Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 — Nayla Menghilang
“Apa maksudnya Nayla pergi sendiri?!”
Nadira langsung berdiri sampai bantal di pangkuannya jatuh ke lantai.
Wajahnya pucat total.
Arsen terlihat jauh lebih tenang, tapi rahangnya mengeras.
“Itu isi pesan terakhirnya.”
“Tapi kenapa dia nekat banget?!”
“Karena dia putus asa.”
Nadira memegang kepalanya frustrasi.
“Ya Tuhan… Nayla bisa mati!”
Arsen segera mengambil jasnya dari sofa.
“Aku sudah suruh orang cari lokasi ponselnya.”
“Aku ikut.”
“Tidak.”
“Aku tetap ikut!”
Arsen menatapnya tajam.
“Kamu juga target.”
“Dia saudara aku!”
Sunyi sesaat.
Lalu Arsen mengembuskan napas pendek.
“Fine. Tapi jangan jauh dari aku.”
Perjalanan malam itu terasa seperti mimpi buruk.
Hujan turun deras lagi.
Lampu jalan memantul di kaca mobil yang basah.
Nadira terus menggigit kukunya sambil menatap layar ponsel.
Tidak ada balasan dari Nayla.
Tidak aktif.
Tidak terbaca.
Kosong.
“Aku harusnya nggak ninggalin dia tadi…” bisiknya pelan.
Arsen menyetir dengan fokus.
“Ini bukan salahmu.”
“Kalau sesuatu terjadi sama dia gimana?”
“Nggak akan.”
“Kamu nggak tahu itu!”
Suara Nadira mulai pecah.
Arsen melirik sekilas.
Dan untuk pertama kalinya, pria itu terlihat sedikit panik melihat Nadira hampir menangis.
“Hey.”
Nadira menoleh.
“Aku bakal nemuin dia.”
Nada suaranya rendah.
Mantap.
Dan entah kenapa… Nadira mempercayainya.
Satu jam kemudian mereka berhenti di depan sebuah klub malam elite di pusat kota.
Lampu neon menyala terang.
Musik terdengar bahkan sampai luar gedung.
Nadira langsung mengernyit.
“Nayla ke tempat kayak gini?”
Arsen keluar dari mobil.
“Lokasi terakhir ponselnya di sini.”
Mereka masuk cepat.
Suasana di dalam penuh asap, musik keras, dan orang-orang mabuk.
Nadira langsung tidak nyaman.
Ia terus mengikuti Arsen di tengah keramaian.
Tatapan beberapa pria mulai memperhatikan Nadira.
Dan Arsen jelas sadar itu.
Pria itu langsung menarik tangan Nadira mendekat ke samping tubuhnya.
“Dekat sini.”
Nadira sedikit salah tingkah.
“Kenapa?”
“Aku nggak suka mereka lihat kamu.”
Deg.
Kalimat sederhana itu lagi-lagi membuat jantung Nadira kacau.
Namun situasi terlalu serius untuk memikirkannya sekarang.
Mereka akhirnya sampai di area VIP setelah Arsen bicara singkat pada security.
Di sana jauh lebih sepi.
Dan saat itulah Nadira melihatnya.
Nayla.
Saudara kembarnya duduk di sofa sudut dengan wajah pucat.
Sendirian.
“NAYLA!”
Nadira langsung berlari menghampiri.
Nayla mengangkat kepala pelan.
Matanya merah seperti habis menangis lama.
“Kamu ngapain ke sini…” gumamnya lemah.
“Kamu gila ya?!”
Nadira langsung memeluknya erat.
Tubuh Nayla dingin.
Gemetar.
Arsen berdiri di depan mereka sambil memperhatikan sekitar dengan waspada.
“Mana Rafael?”
Nayla langsung menegang.
“Dia nggak datang.”
“Apa?”
“Dia cuma kirim pesan…”
Nayla menunjukkan ponselnya dengan tangan gemetar.
Pesan anonim.
DATANG SENDIRI KALAU MAU TAHU KENAPA AKU NGELAKUIN SEMUANYA.
Nadira merinding.
“Dia jebak kamu.”
Nayla tertawa kecil pahit.
“Iya.”
Lalu perlahan wajahnya berubah hancur.
