Perjalanan celah dimensi antar ruang angkasa, seorang pangeran kerajaan menjadi pengamat takdir dari sang Penjaga cahaya dari kegelapan absolute yang terus melahap semuanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Khaidar Ali Fathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan, dan Berkeliling Kerajaan.
Beralih ke sekolah Kirana. Gadis itu merasa harga dirinya benar-benar telah diinjak-injak oleh orang yang selalu dianggap sebagai pembunuh mamanya. Sepanjang jalan koridor, Kirana terus-menerus mengeluarkan kata-kata serapah.
"Kenapa sih dia harus terlahir?! Muak banget setiap melihat dia!" ketus Kirana.
Alexa melirik dari samping, mencoba menenangkan. "Sudahlah, Kirana. Pulang nanti kita jalan-jalan, gimana? Kirana mau tidak?"
"Tidak akan aku maafkan dia!" seru Kirana, mengabaikan ajakan temannya.
(Saking bencinya dia dengan adiknya, bahkan ajakanku sama sekali tidak digubris.)
Tiba-tiba, salah seorang prajurit pengawal datang mendekat sambil membawa pesan. "Maaf, Tuan Putri Kirana, ada pesan untuk Anda."
Kirana mengambil dan langsung membuka pesan tersebut. Ternyata, pesan itu dikirimkan oleh ayahnya yang berisi:
*Nak, Ayah ada urusan penting di luar Central selama 3 hari. Semoga kamu dan adikmu akur ya. Nanti Ayah bawakan oleh-oleh dari luar. Salam dari Ayah.*
Kirana mendengus sebal setelah membaca tulisan itu. "Yaelah, Ayah malah pergi ke luar lagi. Oh ya, Alexa, aku boleh gak tidur di rumahmu dulu? Aku malas bertemu dengan bocah itu!"
"Boleh saja sih, tapi rumahku agak kecil, gak masalah?" tanya Alexa.
"Tenang saja kalau soal itu. Aku bukan wanita kotor pemilih khas kaum bangsawan," jawab Kirana.
"Oke deh."
Kirana langsung berbalik menatap prajurit pengawalnya. "Tolong, Pak Prajurit, kabarkan ini ke Menteri Ethan hari ini aku menginap di rumah Alexa, temanku. Kalaupun nanti disuruh bawa prajurit untuk berjaga, cukup dua orang saja. Lagipula aku juga sudah belajar teknik pertahanan diri."
"Siap, Nona," jawab prajurit patuh.
Alexa tampak sedikit terkejut. "Bawa prajurit ke rumahku? Gak mengundang perhatian orang-orang emangnya, Kirana?"
"Nanti aku suruh mereka gak usah memakai perlengkapan lengkap. Yang penting bawa senjata sama baju biasa saja, oke?!" jawab Kirana santai.
"Oh... Hm, oke deh."
Kirana tertawa kecil melihat ekspresi temannya. "Wkwk, kau ini polos banget, Alexa."
"Hehe, ya," sahut Alexa pelan. (Aku harus menyiapkan strategi dan mulai terus menghasut dia, sampai tiba di mana dia berpikir ingin menghilangkan nyawa adiknya sendiri. Tapi, aku masih belum bisa menilai sejauh mana persenjataan militer planet ini. Dari luar angkasa planet ini sangat terang, seolah gak mungkin kekuatan mereka hanya mengandalkan peralatan besi dan kuda. Pasti mereka mempunyai rahasia besar. Sepertinya nanti saja aku membuat laporannya, setidaknya sampai situasi di sini mulai kacau.)
Siang hari setelah bel pulang sekolah berbunyi, Kinanti langsung bergerak cepat menuju kamar Devan untuk mengajaknya pergi berjalan-jalan mengelilingi daerah Central.
"Permisi, Bi. Devannya ada tidak di kamar? Tadi sih saya sempat bertemu dengannya di luar," tanya Kinanti saat sampai di depan pintu kamar.
"Oh ya, Tuan Putri. Ada kok, dia sedang di kamarnya. Silakan masuk saja, Tuan Putri," jawab pelayan.
"Terima kasih, Bi."
Kinanti bersama pelayannya melangkah masuk ke dalam kamar. Di sana, Devan tampak sedang duduk di tepi kasur.
"Oh, selamat siang, Tuan Putri," sapa Devan.
"Selamat siang! Gimana, Devan, tubuhmu sudah membaik?!" tanya Kinanti.
"Sudah mendingan, Tuan Putri. Tapi saya masih belum siap untuk mendaftar menjadi prajurit, mungkin dua hari lagi," jawab Devan meringis tipis.
"Tidak masalah, istirahat saja dulu. Oh ya, apakah kita hari ini jadi jalan-jalan di sekitar daerah Central?"
"Ayo, Tuan Putri, saya sudah tidak sabar."
"Oke!"
Sebelum mereka melangkah keluar, sang pelayan tiba-tiba menginterupsi. "Maaf, Tuan Putri. Saya diberi pesan oleh Tuan Raja jika Tuan Putri ingin keluar seenggaknya Tuan Putri harus dikawal dua orang prajurit untuk saat ini."
Kinanti langsung cemberut. "Dikawal?! Aku kan hanya jalan-jalan di sekitar Central!"
"Maaf, saya gak bisa melanggar Tuan Putri. Ini perintah langsung dari Raja," ucap pelayan itu merasa sungkan.
Kinanti mengembuskan napas pasrah. "Yah... Yaudah deh."
