NovelToon NovelToon
The Employer

The Employer

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanizen_

Bagi Laily, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah mewah keluarga Arshawirya adalah sebuah keberuntungan—kesempatan kedua untuk mengubur masa lalu kriminalnya.

Jeffran Arshawirya adalah suami sempurna yang tampan dan penuh perhatian, sementara istrinya, Selina, tampak seperti wanita kaya yang tidak stabil dan gemar menyiksanya dengan aturan tak masuk akal.

Namun, di balik kemegahan rumah serbaputih itu, tersimpan gema masa lalu yang mengerikan. Sebuah rumor berbisik bahwa Selina pernah mencoba membunuh putrinya sendiri di bak mandi. Ketika batas profesional antara Laily dan Jeffran mulai mengabur dalam satu malam yang terlarang, Laily menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang benar-benar jujur.

Apakah Selina memang seorang psikopat yang berbahaya, ataukah ada skenario yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai nyawa Laily? Ingat, di rumah ini, salah memilih langkah bisa berarti kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter lima belas

Aku sudah tinggal bersama keluarga Arshawirya selama sekitar tiga minggu ketika aku menjalani pertemuan pertamaku dengan petugas pembebasan bersyarat. Aku sengaja menjadwalkannya pada hari liburku. Aku tidak ingin mereka tahu ke mana aku pergi.

Pertemuanku kini sudah berkurang menjadi sebulan sekali dengan petugasku, Rin, seorang wanita paruh baya berbadan tegap dengan rahang yang kuat. Tepat setelah aku bebas, aku tinggal di perumahan yang disubsidi oleh pihak penjara, tetapi setelah Rin membantuku mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan bar itu, aku pindah dan mencari tempat tinggalku sendiri. Kemudian setelah aku kehilangan pekerjaan pelayan bar tersebut, aku tidak pernah benar-benar memberi tahu Rin tentang hal itu. Aku juga tidak pernah menceritakan pengusiranku darinya. Pada pertemuan terakhir kami sekitar sebulan yang lalu, aku berbohong habis-habisan.

Berbohong kepada petugas pembebasan bersyarat adalah pelanggaran aturan. Tidak memiliki tempat tinggal tetap dan tinggal di dalam mobil juga merupakan pelanggaran. Aku tidak suka berbohong, tetapi aku tidak mau pembebasan bersyaratku dicabut dan harus langsung kembali ke penjara untuk menjalani sisa masa hukuman lima tahun terakhirku. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.

Namun keadaan kini telah berbalik. Aku bisa bersikap jujur kepada Rin hari ini. Yah, hampir sepenuhnya jujur.

Meskipun hari ini adalah hari musim hujan yang berangin sepoi-sepoi, kantor kecil Rin rasanya seperti bersuhu seratus derajat. Setengah tahun lamanya kantornya akan terasa seperti sauna, dan setengah tahun sisanya akan terasa lembab dan dingin. Tidak ada kondisi di antaranya. Dia membuka jendela kecilnya lebar-lebar, dan ada sebuah kipas angin yang meniup lusinan kertas di sekitar mejanya. Dia harus terus menahan kertas-kertas itu dengan tangannya agar tidak terbang terbawa angin.

"Laily." Dia tersenyum kepadaku saat aku masuk.

Dia adalah orang yang baik dan tulus tampaknya ingin membantuku, yang membuatku merasa jauh lebih bersalah atas caraku membohonginya dulu. "Senang bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu?"

Aku menduduki salah satu kursi kayu di depan mejanya. "Luar biasa!" Itu sedikit bohong.

Namun keadaannya baik-baik saja. Cukup baik. "Tidak ada yang perlu dilaporkan."

Rin memeriksa kertas-kertas di mejanya. "Aku menerima pesanmu tentang perubahan alamat. Kau bekerja untuk sebuah keluarga di Jakarta selatan sebagai pengurus rumah?"

"Benar."

"Kau tidak menyukai pekerjaan di Juney Bar?"

Aku menggigit bibirku. "Tidak terlalu."