“Aku masih bodoh ya…”
Dan kalimat itu membuat Nadira langsung diam.
Karena seberapa pun marahnya dia…
Nayla tetap saudara kembarnya.
Namun sesuatu terasa aneh.
Sangat aneh.
Arsen tiba-tiba menyipitkan mata ke arah meja minuman.
“Ada yang salah.”
Nadira menoleh.
“Apa?”
Arsen berjalan cepat ke meja lalu mengambil gelas cocktail di depan Nayla.
“Kamu minum ini?”
Nayla mengangguk bingung.
“Sedikit.”
Wajah Arsen langsung berubah dingin.
“Kita pergi sekarang.”
“Apa lagi?!”
“Sekarang!”
Nada suaranya tajam sekali sampai Nayla ikut panik.
Arsen langsung menarik Nadira berdiri.
Namun terlambat.
Pandangan Nayla mendadak kabur.
“Nad…”
Tubuhnya limbung.
“NAYLA!”
Nadira buru-buru menangkapnya.
Orang-orang mulai menoleh.
Arsen mengumpat pelan.
“Sial.”
“Ada apa sama dia?!”
“Minumannya.”
“Jangan bilang—”
“Dia dibius.”
Tubuh Nadira langsung dingin.
Dan sebelum mereka sempat bergerak—
Lampu klub mendadak mati.
Gelap total.
Jeritan mulai terdengar di mana-mana.
Musik berhenti.
Suasana kacau.
Arsen langsung memeluk Nadira dan Nayla sekaligus agar tidak terpisah di tengah kerumunan.
“Jangan lepas!”
Namun di tengah kekacauan itu…
Seseorang berbisik dekat telinga Nadira.
“Akhirnya ketemu juga.”
Suara pria.
Rendah.
Dingin.
Nadira langsung membeku.
Ia mengenali suara itu.
Suara dari telepon misterius.
“Arsen—”
Namun seseorang tiba-tiba menarik Nadira keras dari belakang.
“NADIRA!”
Teriakan Arsen terdengar samar di tengah keributan.
Tubuh Nadira terbentur sesuatu.
Mulutnya dibekap.
Dan dunia langsung gelap.
Saat Nadira sadar…
Kepalanya terasa sakit.
Sangat sakit.
Ia mengerjap pelan.
Gelap.
Lembap.
Bau debu dan kayu tua memenuhi udara.
Tangannya terikat.
“Ngh…”
Nadira mencoba bergerak tapi percuma.
Panik mulai naik.
“Udah bangun?”
Suara pria terdengar dari depan.
Nadira langsung membeku.
Seorang pria duduk santai di kursi sambil menatapnya.
Wajahnya tampan.
Rapi.
Dan tersenyum tipis.
Namun matanya…
Kosong.
Dingin.
Berbahaya.
Rafael.
Jantung Nadira langsung berdegup kacau.
“Kamu…”
Pria itu berdiri perlahan.
“Aku kira kamu bakal lebih lama pingsannya.”
“Apa maumu?!”
Rafael tertawa kecil.
“Aku cuma penasaran.”
“Apa?”
“Kenapa semua orang mulai pilih kamu.”
Deg.
Nadira langsung menegang.
Rafael berjalan mendekat pelan.
“Aku udah lama perhatiin kalian.”
“…”
“Nayla selalu bersinar.”
“Tapi anehnya…” pria itu tersenyum miring, “orang-orang malah lebih nyaman sama kamu.”
Nadira menggigit bibir.
“Kamu psikopat.”
“Aku realistis.”
Kalimat itu membuat Nadira merinding.
Karena caranya bicara mirip sekali dengan Arsen.
Bedanya…
Arsen masih punya hati.
Sedangkan pria ini terasa kosong.
“Kamu yang nyoba bunuh Nayla?” tanya Nadira pelan.
Rafael diam beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
“Aku cuma mau ambil milikku.”
“Milikmu?!”
“Uang itu hakku.”
“Itu uang keluarga kami!”
“Dan keluargamu serakah.”
Tatapannya berubah dingin.
“Nggak ada orang kaya yang benar-benar bersih, Nadira.”
Napas Nadira mulai tidak stabil.
“Kalau cuma uang, kenapa kamu ngincer aku?!”
Rafael menatapnya lama.
Terlalu lama.
