NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action
Popularitas:115.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Selangkah Menuju Pernikahan

Dua puluh menit setelah Enzo pergi, Chantika turun ke lantai bawah dengan seragam polisi lengkap. Indera penciumannya langsung disambut aroma roti panggang dan kopi hangat.

Saat memasuki ruang makan, Rahardja, Ranti, dan Saras sudah duduk di tempat masing-masing.

"Pagi."

"Pagi," balas Rahardja sambil tersenyum.

Chantika menarik kursinya lalu mengambil selembar roti.

Saras memerhatikannya beberapa saat sebelum tersenyum tipis. "Tumben Kakak agak telat."

Chantika mulai mengoleskan selai ke atas rotinya. "Tadi kesiangan sedikit."

Saras mengangguk pelan. "Oh..."

Lalu ia menoleh ke arah Rahardja. "Atau... jangan-jangan karena semalam habis kencan sama pacarnya?"

Nada bicaranya terdengar ringan, seolah hanya sedang bercanda.

Chantika tetap tenang. "Bisa dibilang begitu."

Saras kembali tersenyum. "Ngomong-ngomong..." Ia pura-pura ragu sebelum melanjutkan. "Semalam aku gak sengaja lihat dari jendela."

Chantika menghentikan gerakan tangannya. "Apa?"

Saras menahan senyum. "Kakak sama Enzo ciuman di depan rumah."

Ia menutup mulutnya seolah baru sadar telah keceplosan. "Ya ampun... mesra banget."

Ruangan seketika menjadi hening.

Ranti langsung menoleh kepada Rahardja.

Sementara Rahardja yang hendak meletakkan cangkir kopinya sempat berhenti beberapa saat. Namun hanya sesaat. Ia tetap meletakkan cangkir itu dengan tenang.

"Lalu kenapa?" tanyanya datar.

Saras sedikit tertegun. "Maksud Papa?"

Rahardja menatap Saras dengan sorot mata tenang. "Chantika sudah dewasa."

"Iya, tapi—"

"Kakakmu akan segera menikah." Rahardja langsung memotong ucapan Saras.

"Sebagai calon suami istri, mereka sedang saling mengenal. Selama mereka tetap menjaga batas dan tahu tanggung jawabnya, Papa tidak melihat ada masalah."

Wajah Saras langsung berubah. Ia berharap ayahnya akan menegur Chantika. Ternyata justru sebaliknya.

Ranti ikut membuka suara. "Pa, tetap saja mereka belum menikah."

"Benar." Rahardja mengangguk pelan. "Tapi aku mengenal putriku."

Tatapannya beralih kepada Chantika. "Papa percaya kamu tahu mana yang boleh dan mana yang tidak."

Chantika tersenyum kecil. "Terima kasih, Pa."

Rahardja membalas senyum putrinya. "Papa juga percaya dengan pilihanmu."

Kalimat itu membuat Saras mengepalkan tangan di bawah meja.

Lagi-lagi selalu seperti ini. Apa pun yang dilakukan Chantika, ayahnya selalu membela dan mempercayainya.

Sementara dirinya... Sekeras apa pun berusaha menarik perhatian, tetap saja tidak pernah mendapatkan kebanggaan yang sama.

Ranti menangkap perubahan raut wajah putri kandungnya. Wanita itu tidak berkata apa-apa. Namun sorot matanya menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak menyukai arah pembicaraan pagi itu.

Sementara Chantika tetap menikmati sarapannya tanpa menyadari tatapan iri dari Saras yang semakin besar.

***

Suasana pagi di Markas Resmob sudah kembali sibuk saat Chantika melangkah menuju ruang administrasi. Ia berpapasan dengan beberapa anggota yang berlalu-lalang membawa berkas, sementara yang lain sibuk mempersiapkan briefing operasi.

Tak lama kemudian, di salah satu ruangan administrasi, Chantika sudah berdiri di depan meja atasannya sambil menyerahkan sebuah map berwarna cokelat.

"Lapor Pak, saya ingin mengajukan izin menikah."

Atasannya mengangkat kepala. "Izin menikah?"

"Siap. Iya, Pak."

Pria paruh baya itu membuka map tersebut, memeriksa satu per satu berkas yang sudah disiapkan dengan rapi.

"Calon suamimu sudah melengkapi semua persyaratan?"

"Siap. Sudah, Pak."

"Bagus." Ia mengangguk pelan. "Nanti administrasi akan memprosesnya. Setelah itu akan ada pemeriksaan sesuai prosedur."

"Siap, Pak."

"Selamat ya, Iptu Chantika."

"Terima kasih, Pak." Chantika memberi hormat sebelum keluar dari ruangan.

