Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.
Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Perasaan yang Mulai Sulit Disembunyikan
Malam setelah kejadian di ruang keluarga itu, Rubi tidak bisa langsung tidur.
Meski tubuhnya lelah, pikirannya justru sibuk mengingat satu hal yang terus berputar di kepalanya.
Pelukan Alexander.
Sebenarnya itu bukan benar-benar pelukan.
Alexander hanya menahannya agar tidak jatuh.
Itu saja.
Sangat sederhana.
Sangat wajar.
Namun entah kenapa jantung Rubi masih berdebar setiap kali mengingatnya.
"Aku benar-benar aneh."
gumamnya sambil membalik tubuh di atas kasur.
Tangannya menutupi wajah yang terasa panas.
Ia sudah hidup bersama Alexander selama berbulan-bulan.
Pria itu perhatian.
Bertanggung jawab.
Dan selalu memastikan dirinya aman.
Mungkin siapa pun yang berada di posisinya akan mulai memiliki perasaan yang sama.
Namun tetap saja.
Mengakui hal itu kepada dirinya sendiri terasa sulit.
Sangat sulit.
Karena sejak awal pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang dilandasi cinta.
Alexander menikahinya demi seorang pewaris.
Sedangkan Rubi yang asli menerima karena tidak memiliki pilihan lain.
Lalu dirinya datang ke dunia ini dan tanpa sadar semuanya berubah sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya ia berada di titik sekarang.
Memikirkan seorang pria sebelum tidur.
Pria bernama Alexander Dimitri.
---
Keesokan paginya.
Rubi bangun dengan wajah sedikit pucat karena kurang tidur.
Saat memasuki ruang makan, Alexander langsung menyadarinya.
"Kau tidak tidur nyenyak?"
tanya pria itu.
Rubi yang sedang mengambil segelas susu langsung tersedak.
"Biasa saja."
Alexander mengangkat alis.
"Kau buruk dalam berbohong."
Rubi langsung menunduk.
Kadang ia lupa bahwa pria di depannya terbiasa membaca ekspresi orang.
Bahkan sekecil apa pun perubahan suasana hatinya sering kali tidak luput dari perhatian Alexander.
"Aku hanya sedikit susah tidur."
jawabnya akhirnya.
Alexander tidak bertanya lebih jauh.
Namun tatapannya masih tertuju pada Rubi.
Seolah memastikan tidak ada yang salah.
Dan lagi-lagi perhatian sederhana itu membuat jantung Rubi berdebar.
Untungnya saat itu kepala pelayan datang menyelamatkannya.
"Tuan Muda, mobil sudah siap."
Alexander mengangguk.
Lalu berdiri.
Namun sebelum pergi, pria itu berhenti di dekat kursi Rubi.
"Jangan keluar mansion hari ini."
ucapnya.
Rubi mengernyit.
"Kenapa?"
"Aku akan pulang lebih cepat."
"Itu bukan jawaban."
Alexander terdiam beberapa detik.
Kemudian berkata pelan,
"Ikuti saja perkataanku."
Nada suaranya tidak keras.
Tetapi cukup menunjukkan bahwa ia serius.
Rubi akhirnya mengangguk.
"Baik."
Barulah Alexander pergi.
Dan seperti biasa, suasana ruang makan terasa lebih sepi setelah pria itu menghilang dari pandangan.
---
Siang harinya.
Rubi sedang berada di perpustakaan mansion.
Ia mencoba membaca buku untuk mengalihkan pikirannya.
Namun baru beberapa halaman, perhatiannya sudah melayang entah ke mana.
Akhirnya ia menutup buku itu.
Tidak ada gunanya memaksa.
Saat itulah bayi dalam kandungannya bergerak.
Tap.
Rubi tersenyum.
"Kalau ayahmu tahu kamu aktif seperti ini, pasti dia langsung datang."
bisiknya.
Seolah mengerti, bayi itu kembali bergerak.
Membuat Rubi tertawa kecil.
Beberapa bulan lalu ia tidak pernah membayangkan akan mengucapkan kata "ayahmu" dengan begitu alami.
Namun sekarang semuanya terasa normal.
Sangat normal.
---
Sementara itu di kantor pusat Dimitri Group.
Alexander sedang menghadiri rapat penting.
Puluhan direktur duduk mengelilingi meja besar.
Namun fokus Alexander tidak sepenuhnya berada di sana.
Pikirannya sesekali kembali kepada Rubi.
Hal yang sangat jarang terjadi.
Bahkan hampir tidak pernah.
Dulu ia mampu memisahkan kehidupan pribadi dan pekerjaan dengan sempurna.
Sekarang tidak lagi.
Ponselnya yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk dari kepala keamanan mansion.
