Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.
Lah, aku?
Aku ajah kerja di toko bunga.
Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.
Sial banget nggak sih?
Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.
Huhuhu.
Tapi tenang, aku tahu diri kok.
Aku cuma mengaguminya dari jauh.
Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?
...kan?
Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 jalan memutar
Suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi, hanya suara mesin mobil dan alunan musik instrumental pelan yang mengisi keheningan.
Wulan duduk dengan kedua tangan menggenggam tas di pangkuannya.
Sesekali ia melirik ke arah jendela, berusaha mengalihkan pikirannya yang sejak tadi berantakan.
Di sisi lain, Saka tetap fokus mengemudi Tak satu pun dari mereka membuka percakapan.
Beberapa menit berlalu.
Keheningan itu justru membuat Wulan semakin canggung, wulan membatin " anjir lah canggung banget bangkeee kalo diem mulu bikin tambah kikuk?"
Wulan mencuri pandang sekilas ke arah Saka, Pria itu tetap menatap lurus ke depan dengan kedua tangan menggenggam setir.
Ekspresinya tenang seperti biasa. Entah kenapa, melihat ketenangan itu justru membuat Wulan semakin gugup.
Ia kembali menghela napas pelan Mobil terus melaju membelah jalanan sore yang mulai dipenuhi kendaraan pulang kerja.
Lampu-lampu toko perlahan mulai menyala, Beberapa pedagang kaki lima juga mulai memenuhi pinggir jalan.
Wulan kembali melihat ke luar jendela Beberapa detik kemudian, dahinya perlahan mengernyit.
"Eh..."
Ia memperhatikan jalan yang mereka lewati,Semakin lama Semakin terasa asing Ini ukan jalan menuju rumahnya?
Wulan kembali melihat ke luar Ia cukup hafal rute menuju rumahnya karena hampir setiap hari melewati jalan yang sama bersama Siwi.
Namun kali ini, Mobil justru berbelok ke arah yang berbeda.
Jantungnya mulai berdegup pelan.
Apa Saka memang ada urusan dulu?
Atau, Jangan-jangan ia salah ingat jalan?
Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Wulan memberanikan diri membuka suara."Kak?"
Saka melirik sekilas.
"Iya?"
Wulan menunjuk ke arah depan.
" Ini kayaknya bukan jalan ke rumah aku deh."
Saka kembali mengalihkan pandangannya ke jalan."Iya."
Jawaban singkat itu justru membuat Wulan semakin bingung.
"Iya?"
"Saya memang sengaja lewat sini."
Wulan berkedip beberapa kali.
"Sengaja? kenapa?"
Saka tersenyum tipis. "Saya mau mampir sebentar"
Ia ingin bertanya lagi Namun melihat Saka yang kembali fokus menyetir, ia memilih mengurungkan niatnya.
Mobil kembali dipenuhi keheningan Sekitar lima belas menit kemudian Mobil mulai melambat.
Wulan kembali melihat ke luar jendela, Deretan pepohonan rindang mulai terlihat.
Di sisi kanan jalan tampak sebuah taman kota yang cukup luas.
Beberapa anak kecil masih bermain di area bermain, Ada pasangan lansia yang sedang berjalan santai.
Beberapa penjual makanan dan minuman juga berjajar rapi di dekat pintu masuk.
Mobil Saka perlahan masuk ke area parkir Mesin dimatikan.
Wulan menatap Saka dengan wajah penuh tanda tanya.
" Kak..."
Saka membuka sabuk pengamannya."Turun, yuk."
Wulan masih belum bergerak.
"Ini... kita ngapain ke sini?"
Saka menoleh dan tersenyum kecil.
"Saya cuma ingin ngobrol."
Kalimat itu membuat jantung Wulan kembali berdetak lebih cepat.
Obrolan yang sejak siang tertunda Ternyata belum benar-benar selesai.
Saka lebih dulu keluar dari mobil.
Ia berjalan memutar, lalu membukakan pintu untuk Wulan.
"Silakan."
Wulan tersenyum kikuk. " eh Makasih, Kak."
Ia turun dari mobil sambil masih sesekali melihat sekeliling taman.
Sore itu udara terasa cukup sejuk.
Angin berembus pelan, membuat daun-daun bergoyang pelan di atas kepala mereka.
Beberapa anak kecil masih berlarian di area bermain sambil tertawa riang.
Sementara di sisi lain, beberapa orang tampak duduk santai menikmati sore. "Wah... adem ya di sini."
Saka mengangguk kecil."Saya lumayan sering ke sini."
"oh ya sama siapa aja kak?"
"Sendiri"
Wulan sedikit terkejut. "Kok sendirian?"
Saka tersenyum tipis. "Kadang kalau lagi banyak pikiran, saya lebih suka cari tempat yang tenang."
Wulan mengangguk pelan.
"Oh gituu"
Tanpa sadar, ia merasa sedikit lega.
Ternyata bukan cuma dirinya yang suka mencari tempat untuk menenangkan pikiran.
