Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.
sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.
Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.
Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Arkanendra yang cemburu.
"Ada apa mas? Kok tiba-tiba kamu ngebut" Nayyara menoleh ke belakang lalu kebingungan ketika pria itu makin menambah kecepatan kendaraan sport itu. "Ada yang mengikuti kita, di belakang sejak tadi mobil itu terus menguntit, aku baru sadar tadi" Arkanendra terus melihat spion dengan waspada.
"Hah apa?? Siapa memangnya mas?" Nayyara jadi berubah tegang dan panik. Lalu terus menoleh kebelakang. Beberapa kali Arka berusaha mendahului kendaraan lain, dan dia yakin jika mobil di belakangnya memang tengah menguntit mobilnya.
"Jangan panik, jika ada vampir yang berani datang lagi, dia takkan bisa membawamu, kan ada aku di sini" Nayyara tersenyum meskipun masih cemas, terlihat mobil Avanza berwarna hitam itu terus berada tak jauh dari posisi mobil sportnya ini.
"Kita ke taman saja dulu mas jangan pulang, aku nggak tenang jika kita langsung pulang ke apartemen, dia pasti sengaja hanya mengikuti kita untuk melihat tujuan kita" Usul Nayyara cemas.
"Hm~ baiklah......aku juga penasaran siapa dia, kenapa hanya mengikuti kita saja?" Arka menambah kecepatan mobilnya lagi lalu berbelok di tikungan dengan tajam, dia membawa kendaraan itu menuju jalur lain di jalan tol untuk ke taman kota. Sesampainya di taman yang malam ini terlihat sepi dan agak gelap, Arka perlahan memarkirkan mobilnya, dia turun dari sana dan membukakan pintu untuk Nayyara, gadis itu juga terus mengamati sekitar mereka karena takut.
"Tidak apa-apa sayang, tenang saja ada aku......" Pria itu menggenggam tangan Nayyara seperti sedang menghisap energi gadis itu, mereka lalu berjalan di sebelah Nayyara menuju sebuah bangku yang tak jauh dari mereka.
"Apa Menurutmu itu vampir mas?" Arka menggeleng tak yakin, karena dia tak mencium bau darah vampir, dugaannya itu bukan vampir, entah kenapa dia merasa hawa ini familiar, hawa dingin di kuburan kuno.
"Lalu siapa yang mengikuti kita?"
"Entahlah, aku rasa dia juga punya tujuan penting, dia mungkin masih terus menguntit, dan masih mengawasi kita" Arka melihat waspada ke sekeliling mereka, taman ini terlihat sepi. Arka lalu duduk di salah satu bangku, lalu merapatkan jaket kulit hitamnya, dia menggosok tangan Nayyara juga merapatkan jaket yang di pakai gadis itu.
"Mas, di sini dingin sekali? Ini seperti mau hujan, Kapan kita pulang?" Nayyara mengeluh dan menggosok kedua tangannya, hawa malam di taman memang dingin, dan mereka malah ada di luar.
"Tunggu sebentar saja, setelah itu kita pulang.....aku tak tenang membawamu pulang jika di ikuti sama penguntit" Nayyara mengangguk patuh lalu ikut melihat ke sekeliling mereka dengan takut
"Siapa di sana?! Keluar kamu!!" Arkanendra berteriak dan mendatangi rimbunan tanaman tak jauh dari mereka. "Siapa kamu hah?! Beraninya cuma menguntit?!" Seorang pria dengan jaket coklat tiba-tiba keluar dari rimbunan tanaman itu dan hampir saja Arka serang, dia menangkis pukulannya yang hampir saja mengenai wajah tampannya dan Nayyara berteriak histeris.
"Bang Dimas?!" Nayyara terkejut setengah mati, dia yang juga ikut berlari ke rimbunan tanaman itu bisa jelas mengenali siapa orang itu.
Nay, iya ini aku........."
"Kamu bang? Owalah tenyata kamu!" Arkanendra urung menghajar pria dengan jaket coklat itu setelah Nayyara berteriak dan terlihat mengenal orang itu.
"Kamu?!" Teriak Arka kaget, Adimas juga berdecak tak senang. "Asli, aku males banget ketemu kamu di sini pak Arka!"
"Shit!" Umpat Arka. "Kamu pikir aku sudi! Pak pengacara?!" Nayyara kaget melihat perang mulut mereka.
"Mas kamu kenal sama bang Dimas?" Arka menggeleng kesal. "Nggak!" Jawabnya jutek membuang wajah.
Nayyara yang masih terkejut lalu menatap Adimas. "Bang kenapa kamu bisa di sini?"
"Ah maaf, aku tak bermaksud mengikuti kamu tadi Nay. Apa kabar pak Arka ......maaf jika tadi saya sudah bersikap tak sopan" Adimas nyengir lalu membungkuk pada Nayyara dan pria itu, meskipun dia terlihat sopan dan minta maaf namun Arka masih kesal.