Alexander langsung membacanya.
"Nyonya muda sedang berada di perpustakaan. Kondisi aman."
Hanya kalimat sederhana.
Namun cukup membuat ketegangan di bahunya sedikit berkurang.
Salah satu direktur yang duduk di dekatnya sampai terlihat heran.
Karena untuk pertama kalinya mereka melihat Alexander tersenyum tipis saat membaca ponsel.
---
Menjelang sore.
Hujan mulai turun.
Tidak deras.
Hanya gerimis yang membuat suasana mansion terasa lebih tenang.
Rubi sedang duduk di dekat jendela ruang keluarga sambil merajut syal bayi yang diajarkan salah satu pelayan senior.
Hasilnya berantakan.
Sangat berantakan.
Namun ia tetap berusaha.
"Kalau begini anakku nanti pasti protes."
gumamnya.
"Siapa yang protes?"
Suara berat itu membuat Rubi langsung menoleh.
Alexander.
Pria itu sudah pulang.
Jauh lebih cepat dari biasanya.
"Kamu pulang."
ucap Rubi spontan.
Tanpa sadar senyum muncul di wajahnya.
Dan entah kenapa melihat senyum itu membuat langkah Alexander berhenti sesaat.
Karena untuk pertama kalinya seseorang terlihat benar-benar senang menyambut kepulangannya.
Perasaan asing itu membuat dadanya terasa hangat.
---
"Apa yang sedang kau lakukan?"
tanya Alexander setelah duduk di sebelah Rubi.
Rubi menunjukkan hasil rajutannya.
Alexander memandang benda itu beberapa detik.
Lalu berkata jujur.
"Aku tidak tahu itu apa."
Rubi langsung melotot.
"Ini syal!"
Alexander kembali melihat benda tersebut.
"Bentuknya unik."
Rubi langsung memukul lengannya pelan.
Membuat Alexander tertawa kecil.
Pemandangan itu membuat para pelayan yang kebetulan lewat hampir menjatuhkan nampan mereka.
Karena Alexander Dimitri yang tertawa adalah kejadian langka.
Sangat langka.
---
Malam hari.
Setelah makan malam, mereka duduk bersama di ruang keluarga.
Televisi menyala.
Namun tidak ada yang benar-benar memperhatikannya.
Rubi sedang membaca majalah ibu hamil.
Sedangkan Alexander memeriksa beberapa laporan.
Suasana tenang.
Nyaman.
Seperti keluarga sungguhan.
Sampai tiba-tiba bayi dalam kandungan Rubi bergerak cukup kuat.
"Aduh."
Rubi memegang perutnya.
Alexander langsung menoleh.
"Dia aktif lagi?"
"Iya."
Tanpa diminta, pria itu langsung menggeser duduknya lebih dekat.
Tangannya mendarat di atas perut Rubi.
Menunggu.
Dan beberapa detik kemudian...
Tap.
Gerakan kecil itu terasa.
Alexander tersenyum tipis.
Sedangkan Rubi memperhatikan wajahnya diam-diam.
Ada kelembutan yang dulu tidak pernah ada.
Dan kelembutan itu hanya muncul saat Alexander bersama dirinya atau bayi mereka.
"Menurutmu dia laki-laki atau perempuan?"
tanya Rubi tiba-tiba.
Alexander berpikir beberapa saat.
"Apa bedanya?"
"Hah?"
"Aku akan menyayanginya tetap sama."
jawab Alexander.
Kalimat sederhana itu membuat Rubi terdiam.
Karena ia tahu pria itu tidak sedang bercanda.
Ia sungguh-sungguh.
Dan untuk beberapa detik, suasana menjadi hening.
Bukan karena canggung.
Melainkan karena hati Rubi terasa penuh.
Sangat penuh.
---
Malam semakin larut.
Saat hendak kembali ke kamar, Alexander tiba-tiba memanggilnya.
"Rubi."
Wanita itu menoleh.
"Hm?"
Pria itu terlihat ingin mengatakan sesuatu.
Namun beberapa detik berlalu tanpa kata-kata.
Pada akhirnya Alexander hanya menggeleng.
"Tidak apa-apa."
Rubi mengernyit bingung.
Namun tidak memaksa.
Yang tidak diketahui Rubi adalah Alexander hampir mengatakan sesuatu yang bahkan membuat dirinya sendiri terkejut.
Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam dunia yang dingin dan penuh bahaya, ia menyadari satu hal.
Ia tidak hanya peduli pada Rubi.
Ia mulai mencintainya.
Dan kesadaran itu jauh lebih menakutkan daripada musuh mana pun yang pernah ia hadapi.
kalo sempat mampir ya thor🤭😉