"Mau jalan sebentar?"
Ajakan Saka membuat Wulan kembali menoleh. "Boleh."
Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalur pejalan kaki.
Tidak terlalu dekat, Tidak juga terlalu jauh, Keheningan kembali hadir, Namun kali ini terasa lebih nyaman.
Sesampainya di dekat seorang penjual minuman, Saka berhenti.
"Mau minum apa?"
Wulan langsung menatap saka senang " kakak yang traktir yaa"
" iya saya yang traktir." Saka kemudian memesan dua botol minuman dingin.
Setelah membayar, ia menyerahkan salah satunya kepada Wulan. "Nih."
Wulan menerimanya dengan kedua tangan."Makasih kak."
"Sama-sama."
Mereka kembali berjalan hingga menemukan sebuah bangku taman yang menghadap ke danau kecil.
Saka duduk lebih dulu. Wulan menyusul beberapa detik kemudian.
Keduanya sama-sama membuka tutup botol minuman masing-masing Tidak ada yang langsung berbicara.
Hanya suara angin dan tawa anak-anak yang terdengar samar dari kejauhan.
Beberapa saat kemudian, Saka mengembuskan napas pelan.
"Sebenarnya Saya minta maaf."
Wulan menoleh lalu langsung menggeleng. "Lohh? Kenapa malah minta maaf?"
"Karena tadi siang saya terlalu tiba-tiba nanya, saya takut bikin kamu nggak nyaman."
" Nggak kok kak santai aja" ucap wulan menunduk menatap botol minuman di tangannya.
Justru sebaliknya,Yang membuat suasana menjadi canggung adalah dirinya sendiri.
Beberapa detik berlalu.
Saka kembali membuka suara.
"Saya nggak bermaksud memaksa kamu cerita Tapi..."
Ia tersenyum kecil. "Saya juga nggak bisa pura-pura nggak sadar kalau akhir-akhir ini kamu berubah."
Kalimat itu membuat dada Wulan kembali terasa sesak Ia menggigit bibir pelan.
Saka melanjutkan dengan nada yang tetap tenang. "Kalau memang saya punya salah Tolong kasih tahu, Saya lebih tenang kalau tahu."
Wulan menggeleng pelan. " Ngga bukan salah Kak Saka."
Saka menatapnya tanpa menyela.
"Lalu?"
Wulan menarik napas panjang.
Tatapannya masih tertuju ke permukaan danau yang memantulkan cahaya matahari sore.
"Aku..."
Kalimat itu menggantung Ia ingin jujur Ingin mengatakan semuanya.
Tentang rasa cemburu yang muncul hanya karena melihat satu nama di layar ponsel.
Tentang keputusan bodohnya menjaga jarak Namun semakin ingin mengatakannya, Semakin sulit kata-kata itu keluar.
"Aku lagi..."Wulan mengepalkan jemarinya pelan.
"lagi bingung sama diri sendiri."
Kalimat itu akhirnya keluar.
Meski bukan seluruh kebenaran
Setidaknya itu bukan kebohongan,
Saka tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengangguk pelan, memberi Wulan ruang untuk bernapas tanpa merasa dihakimi.
Angin sore kembali berembus lembut Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir Wulan merasa dadanya sedikit lebih ringan.
Saka tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandangi permukaan danau beberapa saat, seolah sedang mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan Wulan.
"Lagi bingung sama diri sendiri?"
Wulan mengangguk pelan.
"Iya"
Saka menoleh ke arahnya. " kalo boleh tahu bingung soal apa?"
Wulan tersenyum kecil, tetapi senyum itu lebih mirip usaha menyembunyikan kegugupannya.
"Banyak."
"Kerjaan?"
Wulan menggeleng.
"Keluarga?"
"Nggak juga."
"Lalu?"
Wulan menarik napas panjang.
"Aku... lagi belajar buat ngendaliin perasaan sendiri."
Kalimat itu membuat Saka terdiam.
Ia tidak memotong, Tidak juga buru-buru bertanya lebih jauh.
Sebaliknya, ia hanya mengangguk pelan."Saya paham."
Wulan justru tertawa kecil.
"Kayaknya Kak Saka nggak mungkin paham."
"Kenapa?"
"Soalnya Kak Saka kelihatannya selalu tenang."
Saka ikut tersenyum tipis.
"Itu cuma kelihatannya."
"ouh ya?"
"Saya juga pernah ada di posisi bingung."
Wulan menoleh penasaran.
"Serius kak?"
"Iya."
"Terus gimana?"
Saka menatap langit sore sejenak sebelum menjawab."Saya biasanya nggak buru-buru mencari jawabannya."
"Maksudnya?"
"Kadang... semakin dipaksa, jawabannya justru semakin jauh."
Wulan terdiam Entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa seperti sedang menenangkan dirinya. "Aku malah kebalikannya."
Saka menoleh.
Wulan tertawa pelan. " aku kalo kepikiran sesuatu malah dipikirin terus sampai capek sendiri."