Ini adalah salah satu hal yang kubohongkan kepadanya. Memberi tahu dia bahwa aku keluar dari pekerjaan di Juney Bar. Padahal kenyataannya mereka memecatku. Namun itu benar-benar tidak adil.

Setidaknya aku cukup beruntung karena mereka memecatku secara diam-diam dan tidak melibatkan polisi. Itu adalah bagian dari kesepakatan—aku pergi dengan tenang dan mereka tidak melibatkan aparat. Aku tidak punya banyak pilihan. Jika mereka pergi ke polisi tentang apa yang terjadi, aku pasti sudah langsung kembali ke penjara.

Jadi aku tidak memberi tahu Rin bahwa aku dipecat, karena jika kulakukan, dia pasti akan menelepon mereka untuk mencari tahu alasannya. Dan kemudian ketika aku kehilangan apartemenku, aku juga tidak bisa menceritakan hal itu kepadanya.

Namun sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Aku memiliki pekerjaan baru dan tempat tinggal. Aku tidak berada dalam bahaya dikurung lagi. Pada janji temu terakhirku dengan Rin, aku duduk di ujung kursi dengan tegang, tetapi kali ini aku merasa baik-baik saja.

"Aku bangga kepadamu, Laily." Kata Rin.

"Terkadang sulit bagi orang-orang untuk menyesuaikan diri ketika mereka telah mendekam di penjara sejak mereka masih remaja, tetapi kau telah melakukannya dengan sangat baik."

"Terima kasih." Tidak, dia jelas tidak perlu tahu tentang satu bulan di mana aku harus tinggal di dalam mobilku.

"Jadi bagaimana dengan pekerjaan barumu?" Tanyanya. "Bagaimana mereka memperlakukanmu?"

"Um..." Aku menggosok lututku. "Baik-baik saja. Wanita tempat saya bekerja agak...aneh. Namun saya hanya bersih-bersih. Ini bukan masalah besar."

Satu hal lagi yang merupakan sedikit kebohongan. Aku tidak ingin memberi tahu dia bahwa Selina Arshawirya telah membuatku merasa semakin tidak nyaman. Aku sempat mencari di internet untuk melihat apakah dia sendiri memiliki semacam catatan kriminal. Tidak ada yang muncul, tetapi aku tidak membayar untuk pemeriksaan latar belakang yang sesungguhnya. Lagipula, Selina cukup kaya untuk menjaga reputasinya tetap bersih.

"Wah, itu bagus." Kata Rin. "Dan bagaimana dengan kehidupan sosialmu?"

Secara teknis itu bukan area yang seharusnya ditanyakan oleh seorang petugas pembebasan bersyarat, tetapi Rin dan aku sudah menjadi akrab, jadi aku tidak keberatan dengan pertanyaan itu. "Tidak ada."

Dia mendongakkan kepalanya dan tertawa sehingga aku bisa melihat tambalan berkilau di gigi bagian belakang mulutnya. "Aku mengerti jika kau merasa belum siap untuk berkencan lagi. Namun kau harus mencoba mencari beberapa teman, Laily."

"Ya." Balasku, meskipun aku tidak benar-benar bermaksud demikian.

"Dan ketika kau mulai berkencan nanti." Katanya, "Jangan hanya menerima sembarang orang. Jangan berkencan dengan pria bajingan hanya karena kau adalah seorang mantan narapidana. Kau pantas mendapatkan seseorang yang memperlakukanmu dengan baik."

"Mmm...."

Untuk sesaat, aku membiarkan diriku memikirkan kemungkinan berkencan dengan seorang pria di masa depan. Aku memejamkan mata, mencoba membayangkan seperti apa rupa pria itu. Tanpa diundang, bayangan Jeffran Arshawirya langsung memenuhi kepalaku, dengan pesonanya yang santai dan senyumnya yang tampan.

Mataku langsung terbuka lebar. Oh tidak. Tidak mungkin. Aku bahkan tidak boleh memikirkannya.

"Juga." Rin menambahkan, "Kau itu cantik. Kau tidak boleh asal memilih."

