Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.
Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.
Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.
Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwamu di Desa, Jiwaku di Kota
Seorang gadis berwajah oriental dengan rambut model pixie cut berdiri di ambang pintu. Kaki jenjangnya dibalut celana kulot jins warna biru yang dipadu dengan kaos henley warna putih. Penampilan modis yang tak pernah gagal, selalu memberikan kesan energik pada dirinya.
Azra kembali senang melihat kemunculan gadis di hadapannya, setelah dia cuti selama seminggu. Hanya saja, netra Azra meredup, terpaku pada koper yang berdiri tegak di sebelah gadis itu. Ditambah sebuah backpack abu-abu yang bertengger di punggung sang sahabat.
Kehadiran benda-benda itu menjelma menjadi maklumat bisu bahwa sebuah perpisahan tanpa jalan kembali tengah terjadi di depan matanya.
Berusaha tenang dan menghalau pikiran buruk, Azra tersenyum dan berdiri menghampiri teman karibnya, "Kapan datang, Wit? Sudah selesai cutimu?"
Mereka berpelukan lama, saling bergandeng tangan, melangkah masuk menuju meja kerja dokter.
"Urusanku sudah selesai. Aku masuk desa kemarin sore, jam lima lewat, Azra. Sorry nggak ngabari kamu." Wita meraih botol mineral yang disediakan di meja dan meminumnya setelah duduk di kursi pasien.
"Malam, jam enam lewat baru aku nyampai di rumah Pak Kades. Banyak hal yang kami bahas. Karena keasyikan ngobrol sama beliau, nggak sadar kalau sudah larut. Akhirnya aku disuruh menginap di sana, tidur sekamar sama Sekar. Jam tujuh pagi, aku diantar sopir Pak Kades ke rumah dinas. Istirahat sebentar, mandi, lalu lanjut beberes ...."
"Wait ...," tangan Azra terangkat, memotong penjelasan Wita. "Apa maksud dari beberes ini? Kenapa kamu sampai bawa koper ke Pustu?"
"Ya beberes, Azra. Beberes pakaian dan barang-barangku. Apalagi?"
Wita menarik napas dalam dalam, "Sorry to say, I can't stay with you again. I must go home. Sorry ... please forgive me."
Wita mendongak, menatap langit-langit ruang, berusaha menahan air yang menggenang di mata sipitnya agar tidak tumpah.
Dokter Azra terhenyak di kursi. Mata hazelnut-nya bergerak gelisah. Kedua telapak tangannya bertaut erat—kebiasaan yang selalu dia lakukan saat dirundung gugup dan kebingungan.
"Aku nggak salah dengar, kan, Wit? Kamu bercanda, kan?"
Wita menggelengkan kepala lemah.
"Kamu serius nggak lanjut menetap di sini? Atau hanya pindah dari rumah dinas sini, tapi masih dinas di Puskesmas kecamatan?" Azra masih berusaha memastikan kabar mendadak yang dia terima.
"Tidak juga di Puskesmas kecamatan. Maaf, Azra. Ada sesuatu yang urgent, yang tidak bisa aku tolak."
"Tapi, kan, kita sudah sepakat untuk bersama di sini, mengembangkan Pustu ini lebih baik lagi, sampai salah satu dari kita menikah, baru..." perkataan Azra terhenti, " Wait ... you will get married?"
Dokter Wita menatap Dokter Azra, lalu menggenggam erat tangannya. Ia mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyuman tipis. Ada kegetiran yang terbersit dalam senyum itu. Azra langsung bisa menangkapnya lewat tatapan mata.
Akhirnya, mereka berdua terdiam. Saling mencengkeram jemari, berbicara lewat tatapan mata, seolah berusaha bertanya dan menemukan sendiri jawabannya.
Di balik dinding ruang sebelah, dua orang sedang menempelkan telinga ke tembok sambil menahan napas.
"Kalian lagi ngapain toh?" tegur Pak Tejo yang masuk membawa alat kebersihan.
"Sssst ...," serempak Yanto dan Siti menempelkan telunjuk di depan bibir. Pak Tejo hanya menggeleng-gelengkan kepala, lalu melanjutkan menyapu dan mengepel ruangan.
"Apa Dokter Wita dengar ya, kalau tadi dirasani sama Paino?" tanya Siti yang kini terduduk di lantai.
"Tapi hari ini, kan, Dokter Wita nggak ada jadwal praktik. Jadi ya nggak mungkin toh dengar omongan tadi. Wong nggak kemari."
"Lhaaa, siapa yang tahu toh, Mas Yanto. Bisa jadi tadi Dokter Wita ada di sekitar sini pas kita rasan-rasan... Akhirnya beliau dengar dan tersinggung. Ya toh,Ti?" Pak Tejo membereskan peralatan kebersihan dan bersiap meninggalkan ruangan. "Sudah jam satu siang nih, kalian nggak pulang? Aku mau mengunci ruangan ini. Pasiennya juga sudah bubar semua."
"Nggih, Pakdhe. Siap, pulang saja dulu. Kami nunggu Ibu Dokter, nanti kami yang kuncikan pintunya," jawab Yanto sambil merapikan kembali arsip data pasien hari itu.
Siti pun mulai beranjak mencatat stok opname obat serta merapikan kertas resep ke dalam lemari.
Ceklek.
Bunyi pintu dikunci terdengar. Yanto dan Siti segera beranjak ke ruang dokter. Mereka berdua baru saja dipanggil oleh Dokter Azra melalui WhatsApp. Sembari berjalan beriringan, pikiran mereka dipenuhi tanda tanya; beberapa saat lalu mereka melihat Dokter Wita lewat di depan loket sambil menarik koper besar.
