Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
"Mommy, lihat! Pesawatnya besar sekali, seperti robot besi yang punya sayap!"
Suara cempreng Leo memecah kesunyian di antara deru mesin penyejuk udara Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Bocah berusia lima tahun itu melompat-lompat kecil, jemari mungilnya menempel erat pada kaca besar yang membatasi area tunggu dengan landasan pacu.
Alana Kirana tersenyum tipis. Rasa lelah setelah penerbangan belasan jam dari Swiss seolah hilang begitu melihat kebahagiaan di kedua mata putranya. Ia membenarkan letak tali tas ranselnya, lalu melangkah mendekat.
"Iya, Sayang. Nanti kalau Leo sudah besar, Leo bisa membuat robot besi yang bahkan lebih besar dari pesawat itu, oke?" ujar Alana sambil mengusap rambut ikal Leo dengan lembut.
"Tento saja! Leo akan buat robot yang bisa terbang sampai ke bulan untuk Mommy!" sahut Leo penuh percaya diri, mendongak menatap ibunya dengan cengiran khas yang selalu berhasil melelehkan hati Alana.
Alana terkekeh, namun sedetik kemudian tatapannya beralih ke papan pengumuman kedatangan digital. Napasnya mendadak terasa sedikit berat. Jakarta. Kota yang lima tahun lalu ia tinggalkan dengan air mata, luka, dan sejuta rahasia yang ia kunci rapat di dalam dadanya. Ia tidak pernah menyangka akan kembali ke tempat ini. Namun, demi sebuah pekerjaan restorasi interior proyek besar yang mendesak, ia terpaksa menginjakkan kakinya lagi di tanah ini.
"Mommy, Leo haus," celetuk Leo tiba-tiba, memegangi ujung tunik hitam yang dikenakan Alana. "Mau susu kotak yang rasa cokelat."
Alana mengerjapkan mata, tersadar dari lamunannya. "Oh, haus ya? Tunggu sebentar, ya. Mommy ambilkan di dalam tas kantong kecil." Alana berlutut, mulai membuka ritsleting tas ranselnya dan membongkar isinya. "Hmm, di mana ya? Kok tidak ada? Ah, sepertinya tertinggal di kantong kursi pesawat tadi, Leo."
"Yah..." Wajah Leo langsung menekuk kecewa. Kedua pipinya yang tembam menggembung kesal.
"Jangan sedih, jagoan. Di depan sana ada minimarket," hibur Alana sambil mencubit gemas pipi putranya. "Leo tunggu di sini sebentar jagain koper, ya? Jangan ke mana-mana. Mommy belikan susu cokelatnya dulu di sana. Ingat pesan Mommy, jangan bergeser satu langkah pun."
"Siap, Kapten Mommy!" Leo segera berdiri tegak dan memberi hormat dengan gaya militer yang menggemaskan.
Alana tersenyum lega. Ia segera bangkit dan berjalan cepat menuju minimarket yang terletak sekitar dua puluh meter dari tempat mereka duduk. Di dalam benaknya, ia hanya ingin membeli susu, kembali ke tempat Leo, lalu segera memesan taksi menuju hotel. Semakin cepat mereka keluar dari bandara ini, semakin aman perasaannya.
Sementara itu, Leo berdiri bersandar pada koper abu-abu milik ibunya. Matanya yang bulat berputar-putar menjelajahi sekeliling terminal yang ramai oleh hilir mudik calon penumpang. Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada sebuah benda kecil yang berkilau di atas lantai marmer, tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Eh? Apa itu?" gumam Leo penasaran.
Rasa ingin tahu bocah genius itu langsung bergejolak. Ia melupakan perintah ibunya seketika. Dengan langkah kecil yang cepat, Leo berjalan mendekati benda berkilau itu. Ternyata, itu adalah sebuah pin dasi perak berbentuk lambang elang yang sangat mewah.
"Wah, bagus sekali," puji Leo, memungut pin tersebut.
Namun, belum sempat ia mengagumi benda itu lebih lama, dari arah belakang sebuah langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar mendekat. Leo yang masih berjongkok berniat untuk berbalik dan berdiri.
BUGH!
"Aduh!" Leo memekik kecil saat tubuh mungilnya menabrak sesuatu yang keras seperti dinding batu. Keseimbangannya goyah, dan ia hampir saja terjungkal ke belakang jika sebuah tangan kekar tidak bergerak cepat menangkap bahu kecilnya.
