NovelToon NovelToon
BANGRING : Siampa Puncak Harau

BANGRING : Siampa Puncak Harau

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Zamo

Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.

Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.

Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.

Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.

Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.

Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salju Yang Tak Lagi Dingin

Salju di Gunung Iga tidak pernah sedingin ini.

Di hamparan putih yang kini ternoda merah pekat, Hattori Zen berlutut dengan satu lutut menyentuh salju, napasnya berat dan terputus-putus. Darah hangat mengalir dari luka di tubuhnya, mencairkan salju di sekelilingnya. Uap tipis mengepul dari mulutnya setiap kali ia membuang napas.

Di hadapannya, selusin shinobi dari klannya sendiri berdiri mematung. Wajah-wajah yang dulu ia kenal sebagai saudara seperguruan kini membatu tanpa emosi. Mata mereka dingin, kosong, seperti pisau yang telah diasah hanya untuk satu tujuan.

Tidak ada teriakan. Tidak ada makian. Tidak pula ada doa perpisahan.

“Aku tetap hanyalah… alat…” bisik Hattori Zen lirih.

Suaranya hampir tenggelam oleh desir angin dan suara salju yang diinjak. Bibirnya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena tubuhnya mulai kehilangan panas. Kata-kata itu tercekik darah saat kilatan perak melintas cepat di kedua matanya.

“Ini karena kau tahu terlalu banyak… Hattori.”

ZING—!

Tebasan itu begitu cepat, bersih, dingin, dan tanpa ragu.

Dalam pandangan Hattori, dunia seakan terbalik. Ia tidak merasakan sakit—tidak ada nyeri seperti yang ia bayangkan. Yang ia rasakan hanyalah kehampaan luar biasa, seakan seluruh makna hidupnya direnggut dalam satu tarikan napas. Pandangannya menggelap perlahan, membawa serta bau anyir darahnya sendiri dan aroma musim dingin yang membeku. Ia memejamkan mata, bersiap untuk kegelapan abadi.

Dunia perlahan hilang dalam kegelapan mutlak.

Namun, kegelapan itu tidak bertahan lama.

NGiiiINGG—!

Suara lengkingan tajam, nyaring seperti ribuan jangkrik yang menjerit bersamaan, menghantam kesadarannya. Hattori tersentak. Sensasi dingin salju lenyap begitu saja, digantikan hawa lembap yang berat dan menyesakkan paru-paru.

Apa yang terjadi? pekiknya dalam hati.

Ia mencoba menarik napas; bukannya udara sejuk musim dingin, yang masuk justru udara panas bercampur aroma tanah basah dan dedaunan membusuk. Seketika rasa perih menjalar di sekujur rusuknya.

“Ghh!”

Ia terbatuk keras, dadanya terasa seperti dihantam batu besar. Perlahan, dengan kesadaran yang masih kabur, ia membuka mata.

Di atasnya bukan lagi langit kelabu musim dingin Iga, melainkan kanopi hijau raksasa dari pepohonan purba yang menjulang tinggi.

Dedaunan lebar saling bertumpuk, menyaring cahaya matahari terik hingga jatuh sebagai bercak-bercak cahaya di tanah berlumpur. Udara terasa lembap, panas, dan lengket di kulit—sangat berbeda dari dingin kering yang ia kenal.

Hattori menyentuh lehernya; tak ada darah, dan leher ini terasa lebih kecil.

“Woi, cungkring! Jangan pura-pura mati kau!”

Sebuah tendangan mendarat telak di perutnya. Napasnya seketika terhempas keluar.

Refleks lamanya mengambil alih; ia mencoba melakukan gerakan Ukemi—teknik berguling untuk meredam benturan dan menciptakan jarak. Namun tubuh ini tak merespon seperti yang diharapkan. Ia terjerembap ke tanah, lumpur menempel di wajah dan dadanya.