"Masuk Mas, Mbak. Kok malah bengong di situ. Sini." Dokter Wita memanggil Yanto dan Siti yang terpaku di ambang pintu, canggung melihat kedua dokter mereka yang tampak habis berpelukan dengan mata sembap.
"Silakan duduk Mas, Mbak. Ada yang mau saya sampaikan," Dokter Azra membuka percakapan setelah kedua rekannya memasuki ruangan. Ia menarik napas dalam, lalu menatap Dokter Wita sejenak, "Dokter Wita hari ini mau pamit."
"Haaah?!" Yanto dan Siti berpandangan dengan mulut melongo.
Ingatan Siti langsung ditarik pada obrolan tadi pagi; obrolan para pasien yang ngerasani Dokter Wita galak. Instingnya bergerak cepat, ia segera menyusun kata yang bertujuan menghibur Dokter Wita agar tidak tersinggung dengan gosip warga.
"Anu... Bu Dokter, maaf ya kalau kami ada salah ngomong. Tapi mohon dimaklumi, namanya juga orang banyak, warga desa. Jadi kalau ngomong itu suka enggak dipikir, enggak diatur. Asbun, asal bunyi katanya, "Siti menghirup napas menjeda omongan.
Setelah melihat dr. Wita tidak bereaksi, dia lanjutkan lagi kalimat penghiburnya. "Jadi mohon Dokter Wita tidak memasukkan hati omongan warga. Buat kami, Dokter Wita adalah salah satu penyelamat dusun kami, penyelamat gigi-gigi kami. Dokter Wita itu ibaratnya ...."
"Mbak Siti, omongan apa? Memang ada omongan apa soal Dokter Wita?" Dokter Azra langsung memotong kalimat Siti, khawatir Wita menjadi curiga dan membuat suasana semakin canggung.
"Eeeh ...." Siti langsung tersadar. Mukanya memerah menahan malu. "Saya tadi ngomong apa, ya? Duh, mulut sama pikiran saya ini memang suka nggak klop, Dokter. Maaf."
Mas Yanto langsung mencubit lengan Siti sambil mendelik, memberi isyarat kuat untuk diam. Yang dicubit hanya meringis seperti orang yang menahan sakit perut mau kentut.
Dokter Wita malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah dua petugas di depannya.
"Saya sudah paham, Mbak. Saya dibilang galak, toh? Ora popo. Memang saya galak. Tapi tetap cantik, kan? Yang penting itu tetap cantik, baik hati, suka menolong dan rajin menabung, Mbak. Santai saja."
Tawa mereka pecah, dan ketegangan di dalam ruangan perlahan mencair.
"Saya mau pamit, Mas Yanto, Mbak Siti, karena saya mau menikah dalam waktu dekat...," Wita menjeda kalimatnya, menatap Yanto dan Siti bergantian.
"Adapun hal-hal lain yang berkaitan dengan poli gigi, nanti Dokter Azra yang akan mengurus. Jadi maaf, saya harus pamit hari ini. Tidak bisa melanjutkan pengabdian di Dusun Teduh." Wita melihat ke arah Azra yang menyeka air mata di pipinya. Ditepuknya tangan Azra pelan.
Suasana hening. Siti dan Yanto hanya diam dan saling pandang.
"O ya, saya nanti dijemput mobil di gerbang dusun jam dua. Mas Yanto tahu sendiri, kan, jalan masuk ke dusun ini lumayan berat dan kurang bagus buat mereka yang tidak pernah kemari. Jadi, bisakah Mas Yanto mengantar saya sampai gerbang dusun?"
"O, bisa, Dokter. Saya bisa mengantar," jawab Yanto sambil menatap Dokter Azra untuk meminta persetujuan. Yang dipandang hanya tersenyum dan mengangguk.
Pukul 13.30, mereka berempat beranjak keluar ruangan. Siang itu sangat terik, namun langit mengisyaratkan akan turun hujan. Awan mendung mulai berarak di sisi utara. Tak berapa lama, Yanto datang dengan mobil pick-up-nya, lalu memindahkan koper Dokter Wita ke bak belakang.
"Kalau begitu saya pamit, ya. Mohon maaf kalau selama di sini saya kurang baik dan banyak salahnya. Terima kasih buat semua yang sudah menerima, membantu, dan menemani saya. Maafin, ya."
Setelah menjabat tangan Yanto, Wita memeluk Siti dengan erat. Walau selama ini mereka tidak terlalu dekat, Siti tahu Dokter Wita adalah orang yang baik. Air matanya pun menetes di pundak sang dokter. Terakhir, Wita memeluk Azra lebih lama. Masing-masing berusaha keras menata badai emosi dalam hati mereka.
"Yup...sudah dulu ya. Bye ... Bye, Azra, Siti."
Mobil pick up Yanto bergerak perlahan, Wita melambaikan tangan dari dalam mobil.
Mata Dokter Azra tidak lepas dari jalanan, terus menatap hingga mobil pick-up yang membawa sosok Dokter Wita hilang ditelan kelokan. Kalimat terakhir Wita sebelum mereka mengakhiri perdebatan tadi kembali terngiang di kepalanya:
“Azra, kamu suka dengan kehidupan di sini, kamu menemukan duniamu. Kamu juga tahu, perjuanganku untuk bisa sampai di tahap menerima semua ini tidak mudah. Jiwamu ada di sini, jiwaku ada di kota, Azra. Maaf ....”
Dokter Azra menghela napas panjang. Bagaimanapun dan di manapun, kita tetap sahabat. Jangan lupa berkabar, gumamnya dalam hati.