NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Nama yang Tersembunyi

Udara sore yang sejuk tiba-tiba terasa lebih berat saat kabar itu disampaikan. Naura menatap suaminya dengan perasaan waspada yang kembali muncul. "Nama siapa yang dimaksud? Apakah dia masih memiliki pengaruh besar hingga sekarang?" tanyanya pelan, sambil tetap memeluk Arka yang sedang tertidur nyaman di gendongannya.

Aldo mengangguk perlahan, raut wajahnya kembali serius seperti saat ia menangani masalah-masalah besar di perusahaan. "Belum jelas detailnya, tapi menurut informasi kepolisian, nama itu termasuk dalam daftar orang yang menerima keuntungan dari praktik gelap Widodo selama puluhan tahun. Mereka menemukan buku catatan yang berisi rincian pembayaran, rapat rahasia, dan perjanjian-perjanjian yang tidak tercatat secara resmi. Orang ini tidak terlibat langsung dalam kecelakaan orang tuamu, tapi ia tahu semuanya dan justru mendapatkan keuntungan besar dari situasi itu."

"Siapa dia?" desak Naura, rasa penasaran bercampur kekhawatiran semakin menguasai hatinya.

"Akan kita ketahui besok. Kepala kepolisian mengundang kita ke kantor pusat untuk melihat dokumen aslinya secara langsung. Mereka mengatakan nama ini cukup mengejutkan dan butuh penanganan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan kegemparan yang tidak perlu," jelas Aldo sambil berjalan mendekat dan menepuk bahu istrinya dengan lembut. "Tapi jangan terlalu memikirkannya malam ini. Istirahatlah, kita hadapi semuanya besok bersama-sama."

Malam itu, meski tubuhnya lelah, Naura sulit memejamkan mata. Ia terus memikirkan siapa lagi yang bisa terlibat. Apakah itu orang yang pernah mereka kenal? Apakah dia akan mencoba mengganggu kehidupan mereka lagi? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya hingga akhirnya ia terlelap karena kelelahan.

Keesokan paginya, setelah memastikan Arka dalam pengawasan pengasuh dan tim keamanan, Aldo dan Naura berangkat menuju kantor kepolisian. Sesampainya di sana, mereka disambut langsung oleh kepala kepolisian dan kepala unit kejahatan ekonomi yang menangani kasus ini. Di sebuah ruangan khusus yang aman, mereka diperlihatkan sebuah buku catatan kulit tua yang halamannya sudah mulai menguning.

"Ini adalah dokumen yang ditemukan di brankas tersembunyi di rumah bekas kediaman Widodo. Ia menyimpannya sebagai asuransi, seandainya suatu saat ia butuh alat tawar-menawar," jelas kepala kepolisian sambil membuka halaman yang ditandai.

Di sana tertera deretan nama lengkap, beserta jumlah uang yang diterima dan tanggal transaksi. Mata Naura terbelalak saat melihat nama yang ditunjuk oleh petugas. Ia menoleh ke arah Aldo, dan melihat raut keterkejutan yang sama di wajah suaminya.

"Hendra Pratama"

Nama itu tertera jelas di halaman itu, diikuti catatan: "Pembayaran atas kerjasama dan menjaga kerahasiaan. 150 juta rupiah. 12 Mei 2006."

"Hen... Hendra? Itu nama pamanmu, bukan? Adik kandung ayahmu?" tanya Naura dengan suara bergetar, tidak percaya dengan apa yang ia baca.

Aldo mengangguk pelan, matanya menatap tulisan itu tajam. "Benar. Paman Hendra. Ia selalu mengaku tidak tahu apa-apa tentang masa lalu, bahkan sering terlihat mendukung kami. Tapi ternyata..."

"Menurut catatan ini, Hendra mengetahui rencana Widodo dan Hartono. Ia tidak ikut merencanakan kecelakaan itu, tapi ia sengaja diam dan tidak melaporkan apa pun. Sebagai gantinya, ia menerima sejumlah besar uang dan posisi yang lebih baik di perusahaan setelah peristiwa itu terjadi," lanjut kepala kepolisian menjelaskan.

"Jadi selama ini ia berpura-pura tidak tahu apa-apa?" gumam Aldo, nada suaranya mulai dingin. "Mengapa ia melakukan hal itu? Ia adalah keluarga sendiri."

"Ketamakan dan ambisi. Ia merasa tidak akan pernah mendapatkan posisi tinggi selama ayahmu dan ayah Nyonya Naura masih memegang kendali penuh. Dengan situasi yang terjadi, ia berharap bisa mendapatkan peran yang lebih besar, meski akhirnya rencananya tidak berjalan sempurna karena ayahmu perlahan memulihkan ingatannya," jawab petugas.

"Apakah ada bukti lain yang lebih kuat selain tulisan tangan Widodo?" tanya Aldo, berusaha memastikan kebenaran informasi itu.

