Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INSIDEN DI BALLROOM HOTEL
Saat Zenaya, Eros, dan Desmon hendak meninggalkan ballroom hotel, mereka tanpa sengaja berpapasan dengan Hamilton.
Pria itu adalah pemilik agensi model ternama sekaligus orang yang berada di balik acara fashion show megah malam itu. Melihat kehadiran mereka, Hamilton segera menyambut dengan sikap penuh hormat.
Ketiganya membalas sapaan itu dengan sopan. Terlebih ketika Hamilton berdiri di hadapan Eros Forger, pria yang namanya begitu dikenal oleh dunia bisnis.
“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Tuan Forger,” ucap Hamilton dengan senyum ramah.
Eros hanya mengangguk kecil sebagai balasan.
Pandangan Hamilton kemudian beralih kepada Zenaya yang berdiri di sisi Eros. Ia tersenyum melihat keduanya.
Keserasian antara pasangan pengantin baru itu begitu terlihat jelas, bahkan menjadi sorotan utama berbagai media dunia.
“Saya juga ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian. Kalian benar-benar pasangan yang luar biasa,” ujar Hamilton tulus.
Zenaya tersenyum lembut, sementara Eros menggenggam tangannya dengan tenang.
“Terima kasih atas ucapannya,” jawab Eros singkat.
Percakapan mereka berlangsung singkat. Setelah saling bertukar beberapa kata, Zenaya, Eros, dan Desmon pun berpamitan untuk pulang.
Hamilton berkali-kali mengucapkan rasa terima kasih karena Eros telah meluangkan waktu untuk menghadiri acara tersebut.
“Terima kasih banyak, Tuan Forger. Kehadiran Anda malam ini sangat berarti bagi acara kami,” ucap Hamilton penuh penghormatan.
Mereka bertiga kemudian berjalan meninggalkan ballroom.
Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba seseorang menyenggol tubuh Zenaya dari samping.
Gelas wine yang berada di tangan Zenaya seketika miring dan isinya tumpah mengenai gaun indah yang ia kenakan. Cairan merah itu meninggalkan noda jelas di kain mewah tersebut.
Zenaya terdiam sejenak melihat gaunnya yang kini kotor.
Wanita yang menyenggolnya segera berbalik.
Dia adalah Vexia.
Senyuman tipis terukir di wajahnya, meskipun ia berusaha menutupi kepuasan di dalam hatinya.
Dia tahu persis gaun yang dikenakan Zenaya adalah pemberian dari Tuan Elzard, sebuah gaun limited edition yang seharusnya menjadi miliknya. Sejak awal, Vexia merasa tidak terima karena Zenaya yang mendapatkannya.
“Maafkan aku, aku tidak sengaja,” ucap Vexia dengan wajah yang dibuat seolah penuh penyesalan.
Eros dan Desmon yang melihat kejadian itu langsung menoleh ke arah mereka.
Zenaya menarik napas pelan. Rasa kesal mulai muncul dalam dirinya. Bukan hanya karena gaunnya rusak, tetapi karena Vexia selalu melakukan hal-hal yang mengganggunya.
Namun, ia memilih untuk tetap tenang.
“Tidak apa-apa,” jawab Zenaya singkat.
Desmon segera mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya kepada Zenaya.
“Nyonya,” ucapnya pelan.
Zenaya menerima tisu itu dan mencoba membersihkan noda di gaunnya. Melihat hal tersebut, Eros langsung mengambil satu lembar tisu dan ikut membantu membersihkan gaun istrinya dengan penuh perhatian.
Pemandangan itu membuat Vexia mengepalkan tangannya diam-diam.
Namun, ia tetap mempertahankan senyum palsunya.
“Kalau begitu, aku pergi dulu,” ujar Vexia santai.
Ia hendak melangkah pergi, tetapi Desmon segera menahannya.
“Tunggu.”
Suara Desmon terdengar dingin dan tegas.
“Setidaknya Anda harus bertanggung jawab atas tindakan yang Anda lakukan, Nona.”
Vexia berhenti berjalan. Ia menoleh ke arah Desmon dengan ekspresi tidak suka.
“Aku sudah meminta maaf, bukan?” balasnya.
Desmon menatapnya tajam.
“Anda seorang model? Model seperti apa yang tidak memahami cara beretika di depan umum?”
Perkataan itu membuat wajah Vexia berubah.
Namun sebelum suasana semakin memburuk, Zenaya segera mengangkat tangan nya untuk menahan.
“Sudah cukup. Aku tidak apa-apa, Desmon.”
Ia kemudian menatap gaunnya sebentar sebelum menghela napas.
“Mari kita pulang. Aku sangat lelah.”
Tanpa menunggu jawaban, Zenaya langsung berjalan meninggalkan mereka.
Eros yang melihat istrinya pergi segera menyusul. Desmon pun akhirnya mengikuti mereka setelah memberikan tatapan dingin terakhir kepada Vexia.
Sementara itu, Vexia hanya berdiri diam memperhatikan kepergian mereka.
Senyuman licik perlahan muncul di wajahnya.
Ada kepuasan tersendiri dalam hatinya.
Dia berhasil mengganggu Zenaya, bahkan ketika wanita itu sedang berada di sisi Eros Forger—pria yang dikenal mampu menaklukkan dunia dengan kekuasaannya.
Namun Vexia tidak menyadari satu hal.
Pria seperti Eros Forger tidak akan tinggal diam jika seseorang berani menyentuh apa yang paling berharga baginya.