Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: DUKUNGAN YANG MERUNTUHKAN DINDING
Sesuai perkataan Dafa semalam, gorden kamar Nazya baru saja tersingkap oleh pelayan ketika suara tawa renyah yang sangat familier terdengar dari arah koridor. Kinanti Mahardika melangkah masuk ke dalam kamar menantunya dengan langkah kasual yang anggun. Di tangannya, wanita paruh baya itu membawa sebuah gawai tablet berlayar lebar dan beberapa majalah mode interior berkelas.
"Selamat pagi, Nazya sayang! Wah, Mami lihat pipimu sudah mulai ada rona merahnya sekarang, ya. Berarti Dafa becus mengurus istrinya," sapa Kinanti langsung duduk di tepi ranjang dengan santai, mengusap puncak kepala Nazya penuh kasih sayang.
Nazya yang sedang merapikan letak selimut di atas kaki kanannya yang masih terbungkus gips tebal, langsung menyunggingkan senyum tipis yang kini terasa jauh lebih lepas. "Pagi, Mami. Mas Dafa... sangat baik kepada Nazya."
"Harus itu! Kalau dia berani macam-macam atau membuatmu menangis, langsung adukan pada Mami, biar Mami jewer telinganya," gurau Kinanti, membuat Nazya tidak bisa menahan tawa kecilnya.
Mendengar tawa Nazya yang terdengar begitu murni untuk pertama kalinya, Kinanti tersenyum hangat. Ia lalu menyalakan layar tabletnya dan menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Nazya. "Nah, sesuai rencana, hari ini Mami mau minta bantuanmu. Mami merasa sudut ruang keluarga dan koridor menuju kamarmu ini terlalu sepi. Mami mau kita memilih beberapa dekorasi baru. Mami sengaja tidak mau menyewa desainer interior karena Mami tahu menantu Mami ini punya selera yang sangat lembut."
Nazya terpaku menatap layar tablet yang menyajikan berbagai katalog vas bunga keramik, lukisan cat air bertema alam, hingga lampu hias gantung yang indah. Rasa sungkan dan tidak percaya diri kembali menyelinap di dadanya. "Tapi, Mami... Nazya tidak paham hal-hal mewah seperti ini. Nazya takut pilihan Nazya malah merusak keindahan rumah Mas Dafa."
Kinanti langsung menggenggam erat kedua tangan Nazya, menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih janda muda itu dengan sorot mata yang penuh ketulusan seorang ibu. "Sayang, dengarkan Mami. Ini bukan lagi sekadar rumah Dafa, tapi ini rumahmu juga. Kamulah nyonya di rumah ini sekarang. Apa pun yang kamu pilih, itu yang akan menjadi hiasan di sini. Mami justru sangat ingin melihat sentuhan tanganmu ada di setiap sudut rumah ini, agar Dafa selalu ingat kalau dia punya istri yang luar biasa di rumah."
Kalimat Kinanti yang begitu menyanjung dan menempatkan posisinya setinggi itu seketika meruntuhkan sisa-sisa dinding ketakutan di hati Nazya. Mantan ibu mertuanya dulu selalu menekankan bahwa Nazya hanyalah penumpang miskin yang tidak punya hak suara apa pun di dalam rumah. Namun di sini, di keluarga Mahardika, ia justru diperlakukan bak permata yang sangat berharga. Nazya menahan genangan air mata haru di pelupuk matanya, lalu mengangguk pelan. "Baik, Mami... kalau begitu, mari kita pilih bersama."
Siang harinya, suasana hangat itu sedikit beralih menjadi ketegangan yang mendebarkan bagi Nazya. Seorang dokter spesialis ortopedi beserta seorang perawat fisioterapi pribadi yang disewa khusus oleh Dafa tiba di kediaman mereka. Hari ini adalah jadwal sesi fisioterapi tahap awal untuk Nazya di dalam kamarnya.