Apa yang sebenarnya terjadi? pikirnya bingung. Tubuhnya terasa berbeda: ringkih, terlalu ringan, tulang-tulangnya kecil, otot-ototnya seolah tak punya kekuatan sama sekali. Kenapa aku masih hidup? Di mana ini?

Ia berusaha berjongkok, namun terkejut melihat kakinya yang kurus, hanya menyisakan kulit dan tulang.

“Lihat matanya!” seru seorang pemuda bertubuh gempal dengan nada kasar dan merendahkan. Kulitnya legam, kain sarung terikat rapi di pinggangnya. “Dia seperti baru saja melihat Siampa saja, ha ha ha!”

Tawa di sekelilingnya pecah.

Hattori terbatuk lagi, mengusap darah dari bibirnya lalu menatap tangannya sendiri: kasar karena kerja berat, penuh kapalan, jari-jarinya kurus dan gemetar.

Ini bukan tangannya. Jelas bukan milik seorang Jonin yang mampu membelah angin dengan satu tebasan.

Saat ia mencoba bicara, suara yang keluar terdengar asing—seperti suara orang lain yang terperangkap di tenggorokannya.

“Aku… aku…”

Anehnya, ia mengerti arti kata-kata itu, meski bahasa ini bukan bahasa tanah asalnya. Pemahaman itu datang begitu saja, alami, seolah sudah tertanam lama di benaknya.

“Mau main-main ya? Berani-beraninya kau kabur,” hardik pemuda bernama Balun itu, melangkah mendekat dengan wajah menyeringai. “Kalau begitu, kupatahkan saja tanganmu. Biar kau punya alasan untuk tidak bekerja besok!”

Tinju besar melayang.

Kali ini Hattori tak berpikir panjang; tubuhnya bergerak menurut insting yang terasah puluhan tahun. Ia hanya menggeser kepalanya satu inci ke samping—gerakan minimalis, efisien, nyaris tak terlihat.

Wuzz…

Tinju itu meleset. Dalam satu tarikan napas, ia meraih pergelangan tangan lawan—bukan dengan kekuatan, melainkan teknik. Jarinya menekan titik saraf tertentu, memutar sudut pergelangan itu dengan presisi yang kejam.

KRETEK—!

“AAAAAARGH!” jeritan Balun menggema di antara pepohonan. Ia langsung berlutut, wajahnya pucat pasi; rasa nyeri menjalar seperti disengat ribuan lebah hingga lengannya mati rasa.

“Balun!” seru dua temannya bersamaan. “Sena, berani-beraninya kau!”

Hattori menatap tajam ke arah mereka, membuat bulu kuduk keduanya berdiri.

“Enyahlah,” ucapnya singkat dan datar.

Tak ada ancaman berlebihan, tak ada teriakan—namun cukup untuk menyusutkan nyali Jagu dan Danta. Mereka tergopoh membantu Balun berdiri lalu mundur tergesa-gesa.

“Sepertinya… Sena kesurupan Siampa,” bisik Jagu panik. Mereka pun lari tunggang langgang meninggalkan hutan.

Mereka bukan takut pada Sena, melainkan pada Siampa—makhluk gaib berbulu hitam yang konon menyeret orang ke dalam belantara saat senja.

Hattori menghembuskan napas panjang. Tubuhnya limbung; satu gerakan sederhana itu hampir membuatnya pingsan. Ia merangkak ke pinggir sungai terdekat dan menatap bayangannya di air jernih.

Ini jelas bukan wajahnya. Ini wajah seorang remaja kurus kering, dekil, namun dengan mata yang tampak terlalu tua untuk usianya.

Ia menyentuh dadanya. Jantungnya berdegup kencang. Hattori tak tahu kekuatan apa yang sedang mempermainkannya. Namun satu hal jelas: ia berada di tanah asing, di tubuh pemuda rapuh.

Ia duduk bersimpuh, menyapu pandangan ke pepohonan raksasa dan tanah berlumut di sekelilingnya—tanah yang tak pernah mengenal salju.

