Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Menara Guangdong, lokasi keempat yang didatangi Bai Anshu dan Bai Hanzi. Pemiliknya seorang pria berusia enam puluhan. Ia ditemani oleh seorang pemuda tampan berusia lima belasan dan gadis remaja ayu berumur tiga belas tahun.
Kalau tidak salah menebak, kemungkinan kedua muda mudi itu cucu dari pemilik toko.
Disini sepi pengunjung, bangunannya juga tidak terlalu besar. Mungkin luasnya sekitar 50 x 50 meter.
Namun sangat bersih dan rapi, dengan barang-barang dagangan tertata apik dirak serta meja dan lemari.
Sepertinya toko ini kalah pamor dengan para kompetitornya yang bangunannya lebih besar dan megah.
"Salam nona, tuan muda kecil...!" sapa gadis remaja, Guang Meilan.
"Salam nona muda..!"
Kakak beradik Bai dipersilahkan masuk, ditanyai apa yang ingin mereka cari.
"Em, nona muda, maaf sebelumnya kalau kedatangan kami ini mengganggu waktumu yang berharga. Sebenarnya tujuan kami kemari ingin menawarkan kerjasama dengan toko ini." ucap Bai Anshu.
"Kalau boleh tahu, kerjasama seperti apa yang ingin kau tawarkan nak..?"
Bukan Guang Meilan yang menyahuti, tapi kakek Guang.
Pria tua itu berjalan mendekat, diikuti oleh cucu lelakinya.
Bai Anshu mengeluarkan tiga batang produk dagangannya."
"Ini sabun, buatan keluarga."
Dahi mengernyit, alis menukik tajam, bibir terlipat tipis. Reaksi yang ditampilkan pemilik toko dan kedua cucunya.
"Sabun..?"
Bai Anshu mengangguk "ini sabun cuci baju, shampo rambut dan yang ini untuk seluruh badan."
"Ah, kacang mandi maksudnya..?" kata Guang Meilan.
"Sejenis itu, tapi sabun ini tentu berbeda dari kacang mandi. Lebih murah, awet dan harum."
Bai Anshu membuka bungkus sabun berukuran kecil yang khusus ia siapkan untuk dijadikan taster, lalu memberikannya pada Guang Meilan.
Meilan mendekatkan sabun itu kehidungnya, menghirup perlahan seraya menekan berulang kali guna merasakan teksturnya yang padat.
"Em, ini aroma mawar bukan..?"
Bai Anshu mengangguk "benar nona muda...!"
Bai Anshu menjelaskan varian aroma dari sabun mandi dan shampo.
"Karena ini produk baru, tuan besar pasti ragu untuk menerimanya. Bagaimana kalau kita melakukan promosi terlebih dulu..? setelah itu tuan besar bisa membuat keputusan apakah mau atau tidak." kata Anshu.
"Promosi..?"
"Berikan padaku dua kacang mandi, ember berisi air dan meja. Letakkan didepan toko."
Kakek Guang menatap kedua cucunya, lalu mengangguk. Ia sebenarnya tidak ada keinginan untuk membeli barang apa pun dalam waktu dekat, sebab penghasilan tokonya kerap merugi disetiap hari.
Tapi kakek Guang penasaran soal produk sabun itu, terlebih dengan bungkusnya yang cantik elegant.
Point plusnya adalah tutur kata dan prilaku kakak beradik yang terpelajar.
Apa yang diminta Bai Anshu sudah tersedia didepan toko. Gadis cilik itu gegas melancarkan aksinya.
"Sepuluh koin bagi yang bersedia menerima tantangan dari kami." teriak Anshu yang membuat bola mata Hanzi mendelik.
Sedangkan kakek Guang dan kedua cucunya melongo bodoh.
Katanya promosi, tapi kenapa malah bagi-bagi uang..?
"Sepuluh koin bagi yang mau menerima tantangan dari kami. Ayo, berkumpul kemari..!"
Para pejalan kaki menoleh keasal suara, sembari menajamkan indera pendengaran mereka.
"Sepuluh wen, bagi yang mau menerima tantangan dari kami." seru Anshu lantang.
Satu per satu para penduduk kota mendekat. Awalnya berjumlah puluhan orang, perlahan menjadi ratusan.
"Ini bukannya nona yang tadi menghajar dua penjaga toko ya..?"
"Eh, benar, itu dia...!"
Bisik-bisik dari kerumunan.
"Tuan, nyonya, saudara semuanya, yang bersedia menerima tantangan dari kami akan mendapatkan sepuluh sen."
Bai Anshu membuka sabun cuci, meletakkannya bersanding dengan baskom berisi air bersih.
