Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .
_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Malam pertama pasca-pernikahan yang sakral itu dilalui Faas dan Eliza dengan menginap di kediaman Daneswara. Sesuai rencana, Faas baru akan memboyong istri sahnya itu ke mansion Abrari keesokan paginya. Eliza memiliki waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan mentalnya, Kamis dan Jumat ia mengambil cuti resmi, ditambah libur Sabtu dan Minggu, ia akan memiliki waktu tiga hari penuh untuk beradaptasi di sarang serigala keluarga Abrari,
Malam ini, Faas dan Eliza memutuskan untuk menginap di rumah Daneswara terlebih dahulu.
Suasana kamar begitu hening setelah seluruh kerabat berpamitan tidur. Eliza duduk di tepi ranjang besar, masih mengenakan gaun tidur sutra panjang berwarna putih yang senada dengan jilbab instan rumahan yang membungkus rambutnya. Jantungnya berdegup tidak keruan mendengar suara gemercik air dari kamar mandi yang perlahan berhenti.
Pintu kamar mandi terbuka. Faas melangkah keluar dengan rambut hitamnya yang basah acak-acakan. Ia hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan yang membungkus dada atletisnya....Tanpa penyamaran, tanpa kacamata tebal, ketampanan garis wajah Arab-nya yang tegas berpadu dengan tubuh atletisnya yang sempurna tampak begitu memikat di bawah temaram lampu tidur.
Faas melangkah mendekat, lalu duduk di samping Eliza. Aroma sabun maskulin yang segar langsung memenuhi indra penciuman Eliza, membuat gadis itu refleks menunduk menyembunyikan wajahnya yang mendadak terasa sangat panas.
"Kenapa menunduk terus, hm? Sekarang kita sudah sah, Eliza. Kamu tidak perlu menyembunyikan wajahmu lagi dari suamimu," ucap Faas, suaranya terdengar sangat rendah, berat, namun sarat akan kehangatan yang begitu dalam.
Tangan tegap Faas perlahan terangkat, dengan sangat lembut menyelipkan jemarinya di bawah dagu Eliza, membimbing wajah cantik istrinya untuk mendongak menatap langsung ke sepasang mata elangnya yang kini melunak penuh cinta.
Faas menatap bibir Eliza, lalu perlahan mendekatkan wajahnya. Getaran romantisme yang begitu pekat menguar di antara mereka. Jantung Eliza berpacu sangat cepat, ia perlahan memejamkan matanya, siap menyambut kecupan pertama di malam pengantin mereka.
Faas mencium Eliza dengan begitu lembut, tangannya membuka jilbab Eliza dengan pelan, ia membimbing Eliza ke ranjang, merebahkan tubuh Eliza yang kini terbebas dari jilbab.
"maukah kita membuka ibadah panjang Kita dengan saling berbagi?" tanya Faas dengan suara seraknya.
Sedangkan wajah Eliza kini menegang, malu sekaligus takut....ia mengangguk patuh .
Faas tersenyum lembut, lalu perlahan mendekatkan wajahnya kembali.
Namun, tepat ketika jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter, Eliza mendadak teringat sesuatu yang sangat penting. Matanya langsung terbuka lebar. Dengan panik, ia meletakkan kedua telapak tangan kecilnya di dada tegap Faas, menahan pergerakan suaminya.
"k-kak.. tunggu! Kak Faas, stop!" bisik Eliza terbata-bata dengan wajah yang kini memerah sempurna seperti kepiting rebus.
Faas menghentikan gerakannya, sedikit mengernyitkan dahi dengan tatapan bingung yang kaku. "Ada apa, Eliza? Apa Aku terlalu terburu-buru?, apa kau takut...,? tenang saja, aku akan sangat hati-hati!"
Eliza menggigit bibir bawahnya, merasa sangat bersalah sekaligus ingin menghilang dari muka bumi saking malunya....ia menggeleng cepat"B-Bukan begitu, Kak... tapi... tapi malam ini sepertinya... Pembukaan ibadah kita, m-maksud aku , proyek malam pertama kita harus... ditunda dulu."
"Ditunda?" Faas mengulangi kata itu dengan ekspresi wajahnya yang mendadak melongo polos. Mantan agen rahasia genius yang biasanya bisa memprediksi taktik musuh dalam hitungan detik itu mendadak mendadak blank total di depan istrinya. "Kenapa ditunda? Ada berkas kantor yang tertinggal lagi?"