NGiiing…

“Arghhh…” ia meringis kesakitan saat telinganya berdenging lagi. Kepalanya terasa seperti ditusuk puluhan jarum; ingatan asing memaksa masuk—ingatan milik pemilik tubuh ini, ingatan bernama Sena.

Potongan demi potongan muncul dengan cepat: asap jerami yang terbakar, lecutan cambuk di punggung seorang lelaki tua, tawa congkak prajurit, sosok wanita yang menghembuskan napas terakhirnya… hingga saat Sena jatuh dari tebing dan tewas seketika.

‘Sena…? Ingatan ini…’ Hattori meringkuk menahan nyeri. ‘Jadi jiwaku kini menempati tubuh anak ini…’

Ia memaksakan diri duduk tegak dalam sikap tenang yang biasa ia gunakan—cara duduk yang membuat pikiran jernih.

Jemarinya saling terkait membentuk pola khusus, Kuji-in. Sembilan Segel Tangan, teknik unik Shinobi untuk mensugesti pikiran sendiri.

“SHA…” bisiknya gemetar, menekan jari-jarinya ke titik saraf tertentu. Perlahan rasa berat di kepala mereda.

“ZEN…” bisiknya lagi saat mengubah susunan jari. Otot-otot yang tegang mulai mengendur, emosi terkendali, dan napasnya kembali teratur. Meski ingatan Sena terus mengalir, tak lagi sepanas dan sesakit tadi.

Ia melepaskan segel tangan, kesadarannya berjuang cukup lama menampung ribuan kenangan baru, dan tanpa disadari matahari telah tenggelam; kabut dingin mulai turun menyelimuti lembah. Hidungnya berdarah sedikit—bukti bahwa tubuh ini masih terlalu lemah bahkan untuk tekanan syaraf Kuji-in yang paling ringan sekalipun.

Saat meraba lehernya, jemarinya menyentuh sebuah kalung. Ia menatapnya lama: kalung sederhana warisan keluarga Zen—benda yang hilang 22 tahun lalu, ternyata kini tergantung di leher anak ini. Menyeberangi samudra dan telah menunggunya di sini.

"Pantas saja aku tak menemukannya saat kembali ke dermaga waktu itu" Gumamnya tersenyum kecut.

Mendapatkan kesempatan hidup kedua di tubuh remaja yang tewas di detik yang sama dengannya… ia tak tahu harus bersyukur atau menganggap ini kutukan.

Dari ingatan yang masuk, ia tahu tempat ini bernama Lembah Harau, wilayah paling barat dari Kerajaan Dharmapuri, tanah yang hanya mengenal musim kemarau dan penghujan.

Di tepi tebing, ia mengingat kembali wajah-wajah dalam kenangan Sena: ayah yang disiksa hingga mati, penderitaan yang tak berkesudahan.

“Jeliteng… Purwa…” bisiknya pelan namun bergetar.

“Beristirahatlah dengan tenang di alam sana, Sena,” ucapnya lirih seolah berbicara pada jiwa pemilik tubuh ini. “Aku pinjam tubuh dan namamu dalam kehidupan ini. Dendammu… biar aku yang tuntaskan.”

Angin lembah berhembus lembut membelai wajahnya, seolah itu adalah sebuah jawaban dan izin dari Sena sendiri.

Ia membuka mata lebar-lebar dan bersumpah di hadapan ribuan bintang yang bertaburan:

“Hattori Zen sudah mati di tengah salju Iga.”

Ia mengepalkan tangan yang masih gemetar itu dengan teguh.

“Sekarang… aku adalah Sena Sanjaya.”

“Dan Sena… tidak akan menjadi alat bagi siapa pun.”

1
anggita
👍2iklan☝☝
anggita
Hattori.. kya nama film kartun jadul ninja Hattori🙏 🤭
Zamo: Iya 😅, soalnya yang kepikiran kenangan masa kecil
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!