Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Yang Penuh Kebohongan
Dapur mansion berubah menjadi sangat kacau dengan kedatangan Duke Cedric dan beberapa pengawal.
Para pengawal langsung bergerak setelah melihat mayat di lantai. Beberapa memeriksa jendela belakang, sementara yang lain menjaga pintu dengan wajah tegang.
Udara dapur mulai dipenuhi aroma pahit racun, sedangkan tatapan abu-abu Duke Cedric tertuju pada tubuh pelayan yang sudah tidak bernyawa dengan wajah yang suram.
“Jelaskan apa yang sudah terjadi disini!." Kata Duke Cedric dengan suara penuh ancaman.
Suaranya tidak lagi terdengar datar seperti sebelumnya.
Leonard Aster melangkah maju lebih dulu. “Kami menemukan dia sedang mencoba mengambil kotak teh milik Nona Arcelia.”
Cedric langsung menoleh. “Teh itu lagi?” kata Duke Cedric.
“Dia berusaha melarikan diri setelah kami memergokinya," Kata Leonard, matanya menatap mayat pria itu.
“Namun sebelum diinterogasi, dia bunuh diri menggunakan racun.” lanjut Leonard
Wajah Duke Cedric berubah semakin marah, dia mulai menyadari bahwa masalah ini tidak sesederhana yang ia kira.
Ada seseorang yang ingin menghancurkan bukti racun yang ada didalam kotak teh itu.
Tatapan Cedric perlahan berpindah pada Arcelia. “Kamu ikut mengejarnya malam-malam seperti ini?”
“Aku hanya tidak ingin bukti hilang sebelum pagi.” kata Arcelia santai.
“Kamu seharusnya memanggil pengawal untuk menemanimu," Kata Duke, namun belum sempat ia menyelesaikan ucapannya,
"hahaha, pengawal? Maksud ayah pengawal di rumah ini?" kata Arcelia sambil tersenyum sinis.
Ucapan Arcelia membuat Duke terdiam, sesuatu didalam hatinya bergerak seolah mengingat sesuatu.
"Arcelia benar, Kalau ada pelayan yang bisa bergerak diam-diam untuk menghancurkan bukti, maka keamanan mansion ini jelas sudah bocor sejak lama." batin Duke Cedric sambil mengusap pelipisnya perlahan.
Raut wajahnya terlihat jauh lebih lelah dibanding biasanya.
“Mansion ini benar-benar sudah mulai gila…” gumam Duke pelan.
Arcelia memperhatikan ayahnya diam-diam. Wajahnya terlihat sudah mulai goyah, kemudian-
[bib..! Bib...!]
[Pendeteksi Kebohongan aktif.]
[Penyesalan terdeteksi.]
[Kepercayaan target terhadap keluarga menurun.]
"Bagus retakan kepercayaan mulai muncul." batin Arcelia.
“Nona…” Suara gemetar terdengar dari belakang.
Semua orang menoleh ternyata Sandra, kepala dapur sedang berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat pasi. Begitu melihat mayat di lantai, tubuhnya langsung melemas.
“Itu… itu Daren…” kata Sandra dengan suara gemetar.
“Jadi kau mengenalnya,” ucap Arcelia pelan.
Sandra langsung gemetar hebat karena ketakutan saat Duke Cedric menatapnya dengan sangat tajam.
“Sandra, cepat kemari." kata Duke memberi perintah kepada Sandra untuk mendekat.
Wanita itu mendekat dengan langkah lemah sebelum berlutut di depan Duke. “Saya tidak tahu apa-apa, Yang Mulia…”
“Cepat jelaskan sekarang semua yang kamu ketahui sekarang!.” Nada suara Duke Cedric berubah karena amarah.
Sandra mulai menangis. “Saya dipaksa…”
“Siapa yang memaksamu untuk melakukan hal kotor ini." tanya Duke Cedric yang masih marah
Wanita itu menunduk dalam-dalam tubuhnya bergetar. Dan saat itulah suara lembut lain terdengar dari pintu.
“Cedric?” Panggil Elena.
Semua orang menoleh melihat Marquess Elena Vareinne masuk dengan wajah khawatir yang dibuat dengan sangat sempurna.
Di belakangnya berdiri Lunaria Vareinne yang terlihat pucat ketakutan karena melihat mayat di lantai.
“Astaga…” bisik Lunaria pelan sambil menutup mulutnya.
Elena langsung berjalan mendekati Cedric. “Apa yang terjadi?” tanyanya pura-pura tidak tahu apa-apa.
Semua orang hanya diam dan memperhatikan gerak gerik Marquise Elena.
Mata Marquise Elena dan Sandra sempat bertemu meskipun hanya sesaat tapi mampu membuat kepala dapur tersebut langsung terlihat semakin ketakutan.
Arcelia melihat semua itu dengan sangat jelas, ketakutan Sandra setiap ada Elena seperti seekor mangsa yang melihat predator.
"Menarik." batin Arcelia.
“Elena,” ucap Cedric berat. “Pelayan ini mencoba menghilangkan bukti.”
Wajah Elena tampak terkejut, “Bukti?” katanya dengan ekspresi terkejut yang benar-benar sempurna.
“Bukti racun yang akan diperiksa besok pagi." kata Duke Cedric.
Lunaria langsung menoleh cepat ke arah Arcelia.