Satu ember lainnya ditemani kacang mandi.
"Tantangan pertama, siapa yang memiliki pakaian penuh noda membandel silahkan bawa kemari, aku butuh dua orang."
Dengungan suara dari kerumunan penonton langsung mengudara, menciptakan gema hingga mampu terdengar hingga radius satu kilo meter.
Seorang bibi berpakaian pelayan maju, membawa jubah bulu kelinci berwarna putih.
"Nona kecil, jubah tuanku ini baru saja terkena saus makanan, sangat berminyak sekali. Apakah bisa mengikuti tantanganmu..?"
"Tentu saja bisa nyonya..!"
Wanita lain maju, kali ini membawa baju penuh lumpur, getah dan noda minyak.
Supaya adil, Bai Anshu menambahkan noda lumpur dan getah pohon kejubah bulu kelinci.
"Ini namanya sabun, fungsinya khusus untuk mencuci pakaian atau benda-benda yang berbahan kain." ucap Anshu, menggosokkan sabun kejubah secara merata, lalu memberikan pada si pelayan.
Selanjutnya Anshu melakukan hal yang sama pada kain lain menggunakan kacang mandi.
Lima menit berlalu, kedua wanita khusuk mengucek busana yang mereka bawa.
"Sudah cukup, silahkan nyonya berdua bilas."
Kedua wanita patuh, membasuh berulang kali hingga busanya hilang.
Setelahnya kedua pakaian dibentangkan, dan terlihatlah hasilnya.
"Woah, yang jubah itu bersih sekali, semua nodanya hilang."
"Iya benar, putih bersih seperti baru."
Kakek Guang dan kedua cucunya mendelik. Mereka bertukar tatapan dengan pikiran yang langsung berputar-putar.
"Kalian bisa melihat sendiri perbedaannya, yang dicuci menggunakan kacang mandi masih tetap meninggalkan noda getah dan minyak. Sementara yang memakai sabun----
Anshu, mengangkat sabun dan kacang mandi dikedua tangannya.
"Setelah dipakai mencuci, sabun ini masih tetap utuh seperti belum pernah digunakan. Sementara kacang mandi, berkurang cukup banyak." sambung Anshu.
"Ah, iya benar..!"
Suara sumbang makin ramai menyebar, kerumunan kian bertambah banyak.
Sepuluh koin Anshu berikan kepada dua wanita yang telah menyelesaikan tugasnya.
Air diganti, dua orang pria ditunjuk untuk menjadi model shampo.
Hasilnya kembali membuat penonton takjub.
"Rambut paman berdua yang tadi kusam dan kaku saja bisa menjadi sehalus ini, apa lagi milik kalau nyonya dan nona muda yang menggunakannya."
Kloter ketiga. Dua pria kasar dengan wajah suram, berminyak, hitam penuh debu, ditunjuk Bai Anshu.
Kali ini dari wajah, leher dan tangan, yang dibersihkan dengan sabun beraroma sandalwood.
"Hei lihat, wajah lelaki sebelah kiri menjadi bersih, tangannya juga."
"Iya benar, tampak segar bersinar."
"Wah, sabun itu ajaib sekali."
"Nona kecil, berapa harga sabunmu..? aku mau."
"Ya, aku juga mau..!"
"Dimana aku bisa mendapatkannya, aku mau nona kecil...!"
Teriakan masa mengudara, menciptakan keramaian yang semakin banyak mengundang perhatian masyarakat.
Kakek Guang dan kedua cucunya tersenyum lebar, ini adalah produk bagus, dan bisa menyelamatkan toko mereka dari kebangkrutan.
Bai Anshu memberikan upah pada modelnya, berikut bonus sabun yang ukurannya kecil.
Sabun yang tadi digunakan juga diberikan pada model yang memakainya, karena tidak mungkin akan Anshu pakai apa lagi dijual.
Kalau dibuang tentu teramat sayang kan..?
"Nona kecil, aku mau sabun itu...!"
Kakek Guang maju, berdiri disebelah Bai Anshu.
"Saudara-saudara, jika kalian ingin mendapatkannya, datanglah ketokoku ini nanti setelah makan siang."
Bai Anshu dan Hanzi terpekik senang, bertos ria dengan senyum merekah berbunga-bunga sampai ketelinga.
Berhasil, akhirnya mereka berhasil.
"Jangan khawatir dengan harga yang mahal, sebab sabun-sabun ini tersedia dalam empat ukuran. Jadi setiap rumah tangga bisa membelinya." pungkas Bai Anshu mengakhiri sesi promosi.