Pak Handoko ikut masuk ke dalam kamar, berdiri cemas di sudut ruangan bersama Kinanti untuk menyaksikan proses tersebut. Nazya sudah dipindahkan ke atas ranjang dengan posisi kaki kanan yang ditopang oleh beberapa bantal khusus.
"Baik, Mbak Nazya. Karena operasi pemasangan pennya berjalan sangat sukses dan posisi tulangnya sangat presisi, hari ini kita akan mulai melatih pergerakan jari-jari kaki dan pergelangan kaki bagian atas terlebih dahulu," jelas dokter ortopedi itu dengan ramah. "Tujuannya agar aliran darah tetap lancar dan otot-otot Mbak Nazya tidak mengalami penyusutan selama gips ini terpasang."
Nazya mengangguk pasrah, meskipun jantungnya berdegup kencang karena takut akan rasa sakit. Ketika perawat mulai memegang telapak kaki kanannya yang menyembul di ujung gips dan menggerakkannya perlahan ke arah depan, rasa kaku yang teramat sangat berpadu dengan denyutan nyeri langsung menjalar hingga ke pangkal pahanya.
"Akh..." Nazya memejamkan matanya rapat-rapat, giginya mencengkeram bibir bawahnya untuk menahan ringisan yang lebih keras. Buku-buku jarinya meremas seprai kasur dengan sangat kuat hingga memutih.
"Tarik napas perlahan dari hidung, Mbak Nazya, lalu embuskan. Jangan ditahan ototnya, rileks saja," tuntun sang perawat dengan sabar dan penuh kehati-hatian.
Melihat putrinya kesakitan, Pak Handoko memalingkan wajahnya dengan mata yang berkaca-kaca, tidak tega. Namun Kinanti dengan sigap melangkah maju, meraih tangan Nazya yang bebas dan menggenggamnya dengan sangat erat, memberikan kekuatan moral yang begitu besar. "Tahan sedikit ya, sayang. Kamu wanita yang kuat, Mami tahu kamu pasti bisa melewati ini demi bisa berjalan kembali."
Berkat dukungan yang begitu besar dari orang-orang di sekitarnya, Nazya berhasil menyelesaikan sesi fisioterapi selama empat puluh lima menit itu dengan baik. Meski peluh dingin tampak membasahi kening dan lehernya, ada rasa lega yang luar biasa. Langkah awalnya untuk menjemput kesembuhan telah dimulai, dan ia tidak lagi menjalaninya dalam kesendirian yang menyakitkan seperti di masa lalu.
Malam harinya, jam dinding besar di ruang tengah telah menunjukkan pukul delapan malam ketika deru mesin mobil Dafa terdengar memasuki pekarangan rumah. Makan malam kali ini terasa sangat berbeda dan jauh lebih istimewa karena Kinanti memilih untuk menginap, membuat meja makan panjang itu kini terisi oleh empat orang.
Dafa duduk di ujung meja setelah mengganti pakaian kerjanya dengan kemeja kasual hitam yang santai. Di sebelah kirinya duduk sang ibu, sementara di sebelah kanannya, Nazya duduk di atas kursi roda berdampingan dengan Pak Handoko. Hidangan sup iga sapi hangat dan tumis sayuran segar buatan koki rumah tampak mengepulkan uap yang menggugah selera.
"Dafa, hari ini menantuku hebat sekali," buka Kinanti di tengah aktivitas makan malam mereka, memecah kesunyian dengan nada bangga. "Tadi siang dia sudah menyelesaikan sesi fisioterapi pertamanya dengan sangat berani walau menahan sakit. Dan lihat itu, lampu gantung kristal kecil dan vas keramik di sudut sana, itu semua adalah pilihan Nazya tadi pagi."
Dafa menghentikan gerakan sendoknya sesaat. Ia mengalihkan pandangan mata elangnya ke arah sudut koridor yang ditunjuk ibunya, melihat sebuah vas keramik putih dengan motif sulur tanaman yang sangat anggun, persis seperti kepribadian Nazya. Dafa kemudian menurunkan tatapannya, mengunci sepasang mata jernih Nazya yang mendadak menunduk malu karena menjadi pusat perhatian.