Lalu ia berkata pelan,
“Karena kamu ganggu rencanaku.”
“Aku bahkan nggak kenal kamu!”
“Kamu terlalu dekat sama Arsen.”
Deg.
Nadira langsung diam.
Rafael tertawa kecil melihat reaksinya.
“Nah.”
“…”
“Itu ekspresi yang menarik.”
“Kamu ngomong apa sih?”
“Arsen nggak pernah peduli sama siapa pun.”
Tatapannya menusuk lurus ke mata Nadira.
“Tapi dia beda waktu lihat kamu.”
Jantung Nadira langsung berdetak keras.
“Omong kosong.”
“Sayangnya bukan.”
Rafael berjalan lebih dekat.
Kini wajah mereka hanya terpisah beberapa senti.
“Dan aku nggak suka variabel baru.”
Bulu kuduk Nadira berdiri.
Pria ini benar-benar gila.
Di sisi lain…
Arsen menghancurkan meja klub sampai retak.
“CCTV mana?!”
Manager klub sampai pucat.
“K-kami lagi ambil backup, Tuan…”
Arsen terlihat seperti bom yang siap meledak.
Wajahnya dingin.
Matanya gelap.
Dan semua orang di ruangan itu takut padanya.
Nayla yang mulai sadar duduk sambil memegang kepala.
“Nadira…”
Arsen langsung menoleh.
“Dia ngomong apa sebelum lampu mati?”
Nayla berusaha mengingat.
“Dia… dia sempat bilang suara itu familiar.”
Arsen langsung diam.
Beberapa detik kemudian seseorang datang membawa tablet.
“Tuan, CCTV sebelum listrik mati berhasil diambil.”
Arsen langsung merebut tablet itu.
Video diputar cepat.
Keramaian klub.
Lampu.
Lalu sesaat sebelum mati…
Sosok pria bertopi hitam terlihat berdiri di belakang Nadira.
Wajahnya samar.
Namun saat pria itu sedikit menoleh—
Nayla langsung pucat.
“Itu dia…”
Arsen memperbesar gambar.
Dan untuk pertama kalinya…
Ekspresi pria itu berubah sangat berbahaya.
“Rafael.”
Kembali ke gudang tua.
Rafael duduk santai di depan Nadira sambil memainkan pisau kecil.
“Takut?”
Nadira berusaha tetap tenang meski tangannya dingin.
“Arsen bakal nemuin aku.”
Rafael tertawa pelan.
“Nah.”
“Apa?”
“Itu lagi.”
“Apa sih?!”
“Kamu percaya banget sama dia.”
Deg.
Nadira langsung memalingkan wajah.
“Aku nggak peduli.”
“Bohong.”
Rafael tersenyum tipis.
“Kamu jatuh cinta sama tunangan saudara kembarmu sendiri ya?”
Kalimat itu menghantam tepat di dada.
Karena untuk pertama kalinya…
Nadira mendengar kenyataan itu diucapkan keras-keras.
Dan ia membencinya.
“Aku nggak—”
“Tenang aja.” Rafael menyandarkan tubuh santai. “Aku nggak peduli soal moral.”
“…”
“Tapi ini menarik.”
Nadira memejamkan mata frustrasi.
Sial.
Sial.
Sial.
Kenapa semuanya jadi seperti ini?
“Tahu nggak,” lanjut Rafael pelan, “Nayla dulu juga ngomong tentang Arsen.”
Nadira langsung menatapnya.
“Apa?”
“Dia bilang Arsen terlalu dingin buat dicintai.”
Deg.
Dan entah kenapa…
Kalimat itu justru membuat dada Nadira terasa sesak.
Karena sekarang ia mulai takut.
Takut kalau Nayla benar.
Takut kalau semua perasaan ini cuma akan menghancurkannya.
Namun sebelum Nadira sempat berpikir lebih jauh—
Suara ledakan keras tiba-tiba terdengar dari luar gudang.
BRAK!
Rafael langsung berdiri.
Wajah santainya hilang.
“Akhirnya datang juga.”
Detik berikutnya—
Pintu gudang dihantam terbuka.
Dan Arsen muncul di tengah hujan deras dengan tatapan yang belum pernah Nadira lihat sebelumnya.
Tatapan orang yang siap membunuh.