Mendengar pertanyaan polos nan kaku dari suaminya, Eliza rasanya ingin tertawa sekaligus menangis.
"Bukan berkas kantor, Kak Faas sayang!" Eliza menutup wajahnya dengan kedua tangan, suaranya meredam malu. "Aku... aku baru sadar pas ke kamar mandi tadi sore. Aku... aku kedatangan tamu bulanan. Aku lagi berhalangan, Kak."
Hening.
Selama beberapa detik, kamar pengantin itu mendadak sunyi senyap. Faas mengerjapkan matanya lambat, memproses kalimat Eliza di dalam otaknya yang genius. Begitu sinyalnya terhubung, ekspresi wajah Faas yang biasanya sedingin es langsung berubah drastis menjadi kaku, kikuk, dengan telinga yang perlahan memerah sempurna karena salah tingkah yang luar biasa.
"Oh..." Faas berdehem sangat berat, memalingkan wajahnya patah-patah ke arah lain sembari mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Ah, begitu. Tamu... bulanan. Iya, Aku ... Aku paham. Itu... kodrat wanita."
Melihat perubahan ekspresi Faas yang seketika berubah menjadi kaku seperti patung toko pakaian, Eliza tidak bisa lagi menahan tawa renyahnya. Sifat jahilnya mendadak bangkit. Ia menurunkan tangannya, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Faas.
"Yah... kasihan banget ya suamiku yang ganteng ini. Sudah tegang-tegang, eh ternyata zonk," goda Eliza manja sembari menyenggol lengan Faas.
"Eliza, jangan meledek suamimu," tegur Faas, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah runtuh. Ia merebahkan dirinya di samping istrinya, lalu dengan gemas menarik tubuh Eliza ke dalam pelukannya. Meskipun tidak bisa melakukan ibadah yang lebih jauh, Faas mengunci tubuh mungil Eliza erat-erat di dada bidangnya yang terbuka, membiarkan istrinya bersandar nyaman di sana.
"Malam pertama kita mungkin tertunda secara fisik, Eliza," bisik Faas lembut di dekat telinga istrinya, mengecup pucuk kepala Eliza penuh kasih sayang. "Tapi malam ini, mendekapmu seperti ini dan mendengar detak jantungmu yang sah menjadi milikku, itu sudah lebih dari cukup untuk awal ibadah panjang kita. Tidurlah, besok pagi kita harus menghadapi dunia yang sesungguhnya di rumah Papa."
"Kak...apa kau tidak memakai baju dulu?" tanya Eliza sedikit pelan sekaligus malu karena di depan wajahnya langsung menghadap dada bidang suaminya yang terbuka.
"Aku terbiasa tidur seperti ini"jawab Faas sambil menarik kembali kepala eliza agar lebih mendekat lagi.
"apa tidak dingin?" tanya Eliza polos.
"tentu saja tidak, apa gunanya selimut kalau tidak untuk menghangatkan tubuh, dan sekarang ada istriku yang bisa menghangatkan ku saat aku kedinginan,jadi aku tak butuh selimut itu..." jawab Faas dengan mengedipkan sebelah matanya.
Blussshhh...
Wajah Eliza merah padam karena gombalan suaminya yang Absurt.
Eliza tersenyum malu dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukan hangat Faas, memejamkan matanya dengan hati yang dipenuhi rasa syukur. Malam yang romantis sekaligus menggelikan itu menutup lembaran pertama pernikahan mereka, sebelum besok mereka melangkah masuk ke dalam mansion Abrari untuk memulai babak baru permainan yang sesungguhnya. membimbing Eliza melangkah keluar menuju mobil yang sudah siap di pelataran.
.____
Pagi hari di kediaman Daneswara disambut oleh aroma harum masakan yang menggugah selera dari arah dapur utama. Sinar matahari pagi menembus jendela kaca, menciptakan atmosfer yang hangat dan tenang.
Di dalam dapur, Eliza yang sudah rapi mengenakan pakaian pergi bergaya anggun namun santai, lengkap dengan jilbab yang menutup dada sedang sibuk memotong buah dan menata nasi goreng di atas piring saji. Ini adalah sarapan pertama yang ia siapkan statusnya sebagai seorang istri. Beberapa pelayan setia keluarga Daneswara ikut membantu di sekelilingnya, sesekali melempar senyum dan godaan kecil yang membuat pipi Eliza merona kemerahan.