NovelToon NovelToon
Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Penyelamat / Action
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: Aldiaza Ahyani

Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.

Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.

Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Berkunjung ke Rumah Keluarga

Seminggu setelah kejadian dengan tim pengawas dari kantor pusat, suasana di gedung kembali tenang dan damai seperti biasa. Tidak ada lagi gangguan atau bisik-bisik yang tidak menyenangkan — semua orang sudah menerima kenyataan bahwa hubungan kami adalah hal yang baik dan membawa kebahagiaan bagi Anindya.

Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat dan cahayanya berubah menjadi keemasan lembut, Anindya datang ke pos jaga dengan langkah yang sedikit lebih cepat dan wajah yang terlihat cerah namun juga agak gugup. Dia berdiri di hadapanku, memainkan ujung jarinya sebentar sebelum akhirnya mengangkat wajah dan menatapku dengan senyum malu-malu.

“Kaito… ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu,” katanya perlahan.

Aku segera berhenti membereskan catatan tugas, lalu menatapnya dengan perhatian penuh. “Ada apa, Anin? Ada urusan penting lagi?”

Anindya menggeleng pelan, lalu menarik napas panjang seolah mengumpulkan keberanian. “Bukan urusan kantor. Semalam aku pulang ke rumah dan bercerita lebih banyak lagi tentangmu kepada Ayah dan Ibu. Aku menceritakan bagaimana kamu bekerja, bagaimana sifatmu, dan semua hal yang membuatku jatuh hati padamu. Mereka mendengarkan dengan saksama, dan akhirnya mereka mengajukan permintaan…”

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut namun jelas:

“Mereka ingin bertemu langsung denganmu. Besok sore, tidak ada kegiatan di kantor, jadi aku berencana mengajakmu pulang ke rumah. Bagaimana menurutmu? Apakah kamu bersedia datang?”

Mendengar permintaan itu, hatiku berdebar sedikit lebih kencang. Selama hidupku, aku jarang sekali harus menghadapi situasi seperti ini — bertemu dengan orang tua dari orang yang kucintai, menunjukkan siapa diriku tanpa menyembunyikan sifat asliku, tapi juga tidak ingin terlihat terlalu istimewa atau berbeda dari yang mereka bayangkan.

Aku menatap Anindya, melihat ketulusan dan harapannya di matanya, lalu tersenyum tenang sambil mengangguk.

“Tentu saja aku bersedia. Malah aku merasa terhormat. Hanya saja… aku agak gugup juga. Aku tidak tahu harus berbuat apa, harus berkata apa, atau apakah mereka akan menerima aku dengan baik.”

Anindya segera memegang tanganku dengan lembut, menenangkan kegelisahanku. “Jangan khawatir, Kaito. Ayah dan Ibu bukan orang yang memandang seseorang dari jabatan atau harta. Mereka hanya ingin melihat dengan mata kepala sendiri apakah kamu benar-benar orang yang bisa membuatku bahagia dan menjagaku dengan baik. Cukup menjadi dirimu sendiri, sopan, jujur, dan apa adanya — itu sudah lebih dari cukup untuk mereka.”

“Baiklah,” jawabku sambil meremas tangannya kembali. “Kalau begitu aku akan bersiap sebaik mungkin. Terima kasih sudah memberitahuku.”

 

Keesokan harinya, aku memastikan tugas di pos jaga berjalan lancar dan menyerahkan tanggung jawab kepada Budi untuk sementara waktu. Sebelum berangkat, aku mengenakan pakaian yang rapi namun tetap sederhana — kemeja katun berwarna biru muda, celana panjang yang bersih, dan sepatu yang sudah dipoles mengkilap. Aku juga menyiapkan dua buah oleh-oleh: seikat bunga melati dan mawar yang harum, serta sekotak manisan buah yang aku buat sendiri seperti yang pernah aku berikan pada Anindya sebelumnya.

Sore itu, Anindya menjemputku dengan mobilnya. Perjalanan dari kantor menuju kediamannya memakan waktu sekitar dua puluh menit, melewati jalanan kota Malang yang sejuk dan dipenuhi pohon-pohon rindang. Selama di perjalanan, dia terus mengingatkanku dengan nada bercanda namun menenangkan.

“Nanti kalau Ayah bertanya soal latar belakangmu, ceritakan saja apa adanya. Jangan menyembunyikan bahwa kamu berasal dari luar negeri, dan juga tidak perlu menyebutkan hal-hal yang terlalu luar biasa tentang kekuatanmu. Cukup katakan bahwa kamu memiliki cara hidup dan ajaran yang membuatmu bisa menjaga diri dengan baik saja.”

Aku mengangguk sambil tersenyum. “Mengerti. Aku akan menjaga perkataanku. Aku hanya ingin mereka melihatku sebagai orang yang jujur dan bisa dipercaya, bukan sebagai sosok yang memiliki kekuatan aneh yang mungkin membuat mereka takut.”