Devan yang melihat raut wajah kecewa sang putri hanya bisa tertawa pelan. "Hehe."
Mereka berdua akhirnya pergi mengelilingi daerah Central dengan diikuti dua prajurit di belakang. Area pertama yang mereka datangi adalah pasar Central yang sangat luas.
"Nah, ini adalah pusat perdagangan Central. Banyak pedagang dari luar daerah yang berjualan di sini. Bagaimana, ramai dan luas, kan?" pamer Kinanti bangga.
"Woahhh... Ramai sekali!" seru Devan takjub. (Ini mirip sekali dengan zaman medieval di bumi, tapi tempat ini jauh lebih bersih dan tertata rapi.)
"Devan, sini sebentar! Ayo kita cicipi makanan yang ada di sini," ajak Kinanti seraya menarik lengan Devan menuju salah satu kedai.
Kinanti menghampiri seorang penjual camilan dingin yang ramai dikerumuni pembeli. "Wih, satunya berapa, Pak?"
"Satu es krimnya dua Ensert, Tuan Putri," jawab si penjual ramah.
Kinanti mengetuk dagunya, menghitung jumlah rombongan mereka. "Boleh deh beli... Hm, beli empat deh, Pak!"
"Oke siap, tunggu sebentar ya, Tuan Putri."
(Ternyata makanan di sini gak berbeda jauh dengan yang ada di bumi.) Devan membatin, mengamati stoples-stoples penampung bahan makanan.
"Hmm, oh ya, kamu tahu makanan ini gak?" tanya Kinanti, menguji Devan.
"Gak tahu, Tuan Putri," jawab Devan berbohong agar identitas aslinya tidak mencurigakan.
"Jadi, es krim ini adalah makanan populer yang baru dibuat dua tahun kemarin. Awalnya hanya susu yang dibuat menjadi cream, lalu didinginkan menggunakan balok es. Tapi makin ke sini, banyak inovasi yang tercipta. Biasanya ditambah dengan rasa buah seperti strawberry dan blueberry."
"Hmmm, aku gak pernah merasakan makanan dingin sih, paling cuma minum susu doang," timpal Devan, kembali mengarang cerita desanya.
"Banyak lagi makanan enak di sini. Nanti kalau kamu sudah resmi jadi prajurit, sesekali aku traktir lagi deh!" janji Kinanti ceria.
"Es krimnya sudah siap, Tuan Putri. Silakan dinikmati," ucap sang penjual sambil menyerahkan empat cup es krim.
"Terima kasih, Pak! Nah, ini untuk Devan, dan ini buat Pak Prajurit," ucap Kinanti sambil membagikan es krim tersebut satu per satu.
Devan menerima bagiannya dengan binar mata senang. "Terima kasih, Tuan Putri.
Wahh... Dingin dan manis!"
Kedua prajurit pengawal saling berpandangan, tampak ragu. "Maaf, Tuan Putri, kami hanya ditugaskan untuk menjaga Anda."
"Santai saja, Pak Prajurit. Anggap saja ini perintah, jangan malu-malu, ambil saja!" paksa Kinanti sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih banyak, Tuan Putri," ucap kedua prajurit itu akhirnya, merasa tersentuh.
"Nah, begitu! Sudah, nikmati saja. Wuh, enaknya es krim ini!" Kinanti menyendok es krimnya dengan lahap, lalu menatap Devan.
"Oh ya, Tuan Putri, habis dari sini kita mau ke mana lagi?" tanya Devan penasaran.
Kinanti tampak berpikir sejenak, lalu matanya mendadak berbinar terang. "Hmmm... Oh ya, baru ingat! Hari ini adalah pertengahan tahun di mana bintang-bintang akan terlihat sangat jelas di angkasa! Ayo kita berkemah di gunung Eclipse yang ada di sebelah barat daerah Central sambil melihat pemandangan bintang di sana. Kebetulan besok aku juga sedang libur sekolah. Ayo kita kembali ke istana untuk mengemas barang-barang! Pak Prajurit, tolong siapkan gerobak kudanya dan beri tahu Bibi bahwa dia harus ikut bersama kami!"
Tanpa menunggu jawaban, Kinanti langsung berlari kecil memimpin jalan. "Ayo, Devan! Keburu sore!"
"Woah, dia sangat bersemangat. Tunggu, Tuan Putri!" teriak Devan mencoba menyusul.
Namun, di tengah langkah kakinya, telinga Devan mendadak kembali menangkap suara-suara yang memanggil namanya.
"Devannnn! Devan!"
Devan tersentak kaget. Langkah kakinya mendadak terkunci, tubuhnya kaku di tempat. Ia berusaha menoleh cepat ke segala arah, melihat tiap sudut pasar yang ramai, namun ia sama sekali tidak melihat sosok rekan-rekan krunya di sana. Devan terheran-heran, merasa ada yang aneh dengan dirinya sendiri.
"Kenapa suara mereka terdengar sangat jelas, tetapi aku tidak bisa melihat di mana mereka berada? Jam komunikatorku juga mati...
Mungkin aku hanya terlalu mengkhawatirkan dan memikirkan mereka," gumam Devan, mencoba menepis rasa ganjil di hatinya.
Ia menggelengkan kepala untuk menjernihkan pikiran, lalu kembali berlari menyusul Kinanti. Akhirnya, rombongan kecil itu kembali ke istana kerajaan untuk segera menyiapkan barang-barang keperluan berkemah mereka.