"Bang Adimas ini kakak sepupunya sahabatku, tidak apa-apa mas, dia orang baik kok" Arka tentu tak langsung percaya, pengacara itu baik darimana coba, yang ada mereka ribut terus perkara kasus kemarin.
"Oh jadi begitu?" Arka mengangguk paham namun masih mengamati wajah Adimas dengan teliti, masih curiga apa tujuannya menguntit tadi.
"Kenapa aku mencium bau siluman? Ahk tidak mungkin kemarin aku tak Menciumnya kok tapi sekarang penciuman ku makin tajam? Nayyara mengenal pengacara itu, dia berbahaya jika benar-benar siluman?"
Arka membatin dengan tetap menggenggam tangan pacarnya, kemarin dia tak mencium bau aneh dari Adimas karena kekuatannya masih kecil, sekarang energi Nayyara banyak yang sudah Arka serap, saat ini anggap saja Arka berubah posesif pada kekasihnya di depan pria itu.
"Nay, kamu baik-baik saja kan? Apa yang terjadi denganmu? Aku dan Shela mencarimu kemana-mana, ke rumah kamu juga hampir setiap hari tapi tetep kosong" Adimas mendekat dan melihati Nayyara dengan tampang lega, hingga Nayyara hanya bisa tersenyum kalem lalu menjawab.
"Aku baik-baik saja, tadi aku sudah menghubungi ibuku di Semarang, dan Shela tadi sudah aku hubungi juga, kamu tenang saja bang" Adimas melirik pria yang berdiri di sebelah Nayyara dan masih menunjukkan wajah tak ramah, sejak kenal Arka di pengadilan, mereka memang tak pernah akur sedikitpun.
"Sebenarnya aku dan om Dewo melihatmu di mall tadi, karena kamu tiba-tiba menghilang hampir dua Minggu ini, banyak orang yang cemas, ponselmu juga tak bisa di hubungi lagi, sebenarnya kemana saja kamu selama ini, rumah kamu juga kosong, kamu gak pernah datang ke sanggar galeri juga......."
"Ngh~ anu~ ponselku hilang bang, dan aku sebenarnya ke....."
"Nayyara pergi keluar negeri selama hampir sebulan ini. Soal ponsel dia yang gak aktif dia memang baru mengganti nomernya" Arka memotong ucapan Nayyara yang terlihat bingung akan menjelaskan dimana selama ini, pria itu mendekat pada Adimas.
"Nayyara pacarku, Kemarin dia baru pulang dari Singapura setelah liburan, jadi kamu nggak perlu cemas dia kemana" Arka menjelaskan semua nya, beruntungnya dia memang membuat skenario itu sejak awal, agar tak ada yang heran kenapa rumah Nayyara kosong, dan dia hilang begitu saja.
"Oh jadi begitu??" Adimas menatap Nayyara mau meminta penjelasan dan gadis itu hanya mengangguk lega, dia tadinya bingung bagaimana menjelaskan pertanyaan pria itu.
"Iya itu benar.....aku baru balik dari Singapura beberapa hari lalu, ada keperluan juga disana bang" Jelas Nayyara ikut menyakinkan Adimas, meski awalnya dia bingung dengan skenario yang di buat Arka ini.
"Apa kamu masih ada urusan lagi dengan pacar ku, pak Adimas?" Arkanendra bertanya lagi, dia menggandeng tangan Nayyara untuk menandaskan jika gadis itu miliknya, hingga wajah Adimas berubah merah, lalu menggeleng linglung.
"Nggak kok, maaf kalo sudah mengganggu kalian" Jawabnya. "Jika begitu maaf kami harus pergi duluan...." Arka langsung pamit
"Bang sampai jumpa, maaf jika sudah membuatmu cemas, aku baik-baik saja kok...." Pamit Nayyara. "Oh nggak masalah, sampai jumpa.....jaga dirimu baik-baik ya"
"Aku akan segera galeri lagi dalam beberapa hari kedepan, lagipula pameran lukisan ku dan beberapa anggota sanggar akan di adakan gak lama lagi"
"Baiklah sampai jumpa kalo gitu Nay"
Nayyara tersenyum lalu berpamitan dan mengikuti Arka yang berjalan menggandengnya menjauh dari pria itu.
"Pacar Nayyara? Bagaimana bisa jaksa jadi pacarnya Nayyara? Adimas menggaruk rambutnya masih tak percaya, ada yang ganjil dari alasan Nayyara tadi, dia juga yakin dari cerita om Dewo tadi, jika Jaksa itu bukan manusia biasa, sebelumnya Adimas tak bisa merasakan energi besar dari tubuh Arka sekarang dia bisa merasakannya. Adimas sekarang juga bisa mencium bau lain dari tubuh Arkanendra itu, ada bau aroma tanah, dan air yang bercampur jadi satu.