NovelToon NovelToon
SANGKAR DERITA WANITA MALAM

SANGKAR DERITA WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:317
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

​Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
​Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
​Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENARI DIATAS DOSA

​Tiga minggu berlalu di Kota Valerion seperti aliran air selokan yang hitam dan berbau busuk. Bagi Kirana, waktu tidak lagi dihitung berdasarkan terbit dan tenggelamnya matahari, melainkan dari ketukan gelas-gelas kristal, kepulan asap rokok berbagai merek, dan aroma alkohol yang tumpah di atas meja VIP The Velvet Rose.

​Di dalam kamar 303 yang kini menjadi dunianya, Kirana berdiri di depan cermin besar. Jemarinya yang dahulu kasar karena getah teh, kini telah berubah menjadi halus berkat krim perawatan mahal yang disediakan oleh manajemen kelab. Malam ini, ia mengenakan gaun malam berpotongan backless berwarna hitam pekat berbahan beludru. Potongan gaun itu mengekspos punggung mulusnya yang putih kontras dengan warna kain, sementara belahan tinggi di bagian paha memamerkan kaki jenjangnya setiap kali ia melangkah.

​Wajahnya dirias dengan gaya yang berbeda dari malam pertama. Tidak ada lagi warna merah menyala yang dipaksakan. Penata rias kini memahami bahwa daya tarik utama Kirana terletak pada matanya yang sayu namun tajam, seolah menyimpan misteri yang mendalam. Lipstik berwarna salem kecokelatan membingkai bibirnya, memberikan kesan dingin, anggun, sekaligus tak tersentuh.

​KLIK.

​Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Mbak Lastri melangkah masuk dengan selembar kertas catatan di tangannya. Matanya memandang Kirana dari bawah ke atas, lalu mengangguk puas.

​"Mami Rosa benar, kamu memang cepat belajar," ujar Lastri, nadanya kini jauh lebih ramah dibandingkan beberapa minggu lalu. "Malam ini kamu tidak turun ke aula bawah. Mami menempatkanmu di Ruang VIP 1. Tamunya adalah kolega penting dari distrik pusat. Jaga sikapmu, jangan banyak bicara kecuali ditanya, dan pastikan dia memesan botol minuman paling mahal."

​Kirana membalikkan badannya perlahan. Gerakannya kini anggun, buah dari latihan ketat yang dipaksakan oleh Lastri selama dua minggu terakhir. "Apakah uang kiriman untuk Ibu sudah diproses, Mbak?" tanya Kirana datar. Suaranya tidak lagi memiliki nada keceriaan khas gadis desa; suaranya kini terdengar rendah dan monoton.

​Lastri menghela napas, lalu merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan selembar resi pos berwarna kuning. "Ini. Separuh dari hasil tipsmu minggu lalu sudah ditransfer ke rekening Bu Joko di desa, sesuai permintaanmu. Orangku sudah memastikan Bu Joko mengantarkan uang tunainya dan membelikan obat pesanan ibumu. Ibumu baik-baik saja, Kirana. Jadi, lakukan tugasmu dengan benar malam ini."

​Kirana menerima kertas resi itu dengan jemari yang sedikit bergetar. Dibacanya nama Yuni Sumiati yang tertera di sana. Secercah kehangatan yang sangat tipis mengalir ke hatinya yang telah membeku. Uang itu sampai. Ibunya bisa berobat. Danu dan Lestari bisa makan. Bagi Kirana, selembar kertas kuning ini adalah satu-satunya alasan mengapa jiwanya masih memilih untuk bertahan di dalam tubuh yang setiap malam diraba oleh tangan-tangan asing.

​"Terima kasih, Mbak," bisik Kirana, melipat resi itu kecil-kecil lalu menyelipkannya di balik kotak perhiasan di meja rias. "Saya siap."

​Ruang VIP 1 terletak di ujung lorong lantai dua, terpisah jauh dari kebisingan aula utama di mana musik dentum bas memekakkan telinga. Ruangan ini dilapisi dinding kedap suara, dengan sofa kulit berukuran besar yang mengelilingi sebuah meja marmer hitam. Pencahayaannya sangat temaram, didominasi oleh lampu neon berwarna biru redup yang memberikan atmosfer eksklusif sekaligus misterius.

​Saat Kirana melangkah masuk, aroma cerutu Kuba yang pekat langsung menyergap indra penciumannya. Di atas sofa, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu tanpa dasi. Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis, namun garis wajahnya tegas dan matanya memancarkan aura kekuasaan yang mutlak. Pria itu adalah Tuan Wijaya, salah satu investor properti terbesar di Kota Valerion yang terkenal kejam dalam bisnis namun sangat royal di dunia malam.

​Di sudut lain ruangan, dua orang pria berbadan kekar yang merupakan pengawal pribadi Tuan Wijaya berdiri mematung dengan tangan bersedekap di depan dada.

​"Ah, ini dia mawar hitam kita," ujar Tuan Wijaya dengan suara bariton yang berat saat melihat Kirana masuk. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, menepuk ruang kosong di sebelahnya. "Sini, Duduk dekat saya."

​Kirana melempar senyum tipis yang telah ia latih di depan cermin—senyum yang tampak memikat namun tidak murahan. Ia melangkah mendekat, lalu mendudukkan tubuhnya di samping Tuan Wijaya dengan jarak yang sopan namun cukup dekat untuk mencium aroma parfum maskulin pria itu.

​"Mami Rosa bilang, kamu adalah permata baru di sini yang tidak suka banyak bicara. Saya suka wanita yang tahu kapan harus diam," kata Tuan Wijaya, menuangkan cairan emas dari botol wiski mahal ke dalam dua gelas kristal berukuran pendek. Ia menyerahkan salah satu gelas kepada Kirana.

