NovelToon NovelToon
Figuran Yang Polos

Figuran Yang Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
​Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

alam bawa sadar?

​Lorong rumah sakit terasa begitu dingin dan sunyi. Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman, namun Arland, Evan, dan Kiel hanya bisa terpaku di kursi tunggu depan ruang IGD. Arland menunduk dalam, menumpukan wajahnya pada kedua telapak tangan. Rasa bersalah menghujam jantungnya tiap kali ia teringat bagaimana ia menyeret Anna ke tepi maut.

​Tak lama kemudian, Evan datang dengan langkah tergesa, napasnya memburu. Wajahnya pucat pasi sambil menggenggam ponselnya erat-getar.

​"Land... Kiel..." suara Evan tercekat.

​Arland mendongak perlahan. "Apa?"

​"Gue nggak tahu ini bakal bikin lo makin merasa bersalah atau nggak, tapi gue baru dapet rekaman CCTV di koridor arah gudang belakang," Evan menyodorkan ponselnya. "Yang nampar Zela... itu bukan Anna. Tapi salah satu siswi dari fansclub lo, Land. Anna beneran nggak bohong, dia emang di UKS pas kejadian itu."

​Keheningan yang memekakkan telinga menyelimuti mereka. Arland merasa seolah dunianya runtuh. Ia telah menuduh dan menyiksa seorang gadis yang sama sekali tidak bersalah hingga gadis itu memilih untuk mengakhiri hidupnya.

​Kiel hanya diam. Wajahnya datar, namun matanya menatap tajam ke arah pintu IGD yang masih tertutup rapat. Tangannya yang masih lembap karena air danau mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih.

​Cklek.

​Pintu terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah yang tampak letih. Sontak mereka bertiga berdiri, namun Arland yang paling pertama menghampiri.

​"Dokter, gimana kondisi Anna?!" tanya Arland panik.

​Dokter itu menghela napas panjang, menatap mereka satu per satu. "Pasien sempat mengalami gagal napas karena terlalu banyak air yang masuk ke paru-parunya. Selain itu, ada benturan cukup keras di kepalanya, mungkin saat dia terjun atau saat berada di dalam air."

​"Dia... selamat?" tanya Evan ragu.

​"Saat ini kami berhasil menstabilkan detak jantungnya. Namun," Dokter terdiam sejenak, "pasien saat ini dalam kondisi koma. Tubuhnya mengalami syok hebat, dan kami belum bisa memastikan kapan dia akan sadar. Kita hanya bisa menunggu masa kritisnya lewat dalam 24 jam ke depan."

​Arland terhuyung mundur, hampir terjatuh jika tidak tertahan dinding. "Koma..."

​Kiel melangkah maju, memotong suasana dramatis itu dengan suaranya yang rendah dan sedingin es. "Bisa dijenguk?" tanyanya singkat.

​"Untuk sekarang hanya satu orang secara bergantian, dan hanya sebentar," jawab Dokter.

​Kiel tidak menunggu persetujuan Arland atau Evan. Ia langsung melangkah masuk melewati pintu IGD. Ia ingin melihat sendiri gadis yang semalam menyelamatkannya, namun hari ini ia biarkan hancur di depan matanya sendiri.

Suasana rumah sakit yang mencekam semakin pecah saat sepasang suami istri berlari di sepanjang koridor dengan wajah penuh kecemasan. Mereka adalah orang tua Anna. Sang mama tampak sangat terpukul, langkahnya goyah hingga harus dirangkul erat oleh sang papa.

​Geng Demons—Kiel, Arland, dan Evan—berdiri kaku di depan ruang perawatan. Arland hanya bisa menunduk, tak sanggup menatap mata kedua orang tua yang dunianya baru saja hancur itu.

​"Apa yang terjadi? Kenapa putri saya bisa begini?!" tanya Sang Papa dengan suara bergetar, mencoba menahan amarah dan kesedihan yang bercampur menjadi satu.

​Arland membuka mulut, namun suaranya tercekat di tenggorokan. "Om... maaf, tadi ada kesalahpahaman di sekolah..."

​"Kesalahpahaman sampai dia masuk rumah sakit dalam kondisi begini?!" Sang Papa membentak, membuat suasana semakin tegang.

​Sang Mama, yang sejak tadi terisak, perlahan mengangkat wajahnya yang sembap. Matanya tertuju pada sosok pemuda yang berdiri paling tegak dan dingin di sana. Pandangannya terpaku pada nametag yang tersemat di seragam pemuda itu: Kiel De Luca.

​Seketika, tangis Sang Mama pecah semakin kencang. Ia melangkah mendekati Kiel, membuat Arland dan Evan mundur selangkah.

​"Kamu... kamu Kiel?" tanya Sang Mama dengan suara serak.

​Kiel hanya mengangguk pelan, tetap mempertahankan wajah datarnya meski sorot matanya tampak goyah.

​"Padahal dia selalu bercerita tentang kamu di rumah..." ucap Sang Mama sambil menyentuh lengan seragam Kiel dengan tangan yang gemetar. "Anna itu dulu memang sangat keras kepala. Kalau dia sudah suka pada sesuatu atau seseorang, dia akan mengejarnya sampai dapat tanpa peduli apa pun."

​Sang Mama terisak lagi, mengingat semangat putrinya yang kini terbaring tak berdaya. "Dia selalu bilang Kiel begini, Kiel begitu... meskipun kamu sering bersikap dingin padanya, dia tidak pernah menyerah. Tapi kenapa sekarang jadi seperti ini? Kenapa Anna harus sampai melompat?"

​Kiel terdiam seribu bahasa. Nama belakangnya, De Luca, seolah terasa sangat berat saat ini. Penjelasan sang mama tentang bagaimana Anna selalu menceritakan dirinya menjadi tamparan keras bagi Kiel. Gadis yang ia anggap mengganggu itu ternyata menjadikannya pusat dunianya, sementara ia justru menjadi alasan gadis itu merasa dunia tidak lagi layak ditinggali.

​Arland yang mendengar itu semakin merasa seperti monster. Ia telah menyakiti gadis yang begitu tulus, bahkan di mata orang tuanya sendiri.

​"Maafkan kami, Tan..." bisik Evan lirih, namun Sang Mama hanya bisa terus menangis, meratapi putri kecilnya yang kini berjuang antara hidup dan mati di dalam sana.

Di tengah keheningan ruang perawatan yang dingin, jiwa Anna—atau sosok aslinya, Raisa—terjebak dalam kehampaan yang tak berujung. Ruangan itu begitu gelap, seolah cahaya tak pernah diizinkan masuk ke sana.

​"Ini... di mana?" tanya Raisa pelan. Suaranya bergema, namun tak ada pantulan dinding yang menyambutnya.

​Rasa takut mulai menjalar di hatinya. Keadaan ini jauh lebih mengerikan daripada diseret Arland ke tepi rooftop. Tiba-tiba, setitik cahaya muncul dari kejauhan, perlahan membentuk sosok perempuan dengan wajah yang sangat tenang dan anggun.

​Perempuan itu berjalan mendekat, menatap Raisa dengan binar mata yang penuh rahasia.

​"Jangan biarkan dirimu mati di dunia ini," ucap perempuan itu dengan suara lembut namun tegas.

​Raisa tersentak. "Maksudnya?"

​"Karena kalau kamu mati di sini, kamu tidak akan pernah bisa kembali ke duniamu yang asli," lanjut perempuan itu.

​Jantung Raisa serasa berhenti berdetak. Kabar itu seperti hantaman keras baginya. "Kenapa harus aku? Kenapa aku harus terjebak di sini?!" tanyanya dengan suara bergetar, menuntut jawaban atas nasib malang yang menimpanya.

​Perempuan itu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang sulit diartikan. "Nikmatilah hidup di sini," ucapnya pelan sambil perlahan memudar menjadi partikel cahaya. "Jadilah Anna sampai ceritanya selesai."

​"Tunggu! Jangan pergi!" teriak Raisa.

​Namun, cahaya itu meledak dengan sangat terang, membutakan penglihatannya. Detik berikutnya, rasa sakit yang luar biasa menghujam seluruh saraf tubuhnya. Oksigen seolah dipaksa masuk kembali ke paru-parunya yang sempat berhenti berfungsi.

​Deg.

​Di dalam ruang perawatan, monitor jantung yang tadinya menunjukkan garis lemah tiba-tiba berbunyi nyaring. Jari-jari pucat Anna bergerak sedikit, lalu kelopak matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit putih rumah sakit yang buram.

​Anna telah bangun dari komanya, namun dengan satu misi baru yang harus ia selesaikan agar bisa pulang.

1
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
wahyu andria
suka karyanya. . .up yang bnyak thor
Teguh Aliyanto
up yg bnayak thorr jagan 1 satu aja
Teguh Aliyanto
semagat💪💪
Teguh Aliyanto
ug yg banyak thor😍😍
Teguh Aliyanto
lanjuth thorr😍
Teguh Aliyanto
lanjuttt🤭🤭
Teguh Aliyanto
lanjur thor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!