Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. CALON PRESDIR
"Maaf... salah sambung--eh, salah kamar. Saya kira ini kamar bersalin... maaf. Kami permisi."
Erina buru-buru menyambar lengan Harum dan menariknya pergi.
"Eh... Rin!"
Harum memprotes, tapi ia tak bisa melawan--sebab energi dan akalnya seakan lenyap ke udara ketika seluruh sel tubuhnya terpesona pada satu titik yang begitu bersinar dan memanjakan mata di ambang pintu Kamar Alexandrite.
Sosok gagah dan tampan itu juga menatapnya lekat. Ekspresinya datar, tetapi matanya menyorot sangat tajam seakan perempuan yang tiba-tiba muncul lalu menjauh itu adalah kuntilanak yang kesasar dan bingung mencari letak pohon pisang yang biasa menjadi tempatnya tidur siang.
"Kamu kenapa sih...? Kenapa kita nggak jadi jenguk Pak Alvin?" omel Harum saat mereka sudah menginjakkan kaki di halaman luar rumah sakit.
"Kamu lihat sendiri ada harimau galak jaga kamarnya gitu," tukas Erina. "Entah orang itu siapa... mungkin keluarganya. Kita sebaiknya nggak mengganggu kalau lagi ada acara kumpul keluarga di sana."
"Kumpul keluarga apanya--kamu kira mereka lagi arisan di dalam? Mereka jelas lagi jagain Pak Alvin!" protes Harum.
"Ya siapa tahu sambil arisan, sambil bahas warisan--intinya jangan ganggu lah!"
"Hiiih, pikiranmu kok makin ngaco sih? Apa gara-gara kejeduk aspal kemarin?" Harum memandang Erina sebal. "Justru tadi itu kesempatan bagus--kan bisa sekalian kenal dan lebih dekat sama keluarga calon suami..."
Erina menghentikan langkahnya sejenak.
"Ya kalau maumu begitu, balik dan jenguk Pak Alvin sendiri sana--aku mau pulang!"
"Eh, Rin...!"
Harum tak mengerti mengapa Erina tiba-tiba terlihat begitu marah--namun ia menduga perasaan dan pikiran sahabatnya yang kacau saat itu akibat efek samping kecelakaan kemarin.
"Aku antar kamu pulang--aku bawa mobil," tegas Harum, yang kini giliran menyambar dan menarik lengan Erina menuju tempat parkir di sisi timur rumah sakit.
"Trims, Rum," ucap Erina pelan saat dirinya dan Harum sudah berada di dalam mobil CRV merah milik Harum dan meluncur mulus di jalan raya menuju area utara.
"Sama-sama," balas Harum sambil mengemudi dengan hati-hati. "Eh tadi kamu sudah dikasih surat keterangan sakit dari dokter, belum?"
Erina mengerjap, seakan kesadaran mengenai hal yang sepele namun penting itu baru tumbuh.
"Ya ampun... buat izin kerja hari ini, ya? Sorry aku lupa minta tadi pas urus administrasi," kata Erina menyesal. "Apa kita harus balik lagi...?"
Harum menghela napas panjang.
"Duh males deh puter balik. Tapi maksudku bukan buat kamu izin hari ini--buat izin besok atau beberapa hari ke depan..."
"Kenapa aku harus izin besok dan beberapa hari ke depan?" tanya Erina bingung.
"Memangnya kamu beneran udah fit--yakin udah bisa handle kerjaan besok?" Harum melirik Erina tak percaya. "Apalagi dokter masih nyuruh kamu MRI kan... tandanya kamu belum pulih itu. Sembuhin dulu dirimu, Rin, baru urus kerjaan lagi."
Erina mendengus.
"Aku nggak apa-apa. Kalau aku kenapa-napa, mana mungkin aku bisa bangun dan jalan, balas WA, mikirin menu katering besok, dan menghindari masalah..."
Alis Harum terangkat. "Masalah? Masalah apa?"
"Eh...," Erina menyesal sudah keceplosan. "Yah maksudku masalah kalau aku terus nggak masuk sampai kerjaan numpuk..."
Giliran Harum mendengus, ekspresinya jengkel.
"Kamu tuh ya, beneran batu banget, dibilangin susah... ah terserahlah."
Erina terdiam dan menunduk. Ia tentu tak bisa mengatakannya pada Harum--bahwa masalah yang dimaksud adalah nyaris bertemu keluarga Alvin di kamar perawatannya tadi.
