalah hitungan mundur menuju kehancuran yang sesungguhnya. Kebencian Bara memang tak lagi meledak-ledak seperti sebelumnya, namun sikap dingin yang ditunjukkan pria itu tetap terasa mencekam.
Sore itu, keheningan di ruang tengah pecah saat ponsel pintar baru milik Senja berdering nyaring. Hanya ada dua nomor di sana, dan nomor yang tertera di layar adalah milik Rian. Dengan tangan gemetar, Senja menggeser tombol hijau.
"Nona Senja..." Suara Rian di seberang sana terdengar panik dan terengah-engah, tidak seperti biasanya yang selalu tenang.
"Kondisi Pak Darma di rumah sakit tiba-tiba drop drastis. Dokter bilang beliau mengalami gagal jantung akut dan saat ini sedang berada di ruang ICU dalam kondisi kritis."
Ponsel di tangan Senja nyaris terlepas. Seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas, dan dunianya seolah berputar hebat.
"Pa... Papa..." cicitnya dengan air mata yang langsung tumpah membasahi pipi.
Tepat di saat yang sama, pintu lift terbuka, menampilkan sosok Bara yang baru saja pulang dari kantor. Melihat istrinya menangis tersedu-sedu sambil memegang ponsel dengan tubuh bergetar, langkah Bara seketika terhenti.
Senja melihat kedatangan Bara layaknya melihat satu-satunya harapan yang tersisa. Tanpa memedulikan harga diri atau rasa takutnya lagi, Senja berlari menghampiri Bara. Ia langsung berlutut di depan kaki suaminya, mencengkeram ujung celana bahan Bara dengan erat sembari mendongak penuh kepasrahan.
"Bara... aku mohon... aku mohon padamu," ratap Senja, suaranya parau dan terputus-putus akibat tangis yang kian histeris.
"Papa kritis di rumah sakit. Izinkan aku menjenguknya, Bara. Hanya sebentar... aku ingin melihat wajah Papa."
Bara menatap ke bawah, memandang Senja yang bersujud di kakinya dengan perasaan yang berkecamuk. Ego dendamnya berbisik bahwa ini adalah momen yang ia tunggu melihat Darma Amartya mati dalam kesengsaraan dan putrinya hancur dalam kesedihan.
Namun, melihat punggung Senja yang berguncang hebat karena rapuh, dada Bara mendadak terasa sesak luar biasa. Ia benci menyadari bahwa ia tidak lagi tega melihat air mata gadis ini.
Bara menarik napas dalam, lalu mencengkeram lengan Senja untuk memaksanya berdiri.
"Hapus air matamu. Ganti pakaianmu sekarang," ucap Bara dingin, namun tidak ada nada ketajaman di sana.
Senja mengerjap, menatap suaminya dengan pandangan tidak percaya.
"Kau... kau mengizinkanku?"
"Aku yang akan mengantarmu sendiri," potong Bara tegas, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Senja yang basah.
"Jangan berpikir kau bisa memanfaatkan momen ini untuk kabur dariku, Senja. Aku akan mengawasimu setiap detik. Masuk dan bersiaplah, aku beri waktu lima menit."
______________________________________________
Perjalanan menuju Rumah Sakit Medika Utama terasa begitu panjang bagi Senja. Mobil sedan mewah milik Bara membelah jalanan kota yang diguyur gerimis dengan kecepatan tinggi.
Di kursi penumpang, Senja tidak berhenti meremas kedua tangannya sendiri, mulutnya merapalkan doa tanpa henti untuk keselamatan ayahnya.
Bara yang duduk di kursi kemudi sesekali melirik ke samping melalui sudut matanya. Ia melihat bagaimana jemari Senja memutih karena terlalu erat bertaut, dan bagaimana bibir tipis itu bergetar menahan tangis.
Ada keinginan kuat di dalam diri Bara untuk mengulurkan tangan dan menggenggam jemari itu, menenangkannya. Namun, Bara segera mencengkeram setir mobilnya lebih kuat, membuang jauh-jauh pikiran lemah tersebut.
