NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.

Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.

Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.

Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taktik sang Nona Muda

Meski diberi tema pesta malam penghargaan, namun semua orang sibuk mencari mitra dan berdiskusi ringan masalah bisnis dan kerja sama antar perusahaan. Tak sedikit juga para tetua perusahaan yang mulai mencari target pasangan pernikahan politik untuk pewaris mereka. Sementara itu, Garda dikerumuni para tetua mafia yang memiliki minat dan penasaran terhadap Zevana, tanpa ada yang tahu di dunia bisnis, bahwa ia berada di bawah naungan Garda.

"Hahaha! Gimana rasanya duduk di antara orang-orang biasa, melihat anugerah penghargaan yang biasanya ada ditanganmu, malah ada di tangan bocah ingusan?" kelakar seorang pria paruh baya sembari menepuk bahu Garda. Meski tutupi oleh candaan ringan, namun semburat wajah pria itu cukup jelas menyiratkan ekspresi meremehkan.

Garda tersenyum miring, "Yah, tidak jauh berbeda. Tak ada salahnya memberi ruang buat yang muda tapi kompeten, dari pada tua bangka rendah SDM," ujar Garda bangga.

"Dasar pak tua yang menolak tua ini memang mulut besar! Hahaha!" gelak yang lainnya.

Melihat Garda yang asik bergaul dan mengobrol santai, Bani bangkit lalu pamit undur diri sekedar memberi ruang pada para tetua itu untuk mengobrol. Ia mendekat ke meja di sampingnya di mana Arka sedang duduk menyendiri di sana sembari memperhatikan Zevana.

"Gak usah dipelototin terus juga gak papa, Nona Zevana tahu bagaimana cara menjaga diri," celetuk Bani tiba-tiba, membuat Arka terkejut.

"Ramai sekali ya," gumam Arka mengalihkan topik, sembari mengedarkan pandangan.

"Yah, setiap tahun memang begini. Tapi malam anugerah itu biasanya 5 tahunan sekali. Jadi ini pasti pertama kalinya Pak Arka hadir di acara seperti ini kan?" tanya Bani.

"Ya, dua tahun lalu saya masih magang, tahun lalu tiba-tiba jadi karyawan tetap. Rasanya kayak mimpi tiba-tiba dipromosikan ada di samping CEO muda yang keren kayak Bu Zevana," ungkap Arka penuh haru.

"Yah ... Semuanya sudah ada yang mengatur," ucap Bani misterius.

"Trimakasih Pak Bani, kalau bukan karena Bapak, sepertinya proses saya masih sangat lama. Padahal diterima menjadi karyawan tetap aja rasanya luar biasa, apalagi saya bisa jadi punya penghasilan tetap buat pengobatan Ibu saya," ujar Arka penuh rasa syukur.

"Rendah hati boleh, tapi Pak Arka juga harus punya ambisi untuk melangkah lebih." Bani menepuk bahu Arka penuh penghargaan seolah ia adalah seorang teman yang akrab baginya.

Sementara itu di sudut lain, Reno terlihat sedang melakukan pendekatan yang intens kepada Zevana. Terlihat ia sedang menebar senyum dan candaan receh kepada nona muda sang CEO itu.

"Haha! Jadi Anda kira saya ini model dari brand ambasador begitu?" gelak Zevana mengikuti alur candaan Reno.

"Iya. Saya kira artis atau model dari mana cantik banget," puji Reno.

"Lucu sekali, eh iya-saya hampir lupa. Tadi anda bilang dari perusahaan mana?" tanya Zevana sembari membenarkan duduknya.

"Oh iya. Saya Direktur baru PT. HS distribution. Perkenalkan, Reno Herdiansyah," ucap Reno memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan.

"Oh ... Pak Reno Herdiansyah? Wah ternyata Anda orangnya," seru Zevana sembari menjabat tangan Reno.

"Sepertinya kedepannya kita bakal sering ketemu ya?" Zevana melepaskan tanganya dari genggaman Reno, lalu meraih ponselnya.

Diam-diam ia menyeka tangannya yang basah bekas jabatan tangan dengan tangan Reno yang berkeringat–ke ujung dress hitamnya.

"Boleh saya minta nomor Pak Reno? Kebetulan perusahaan kami memang ingin mengundang Bapak untuk ajuan kemitraan." Dengan senyum antusias, Zevana menyodorkan ponselnya ke arah Reno.

Susi yang berada tak jauh dari meja yang di duduki oleh Reno dan Zevana, seketika membulatkan netra saat melihat Zevana menyodorkan ponselnya ke arah sang putra.

"God! Lihat itu Pap, putra kita Pap! putra kita dipedekatein sama CEO muda!" bisik Susi dengan ekspresi kegirangan.

"Emang ada untungnya muka dia ganteng turunan Mami ya," imbuh Susi sembari meremas kedua tangannya gemas melihat sang Putra.

Melihat tingkah Susi yang berlebihan, Hardi menarik lengannya yang sedari tadi menyikuti bahunya.

Grep!

"Jangan norak! Tunjukin kelas yang tinggi kalo mau keliatan setara! Kayak orang udik aja!" desis Hardi dengan suara tertahan dan bibir yang sedikit mungkin tidak terbuka, lalu diakhiri senyuman buatan sebagai topeng penutup.

"Okey, trimakasih nomornya Pak Reno. Maaf saya udah banyak ambil waktu santai Pak Reno. Kalo gitu sayamohon izin permisi. Nanti akan saya hubungi," pamit Zevana sembari mundur perlahan lalu bangkit beranjak.

"Ah! I-iya, baik," gagap Reno agak kecewa. Ia terlihat seperti masih ingin berlama duduk mengobrol dengan Zevana, namun menutup hasratnya itu sebagai strategi tarik ulur menurutnya.

Zevana melangkah melewati Garda lalu mengangguk dengan senyuman dan akhirnya melengos pergi bersama Arka yang langsung mengekorinya menuju pintu keluar.

Dengan langkah cepat, gadis itu berjalan terseok-seok tanpa melihat kanan kiri. Lalu saat melihat sebuah kotak tissue basah di meja dekat pintu keluar, ia segera menariknya beberapa lembar.

"Ck! Menjijikan," decak Zevana sembari meremas dan mengelap tangannya dengan tissue basah itu.

"Pulang sekarang Bu?" tanya Arka ragu-ragu sembari meneliti Zevana dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Iya. Menyesakkan sekali berlama-lama di tengah para bajingan bertopeng malaikat itu, senyum mereka memuakkan sekali," ungkap Zevana terus terang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!