Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Rencana Balas Dendam Sisi
Aluna berpikir dalam hati, meski hatinya tidak puas, ia tidak memiliki pilihan lain saat ini selain berpura-pura setuju. "Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu."
Gavin mengangguk puas, lalu merangkul tubuh Aluna dan ikut berbaring di ranjang rumah sakit.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Aluna curiga.
Gavin memijat pangkal hidungnya dengan ekspresi lelah. "Aku belum tidur lebih dari beberapa jam selama beberapa hari terakhir ini karena menjagamu. Aku sangat lelah. Temani aku tidur sebentar."
Melihat tubuh Aluna yang spontan menegang karena gugup, Gavin menghela napas pasrah. Ia mengangkat tangan kanannya untuk meyakinkan Aluna. "Aku berjanji, aku tidak akan menyentuhmu lebih jauh. Aku hanya ingin memelukmu seperti ini sampai tertidur."
"Benarkah?"
"Iya."
Gavin menepati ucapannya. Pria itu hanya memeluk tubuh Aluna dengan sangat lembut tanpa melakukan tindakan agresif apa pun. Di luar jendela, sinar matahari siang menembus celah dedaunan, menciptakan suasana yang tenang di dalam kamar rawat. Di permukaan, segalanya terlihat damai.
Di balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Sisi berdiri dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Mulutnya masih mengeluarkan darah, rambutnya acak-acakan, dan ia terpaksa berjongkok menahan perih di dinding koridor.
Anak buah Gavin telah menyiksanya dengan sangat kejam di ruang bawah tanah; dua gigi depannya copot, lidahnya terluka, dan sekujur tubuhnya dipenuhi memar kebiruan. Namun, didorong oleh ambisi dan dendam yang luar biasa, Sisi berhasil menyelinap keluar dari ruangan itu.
Mata Sisi tampak terlihat merah padam saat menyaksikan Aluna yang sedang dipeluk dengan nyaman oleh Gavin. Rasa cemburu yang hebat membakar hatinya. "Perempuan sialan, kau sudah merebut posisi dan perhatian Tuan Gavin dariku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup dengan tenang," desis Sisi dalam hati.
Malam harinya, di sebuah jalan setapak yang sepi dan gelap di luar area vila keluarga Ramadhan. Sisi berdiri dengan mengenakan pakaian kasual, masker, serta topi yang menutupi wajahnya, hingga hanya matanya yang terlihat. Ia tampak menjinjing sebuah tas kain berwarna hitam.
Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya bertubuh tambun mengedarkan pandangan dengan waspada, lalu berjalan cepat menghampiri Sisi. Wanita itu masih mengenakan seragam pelayan rumah tangga keluarga Ramadhan dan namanya adalah Sari.
Sisi menatapnya dengan tidak sabar. "Sar, kenapa tidak ganti baju dulu sebelum keluar? Bagaimana kalau ada penjaga yang melihatmu?"
Sari menarik ujung seragamnya dengan gugup dan gemetaran. "Sisi, aku juga tidak mau mengambil risiko ini, tapi kepala pelayan sangat ketat belakangan ini karena kasusmu.
Kami semua dikenakan jam malam. Hari ini saja aku harus menyuap penjaga gerbang belakang agar bisa menyelinap keluar. Uang suap itu..."
"Sudah, sudah, nanti aku ganti uangmu. Apa kamu membawa barang yang kuminta?" potong Sisi dengan ekspresi jijik.
Mendengar janji tentang uang, mata Sari yang semula terlihat cemas langsung berbinar penuh keserakahan. Ia mengangguk cepat, merogoh tasnya, dan menyerahkan sebuah amplop putih kepada Sisi. "Ini barang yang kamu inginkan. Aku mencurinya dari meja kerja kepala pelayan dengan susah payah, jadi kamu harus memberiku imbalan yang sepadan."