Begitu sampai di depan gedung pusat jantung dan pembuluh darah, Senja langsung membuka pintu mobil bahkan sebelum kendaraan itu berhenti sempurna. Ia berlari masuk menembus lobi rumah sakit tanpa memedulikan penampilannya yang berantakan.
Bara dengan sigap mengunci mobilnya dan melangkah lebar mengejar Senja, memastikan jarak di antara mereka tidak pernah lebih dari beberapa meter.
Langkah Senja terhenti di depan pintu kaca besar bertuliskan 'ICU'. Di sana, melalui dinding kaca, beberapa dokter dan perawat tampak sibuk memeriksa monitor jantung di samping ranjang Darma Amartya yang dipenuhi selang penunjang hidup.
Namun, bukan hanya tim medis yang ada di sana. Di depan ruang tunggu ICU, sesosok pria tegap berpakaian kasual sedang berdiri dengan raut wajah cemas. Pria itu adalah Rendra Alatas.
"Senja!" Rendra langsung menoleh begitu mendengar derap langkah kaki yang terburu-buru. Ia melangkah cepat dan langsung menangkap tubuh Senja yang nyaris limbung karena kelelahan dan syok.
Kedua tangan Rendra mendekap bahu Senja dengan protektif.
"Senja, tenanglah... Om Darma masih ditangani dokter di dalam. Kamu harus kuat."
Senja menangis di dada Rendra, mencari sedikit kekuatan dari satu-satunya orang dari masa lalunya yang tersisa. "Rendra... Papa... Papaku..."
Brak.
Sebuah tangan kekar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Rendra dengan kasar dan menyentakkannya menjauh dari tubuh Senja. Bara Mahendra sudah berdiri di antara mereka, memposisikan dirinya sebagai dinding pembatas yang kokoh. Aura di koridor rumah sakit yang dingin itu mendadak berubah menjadi sangat panas dan mengintimidasi.
"Jauhkan tanganmu dari istriku, Tuan Alatas," desis Bara, suaranya sangat rendah namun sarat akan ancaman yang mematikan. Matanya menyipit tajam, menatap Rendra dengan kilatan amarah yang membara.
Rendra yang terkejut segera memperbaiki posisinya, menatap balik Bara dengan rahang yang mengeras.
"Istri? Kau menyebut dirimu suaminya setelah semua penderitaan yang kau berikan padanya, Bara?! Dia datang ke sini karena ayahnya sekarat, dan kau masih memikirkan egomu?!"
Bara maju satu langkah, mengikis jarak hingga kedua pria itu saling berhadapan dengan tensi yang mendidih. Rasa panas yang membakar dada Bara saat melihat Senja berada di dalam dekapan Rendra tadi bukan lagi sekadar amarah karena hak miliknya diusik itu adalah rasa cemburu yang teramat murni, rasa cemburu seorang pria yang tidak rela melihat wanitanya mencari perlindungan pada pria lain.
"Apapun statusku, dia adalah tanggung jawabku sepenuhnya," ucap Bara dengan penekanan di setiap kata, tangannya bergerak menarik pinggang Senja agar merapat di sisi tubuhnya.
"Keberadaanmu di sini sama sekali tidak dibutuhkan. Keluar dari lantai ini sebelum aku menyuruh pihak keamanan menyeretmu keluar secara tidak hormat."
"Bara, cukup!" Senja akhirnya bersuara di antara tangisnya. Ia memegang lengan kemeja Bara, menatap suaminya dengan pandangan memohon yang teramat sangat.
"Aku mohon... jangan ribut di sini. Papa sedang berjuang di dalam..."
Melihat air mata Senja yang kian deras dan tubuhnya yang bergetar di dekapannya, Bara mengepalkan tinjunya kuat-kuat di dalam saku celana. Ia melirik Rendra sekali lagi dengan tatapan mengusir yang tak terbantahkan, lalu mengalihkan seluruh fokusnya pada pintu ruang ICU yang baru saja terbuka, menampilkan sang dokter yang melangkah keluar dengan wajah lesu.
Takdir keluarga Amartya kini benar-benar berada di titik nadir, dan di sampingnya, rantai dendam Bara mulai terasa kian menyiksa dirinya sendiri.
Bersambung