Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17.
Bibir Rafael menyentuh bibir Freya dalam sebuah kecupan yang dalam, tegas, dan penuh tuntutan. Freya membelalakkan matanya yang basah karena terkejut. Seluruh tubuhnya menegang kaku seperti batu. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadanya—ini adalah sebuah kesalahan, sebuah dosa yang paling menjijikkan di dalam kepalanya.
Freya mencoba meronta, mendorong bahu tegap Rafael dan memalingkan wajahnya ke samping untuk melepaskan tautan itu. "Nghh... Pa—"
Namun, pergerakan Freya justru membuat luka-luka cambuk di punggungnya bergesekan kasar dengan sprei ranjang.
"Ah! S-sakit..." rintih Freya tertahan, tubuhnya mendadak lemas dan melengkung karena rasa perih yang luar biasa kembali membakar punggungnya.
Mendengar rintihan sakit itu, Rafael seketika menghentikan cumbuannya. Ia menarik kepalanya sedikit ke belakang, menatap Freya yang kini memejamkan mata erat-erat dengan air mata yang terus mengalir deras di pelipisnya. Napas pria paruh baya itu memburu, membelai wajah pucat menantunya.
"Sakit, hm?" bisik Rafael, suaranya terdengar sangat parau dan rendah, namun ada nada kepemilikan yang teramat pekat di sana. "Luka yang dibuat oleh suamimu yang kau agungkan itu bahkan menolak untuk membiarkanmu lepas dariku, Freya."
"Papa berengsek..." tangis Freya pecah, suaranya parau karena rasa sakit dan kehancuran emosional yang tumpang tindih. "Kenapa Papa melakukan ini padaku? Aku menantumu... aku istri Sean..."
"Aku sudah katakan, Sean membuang haknya sejak dia menyentuh adikmu," sahut Rafael dingin, jemari kokohnya mengusap sisa salep dan air mata di pipi Freya dengan sangat lembut—sebuah sentuhan yang terasa begitu kontras dengan statusnya sebagai pria yang baru saja memaksanya.
Rafael menegakkan tubuhnya, duduk di tepi ranjang sambil merapikan kemejanya yang sedikit berantakan. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah Freya yang kini meringkuk, memeluk lututnya di sudut ranjang sambil menangis sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lengannya.
Meskipun hasrat di balik celananya masih terasa sesak dan bergejolak hebat, Rafael memilih untuk menahan diri. Ia tidak ingin menghancurkan tubuh yang sedang sakit itu lebih jauh lagi hari ini. Masih ada waktu satu minggu penuh.
"Istirahatlah," perintah Rafael tegas, kembali pada mode dingin dan penuh wibawa yang tak tersentuh. "Bi Sofi akan membawakan makanan dan obatmu sebentar lagi. Jangan mencoba untuk turun dari ranjang ini jika kau tidak ingin aku kembali ke sini dan melakukan hal yang lebih jauh dari tadi."
Freya tidak menjawab, ia hanya terus menangis dalam diam, merutuki nasibnya yang kini terperangkap di dalam neraka baru yang diciptakan oleh ayah mertuanya sendiri. Sementara itu, Rafael bangkit dari ranjang, melangkah lebar keluar dari kamar utama dan menutup pintu dengan rapat, meninggalkan atmosfer mencekam yang membekas di dalam sana.
*
Tak lama setelah Rafael keluar, pintu kamar kembali berderit pelan. Bi Sofi melangkah masuk dengan nampan berisi bubur hangat, segelas air, dan obat-obatan. Pelayan tua itu menatap Freya dengan pandangan iba yang mendalam, melihat menantu majikannya masih gemetar di sudut ranjang.
"Nyonya Freya... ini sarapannya. Tolong diisi perutnya sedikit ya, biar bisa minum obat," ujar Bi Sofi lembut, meletakkan nampan itu di atas nakas.
"Terima kasih, Bi," bisik Freya serak. Ia bahkan tidak punya tenaga untuk menegakkan punggungnya.
Tepat saat Bi Sofi hendak menyuapkan sesendok bubur, ponsel Freya yang tergeletak di atas bantal bergetar nyaring. Layarnya menyala, menampilkan nama yang membuat dada Freya berdenyut ngilu: Sean.
Dengan tangan gemetar, Freya menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. "H-halo, Sean...?"
"Dengar, Freya," suara Sean di seberang sana terdengar ketus dan buru-buru, samar-samar terdengar suara tawa manja Bianca di latar belakang. "Aku menelepon hanya untuk mengingatkanmu. Tetap tutup mulutmu di depan Papa! Kalau sampai Papa curiga kenapa aku tidak pulang seminggu ini, atau kalau kau berani mengadu tentang malam itu... kau tahu sendiri apa akibatnya pada ayahmu!"
Air mata Freya kembali menetes, rasanya tenggorokannya tersumbat. "Sean... aku sedang sakit... kau benar-benar tidak mau pulang?"
Sean mendengus meremehkan di seberang telepon. "Sakit? Ck, jangan manja. Di rumah ada banyak pelayan, ada Papa juga. Urus dirimu sendiri. Aku dan Bianca sedang ingin bersenang-senang menikmati liburan kami tanpa gangguanmu. Jangan hubungi aku kalau tidak penting!"
Klik.
Sambungan diputus sepihak. Freya perlahan menurunkan ponselnya. Hatinya hancur berkeping-keping. Rasa sakit hati yang dihantamkan Sean barusan jauh lebih menyiksa daripada cambukan di punggungnya.
Kenyataan pahit ini merayap ke otaknya: Sean sengaja membuangnya demi bersenang-senang dengan Bianca, dan itu berarti Freya akan terjebak bersama Papa mertuanya di mansion ini dalam waktu yang cukup lama tanpa ada tempat untuk berlindung.
Melihat Freya yang kembali menangis, Bi Sofi hanya bisa mengusap bahu wanita muda itu dengan sedih.
Beberapa saat kemudian, ketukan di pintu kembali terdengar. Dimas masuk mengantarkan Dokter Hendra yang datang untuk memeriksa kondisi Freya kembali.
Dokter Hendra mendekat, memeriksa denyut nadi dan memeriksa suhu tubuh Freya menggunakan termometer. Setelah beberapa menit, sang dokter menghela napas lega dan merapikan peralatannya.
"Bagaimana kondisinya, Dokter?" tanya Bi Sofi cemas.
"Kondisi fisik Nyonya Freya sudah jauh lebih baik dibandingkan semalam. Demam tingginya sudah turun dan stabil," jelas Dokter Hendra ramah, lalu beralih menatap Freya dengan sopan. "Namun, Nyonya, luka di punggung Anda masih sangat meradang. Infeksinya harus tetap dicegah. Obat dan salepnya harus rutin dioleskan dua kali sehari agar tidak meninggalkan bekas luka yang parah dan tidak memicu demam lagi."
"Baik, Dokter. Terima kasih," jawab Freya lirih dengan wajah pucatnya.
"Saya permisi dulu, Nyonya. Tolong istirahat yang cukup," pamit Dokter Hendra, kemudian melangkah keluar diikuti oleh Dimas dan Bi Sofi yang membawa nampan makanan yang hampir tak tersentuh.
Kamar itu kembali sunyi. Freya memeluk kedua lututnya erat-erat, menatap nanar ke arah pintu. Satu minggu ke depan terasa seperti vonis mati baginya.
Di luar sana, suaminya asyik memadu kasih dengan wanita lain, sementara di dalam rumah ini, ia harus bersiap menghadapi Rafael—pria berkuasa yang kini menatapnya dengan hasrat kepemilikan yang teramat gelap.
*
*
*
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean