NovelToon NovelToon
Menikah Karena Kasihan

Menikah Karena Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: pipit fitriyani

Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?

Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.

Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lamaran?

Setelah pulang kerja, Farhan memutuskan untuk mampir ke rumah Amira ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tepat pukul 5 sore, mobil Farhan terparkir di depan rumah Amira. Ia langsung mengetuk pintu rumah Amira tanpa menunggu lama, lalu Amara membukanya.

"Assalamualaikum, Amara," ucap salam Farhan.

Amara tersenyum. "Waalaikumsalam, Mas Farhan. Masuk, Mas." Amara mempersilakan Farhan masuk ke rumah. Tak lama, Ammar menghampiri keduanya.

"Mas, apa kabar? Baru kelihatan nih, udah lumayan lama juga nggak mampir ke sini," sapa Ammar.

Farhan tersenyum menanggapi pertanyaan Ammar. "Alhamdulillah, Mas baik. Iya, nih lagi sibuk ke luar kota terus, jadi maaf ya baru bisa mampir. Kalian apa kabar? Oiya, di mana kakak kalian?" tanya Farhan penasaran.

"Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Kakak tadi terima telepon dari tetangga sebelah, katanya mau minta tolong berbenah rumah yang baru pindahan, jadi Kakak ke sana," sahut Ammar.

"Oh gitu. Kira-kira kapan pulang? Kalian kurusan, lagi sakit ya?" tanya Farhan.

Beberapa saat keduanya diam, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Farhan.

"Beberapa hari yang lalu kita baru pulang dari RS, Mas. Aku sama Amara dirawat karena tifus lebih dari seminggu."

Mendengar jawaban Ammar, Farhan cukup terkejut. Kurang lebih hampir beberapa minggu ini, dia benar-benar tidak berkomunikasi dengan keluarga Amira, dan mereka pun tidak menghubunginya lebih dulu.

"Ya ampun! Kenapa kalian nggak ngasih tahu Mas Farhan? Apa ini juga salah satu alasan kakak kalian dipecat dari pekerjaannya?"

Keduanya hanya mengangguk.

"Iya, kami jadi merasa bersalah sama Kakak. Karena merawat kami di rumah sakit, dia kehilangan pekerjaannya dan mungkin rumah ini juga..." ucap Ammar.

"Maksud kamu apa, Ammar?" tanya Farhan penasaran.

"Kakak menggadaikan rumah ini ke tetangga kami. Kakak tidak punya biaya untuk pengobatan kami, jadi terpaksa Kakak menggadai rumah ini. Padahal belum lama Kakak menebusnya dengan hasil jerih payah saat kerja, sekarang kembali digadai lagi." Ammar menceritakan yang sebenarnya terjadi, membuat Farhan semakin kasihan dengan keadaan amira.

Sampai azan Magrib berkumandang, Amira tak kunjung pulang. Akhirnya, dia memutuskan untuk pulang karena dia pun merasa lelah setelah seharian bekerja.

"Mas, pamit pulang dulu ya, nanti besok balik lagi. Memang salah Mas juga yang nggak mengabari kakak kalian kalau mau mampir ke sini. Kalian istirahat yang cukup. Mas akan cari solusi untuk permasalahan yang dihadapi kakak kalian. Pokoknya, Ammar dan Amara tidak perlu khawatir soal ke depannya," ucap Farhan meyakinkan saudara kembar tersebut.

Keduanya mengangguk. "Terima kasih ya, Mas. Kami bersyukur kakak punya teman seperti Mas Farhan."

Farhan hanya membalas dengan senyuman, lalu berpamitan pulang.

Di sepanjang jalan, pikiran Farhan bercabang apakah dia harus mengambil keputusan ini untuk menolong Amira sekaligus menolong dirinya dari tuntutan menikah? Setelah sampai di rumah, Farhan langsung membersihkan diri dan menyiapkan makan malamnya sendiri.

Keesokan harinya, Farhan kembali datang setelah lebih dulu mengirim pesan pada Amira. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya dia memutuskan untuk mengambil langkah ini. Meskipun dia harus mengorbankan perasaannya, setidaknya dia bisa menyelamatkan tiga orang manusia yang paling membutuhkan perlindungan dan juga ekonomi yang aman. Bukankah berbohong demi kebaikan diperbolehkan? Meskipun kebohongan punya jalan sendiri untuk tampil ke permukaan.

Saat mobil berhenti di depan rumah, Amira dengan tampilan sederhana dan senyum manisnya sudah menyambut Farhan. Farhan pun seperti tertular senyuman Amira, lantas membalasnya dengan senyum hangat. Melihat itu, detak jantung Amira berdetak cukup kencang ia bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi pada dirinya.

"Assalamualaikum, Amira. Apa kabar?"

"Waalaikumsalam, Mas. Kabar baik. Kamu apa kabar?"

"Kabar baik, Alhamdulillah."

"Syukurlah."

"Mari masuk, Mas," Amira mempersilakan Farhan masuk. Tak lama, kedua adiknya keluar dari kamarnya dan menyapa Farhan yang baru saja tiba.

Layaknya menyambut tamu, Amara menyediakan minum dan camilan sederhana. Setelah itu, ia kembali ke kamarnya karena tidak ingin mengganggu obrolan keduanya.