Setelah beberapa saat, mobil berhenti di depan sebuah rumah besar namun terasa sangat sederhana dan asri. Halamannya luas, dipenuhi berbagai tanaman hias dan pohon buah yang rindang, dengan udara yang terasa sejuk dan segar. Bangunannya bergaya tradisional Jawa yang dipadukan dengan sentuhan modern, terlihat bersih dan tertata rapi.

Begitu kami turun dari mobil, seorang pembantu rumah tangga segera membukakan pintu utama dan menyambut kami dengan ramah.

“Selamat datang, Non Anin. Bapak dan Ibu sudah menunggu di ruang tengah,” katanya sambil tersenyum.

Anindya menggandeng lenganku perlahan, seolah memberiku kekuatan, lalu berjalan masuk bersamaku. Begitu melangkah ke ruang tengah, aku melihat dua orang tua yang sudah duduk menunggu — seorang pria paruh baya dengan penampilan yang berwibawa namun lembut, dan seorang wanita yang terlihat ramah dan hangat di sampingnya.

Begitu melihat kami masuk, mereka segera berdiri menyambut. Anindya mendekat dan mencium tangan keduanya sebagai tanda hormat, lalu menoleh ke arahku dan memperkenalkanku.

“Ayah, Ibu… ini dia Kaito Nakamura, orang yang sering aku ceritakan. Kaito, ini Ayahku, Pak Harjo, dan Ibuku, Bu Siti.”

Aku segera melangkah mendekat dengan sikap yang sangat sopan, menundukkan badan sedikit, lalu mengulurkan kedua tanganku dengan telapak tangan terbuka sesuai kebiasaan di sini.

“Selamat sore, Pak Harjo, Bu Siti. Nama saya Kaito. Terima kasih sudah menerima saya di rumah ini. Mohon maaf jika ada salah bicara atau salah sikap, saya masih banyak belajar tentang kebiasaan di sini,” ucapku dengan nada lembut namun jelas dan mantap.

Pak Harjo dan Bu Siti menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, menilai sikap dan tatapanku dengan tenang. Kemudian, Pak Harjo mengulurkan tangannya untuk menjabat tanganku dengan erat, sedangkan Bu Siti tersenyum hangat dan menyentuh punggung tanganku dengan lembut.

“Duduklah, Nak Kaito. Jangan sungkan-sungkan. Anggap saja ini rumahmu sendiri,” kata Bu Siti dengan suara yang sangat lembut dan menenangkan.

Kami duduk melingkar di atas tikar anyaman yang empuk, dan segera disuguhi teh hangat serta kue-kue tradisional yang harum. Suasana awalnya terasa sedikit kaku, tapi perlahan mencair seiring percakapan yang berjalan lancar.

Pak Harjo memulai pembicaraan dengan nada yang tenang namun penuh rasa ingin tahu. “Anin sudah banyak bercerita tentangmu, Nak. Dia bilang kamu bekerja sebagai satpam di perusahaannya. Bolehkah kami tahu dari mana asalmu sebenarnya, dan mengapa kamu memilih bekerja di sini dengan posisi yang sederhana?”

Aku menjawab dengan jujur dan tenang, sesuai kesepakatan dengan Anindya:

“Saya berasal dari sebuah daerah terpencil di Jepang, Pak. Keluarga saya adalah penjaga tradisi dan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan turun-temurun. Kami diajarkan untuk hidup sederhana, tidak menyombongkan apa yang dimiliki, dan selalu melindungi orang lain tanpa pamrih. Saya datang ke Indonesia untuk belajar lebih banyak tentang budaya dan cara hidup di sini, dan memilih bekerja sebagai satpam karena saya ingin menjalani kehidupan yang nyata, bekerja dengan keringat sendiri, dan merasakan kebersamaan dengan orang-orang biasa.”

Pak Harjo mengangguk perlahan, matanya tetap menatapku dengan saksama. “Anin juga bilang kamu memiliki kekuatan yang luar biasa, bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan orang lain. Apakah itu benar? Apakah itu membuatmu merasa berbeda atau terasing dari orang lain?”

Aku tersenyum tipis, lalu menjawab dengan hati-hati:

“Memang benar ada hal-hal yang saya bisa lakukan karena ajaran dan latihan yang saya jalani sejak kecil. Tapi saya tidak menganggapnya sebagai kelebihan yang membuat saya lebih tinggi dari orang lain. Justru itu menjadi tanggung jawab — agar saya bisa menjaga diri sendiri, dan jika perlu, bisa menolong orang lain yang sedang dalam bahaya. Selama ini saya berusaha hidup seperti orang biasa, karena saya percaya hati yang baik jauh lebih berharga daripada kemampuan apa pun.”

Mendengar jawabanku itu, wajah Pak Harjo perlahan melembut, dan senyum tipis terukir di bibirnya. Dia menoleh ke arah Bu Siti seolah memberi isyarat bahwa dia mulai merasa tenang.