Sementara Elena tetap memasang ekspresi tenang. “Aku tidak mengerti apa maksud semua ini.” lanjutnya.
"huuh.. Ular ini sangat berbelit-belit." batin Arcelia sambil berdecak kesal.
“Pelayan ini bekerja di dapur, sebagai kepala dapur” lanjut Cedric. “Dan pria yang mati tadi datang untuk mengambil kotak teh Arcelia.”
Tatapan Elena perlahan berubah serius. Lalu ia menatap Sandra. “Apa ini benar?”
Sandra mulai menangis lebih keras. “S-Saya…” kata Sandra gugup.
Tatapan Elena berubah lembut, namun Arcelia bisa melihat sesuatu yang lain di balik mata wanita itu.
Tatapan itu seolah mengandung peringatan dan ancaman, bahkan Sandra juga mampu melihat semua itu dibalik sorot mata Elena yang lembut.
Sandra gemetar ketakutan bahkan sangat ketakutan, “Aku minta maaf…” isaknya. “Saya hanya diperintah…”
Cedric menyipitkan mata, Perintah?" batinnya. "siapa yang memberimu perintah?." kata Duke Cedric
Mendengar pertanyaan itu Sandra justru malah menangis sangat deras, semua orang bisa melihat ketakutan yang luar biasa dimata pelayan itu.
“Saya tidak bisa mengatakannya…” Kata Sandra sambil menangis.
“Kalau kamu tetap diam, kamu akan dianggap terlibat dalam kasus pembunuhan ini." ucap Leonard dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Sandra terlihat sangat putus asa karena desakan dari mereka, tanpa disadari tatapan matanya bergerak ke arah Marquise Elena dan Lunaria seolah sedang memohon pertolongan.
Kemudian beralih menatap pada Arcelia. Bola mata Arcelia bergetar saat matanya bertemu dengan bola mata Sandra. ARcelia melihat rasa bersalah di mata wanita itu.
Arcelia hanya bisa mengepal tangannya karena amarah yang ada dalam dirinya.
“Aku…” suara Sandra bergetar. “Aku sebenarnya tidak pernah ingin membunuh Nona…” kata Sandra keceplosan.
Semua orang terkejut dan langsung menatap Sandra.
“Apa maksudmu tidak ingin membunuh?” kata Duke Cedric.
Sandra tersentak menyadari kesalahannya sendiri. Wajahnya langsung pucat. “A-Aku salah bicara…”
“Kamu baru saja mengaku.” bentak Duke Cedric sambil berjalan mendekati Sandra.
“Ampuni saya!” Wanita itu langsung bersujud sambil menangis histeris. "ampuni saya tuan." kata Sandra yang terus meminta ampun.
Cedric terlihat benar-benar sangat marah. Aura seorang duke memenuhi ruangan hingga membuat semua pelayan menunduk ketakutan.
“Bawa dia ke ruang bawah tanah,” perintahnya dingin.
Dua pengawal segera menarik Sandra berdiri dan membawanya secara paksa karena Sandra terus berontak dan berteriak meminta ampun.
Namun sebelum mereka pergi—
“Cedric.” Suara Elena terdengar lembut.
Duke menoleh ke arah Elena yang sejak tadi memperhatikan kejadian ini.
“Mungkin lebih baik masalah ini diselidiki diam-diam,” katanya tenang. “Kalau rumor menyebar, nama keluarga kita bisa hancur.”
Arcelia hampir tertawa, "Bahkan sekarang wanita itu masih memikirkan reputasi. Atau mungkin takut lebih banyak rahasia terbongkar." batin Arcelia.
Cedric menatap wajah Elena cukup lama seperti sedang menerobos masuk kedalam pikirannya. "ada yang aneh dengan Elena." batin Duke Cedric.
“Nama keluarga?” suaranya rendah. “Putriku hampir dibunuh di dalam rumah ini.”
Elena terkejut mendengar perkataan Duke Cedric yang menurutnya tidak seperti biasanya.
Duke Cedric selalu menuruti ucapan Elena, namun kali ini dimata Cedric terlihat jelas keraguan terhadap dirinya.
Sedangkan Arcelia hanya diam tanpa bicara sepatah katapun kalimat sederhana itu seperti sesuatu yang aneh ditelinganya.
Karena baru kali ini Cedric terdengar seperti seorang ayah.
“Ayah…” gumam Arcelia pelan matanya reflek berkaca-kaca hampir menangis. Sesuatu didalam hatinya seperti tersentuh.
Tatapan pria itu perlahan berpindah pada Arcelia. Dan untuk sesaat ekspresi Cedric berubah rumit sulit untuk ditebak.
Seolah baru menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia lihat.
Putrinya berdiri sendirian di tengah semua kekacauan ini.
Arcelia menghadapi masalah ini sendirian, padahal Arcelia tahu ini adalah pembunuhan berencana namun dirinya tidak menangis dan tidak meminta bantuan kepadanya.
Sementara dirinya… bahkan tidak menyadari putrinya hidup dalam bahaya selama bertahun-tahun.
[bib..! Bib..!]
[Kepercayaan target meningkat.]
[Emosi: rasa bersalah.]
Arcelia memalingkan wajahnya, perasaanya terasa aneh. Perasaan rindu perhatian yang bukan miliknya melainkan milik Arcelia asli.
Tubuh ini… masih menginginkan perhatian ayahnya. Dan entah kenapa hal itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada kebencian.