"Ini tiga puluh juta, uang tutup mulut untukmu." Sisi mengambil amplop itu lalu melemparkan tas hitam berisi uang tunai ke arah Sari. "Ingat, jangan pernah buka mulut kepada siapa pun!"
"Iya, iya, aku janji akan tutup mulut rapat-rapat."
Keesokan harinya, di stasiun keberangkatan pelabuhan yang padat oleh kerumunan penumpang. Sisi memegang tiket perjalanan di tangan kiri dan amplop berisi kertas alamat di tangan kanannya. Saat kertas itu dibuka, tertera alamat mengenai tempat Adrian di luar kota:
Jl. Ahmad Yani No. 25, RT 12, Kelurahan Air Putih, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur 75124.
Di balik maskernya, Sisi menyunggingkan senyum penuh kebencian. "Adrian, bersiaplah. Aku datang untuk memanfaatkanmu." Ia melangkah dengan tegas melewati Pintu Gerbang B menuju area keberangkatan.
Setibanya di Kota Samarinda, Sisi menyusuri sebuah gang sempit yang kumuh. Ia berhenti di depan sebuah rumah tua, lalu menggedor pintu kayunya yang sudah mulai reyot dengan keras.
Ckit...
Pintu terbuka, menampilkan sosok Adrian dengan penampilan yang tampak sangat lusuh dan tidak terawat. Perban masih menempel di dahinya akibat kecelakaan tempo hari.
"Halo, Adrian," sapa Sisi langsung.
Adrian menatap wanita di hadapannya dengan pupil mata menyempit. Ia bertanya dengan nada tidak percaya dan penuh kewaspadaan, "Mengapa kamu bisa ada di sini?"
Pengalaman tentang kekerasan fisik yang dilakukan oleh anak buah Gavin beberapa hari lalu meninggalkan trauma mendalam bagi Adrian.
"Aku datang untuk mencarimu," jawab Sisi dengan senyum palsu. Ia langsung melangkah melewati tubuh Adrian begitu saja, masuk ke dalam rumah tanpa izin, sembari mengedarkan pandangan untuk mengamati sekeliling.
Kondisi rumah tua itu sangat bobrok, perabotan di dalamnya sangat minim, dan udara di dalam ruangan terasa sangat lembap. Di atas meja kayu, terdapat sekotak mi instan instan yang belum habis dikonsumsi.
Sisi mendengus sinis, lalu berbalik menatap Adrian dengan pandangan meremehkan.
"Adrian, mengapa hidupmu berubah menjadi sangat mengenaskan seperti ini? Sebagai seorang instruktur piano yang berbakat, nasibmu seharusnya tidak semiskin ini."
"Ini bukan urusanmu. Silakan keluar dari rumahku," jawab Adrian datar. Ia sama sekali tidak ingin meladeni kehadiran pelayan wanita itu.
Sisi menaikkan sebelah alisnya, lalu melontarkan umpan dengan suara tenang.
"Aku bisa membantumu untuk bertemu kembali dengan Aluna."
Gerakan Adrian seketika terhenti. Pria itu menatap Sisi dengan pandangan was-was.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan," ujarnya mencoba menggelengkan kepala demi menjaga ketenangan.
"Aluna terpaksa tinggal di sisi Tuan Gavin karena keluarganya diancam. Apa kamu benar-benar tega melihat wanita yang kamu cintai menderita dan tidak ingin memilikinya kembali?"
Suara Sisi terdengar sangat provokatif, sengaja memanfaatkan celah emosional Adrian. Mendengar hal itu, Emosi Adrian mulai goyah dan ia tampak beralih menatap lantai dengan bimbang.
Melihat keraguan yang mulai menguasai Adrian, Sisi tersenyum puas di dalam hati karena tahu umpannya telah berhasil dengan baik. Rasa sakit hati Adrian akibat perlakuan Gavin kini siap ia manfaatkan sebagai senjata untuk menghancurkan Aluna.