Saka ikut terkekeh pelan.
"Saya sudah bisa menebaknya dari cara kamu overthinking."
Wulan langsung membulatkan mata. "Eh, keliatan ya?"
Saka mengangguk sambil tersenyum kecil. "Sedikit."
Wulan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"ihh malu."
"Kenapa malu?"
"Karena kayaknya aku kelihatan aneh."
"Nggak."Saka menggeleng pelan. "Kamu cuma terlalu banyak mikir."
Kalimat itu membuat Wulan perlahan menurunkan kedua tangannya.
Untuk pertama kalinya hari itu, Ia menatap Saka lebih lama dari biasanya.
Tatapan mereka bertemu beberapa detik, Tidak ada yang berbicara, Namun entah kenapa...
Keheningan kali ini terasa jauh lebih nyaman daripada sebelumnya.
Wulan tersenyum tipis."Makasih ya, Kak."
"Untuk apa?"
"Udah mau dengerin."
Saka ikut tersenyum. "Kapan pun."
Matahari mulai tenggelam ketika mereka kembali berjalan menuju area parkir.
Suasana di antara mereka terasa jauh lebih ringan dibandingkan sebelumnya.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Saka kembali menyalakan mesin.
Perjalanan kali ini tidak lagi secanggung saat berangkat.
Sesekali mereka mengobrol ringan tentang bunga, pelanggan toko, sampai candaan Nara dan Siwi.
Wulan bahkan beberapa kali tertawa kecil. "Kayaknya besok Siwi bakal aku omelin."
Saka tersenyum."Karena ninggalin kamu?"
"Iya lah."
"Kasihan juga dia."
"Kasihan dari mananya, Kak? Dia ninggalin aku demi uang."
Saka terkekeh pelan. "Itu ide saya."
"aku tahu kok."
"Marah?"
Wulan menggeleng sambil tersenyum."sedikit."
Mobil kembali melaju menyusuri jalan menuju rumah Wulan melaju meninggalkan taman.
Kali ini suasana di antara mereka jauh lebih santai Sesekali Wulan menimpali cerita Saka, bahkan beberapa kali tertawa kecil.
Hingga ponsel Saka yang berada di dashboard tiba-tiba bergetar.
Layar yang menyala sesaat membuat mata Wulan tanpa sengaja menangkap satu nama.
Alya
Jantungnya langsung berdegup lagi.
Nama itu, Lagi.
Saka melirik layarnya sebentar lalu menekan mode senyap.
"Nggak diangkat, Kak?"
Saka menggeleng pelan."Nanti saja."
"Oh..."Wulan berusaha terdengar biasa.
Meski dalam hati rasa penasarannya kembali muncul.
Mungkin karena menyadari arah pandangan Wulan tadi, Saka tiba-tiba membuka suara. "namanya alya."
Wulan menoleh."Hm?"
"Nama yang waktu itu kamu lihat di ponsel saya."
Wulan langsung membeku.
"Eh..."
Sialan, Ketahuan.
Saka justru tersenyum tipis.
"Dia dulu Junior saya waktu kuliah"
Saka terdiam sejenak " Kami sempat dekat, Lalu pernah menjalin hubungan"
Kalimat itu membuat Wulan langsung menegang.
"Hubungan kami sudah lama selesai." Saka tetap menatap jalan di depannya. "Nggak ada masalah sebenarnya. Kami cuma nggak cocok sekarang hubungan kami sebatas teman biasa."
Wulan menggenggam botol minumannya pelan. "terus sekarang masih sering hubungi Kakak?"
"Kadang."
"Kenapa?"
"Sekarang dia lagi merintis usaha."
Wulan menoleh."Usaha?"
Saka mengangguk."Dia sering minta pendapat soal bisnis, laporan keuangan, dan hal-hal yang saya lebih paham kalau bisa bantu sedikit, biasanya saya bantu."
Wulan terdiam Jawaban itu sangat... Saka.
Terlalu baik Terlalu sulit menolak orang yang meminta bantuan.
"Jadi..."Wulan berhenti sejenak. "Udah nggak ada apa-apa lagi?"
Saka sempat melirik ke arahnya Lalu menggeleng pelan. "Nggak ada."
Jawaban itu sederhana Namun entah kenapa membuat dada Wulan terasa jauh lebih ringan.
Sampai-sampai ia hampir tertawa sendiri Berhari-hari.
Ia menjaga jarak, Overthinking Membuat dirinya sengsara Hanya karena sebuah kesimpulan yang ia buat sendiri.
Melihat sudut bibir Wulan yang tiba-tiba terangkat, Saka sedikit mengernyit."Ada yang lucu?"
Wulan buru-buru menggeleng.
"Nggak ada."
Padahal dalam hati ia sedang memarahi dirinya sendiri.
" kan wulannn liat tuh jadi lo tuh salah pahammm tapi ya babang saka terlalu baik sama sialya-alya itu, diakan mantan yah harusnya cut off donggg yaudah lan"