"Hei, hati-hati, Bocah," sebuah suara berat, bariton, dan dingin terdengar dari atas kepala Leo.
Leo mengerjapkan mata. Ia mendongak, menatap pria jangkung yang berdiri di hadapannya. Pria itu mengenakan setelan jas hitam formal berpotongan sangat rapi yang membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna. Aura yang dipancarkan pria itu begitu kuat, mendominasi, dan terkesan sangat tidak tersentuh.
Pria itu adalah Devran Adhitama.
Devran baru saja melangkah keluar dari jalur kedatangan VIP setelah menyelesaikan perjalanan bisnis singkatnya. Langkahnya yang semula cepat dan penuh ketegasan mendadak terhenti karena tabrakan kecil ini. Ia menghela napas, bersiap untuk memberikan teguran dingin kepada siapa pun yang tidak berhati-hati di jalurnya. Namun, begitu pandangan matanya turun dan terpaku pada wajah bocah laki-laki yang baru saja menabrak kakinya, seluruh kata-kata Devran mendadak tercekat di tenggorokan.
Jantung Devran berdegup dua kali lebih cepat secara tiba-tiba.
Ia terpaku. Matanya melebar, menatap tidak percaya pada wajah anak di hadapannya. Bentuk mata yang tegas, alis yang tebal, garis rahang yang kokoh meski masih dibalut lemak bayi, hingga kilatan cerdas di bola mata hitam itu... Semuanya bagai cermin masa kecil Devran sendiri yang tiba-tiba hidup kembali.
"Kamu..." suara Devran mendadak serak, bergetar oleh gelombang kebingungan yang tiba-tiba menghantam dadanya. "Siapa kamu?"
Leo tidak tampak takut sama sekali. Ia justru mendongak dengan berani, membalas tatapan tajam pria dewasa di depannya. "Maaf, Om. Leo tidak sengaja. Leo tadi mau ambil ini," ujar Leo sambil mengacungkan pin dasi perak di tangan mungilnya. "Ini punya Om, ya? Jatuh dari dasinya."
Devran bahkan tidak melirik pin dasi mewah yang dipegang Leo. Seluruh fokusnya, seluruh dunianya pada detik itu, tertuju sepenuhnya pada wajah bocah bernama Leo ini. Pikiran Devran berputar, ia mencoba mengingat memori masa lalu. Bentuk wajah ini tidak mungkin salah. Anak ini... anak ini terlalu mirip dengannya. Tidak, ini bukan sekadar mirip. Ini seperti melihat dirinya sendiri dalam versi mini.
"Leo?" Devran mengulangi nama itu dengan lidah yang mendadak kelu. Ia perlahan berlutut di atas lantai marmer, menyamakan tingginya dengan Leo, mengabaikan fakta bahwa beberapa asisten dan pengawal pribadinya kini menatapnya dengan pandangan syok dari belakang. "Nama panjangmu siapa, Leo?"
"Nama Leo itu..." Leo mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk, tampak berpikir. "Leo Kirana. Om sendiri siapa? Kok lihat Leo seperti lihat hantu?"
Kirana?
Nama belakang itu menghantam kesadaran Devran seperti gada besi. Ingatannya langsung teringat ke malam lima tahun lalu di hotel legendaris Bandung. Malam penuh kesalahpahaman, malam di mana seorang wanita asing masuk ke kamarnya, malam yang mengubah seluruh hidupnya, namun wanita itu menghilang tanpa jejak keesokan paginya. Dan nama wanita itu... Alana Kirana.
"Leo Kirana..." Devran berbisik, tangannya yang gemetar perlahan terangkat, hendak menyentuh pipi tembam Leo untuk memastikan bahwa anak ini nyata, bukan sekadar halusinasi akibat kelelahan. "Di mana ibumu, Leo? Siapa nama ibumu?!" suara Devran meningkat satu oktav, penuh tuntutan dan rasa tidak sabar yang membakar.
Leo mengerutkan alisnya yang tebal, mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan pria di depannya. "Om jangan galak-galak. Mommy bilang tidak boleh bicara terlalu lama dengan orang asing yang matanya seram seperti Om."