Tak jauh dari sana...

Dua anggota Resmob yang baru keluar dari ruang administrasi masih membicarakan sesuatu.

"Eh, kamu tahu gak?"

"Apa?"

"Iptu Chantika baru aja ngajuin izin menikah."

"Hah?" Pria itu langsung membelalakkan mata. "Serius?"

"Iya."

"Kapan dia pacaran?"

"Gak tahu."

"Masa tiba-tiba nikah?"

Percakapan mereka tanpa sengaja terdengar oleh seseorang yang baru saja melewati koridor.

Arga.

Langkahnya seketika terhenti. "Apa kata kalian tadi?"

Kedua anggota itu menoleh.

"Pagi, Pak AKP."

"Pagi."

Arga menatap mereka bergantian. "Tadi kalian bilang Iptu Chantika mengajukan izin menikah?"

"Iya, Pak."

"Barusan."

Untuk sesaat Arga hanya terdiam. Semalam ia memang sudah melihat Chantika bersama Enzo. Namun ia mengira hubungan mereka masih sangat baru.

Tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa keduanya justru sudah memutuskan menikah.

"Secepat itu...." gumam Arga pelan.

Salah seorang anggota tersenyum. "Mungkin memang udah jodohnya, Pak."

Tak lama kemudian beberapa anggota lain ikut berkumpul.

"Ngomongin apa?"

"Iptu Chantika mau nikah."

"Apa?"

"Serius?"

"Siapa pria beruntung itu?"

Ruangan kecil itu langsung ramai.

"Hebat juga."

"Iptu Chantika itu cantik."

"Pinter."

"Berprestasi."

"Usia dua puluh lima udah jadi Iptu."

"Belum lagi beberapa operasi besar dipimpin dia."

"Yang nangkep DPO perampokan bersenjata bulan lalu juga dia."

"Kasus penyanderaan anak itu juga berhasil diselesaikan tanpa korban."

"Operasi penggerebekan jaringan narkoba lintas kota juga dia yang jadi komandan lapangan."

"Siapa, ya, laki-laki yang bisa bikin Iptu Chantika mau berhenti melajang?"

Semua saling menebak-nebak.

Sementara Arga hanya tersenyum tipis. Entah kenapa dadanya terasa sedikit sesak. Bukan karena marah, apalagi karena iri. Hanya ada sedikit penyesalan.

"Ternyata..." Ia mengembuskan napas pelan. "...aku memang datang terlambat."

Seorang rekan menepuk bahunya. "Pak AKP masih banyak polisi cantik di luar sana."

Arga terkekeh kecil. "Iya."

Tatapannya mengarah ke ruang administrasi, tempat Chantika tadi masuk. "Semoga dia benar-benar bahagia."

Kalimat itu keluar dengan tulus. Karena sejak awal, ia memang menyukai Chantika bukan untuk dimiliki dengan cara memaksa.

Dalam hati ia bergumam. "Kalau dia udah memuin seseorang yang bisa bikin dia buka hati... Aku cuma bisa doain kebahagiaannya."

Tak jauh dari sana, Chantika berjalan menyusuri koridor dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan. Dalam hati ia tersenyum kecil.

"Selangkah lagi... Semoga semuanya berjalan lancar sampai hari pernikahan nanti."

***

Langit telah sepenuhnya gelap saat Chantika menyelesaikan giliran dinasnya. Jarum jam menunjukkan pukul delapan malam.

Begitu keluar dari markas Resmob, ia langsung masuk ke mobilnya. Mesin dinyalakan. Kendaraan roda empat itu melaju membelah lalu lintas malam menuju sebuah hotel bintang lima. Hotel tempat ia kehilangan kehormatannya.

Chantika menggenggam kemudi sedikit lebih erat. "Malam ini... semuanya harus jelas."

Ia ingin memastikan apakah malam itu Saras bersekongkol dengan Bryan untuk menjebaknya atau benar-benar tak tahu apa-apa seperti yang ia katakan.

Beberapa puluh menit kemudian, mobil Chantika memasuki area hotel. Begitu mesin dimatikan, ia langsung keluar dan melangkah dengan menatap.

Ketika tinggal beberapa meter dari pintu utama, dua petugas keamanan yang berjaga langsung menoleh.

Salah seorang di antaranya sempat membelalakkan mata. Lalu keduanya saling berpandangan sesaat. Mereka langsung mengenali wanita itu. Wajah yang kemarin diperlihatkan oleh pihak manajemen dengan satu instruksi tegas.

Jika wanita itu datang, perlakukan seperti memperlakukan Tuan Enzo sendiri. Tidak perlu bertanya terlalu banyak. Jangan meminta identitas berulang kali. Berikan akses sesuai instruksi Tuan Enzo.