"Ada. Kami menemukan bukti transfer ke rekening pribadinya, serta beberapa surat yang ditukarkan antara mereka. Semua ini cukup untuk dijadikan dasar pemeriksaan lebih lanjut," jawabnya.

Di perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa hening. Naura bisa merasakan kekecewaan yang mendalam di hati Aldo. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya akhirnya memecah keheningan.

"Aku akan memanggilnya. Kita bicara secara langsung, dan aku ingin mendengar penjelasannya sendiri. Jika ini benar, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya, meski dia adalah pamanku sendiri," jawab Aldo tegas.

Sore harinya, Paman Hendra dipanggil untuk datang ke kediaman Aldo. Ia datang dengan wajah santai seperti biasa, tidak menyadari bahwa rahasianya telah terbongkar. "Ada apa, Aldo? Apakah ada urusan penting di perusahaan?" tanyanya sambil duduk di kursi tamu.

Aldo duduk di hadapannya, meletakkan salinan dokumen yang mereka terima di atas meja. "Kami menemukan ini. Dari Widodo."

Wajah Paman Hendra berubah pucat seketika saat melihat nama dan catatan yang tertera. Tangannya mulai gemetar, dan ia berusaha tetap tenang namun tidak berhasil. "Itu... itu fitnah! Widodo ingin menjatuhkan nama baik orang lain sebelum dia dipenjara!"

"Benarkah? Lalu bagaimana dengan bukti transfer ke rekeningmu? Dan surat-surat yang ada?" tanya Aldo dingin, matanya menatap tajam. "Kau tahu apa yang akan terjadi pada ayahku dan ayah Naura, tapi kau diam saja. Kau membiarkan kejahatan itu terjadi demi uang dan posisi. Apakah itu benar?"

Paman Hendra menunduk dalam, tidak mampu lagi membohongi mereka. Ia menarik napas panjang, lalu mengaku dengan suara lemah. "Aku... aku memang tahu ada sesuatu yang sedang direncanakan. Widodo mendatangiku dan menawarkan banyak uang serta janji posisi tinggi. Aku bodoh dan serakah. Aku berpikir jika aku bicara, aku juga akan terlibat masalah. Aku takut kehilangan segalanya."

"Jadi kau lebih memilih membiarkan orang lain menderita demi keuntunganmu sendiri?" potong Naura dengan nada kecewa. "Bagaimana rasanya hidup selama ini dengan beban rahasia itu?"

"Aku menyesal. Sejak kejadian itu, aku selalu merasa gelisah. Tapi aku tidak berani bicara, aku takut kalian akan membenciku dan mengusirku dari keluarga," jawabnya dengan suara bergetar, air matanya mulai menetes.

Aldo menghela napas panjang, menahan kekecewaan yang mendalam. "Keluarga bukan berarti melindungi kesalahan. Kau telah berdiam diri dan memanfaatkan penderitaan orang lain. Hukum tetap harus berjalan, tapi aku akan mempertimbangkan kerja samamu selama ini. Kau harus menyerahkan seluruh uang yang kau terima dan bersedia diadili sesuai kesalahanmu."

Paman Hendra mengangguk pasrah. "Aku terima konsekuensinya. Aku siap bertanggung jawab atas apa yang telah kulakukan."

Beberapa hari kemudian, kasus itu diserahkan kepada pihak berwenang. Paman Hendra diadili atas tuduhan keterlibatan pasif dan menerima suap, serta diwajibkan mengembalikan seluruh uang yang diterimanya. Ia mendapatkan hukuman yang lebih ringan karena bersedia mengakui kesalahan dan bekerja sama sepenuhnya.

Setelah semua ini berakhir, akhirnya tidak ada lagi nama yang tersembunyi dari masa lalu. Semua orang yang terlibat, baik yang berperan besar maupun kecil, telah mendapatkan konsekuensi yang setimpal. Beban yang selama ini menggantung di hati Naura dan Aldo akhirnya terangkat sepenuhnya.

Suatu sore, mereka duduk di taman sambil mengawasi Arka yang mulai belajar merangkak. Angin berhembus lembut, membawa suasana damai yang benar-benar terasa berbeda dari sebelumnya.

"Kini semuanya sudah selesai. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi dendam," ucap Naura sambil tersenyum menatap putranya.

Aldo mengangguk, memegang tangan istrinya. "Ya. Kita telah melalui banyak hal yang sulit, tapi justru itu membuat kita lebih kuat dan bersyukur. Sekarang saatnya kita benar-benar fokus membangun masa depan untuk kita dan Arka."

Namun, meski semua masalah dari masa lalu telah selesai, hidup terus berjalan dan membawa tantangan baru. Beberapa minggu kemudian, sebuah tawaran kerja sama bisnis yang sangat besar datang dari luar negeri—tawaran yang bisa membawa perusahaan mereka ke tingkat yang lebih tinggi, namun juga memiliki risiko yang cukup besar. Keputusan yang mereka ambil nanti akan menguji kebijaksanaan dan kebersamaan mereka dalam menghadapi dunia bisnis yang semakin luas.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!