"Silakan, Mas, diminum," ucap Amira mempersilakan Farhan untuk minum.

"Terima kasih. Amira, kedatanganku kali ini dengan maksud dan tujuan tertentu. Aku tidak bisa lagi menundanya lebih lama," ucap Farhan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya kali ini. Sementara itu, Amira sedikit kebingungan dengan apa yang diucapkan Farhan.

"Maksud Mas apa? Aku nggak paham."

"Kamu dengerin dulu aku ngomong. Pokoknya, kalau aku belum selesai ngomong, kamu nggak boleh memberikan tanggapan," ucap Farhan seperti memberikan ultimatum. Sementara Amira hanya mengangguk patuh. Setelah Amira sepakat, barulah Farhan menyampaikan maksud dan tujuannya.

"Amira, aku tahu ini terlalu mendadak, terlalu lancang, dan terkesan memaksa. Namun, percayalah, hal ini sudah aku pikirkan cukup lama. Aku hanya terlalu pengecut untuk mengambil keputusan. Tapi sekarang, aku sudah yakin. Aku tidak mau menundanya lagi...

Amira, aku berniat untuk melamar kamu dan menikah dalam waktu dekat. Usiamu sudah cukup untuk menikah, begitu juga dengan aku. Kita sudah sama-sama dewasa dan membutuhkan pasangan hidup. Aku memilih kamu karena kamu memang satu-satunya perempuan yang saat ini dekat dengan aku. Selain itu, aku juga nyaman sama kamu. Aku harap kamu tidak menolak niat baikku yang terlalu dadakan ini," ucap Farhan panjang lebar. Sementara itu, Amira yang mendengarkan Farhan bicara berusaha mencerna setiap kata yang laki-laki itu bicarakan.

"Amira, kenapa diam? Kamu sudah bisa menanggapi pernyataanku barusan."

"Hah? Aku bingung harus menanggapinya seperti apa. Ini terlalu mendadak. Aku tidak punya persiapan apa pun untuk menjawab pertanyaan kamu. Intinya, aku benar-benar bingung," ucap Amira apa adanya, karena sejujurnya apa yang diucapkan Farhan terlalu tiba-tiba.

Farhan mengerti dan tidak ingin terlalu memaksa mendengar jawaban dari Amira.

"Sejujurnya, aku benar-benar berharap kamu menerima ajakanku ini. Usiaku sudah tidak muda lagi untuk main-main. Aku juga ingin menjadi tempat yang nyaman untuk kamu pulang, menjadi rumah kamu yang sebenarnya."

Ucapan Farhan terdengar meyakinkan, membuat Amira seolah dicintai, padahal ia tidak tahu maksud Farhan sebenarnya meskipun bukan niat jahat.

"Mas, situasi kita terlalu berbeda bagai langit dan bumi. Kamu seorang yang berpendidikan dengan karier yang cemerlang, sementara aku hanya lulusan SMA tanpa prestasi apa pun. Apa tidak sebaiknya dipikirkan matang-matang? Menurutku, ajakan kamu menikah terlalu gegabah," ucap Mira menyampaikan isi hatinya dengan rasa tidak percaya diri yang cukup besar.

"Ini bukan keputusan gegabah, dan kita bisa saling melengkapi perbedaan itu. Kamu tidak perlu merendah, sementara kamu sangat istimewa di mataku. Kamu perempuan yang luar biasa, sosok yang lemah lembut dan penyayang. Aku berharap perempuan seperti kamulah yang akan membersamai setiap langkahku, menerima segala baik dan burukku."

Amira terkejut mendengar ucapan Farhan untuk kesekian kalinya, meskipun itu bukan ungkapan cinta. Apakah ia harus menerima lamaran dadakan Farhan ini?

1
Lilis Yuanita
bgus
rasahaz
bnr2 nyesek kmu jdi amira,, jdi mnding go ja lh,,, 😤😤😤💪
Salsa Bilah
aku bolak-balik buat liat bab selanjutnya blom ada ihhh
Lilis Yuanita
sedih critay
rasahaz
nah kaan baru tau skrng gmn kelakuan laki mu amira,, mkany jgn polos2 bgt ahk, masa ngga bsa pke insting seorng istri sh,,, jdi udh mnding minggat ja minta pisah ngapain msh dpertahankn,, 😤😤😤😤
rasahaz
jgn trllu lemot amira,, masa ngga bsa pke insting sma skli sh,, 😄😄😄
rasahaz
mng dasar laki pengecut pecundang kau farhan,, 😡😡😡
rasahaz
ayo amira kmu hrus jdi wanita tanggung,, jgn menye2 yg dikit2 nangis,, 💪💪💪🔥
rasahaz
pergi amira pergi bwa adik2 mu,, mnding berdiri dkaki sndri dri pda brgntung sma laki modeln c farhan,,,
rasahaz
waaaahh bnr2 suami dzolim kau farhan,,, 😡😡
rasahaz
kau sprti menabur madu pdhal kau memberi racun,,, 😡😡
rasahaz
sikap mu bgtu manis tpi bnyak bgt mengandung racun ny,,,
rasahaz
dpt notif da cerita baru karya kak pipit,, langsung mlncur,🔥🔥🔥💪😄
Penikmat Sunyi: terima kasih, dukung terus ya kak biar semangat nulisnya😄😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!