Barangkali pikiran Erina berlebihan kali ini--tapi ia enggan dikenali apalagi jika sampai menarik perhatian keluarga Alvin. Ia juga mulai berpikir bisa jadi Alvin sakit lambung gara-gara dirinya--Alvin sempat bilang ia jarang makan jika sudah sibuk mengurus pekerjaan, dan belakangan ini sekalinya makan ia justru menyantap makanan berbumbu berat seperti soto babat di pasar malam dan rendang pedas buatan Erina. Barangkali perut Alvin yang lama tinggal di luar negeri "kaget" dengan jenis makanan yang tiba-tiba berbeda--alhasil ia kena gastritis sampai harus diopname.
Dan kalau sampai Alvin cerita ke keluarganya mengenai Erina--tentang mereka pulang bersama, jalan-jalan ke pasar, hingga perkara rendang, Erina merasa itu hanya akan menjadi masalah baru. Keluarga Alvin bisa jadi akan curiga dan menyalahkannya, atau menuduh mereka ada sesuatu, seperti yang dilakukan para tetangga dan rekan kerjanya.
Sepertinya mulai sekarang aku harus benar-benar jaga jarak dan menjauh dari Alvin..., batin Erina getir. Atau...
Erina melirik Harum. Sebuah gagasan cemerlang tiba-tiba melintasi benaknya.
"Rum, kamu serius mau pedekate sama Pak Alvin?" tanya Erina tanpa basa-basi.
Harum mengerjap, seakan kaget tiba-tiba ditanya begitu.
"Emang kenapa... kamu serius mau deketin dia juga?" Netra Harum yang hari ini berlapis lensa kontak ungu pun membeliak.
"Sembarangan!" Erina memukul pelan lengan sahabatnya itu. "Bukan gitu--justru aku mau bantu kamu supaya berhasil jadian dan kalau perlu sampai nikah sama dia...!"
Air muka Harum seketika bersinar sangat cerah--seperti karakter matahari di serial Teletubbies.
"Aaaaa, serius? Kamu mau bantuin aku? Bukan jadi saingan aku? Aaaaaaa makasih banyak, Rin! Kamu benar-benar bestie sejati aku... love you! Muaaaach!"
Harum sampai memonyongkan bibirnya seakan memberi ciuman penuh cinta untuk Erina--membuat Erina mengerutkan kening sekaligus tertawa.
"Tapi kalau sampai kamu nikah sama dia, nggak cuma THR, gajimu setiap bulan juga buat aku ya... kan kamu bakalan dinafkahin sama dia," pinta Erina jahil.
"Heh!" Harum melotot. "Kamu mau bantu atau ngerampok aku? Tega bener...!"
Erina terpingkal-pingkal. Baginya, menjahili Harum selalu menjadi hal yang sangat menyenangkan. Hatinya seketika terasa ringan.
"Jadi... apa rencanamu buat bikin Aa kelepek-kelepek sama aku?" tanya Harum seraya mengedip-ngedipkan matanya seakan kelilipan sayap nyamuk lewat.
Tawa Erina berubah menjadi senyuman sangat lebar.
"Kasih tahu nggak, ya...?"
***
"Siapa, Dri?"
Di Kamar Alexandrite, seorang wanita tinggi nan ramping dengan balutan blazer dan rok putih selutut dan rambut dipotong pendek rapi di bawah telinga duduk di salah satu sofa dan menatap tajam Adrian. Meski usia wanita itu sudah mencapai akhir paruh baya, namun parasnya masih terlihat sangat cantik dan belum digurati banyak kerutan. Bentuk hidung, bibir, dan matanya persis Adrian dan Alvin.
Dia adalah Andini Hermawan, wanita yang sudah melahirkan dua lelaki yang pesonanya sering membuat banyak perempuan di luar sana lupa daratan.
"Entah," jawab Adrian, netra cokelat dan jemarinya kini fokus ke ponselnya. "Sepertinya pembesuk, tapi katanya salah kamar."
"Hmmm."
Andini tak menanggapi lebih jauh dan kembali mengutak-atik tablet mahal di tangannya.
"Kakak tak jadi pergi?"
Di atas bed yang empuk dan lebar, Alvin berbaring di atas tumpukan bantal dengan infus menancap di punggung tangan kanannya. Matanya menatap lurus Adrian yang masih berdiri di pintu.