Bu Siti kemudian berbicara dengan nada yang lebih hangat, sambil menuangkan teh ke dalam gelas. “Anin adalah anak tunggal kami, Nak. Sejak kecil dia kami didik agar kuat dan mandiri, tapi kami juga khawatir dia akan terlalu lelah mengurus segalanya sendirian. Kami ingin dia menemukan seseorang yang bisa melengkapi, bukan membebani, seseorang yang bisa menjaganya tapi juga bisa diajak berbagi suka dan duka.”

Dia menatap mataku dengan pandangan yang penuh harap. “Apakah kamu mengerti apa yang kami maksud? Dan apakah kamu bersedia menerima dia apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya?”

Aku menatap balik dengan pandangan yang tulus dan tegas, tidak ada keraguan sedikit pun dalam suaraku:

“Saya mengerti betul, Bu. Dan saya bersedia melakukannya dengan segenap hati. Bagi saya, Anindya bukan hanya wanita yang saya cintai, tapi juga teman yang mengerti saya, tempat saya beristirahat setelah lelah. Saya tidak melihatnya sebagai orang yang kaya atau berkedudukan tinggi, melainkan sebagai wanita yang hatinya baik dan lembut. Saya berjanji akan menjaganya sebaik yang saya bisa, tidak akan menyakiti hatinya, dan akan mendukungnya dalam setiap langkah yang dia ambil. Selama saya masih hidup, dia akan selalu aman dan bahagia.”

Setelah mendengar jawabanku, Bu Siti tersenyum lebar, matanya terlihat berkaca-kaca karena terharu. Dia mengangguk berulang kali.

“Cukup, Nak Kaito… jawabanmu sudah cukup untuk kami. Kami tidak perlu mendengar janji yang terlalu indah, tapi melihat ketulusan di matamu sudah cukup membuat kami percaya.”

Pak Harjo pun ikut tersenyum, lalu menepuk bahuku dengan ringan namun penuh makna. “Anin tidak salah memilih. Kami melihat sikapmu yang sopan, kata-katamu yang jujur, dan tatapanmu yang tidak menyembunyikan apa pun. Terima kasih sudah mau menerima dia dan berjanji menjaganya. Mulai hari ini, anggap saja kami juga sebagai orang tuamu sendiri, dan rumah ini adalah rumahmu juga.”

Mendengar pengakuan itu, beban yang selama ini terasa sedikit berat di dadaku terangkat begitu saja. Aku merasa sangat lega dan bahagia.

“Terima kasih banyak, Pak Harjo, Bu Siti. Saya sangat berterima kasih atas kepercayaan dan sambutan yang begitu hangat ini,” jawabku dengan rasa syukur yang mendalam.

Sore itu berlanjut dengan suasana yang semakin akrab. Kami makan malam bersama, bercerita tentang berbagai hal — tentang kebiasaan di daerah asalku, tentang masa kecil Anindya yang sering membuat orang tuanya kewalahan, hingga hal-hal sederhana yang membuat semua orang tertawa lepas.

Anindya yang awalnya juga gugup melihat reaksi orang tuanya, kini terlihat sangat lega dan bahagia. Dia sesekali melirikku dengan senyum yang penuh rasa terima kasih, seolah berkata: “Lihat kan, aku bilang mereka akan menyukaimu.”

Saat hari mulai gelap dan aku berpamitan untuk pulang, Bu Siti membawakan sekantong besar berisi makanan dan kue untuk dibawa pulang.

“Bawa ini, Nak. Makanlah di rumah. Jangan sungkan untuk datang lagi kapan saja, ya. Kami akan senang sekali jika kamu sering berkunjung,” pesannya dengan lembut.

Pak Harjo menambahkan dengan nada yang lebih tenang: “Ingat, Kaito. Cinta dan kepercayaan itu tidak cukup hanya diucapkan, tapi harus dibuktikan setiap hari dengan perbuatan. Semoga kalian berdua selalu saling menjaga dan membahagiakan satu sama lain.”

“Baik, Pak. Saya akan selalu mengingatnya,” jawabku hormat.

Saat berjalan keluar menuju mobil, Anindya menggandeng lenganku erat-erat, wajahnya berseri-seri lebih dari biasanya.

“Lihat kan? Aku bilang apa? Mereka menyukaimu! Bahkan Ayah terlihat lebih santai dan senang sekali setelah mengobrol denganmu,” katanya sambil tertawa kecil.

Aku menatapnya dengan senyum bahagia, lalu memegang tangannya erat-erat. “Itu semua berkat doamu dan ketulusan hati kita. Hari ini adalah hari yang sangat indah bagiku. Rasanya seolah satu pintu lagi telah terbuka, dan perjalanan kita menjadi lebih jelas dan lebih ringan.”

Di bawah cahaya lampu taman yang lembut dan langit malam yang bertabur bintang, kami berdua melangkah pulang dengan hati yang penuh kebahagiaan dan keyakinan — kini tidak hanya kami berdua yang saling mendukung, tapi juga didukung sepenuhnya oleh keluarga terdekatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!