"Pilihan yang sangat bagus. Rumah ini jadi terasa jauh lebih hidup sekarang," puji Dafa, suara baritonnya mengalun rendah namun sarat akan kebanggaan yang tidak disembunyikan. Pria itu lalu mengambil sepotong daging iga yang paling empuk dari mangkuk besar, lalu meletakkannya dengan perlahan ke atas piring nasi Nazya. "Makan yang banyak, Nazya. Kamu butuh banyak energi untuk sesi terapi berikutnya minggu depan."
Nazya tersentak kecil melihat perhatian spontan dari suaminya di depan ibu mertua dan ayahnya sendiri. Pipinya seketika memanas, memancarkan rona kemerahan yang sangat cantik di bawah pendar lampu ruang makan. "I-iya, Mas Dafa. Terima kasih," bisik Nazya lirih, menyuapkan nasi dan daging itu ke dalam mulutnya dengan perasaan yang mendadak dipenuhi oleh letupan kebahagiaan kecil yang asing.
Pak Handoko yang menyaksikan interaksi manis itu hanya bisa tersenyum lega dengan mata yang berkaca-kaca penuh syukur, sementara Kinanti mengedipkan matanya jahil ke arah putranya, merasa sangat puas melihat perkembangan hubungan mereka berdua.
Setelah makan malam selesai dan semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, Dafa menawarkan diri untuk mendorong kursi roda Nazya kembali ke kamarnya. Keheningan malam malam ini terasa jauh lebih tenang dan intim, tidak ada lagi kecanggungan mencekam seperti hari pertama mereka tiba.
Dafa memarkirkan kursi roda itu di samping tempat tidur, lalu membantu Nazya memosisikan kaki kanannya yang digips ke atas bantal penopang dengan gerakan yang luar biasa lembut dan terlatih. Setelah selesai, Dafa tidak langsung berdiri pergi. Ia tetap duduk di tepi ranjang, menatap lekat wajah istrinya yang tampak sangat tenang.
"Nazya," panggil Dafa pelan.
Nazya menoleh, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang suaminya. "Ya, Mas Dafa?"
"Aku sangat senang melihatmu mulai terbiasa dengan rumah ini, dan aku sangat bangga atas keberanianmu saat terapi tadi siang," ucap Dafa, tangan besarnya yang hangat perlahan bergerak naik, mengusap lembut pipi Nazya yang halus untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka.
Sentuhan tangan Dafa terasa begitu protektif, membuat sekujur tubuh Nazya meremang halus, namun kali ini tidak ada penolakan atau gerakan histeris ketakutan dari tubuhnya. Nazya justru membiarkan tangan kokoh suaminya bertengger di pipinya, merasakan kehangatan murni yang perlahan mulai mengikis sisa-sisa trauma kelam di dalam jiwanya.
"Istirahatlah yang cukup. Mulai besok, aku akan meminta pelayan untuk membantumu membuat ruang kerja menjahit kecil di dekat jendela kamarmu ini, agar kamu bisa lebih nyaman menyulam bahan-bahan barumu," lanjut Dafa dengan senyum tipis yang sangat menawan sebelum akhirnya menarik tangannya dan berdiri.
"Terima kasih banyak... Mas Dafa. Selamat malam," ucap Nazya dengan suara yang mengalun sangat lembut.
"Selamat malam, Nazya," balas Dafa sebelum melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu dengan perlahan.
Nazya membalikkan tubuhnya menghadap jendela yang menyajikan pemandangan langit malam bertabur bintang. Di bawah keheningan malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia menyandang status sebagai istri siri sang CEO, Nazya merasakan sebuah harapan baru yang benar-benar nyata tentang masa depannya. Dinding traumanya memang belum runtuh sepenuhnya, namun kebaikan Dafa malam ini telah meletakkan fondasi pertama bagi rasa percaya yang mulai tumbuh di hatinya.