Namun malam itu ada satu hal yang membuat keduanya benar-benar terkejut.

Wanita dalam foto yang dulu mengenakan pakaian biasa, kini berjalan menuju pintu utama dengan seragam dinas Kepolisian Republik Indonesia.

 

...🔸🔸🔸...

..."Cinta membuat seseorang berani melangkah menuju masa depan, sementara rahasia diam-diam berjalan di belakangnya, menunggu saat yang tepat untuk memperkenalkan diri."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anitha
Pak Raharja tidak sebodoh itu Bryan
Beliau sudah mempersiapkannya sejak dulu,jadi jangan pernah mimpi permainanmu akan berhasil,di samping itu ada Menantu yang sangat berkuasa yang di takuti semua orang yaitu Enzo...

Lihat nanti rumah tangga Saras dan Bryan bakal seperti apa.

Pak Raharja Ayah yang sangat bijak dalam bersikap terhadap putrinya.
Siti Jumiati
lanjuuuut kak nana💪🙏
asih
selagi ada Enzo kayaknya mimpimu g bakal terwujudkan Bryan jangan terlalu PD kau akan kecewa nanti ..di saat kekecewaanmu kalau kau menyakiti laras saat itu juga mimpimu hancur
Puji Hastuti
semakin menarik,Bryan dg pasti kalau rencananya akan berhasil,sedang Raharja sudah siap dg strategi nya.
Oma Gavin
kepedean banget bryan jgn harap mudah raharja bukan orang bodoh apalagi enzo ada di pihak Raharja jgn terlalu percaya diri bryan takutnya ngga sesuai ekspektasi mu dan nyungsep
Anonim
Setelah mendengar jawaban Chantika yang sudah mengajukan izin menikah ke institusinya. Enzo mau ikut pulang bersama Chantika. Mau melamar.

Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.

Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.

Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.

Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.

Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.

Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Anonim
Enzo tidak selalu ada di dekat Chantika. Jadi Chantika punya kesempatan melindungi diri sendiri dengan perhiasan-perhiasan dan jam tangan yang dipakainya.

Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.

Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.

Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.

Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Anonim
Enzo melarang Chantika menemui Bryan sendirian.

Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.

Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
Puji Hastuti
aduh kayak buah simalakama
asih
gara² kebodohan satu orang seluruh keluarga jadi susah ..

q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nay, itu kau tau! 😂😂😂 Kenapa kau malah melakukan itu, ha? Dasar Bodoh! Otak dangkal! 😁😁😁 Mikirn6a cuma untuk saat ini doang. Nggk mikirin juga apa, kedepannya. 😂😂😂 Kalau kau lumpuh Selerti Ryuhan Kai Zander, gimana Coba? ha? Makin susah lagu, hidupmu tau! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kaulah yang bodoh! 😂😂😂 Demi menggugurkan janinmu, kau malah menyakiti dirimu sendiri. 😂😂😂 Dasar Bodoh! Kenapa nggk mengakhiri hidup saja sekalian? ha? 😂😂😂 jelas pula kau masuk ke neraka... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah kan! 😂😂😂 Aku sudah menduganya sedari awal. Soalnya, pertanyaan kamu oada dokter tadi itu sudah aneh tau... 😂😂😂 Ternyata, memang kau sengaja ya, menggugurkan kandunganmu sendiri? 😂😂😂 Dasar! Kau tidak bisa mengibuli aku tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Yaaah, sudah Capek-capek mencelakai diri sendiri, eh... Bayi sialan itu nggk juga keguguran... 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Kok, aku merasa pertanyaan kamu ini agak aneh ya, Saras? 🤔🤔🤔 Kayak, seolah-olah kamu sengaka gitu loh, menyelakai dirimu Sendiri! 🤔🤔🤔 Sedikt aneh deh Perranyaanmu itu... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Hahaha, tepat sekali! Aku berpik8ran sama seperti kau Ranti! Aku curiga kalau Saras sengaja menumpahkan sqmbun itu, untuk menggugurkan kandungannya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benarkah? 😂😂😂 Kok, aku nggk percaya ya? 😂😂😂 Aku malah berpikiran, kalau kau sengaja melakukan itu, untuk menggugurkan kandunganmu, iya kab? Kamu sengaja bukan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Waaah, apakah Saras akan ke guguran dengan sendirinya? Di karenakan tertekan oleh keadaa 🤔🤔🤔
Anitha
Nunggu keputusan dari Pak Raharja apakah Saras akan di nikahkan sama Bryan atau tidak,jadi serba salah...

Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...

jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!