Aku hampir tertawa terbahak-bahak. Aku sudah melakukan segala cara yang kubisa untuk terlihat se-tidak menarik mungkin. Aku mengenakan pakaian longgar, selalu mengikat rambutku dalam sanggul atau kuncir kuda, dan aku tidak memakai riasan sepeser pun. Namun Selina tetap menatapku seolah-olah aku adalah semacam wanita penggoda.

"Saya hanya belum siap untuk memikirkan hal itu sekarang." Kataku.

"Tidak apa-apa." Ucap Rin. "Namun ingat, memiliki pekerjaan dan tempat berlindung itu penting, tetapi hubungan antarmanusia jauh lebih penting."

Dia mungkin benar, tetapi aku hanya belum siap untuk hal itu saat ini, aku harus fokus untuk menjaga diriku tetap bersih dari masalah. Hal terakhir yang kuinginkan adalah tidak kembali lagi ke penjara. Hanya itu yang terpenting.

Aku kesulitan tidur di malam hari.

Ketika aku berada di penjara, aku selalu tidur dengan satu mata terbuka. Aku tidak ingin hal-hal terjadi di sekitarku tanpa ku ketahui. Dan sekarang setelah aku bebas, naluri itu tidak kunjung hilang. Ketika aku pertama kali mendapatkan tempat tidur yang sesungguhnya, aku sempat bisa tidur dengan sangat nyenyak untuk beberapa waktu, tetapi sekarang insomnia lamaku telah kembali dengan kekuatan penuh. Terutama karena kamar tidurku terasa sangat pengap dan tak tertahankan.

Gaji pertamaku sudah didepositokan ke rekening bankku, dan pada kesempatan berikutnya yang kupunya, aku akan pergi keluar dan membeli televisi untuk kamar tidurku. Jika aku menyalakan televisi, aku mungkin bisa tertidur dengan membiarkannya tetap menyala. Suaranya akan meniru kebisingan di malam hari saat berada di dalam penjara.

Hingga saat ini, aku merasa ragu untuk menggunakan televisi milik keluarga Arshawirya. Bukan bioskop rumah mereka yang besar, tentu saja, melainkan TV "normal" mereka di ruang tamu. Tampaknya itu tidak seharusnya menjadi masalah besar, mengingat Selina dan Jeffran tidur lebih awal.

Mereka memiliki rutinitas yang sangat spesifik setiap malam. Selina pergi ke atas untuk menidurkan Seina tepat pada pukul 8:30. Aku bisa mendengarnya membacakan cerita pengantar tidur, lalu dia bernyanyi untuknya. Setiap malam dia menyanyikan lagu Nina Bobo. Selina terdengar tidak memiliki pelatihan vokal, tetapi ada sesuatu yang aneh sekaligus indah secara menghantui dari caranya bernyanyi untuk Seina.

Setelah Seina tidur, Selina membaca atau menonton televisi di kamar tidurnya. Jeffran menyusul ke atas tidak lama kemudian. Jika aku turun ke bawah setelah pukul sepuluh malam, lantai satu sudah benar-benar kosong.

Jadi pada malam khusus ini, aku memutuskan untuk mengambil kesempatan.

Inilah sebabnya aku telentang di atas sofa, menonton sebuah film horor. Aku suka menonton film bertema setan sejak masih kecil, dan aku selalu membayangkan diriku diteror olen hantu penasaran yang suka mencelakai manusia. Tapi disepanjang hidupku, aku tidak pernah memiliki pengalaman horor apapun secara nyata.

"Apakah itu pengabdi setan?"

Aku tersentak dan menoleh. Meskipun saat itu tengah malam, Jeffran Arshawirya entah bagaimana sudah berdiri di belakangku, tampak terjaga dan tegang seperti orang-orang di layar televisi.

Sial. Aku tahu seharusnya aku tetap tinggal di kamarku.

"Oh!" Aku spontan menyentak kaget. "Saya, uh... Maaf. Saya tidak bermaksud untuk..."