"Kamu mengusirku?"
Adrian bicara tanpa menoleh sama sekali dari ponselnya. Alvin mendengus.
"Aku tahu urusanmu banyak, Kak. Tak ada gunanya kamu membuang waktu lebih lama di kamar bau antiseptik ini kalau mata dan pikiranmu hanya fokus pada pekerjaan. Pergi dan tuntaskan saja semuanya sekarang. Aku tak akan mati hanya karena asam lambung naik--tenang saja."
"Jangan bicara tidak sopan begitu, Al!" tegur Andini. "Kamu harusnya berterima kasih kakakmu meluangkan waktu untuk menjengukmu di tengah kesibukannya mengurus Harmoni Group..."
"Justru aku mendukung Kak Adrian agar semakin fokus pada pekerjaannya," Alvin memutar bola matanya. "Aku tahu bebannya tak mudah. Karena itu jangan buang energi dan waktu hanya untuk meng-update frekuensi muntahku sampai siang ini. Tak penting. Kembalilah ke kantor, dan kalau urusan pekerjaan sudah selesai, sempatkanlah cari istri--"
"Banyak bicara seperti biasa," Adrian akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap adiknya dingin. "Tapi baguslah. Itu tandanya kamu baik-baik saja. Mama jadi tak perlu khawatir calon Presiden Direktur Harmoni Group berikutnya akan mati muda hanya karena telat makan. Sepertinya kamu yang lebih butuh istri untuk mengurus dirimu yang payah itu daripada aku..."
"Sudah cukup!" Andini menatap tajam kedua putranya bergantian. "Kalian sudah semakin berumur bukannya makin dewasa malah makin sering bertengkar seperti anak kecil... bagaimana perusahaan peninggalan Papa akan bertahan dan maju nanti jika kalian tak bisa akur?"
"Jangan khawatirkan itu, Ibunda Ratu. Harmoni Group akan semakin sukses di tanganku dan Alvin--bukankah adik kecilku ini semakin pintar karena akhirnya berhenti main-main dan sekarang membesarkan perusahaan dengan mencoba menyelamatkan dan mengakuisisi perusahaan kecil yang hampir bangkrut? Taktiknya sungguh cerdas, bahkan di luar nalar..."
"Terus saja mengejekku--orang berhati batu sepertimu mana paham soal hutang budi dan menolong orang lain?!" ketus Alvin. "Mungkin bagimu aku bodoh dan buang-buang waktu. Tapi kalau aku berhasil menyelamatkan dan memajukan perusahaan itu, kamu juga pasti akan bersujud dan berterima kasih padaku...!"
Adrian menyeringai. "Percaya diri yang bagus. Kamu butuh mentalitas itu untuk jadi Presdir--kita lihat saja nanti."
Andini hanya bisa menggeleng ketika Adrian akhirnya meninggalkan ruangan dan Alvin menguap lebar, seakan tak terjadi apa-apa.
"Mama juga pergilah kalau masih banyak pekerjaan," kata Alvin seraya memejamkan mata. "Bukannya aku mengusir... tapi aku juga butuh istirahat dengan tenang. Aku mau cepat sembuh supaya bisa bekerja keras lagi seperti Mama dan Kak Adrian yang hebat."
Andini memutar bola matanya--ia persis putra bungsunya saat melakukan itu.
"Ya. Cepatlah sembuh. Dan cepatlah kembali ke Harmoni Group agar kamu bisa menjabat sebagai Presdir dan kakakmu bisa menjadi Chairman--jadi akhirnya Mama bisa pensiun dan menikmati masa tua di Eropa dengan tenang."
Andini memasukkan tabletnya ke dalam tas berkulit buaya asli dan bermerek ternama miliknya--lalu meninggalkan ruangan dengan langkah tegap dan dingin seperti Adrian.
Begitu ketukan sepatu Andini tak terdengar lagi, Alvin dengan cepat membuka mata dan menyambar ponsel yang disembunyikannya di balik bantal. Ia menghubungi seseorang dan bicara dengan suara sangat pelan, seakan tak ingin ada orang lain yang bisa mencuri-dengar percakapannya kali ini.
"Jadi, bagaimana hasilnya...?"
Netra cokelat Alvin membola. Air mukanya berubah kian pucat--yang tak ada hubungannya dengan sakitnya.
"Tidak mungkin... jadi, dia..."
***