NovelToon NovelToon
Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: raya Abc

Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.

Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.

Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dalam Perjalanan Pulang.

Jamuan di kediaman Roosevelt berakhir menjelang malam.

Satu per satu tamu mulai meninggalkan aula.

Ralph berdiri di samping pintu masuk sambil berbincang singkat dengan Duke Roosevelt.

Seperti biasa, percakapannya tidak panjang.

Hanya beberapa kalimat seperlunya.

Emma sudah lebih dulu berjalan menuju halaman depan.

Ia berdiri di dekat mobil sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku mantel.

Udara malam ini terasa dingin.

Namun ia justru menikmatinya.

Beberapa menit kemudian Ralph menghampiri.

"Ayo."

Emma langsung masuk ke mobil tanpa menjawab.

Pintu tertutup.

Mobil mulai meninggalkan kediaman Roosevelt.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit.

Suara mesin mobil menjadi satu-satunya yang terdengar.

Emma menatap lampu-lampu kota kecil yang mulai berlalu di balik jendela.

Sedangkan Ralph duduk dengan posisi tegak seperti biasanya.

Hingga akhirnya...

"Kau membuat banyak orang terkejut."

Emma tidak menoleh.

"Aku sudah tahu."

"Mereka membicarakanmu."

"Silakan saja."

"Kau tidak peduli?"

"Tidak."

Jawabannya singkat.

Tanpa emosi.

Ralph memandang Emma beberapa detik.

"Biasanya kau cukup memikirkan penilaian orang."

Emma langsung menjawab.

"Aku bukan hidup untuk mereka."

Ralph kembali terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun berbeda.

Sangat berbeda.

Beberapa menit berlalu.

Ralph kembali membuka percakapan.

"Ayahmu tampaknya menyukai perubahanmu."

Emma akhirnya menoleh.

"Mungkin."

"Kau tidak terkejut?"

"Kenapa harus?"

Ralph menyandarkan tubuhnya.

"Aku mengira dia akan menegurmu."

Emma mengangkat bahu.

"Aku juga."

"Lalu?"

"Ternyata tidak."

Emma kembali memandang ke luar jendela.

Dalam hati ia masih mengingat perkataan Lord Ashcroft.

"Jangan pernah membiarkan siapa pun menginjak harga dirimu."

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

"Kau memikirkan sesuatu."

Suara Ralph kembali terdengar.

Emma menjawab tanpa mengalihkan pandangan.

"Ya."

"Apa?"

"Banyak hal."

"Misalnya."

Emma menghela napas pelan.

"Kenapa semua orang di lingkunganmu terlalu peduli dengan aturan."

"Itu tradisi."

"Lagi-lagi tradisi."

"Kau membencinya."

"Bukan."

Emma menggeleng.

"Aku membenci sesuatu yang dilakukan hanya karena semua orang melakukannya."

Ralph menatap profil wajah Emma.

"Lalu menurutmu sesuatu harus dilakukan karena apa?"

Emma menjawab tanpa ragu.

"Karena memang benar."

Keheningan kembali memenuhi mobil.

Untuk pertama kalinya...

Ralph tidak memiliki sanggahan.

Mobil berhenti di lampu merah.

Emma melirik ke arah Ralph.

"Aku ingin bertanya."

"Katakan."

"Kenapa kau menikahi ku?"

Ralph tidak langsung menjawab.

Tatapannya lurus ke depan.

"Itu keputusan keluarga."

"Aku tahu."

Emma memotong.

"Tapi kau bisa menolak."

"Tidak."

"Kenapa?"

Lampu lalu lintas berubah hijau.

Mobil kembali berjalan.

Beberapa detik berlalu sebelum Ralph akhirnya menjawab.

"Karena itu tugasku."

Emma mengerutkan kening.

"Tugas? Kau menikah karna itu sebuah tugas?"

"Aku pewaris keluarga Alexander."

"Sebagai pewaris, aku memiliki kewajiban menikah dengan sesama bangsawan."

Emma mendengus pelan.

"Termasuk menikahi orang yang tidak kau cintai?"

Ralph tetap tenang.

"Ya tentu saja."

Emma benar-benar tidak habis pikir.

"Dasar pria bodoh."

Sopir yang duduk di depan refleks menahan napas.

Belum pernah ada yang menyebut Lord Alexander seperti itu.

Ralph justru tetap tenang.

"Itu pendapatmu."

"Itu fakta Ralph."

"Kau tidak mengerti Ella."

Emma menoleh tajam.

"Kalau mengerti berarti aku sama bodohnya dengan mu."

Hening.

Sangat hening.

Mobil terus melaju membelah jalanan malam.

Ralph perlahan memejamkan mata sejenak.

Anehnya...

Ia tidak merasa tersinggung.

Justru...

Ia mulai menikmati cara berpikir istrinya yang kini selalu berani menentang apa pun yang menurutnya tidak masuk akal.

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka...

Perjalanan pulang yang biasanya dipenuhi keheningan...

Menjadi percakapan paling panjang yang pernah mereka lakukan.

Mobil akhirnya memasuki gerbang besar Alexander Manor.

Gerbang besi perlahan terbuka.

Lampu-lampu taman telah menyala, menerangi jalan setapak menuju rumah utama.

Begitu mobil berhenti, seorang pelayan segera membuka pintu.

"Selamat datang kembali, Tuan. Nyonya."

Emma turun lebih dulu.

Ia baru melangkah beberapa langkah ketika pelayan lain mendekat hendak mengambil mantel yang masih dikenakannya.

"Nyonya, biar saya.."

Emma menghindar setengah langkah.

"Tidak."

Pelayan itu langsung menghentikan tangannya.

"Saya hanya ingin menggantung mantel Anda."

"Aku bisa menggantungnya sendiri."

Tanpa menunggu jawaban, Emma masuk ke dalam rumah.

Pelayan itu hanya bisa saling berpandangan dengan rekannya.

Di ruang depan, Mr. Howard sudah menunggu.

"Tuan."

Ralph menyerahkan sarung tangan kulitnya.

"Besok pagi jadwalkan pertemuan dengan pengacara pukul sembilan."

"Baik, Tuan."

"Dan batalkan makan siang dengan keluarga Harrington."

"Baik."

Ralph baru hendak menaiki tangga ketika Mr. Howard kembali berbicara.

"Tuan..."

"Ada apa?"

"Besok sore keluarga Anderson mengundang Anda makan malam."

Ralph berhenti melangkah.

Ekspresinya tetap datar.

"Katakan aku tidak bisa hadir."

Mr. Howard tampak ragu.

"Tapi Nona Andrea Anderson sendiri yang menghubungi tadi siang."

"Jawabannya tetap sama."

"Baik, Tuan."

Emma yang sedari tadi berada tidak jauh dari sana mendengar nama itu.

Andrea Anderson.

Nama yang pernah diceritakan Ella melalui panggilan video.

Adik dari Lauren Anderson.

Wanita yang diam-diam berharap menggantikan posisi Ella sebagai istri Ralph.

Emma tidak mengatakan apa pun.

Namun ia mengingat nama itu baik-baik.

Ralph kembali melangkah menuju lantai dua.

Emma ikut berjalan di belakangnya.

Koridor kembali sunyi.

Sesampainya di depan kamar masing-masing, Ralph berhenti.

"Ada satu hal."

Emma yang sedang membuka pintu kamarnya menoleh.

"Apa?"

"Kalau Andrea menghubungimu..."

Emma menunggu kelanjutannya.

"...tidak perlu dilayani kalau kau sedang tidak ingin."

Emma mengangkat sebelah alis.

"Kau memberiku izin?"

"Aku hanya mengatakan apa yang kupikir perlu."

Emma tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.

"Aneh."

"Apa?"

"Aku mengira kau akan menyuruhku bersikap ramah."

Ralph menjawab tenang.

"Aku tidak pernah memaksamu menyukai seseorang."

Jawaban itu membuat Emma sedikit terdiam.

Selama ini, dari cerita Ella, ia mengira Ralph diam-diam memberi harapan kepada Andrea.

Namun dari kalimat barusan...

Justru terdengar sebaliknya.

Ralph tidak tampak memiliki ketertarikan sedikit pun.

Ia hanya menjaga hubungan baik dengan keluarga Anderson karena masa lalunya dengan Lauren.

"Selamat malam."

Suara Ralph membuyarkan lamunannya.

Emma mengangguk singkat.

"Malam."

Ralph masuk ke kamarnya.

Pintu tertutup.

Emma juga memasuki kamarnya sendiri.

Ia langsung menjatuhkan tubuh ke sofa dekat jendela.

Tangannya meraih ponsel.

Perbedaan waktu membuat New York masih berada di siang hari.

Jarinya sempat berhenti di atas nama Ella.

Ia ingin menelepon.

Menceritakan banyak hal.

Tentang Lord Ashcroft.

Tentang Lusiana.

Dan tentang satu nama baru yang kembali ia dengar malam ini.

Andrea Anderson.

Namun ia mengurungkan niatnya.

"Masih jam kerja..."

gumamnya pelan.

Emma meletakkan ponsel itu kembali.

"Biarkan Ella menelepon kalau sudah selesai bekerja."

Ia bangkit menuju jendela.

Dari balik kaca, langit malam Inggris tampak begitu tenang.

Berbeda dengan pikirannya.

Semakin lama berada di rumah ini...

Semakin ia merasa kehidupan Ella jauh lebih rumit daripada yang sempat diceritakan saudari kembarnya di atas kapal pesiar.

Dan Emma mulai sadar...

Ia belum benar-benar mengenal semua orang yang mengelilingi suami saudari kembarnya itu.

1
Sriza Juniarti
lanjut kk..terus berkaeya..bagus banget
Sriza Juniarti
lanjut kk
mulai ngikuti sepertinya menarik
putmelyana
omg seharian nyari cerita bagus akhirnya ketemu jga aku bakalan masukin daftar cerita favorit aku. gak sia² secrol cari cerita bagus akhirnya ketemu jga. next Thor ceritanya aku tungguin🥰
rhien90
lanjuuuutt kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!