Dia mengangkat sebelah alisnya. "Untuk apa kau minta maaf? Kau tinggal di sini juga. Kau memiliki hak penuh untuk menonton televisi."

Aku mengambil sebuah bantal dari sofa untuk menutupi celana pendek olahraga tipis yang kukenakan untuk tidur. Selain itu, aku juga tidak memakai bra. "Saya berencana untuk membeli TV sendiri untuk kamar saya."

"Tidak apa-apa menggunakan layar kami, Laily. Lagipula, kau mungkin tidak akan mendapatkan banyak sinyal di atas sana."

Bagian putih matanya bersinar di bawah cahaya televisi. "Aku akan pergi dalam semenit. Aku hanya ingin mengambil segelas air."

Aku duduk di sofa, mendekap bantal ke dadaku, menimbang-nimbang apakah aku harus pergi ke atas. Aku tidak akan pernah bisa tertidur sekarang karena jantungku berdegup kencang. Dia bilang dia hanya mengambil air, jadi mungkin aku bisa tetap tinggal. Aku memperhatikannya berjalan santai ke dapur dan aku mendengar air keran mengalir.

Dia kembali ke ruang tamu, meminum air dari gelasnya. Saat itulah aku menyadari dia hanya mengenakan kaus dalam putih dan celana pendek bokser. Namun setidaknya dia tidak bertelanjang dada.

"Kenapa Anda menuangkan air dari wastafel?"

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanyanya.

Dia langsung duduk di sebelahku di atas sofa, meskipun aku berharap dia tidak melakukannya. "Apa maksudmu?"

Akan terasa kasar jika aku langsung melompat dari sofa, jadi aku hanya bergeser menjauh sejauh yang kubisa. Hal terakhir yang kubutuhkan adalah Selina melihat kami berdua berduaan dengan nyaman di atas sofa dengan pakaian dalam kami. Bukan berarti kami melakukan sesuatu, tetapi tetap saja.

"Maksud saya, Anda tidak menggunakan keran air di lemari es."

Dia tertawa. "Entahlah. Aku selalu mengambil air langsung dari wastafel. Memangnya itu racun?"

"Saya tidak tahu. Saya rasa itu mengandung bahan kimia."

Dia menyisir rambut gelapnya dengan tangan sampai agak berdiri. "Aku merasa lapar entah kenapa. Apakah ada sisa makanan malam di lemari es?"

"Tidak ada, maaf."

"Hmm." Dia menggosok perutnya. "Apakah akan sangat tidak sopan jika aku memakan selai kacang langsung dari toplesnya?"

Aku mengernyit mendengar penyebutan selai kacang. "Asalkan Anda tidak memakannya di depan Seina."

Dia memiringkan kepalanya. "Kenapa?"

"Anda tahu sendiri. Karena dia memiliki alergi." Mereka benar-benar tampak tidak terlalu menghormati alergi kacang mematikan milik Seina di rumah ini.

Yang lebih mengejutkan lagi, Jeffran tertawa. "Tidak, dia tidak alergi."

"Iya, dia alergi. Dia sendiri yang memberi tahu saya. Pada hari pertama saya di sini."

"Um, kurasa aku pasti tahu jika putriku alergi terhadap kacang." Dia mendengus.

"Lagipula, menurutmu apakah kami akan menyimpan stoples besar berisi selai kacang di pantry jika dia alergi?"

Itu persis seperti apa yang kupikirkan ketika Seina memberi tahuku tentang alerginya. Apakah dia hanya mengada-ada untuk memfitnahku? Aku tidak akan heran jika dia melakukannya. Di sisi lain, Selina juga mengatakan Seina memiliki alergi kacang. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Namun Jeffran menyampaikan poin yang paling masuk akal: fakta bahwa ada stoples besar berisi selai kacang di pantry menunjukkan tidak ada seorang pun di sini yang memiliki alergi kacang yang mematikan.

.

.

.

.

.

.

To be continue.....

Like gaes🥰

1
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw, saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa, boleh singgah profile. terima kasih 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!