​Kirana menerima gelas itu, memegang batangnya dengan jari kelingking yang sedikit terangkat—sebuah gestur kelas atas yang diajarkan Lastri. "Suatu kehormatan bagi saya bisa menemani malam Tuan Wijaya," jawab Kirana pelan, menatap mata pria itu tanpa rasa takut yang berlebihan. Ia telah belajar bahwa pria-pria berkuasa di Valerion tidak menyukai wanita yang terlalu gemetar; mereka lebih tertantang oleh wanita yang memiliki harga diri tinggi meski berada di dasar lumpur.

​Tuan Wijaya terkekeh, tampaknya menyukai ketenangan Kirana. Ia meminum wiskinya dalam sekali teguk, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Kirana. "Dengar, Kirana. Di kota ini, semua hal memiliki harga. Jiwa, raga, bahkan kesetiaan. Mami Rosa menjual kehadiranmu malam ini dengan harga yang sangat tinggi. Jadi, tunjukkan padaku apa yang membuatmu berbeda dari wanita-wanita murahan di bawah sana."

​Tangan Tuan Wijaya yang besar dan hangat mulai bergerak, mendarat di atas paha Kirana yang terekspos oleh belahan gaunnya. Kulit Kirana seketika meremang, sebuah penolakan alami dari lubuk hatinya yang terdalam berteriak untuk menepis tangan itu. Namun, bayangan resi pos berwarna kuning di kamarnya langsung melintas di benaknya.

​“Bertahanlah, Kirana. Demi Ibu. Demi Danu. Demi Tari,” bisik suara di dalam kepalanya.

​Kirana tidak menggeser tubuhnya. Ia justru membiarkan tangan pria itu bergerak perlahan, sementara jemarinya sendiri bergerak menuangkan kembali wiski ke dalam gelas Tuan Wijaya yang telah kosong. "Valerion memang kota yang besar, Tuan. Namun bagi saya, tidak ada yang lebih berharga daripada memastikan tamu saya pulang dengan senyuman malam ini," tutur Kirana dengan nada suara yang lembut namun tegas, mengalihkan fokus pria itu kembali pada minumannya.

​Tuan Wijaya menatap Kirana dengan pandangan menyelidik, mencoba mencari celah kepalsuan di mata gadis itu. Namun yang ia temukan hanyalah ketenangan sedingin es. Pria itu tersenyum puas. "Kamu menarik, Kirana. Sangat menarik."

​Malam bergerak lambat di dalam Ruang VIP 1. Kirana terus melakukan perannya dengan sempurna: mendengarkan keluh kesah Tuan Wijaya tentang persaingan bisnisnya yang kotor, tertawa kecil pada lelucon-lelucon garing pria itu, dan memastikan gelas wiski di meja tidak pernah kering. Setiap kali tangan Tuan Wijaya menuntut lebih, Kirana dengan lihai mengalihkan perhatian pria itu menggunakan obrolan atau permainan dadu kecil, menjaga agar batas kehormatannya yang tersisa tidak runtuh terlalu cepat sebelum malam berakhir.

​Hingga menjelang pukul tiga pagi, Tuan Wijaya akhirnya berdiri dari sofanya dengan langkah yang sedikit limbung akibat pengaruh alkohol. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan seikat uang kertas bernominal besar yang diikat dengan karet gelang, lalu menyelipkannya ke dalam belahan dada gaun beludru Kirana.

​"Ini untuk performamu yang luar biasa malam ini," bisik Tuan Wijaya di dekat telinga Kirana, menyemburkan aroma alkohol yang pekat. "Minggu depan, saya akan kembali. Dan saya pastikan, saya hanya ingin ditemani olehmu."

​Kirana berdiri, membungkuk hormat dengan anggun saat Tuan Wijaya dan para pengawalnya melangkah keluar dari ruangan. Begitu pintu kayu jati itu tertutup rapat dan suara kunci otomatis berdenting, senyum di wajah Kirana seketika lenyap seketika.

​Tubuhnya mendadak lemas. Ia bersandar pada meja marmer, napasnya memburu cepat seolah oksigen di dalam ruangan itu baru saja habis. Dengan tangan gemetar, ia mengambil seikat uang dari balik gaunnya. Uang itu terasa sangat berat, seberat dosa yang kini harus dipikulnya setiap hari.

​Kirana berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam ruang VIP tersebut. Di depan wastafel marmer, ia menyalakan keran air dingin sekeras-kerasnya. Ia membasuh wajahnya berkali-kali, mencoba menghapus sisa sentuhan Tuan Wijaya yang seolah masih menempel di kulit pahanya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang berhias lampu LED putih.

​Gadis di dalam cermin itu tampak begitu cantik, namun di mata Kirana, sosok itu adalah seorang monster asing yang telah menjual jiwanya pada iblis bernama Valerion.

​"Kamu harus bertahan, Kirana..." bisiknya pada diri sendiri, mencengkeram tepi wastafel hingga kukunya memutih. "Jangan biarkan mereka melihatmu rapuh. Menarilah di atas duri-duri ini sampai kamu punya cukup kekuatan untuk menghancurkan sangkar ini."

​Dengan langkah yang kembali ditegakkan, Kirana keluar dari kamar mandi, menenteng tas kecilnya yang berisi tumpukan uang tips malam itu. Di luar, lorong The Velvet Rose masih remang dan dingin, menyambut langkah kakinya kembali ke kamar 303 untuk bersiap menghadapi malam jahanam berikutnya yang telah menanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!