"Aku tidak galak, Leo. Aku hanya bertanya,"
potong Devran cepat, berusaha melembutkan suaranya meski dadanya bergemuruh hebat. "Katakan padaku, siapa nama ibumu? Apakah namanya Alana?"
Tepat pada saat itu, dari arah minimarket, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat disertai suara napas yang memburu karena panik.
"Leo! Kenapa kamu di situ? Kan Mommy sudah bilang jangan..."
Kalimat Alana terhenti di udara. Kantong plastik berisi susu cokelat di genggaman tangannya terlepas begitu saja, jatuh ke lantai dengan bunyi pelan. Wajah Alana seketika berubah pucat, seolah seluruh darah di tubuhnya tersedot habis ke dalam bumi.
Di sana, di atas lantai marmer bandara, pria yang paling ia hindari di dunia ini, pria yang menjadi alasan dari semua pelarian dan air matanya selama lima tahun terakhir, sedang berlutut di hadapan putranya.
Devran Adhitama.
Mendengar suara wanita itu, Devran perlahan menegakkan tubuhnya. Ia berbalik, dan pandangan mata elangnya langsung mengunci sosok Alana yang berdiri mematung beberapa meter di depannya.
Aula bandara yang ramai mendadak terasa sunyi di antara mereka. Hanya ada tatapan mata yang saling beradu, yang satu menatap penuh tuntutan, keterkejutan, dan kepemilikan, sementara yang satu lagi menatap dengan kilat ketakutan, kepanikan.
"Alana..." Devran menggumamkan nama itu dengan suara yang begitu rendah, namun terdengar sangat berbahaya. "Lama tidak bertemu."
Alana menelan ludahnya. Tangannya gemetar, namun ia memaksakan dirinya untuk melangkah maju, memotong jarak di antara Devran dan Leo. Dengan gerakan cepat yang protektif, Alana menarik tubuh Leo ke belakang punggungnya, menyembunyikan bocah itu dari pandangan Devran.
"Maaf, Tuan. Anak saya tidak sengaja menabrak Anda," ujar Alana dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, meski di dalam dadanya jantungnya berdentum seperti dikejar ajal. "Kami permisi."
Alana langsung berbalik, mencengkeram tangan Leo dan berniat menarik koper mereka untuk segera pergi dari tempat itu secepat mungkin. Persetan dengan kesopanan, ia harus lari.
"Tunggu," suara dingin Devran bergaung, dan sebelum Alana sempat melangkah dua kali, sebuah tangan kekar sudah mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat erat, menghentikan gerakannya seketika.
"Lepaskan saya, Tuan!" desis Alana, berbalik menatap Devran dengan mata yang mulai berkaca-cara karena panik. "Ini tempat umum. Jangan lancang!"
Devran tidak melepaskan cengkeramannya. Ia justru melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka hingga Alana bisa mencium aroma parfum maskulin yang familiar dan mengintimidasi milik pria itu. Tatapan Devran beralih sejenak ke arah Leo yang mengintip dari balik tunik Alana, lalu kembali mengunci mata Alana.
"Lancang, kamu bilang?" Devran mendengus dingin, senyum sinis terbit di sudut bibrinya. "Kamu menghilang lima tahun lalu setelah malam itu, Alana. Kamu pergi ke ujung dunia membawa sesuatu yang seharusnya menjadi milikku. Dan sekarang kamu kembali, mengira aku akan membiarkanmu berjalan pergi begitu saja setelah anak itu menabrak kakiku?"
"Dia anak saya! Tidak ada hubungannya dengan Anda!" seru Alana setengah berbisik, suaranya bergetar menahan tangis dan amarah. "Lepaskan tangan saya!"
"Mommy... Tangan Mommy sakit?" Leo celetuk dari bawah, menatap tangan ibunya yang dicengkeram Devran. Wajah bocah itu berubah drastis, kilat cerdasnya kini digantikan dengan tatapan permusuhan yang tajam ke arah Devran. "Om jahat! Lepaskan tangan Mommy Leo!" Leo memukul kaki Devran dengan kepalan tangan mungilnya.
Devran tertegun melihat keberanian bocah itu. Cengkeramannya pada tangan Alana sedikit melonggar karena rasa takjub yang tiba-tiba muncul. Anak ini benar-benar mewarisi watak keras kepalanya.
Alana memanfaatkan momen itu untuk menyentak tangannya hingga terlepas. Ia segera berlutut, memeluk Leo erat-erat seolah takut bocah itu akan lenyap jika ia lepaskan.
"Leo, tidak apa-apa. Mommy tidak apa-apa, Sayang," bisik Alana, mencium puncak kepala Leo dengan tubuh yang masih gemetar. Ia kemudian berdiri kembali, menatap Devran dengan tatapan penuh kebencian dan ketegasan yang belum pernah Devran lihat sebelumnya dari wanita itu. "Tuan Devran Adhitama yang terhormat. Anda salah orang. Anak ini adalah anak saya dari pernikahan saya di luar negeri. Dia tidak ada hubungannya dengan Anda atau malam lima tahun lalu. Tolong jangan ganggu kami lagi."
"Pernikahan di luar negeri?" Devran menaikkan satu alisnya, menatap Alana penuh selidik. "Kamu pikir aku sebodoh itu, Alana Kirana? Wajah anak itu, bentuk matanya, bahkan golongan darahnya jika aku periksa sekarang, aku berani bertaruh segalanya bahwa dia adalah darah dagingku."
"Anda keterlaluan! Jangan bermimpi!" Alana berteriak. Ia segera menyambar pegangan kopernya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggandeng Leo dengan sangat erat. "Ayo, Leo. Kita pergi sekarang."
Alana berjalan cepat setengah berlari, menarik Leo menembus kerumunan bandara yang mulai memperhatikan ketegangan mereka. Ia tidak menoleh lagi ke belakang. Fokusnya hanya satu, keluar dari terminal ini, naik ke dalam taksi, dan menghilang dari radar Devran Adhitama.
Devran berdiri mematung di tempatnya, tidak langsung mengejar. Ia menatap punggung Alana dan Leo yang semakin menjauh dan menghilang di antara kerumunan orang di pintu keluar terminal.
"Tuan Besar," salah satu pengawal senior Devran melangkah maju, membungkuk pelan. "Apakah Anda ingin kami menahan wanita dan anak itu?"
Devran mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar pengawalnya tetap di tempat. Mata elangnya masih menatap ke arah pintu keluar dengan pandangan yang sulit diartikan. Perlahan, ia membuka telapak tangan kirinya. Di sana, terdapat pin dasi perak lambang elang yang tadi sempat dipegang oleh Leo, bocah itu menjatuhkannya saat Alana menariknya pergi.
"Tidak perlu," jawab Devran, suaranya kini kembali tenang, namun mengandung kepastian yang mutlak. "Biarkan mereka pergi untuk hari ini."
"Tapi Tuan, anak itu..." asisten pribadi Devran, Reno, ikut menyela dengan wajah penuh rasa ingin tahu. "Dia sangat mirip dengan Anda semasa kecil."
Devran membalikkan pin dasi di tangannya, lalu memasukkannya ke dalam saku jas hitamnya. Sebuah senyuman tipis muncul di wajah tampannya yang dingin.
"Dia memang anakku, Reno. Aku bisa merasakannya di dalam sini," ujar Devran sambil menyentuh dadanya sendiri, di mana detak jantungnya masih bergemuruh sejak tabrakan kecil tadi. "Alana mengira dia bisa berlari lagi dariku di kota ini. Dia lupa, Jakarta adalah wilayah kekuasaanku."
Devran berbalik, melangkah dengan penuh wibawa menuju iring-iringan mobil mewah yang sudah menantinya di luar.
"Reno, cari tahu di mana mereka menginap. Selidiki seluruh data penerbangan Alana dari Swiss, dan pastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat. Aku ingin laporannya ada di mejaku sebelum matahari terbit besok pagi."
"Baik, Tuan Besar. Segera saya laksanakan," jawab Reno tegas.
Sambil melangkah menembus angin malam Jakarta, Devran menatap langit kota yang mulai menggelap. Lima tahun ia hidup dalam ketidakpastian dan rasa bersalah yang tak berujung tentang malam itu. Dan sekarang, takdir justru mengembalikan wanita itu bersama sepotong teka-teki hidupnya yang paling berharga langsung ke hadapannya di bandara ini.
"Permainan baru saja dimulai, Alana Kirana," gumam Devran lirih, suaranya tenggelam di antara deru mesin mobil yang mulai melaju membelah jalanan ibu kota. "Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu merahasiakan detak jantungmu, atau anak kita dariku lagi."