"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7
Sisa badai semalam masih menyisakan udara dingin yang menusuk di perpustakaan pusat universitas. Zoya duduk di sudut paling belakang, dikelilingi oleh tumpukan jurnal ekonomi makro yang tebalnya nyaris menyamai kesabarannya menghadapi sikap Arvin.
Matanya terasa pedas karena kurang tidur, bayangan kemarahan Arvin semalam terus menghantuinya seperti kaset rusak yang berputar tanpa henti.
'Wanita murahan.'
Kata itu masih berdenging di telinga Zoya, lebih menyakitkan daripada tamparan fisik mana pun. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya, lalu kembali fokus pada layar laptop yang menampilkan tabel data statistik yang rumit. Proyek penelitian ini adalah satu-satunya pelariannya saat ini.
"Data inflasi tahun 2022 itu harusnya dibandingkan dengan kebijakan fiskal periode sebelumnya, Zoya. Kalau pakai variabel yang itu, hasilnya pasti bias."
Zoya sedikit tersentak. Liam sudah berdiri di sampingnya, membawa dua gelas kertas berisi cokelat panas aromatik yang uapnya mengepul lembut. Pria itu menarik kursi di samping Zoya tanpa menunggu izin, namun dengan cara yang entah mengapa tidak terasa lancang.
"Liam? Kamu sudah di sini dari tadi?"
"Cukup lama untuk melihat kamu melamun sambil menatap angka nol selama lima menit," Liam terkekeh, meletakkan salah satu gelas cokelat di dekat tangan Zoya. "Minum dulu. Otak butuh glukosa, bukan cuma kafein."
Zoya menatap gelas itu, lalu menatap Liam. "Terima kasih, tapi aku benar-benar harus menyelesaikan ini. Aku tidak mau menghambat kelompok kita."
Liam terdiam sejenak, matanya menatap Zoya dengan binar kekaguman yang sulit disembunyikan.
"Zoya, aku sudah sering bilang. Kecerdasanmu itu di atas rata-rata. Tapi yang buat aku heran adalah prinsipmu. Di tengah semua tekanan tugas dan... entahlah, masalah yang sepertinya sedang kamu simpan, kamu tetap tidak mau membolos atau sekadar menyalin tugas orang lain. Kamu benar-benar tipe orang yang lurus, ya?"
Zoya tersenyum tipis di balik cadarnya. "Prinsip adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, Liam. Jika itu hilang, apa lagi yang tersisa dari diri kita?"
Liam terpaku. Kalimat itu sederhana, namun terasa sangat dalam. Baginya, Zoya seperti sebuah teka-teki yang paling indah, tertutup, misterius, namun memiliki kedalaman jiwa yang jarang ia temukan pada gadis-gadis lain yang sering mengejar-ngejarnya.
Sementara itu, di kantor pusat Dewangga Group, Arvin sedang menatap layar monitor besar di ruang kerjanya.
Bukannya memeriksa grafik saham perusahaan, ia justru sedang menatap sebuah unggahan di akun menfess media sosial anonim kampus Zoya yang dikirimkan oleh asisten pribadinya secara tidak sengaja melalui laporan harian.
Foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi dari kejauhan. Menampilkan Zoya dan Liam yang sedang duduk berdekatan di perpustakaan.
CAMPUS UPDATE
"Siapa yang setuju kalau Zoya si Gadis Cadar dan Liam Si Pangeran Ekonomi adalah Couple of the Year? Liat deh cara Liam natap Zoya, tulus banget! Kayaknya benteng cadar Zoya bakal runtuh nih sama pesona Liam. #ZoyaLiam #LizaShip"
Arvin melempar pulpen mahalnya ke atas meja kerja yang terbuat dari kayu jati. Dadanya terasa panas. Ia tidak mengerti mengapa ia merasa begitu marah. Bukankah ia yang meminta Zoya merahasiakan pernikahan mereka? Bukankah ia yang menyuruh Zoya menjauh darinya?
"Sialan," umpat Arvin rendah.
Ia meraih ponselnya, hendak menelepon Zoya dan memakinya untuk pulang sekarang juga. Namun, ia berhenti. Jika ia melakukannya, ia mengakui bahwa ia peduli. Dan Arvin Dewangga tidak boleh peduli pada wanita yang hanya dianggapnya sebagai kesepakatan bisnis.
Ia kemudian memanggil asistennya masuk. "Cari tahu siapa pria di foto ini. Keluarganya, latar belakangnya, dan apa hubungannya dengan istriku. Sekarang!"
~~
Kembali ke perpustakaan, suasana mendadak menjadi canggung saat beberapa mahasiswi di meja seberang mulai berbisik sambil melirik ke arah Zoya dan Liam.
"Liat deh, mereka beneran barengan terus."
"Gila ya, Zoya hebat banget bisa dapet Liam."
Zoya yang menyadari situasi itu mulai merasa tidak nyaman. Ia mulai membereskan buku-bukunya. "Liam, sepertinya aku harus pulang sekarang. Aku akan lanjut kerjakan di rumah."
"Tunggu, Zoya. Ada satu hal lagi," Liam menahan tangan Zoya sejenak, namun segera melepaskannya saat menyadari tatapan Zoya. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah buku tua bersampul kain beludru hijau lumut.
Mata Zoya melebar. Itu adalah ',The Wealth of Nations' edisi kolektor terbatas dengan catatan kaki asli dari kurator ekonomi ternama. Buku yang sudah Zoya cari di seluruh toko buku online dan perpustakaan kota namun tidak pernah ia temukan.
"Ini... Liam, dari mana kamu dapat ini?" suara Zoya bergetar karena antusias sekaligus tidak percaya.
"Kakekku punya satu koleksi di perpustakaan pribadinya. Aku bilang padanya ada seorang malaikat ekonomi yang sangat membutuhkannya untuk referensi tesis. Beliau mengizinkanku memberikannya padamu," Liam tersenyum bangga. "Anggap saja ini hadiah untuk rekan kerja yang paling hebat."
"Aku tidak bisa menerimanya, Liam. Ini terlalu mahal... terlalu langka."
"Zoya," Liam memotong dengan suara lembut namun tegas. "Buku ini hanya selembar kertas jika berada di tangan orang yang salah. Tapi di tanganmu, buku ini akan menjadi ilmu. Tolong, jangan ditolak. Aku akan sangat sedih kalau harus mengembalikannya pada Kakek dan bilang kalau temanku menolaknya."
Zoya bimbang. Di satu sisi, ia sangat membutuhkan referensi di dalam buku itu. Di sisi lain, ia tahu pemberian ini memiliki arti yang lebih dari sekadar bantuan akademik. Namun, melihat binar harapan di mata Liam, Zoya akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah... terima kasih banyak, Liam. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik."
"Aku tahu kamu akan menjaganya lebih baik dari siapa pun," balas Liam penuh arti.
Malam itu, Zoya pulang dengan perasaan yang campur aduk. Ia menyelinap masuk ke penthouse, berharap Arvin belum pulang. Namun, lampu ruang tengah menyala terang benderang.
Arvin duduk di sana, menyilangkan kaki, dengan sebuah tablet di tangan. Di atas meja di depannya, berserakan foto-foto Zoya dan Liam dari berbagai sudut hasil jepretan orang suruhannya.
"Sudah pulang, Istriku?" suara Arvin terdengar sangat rendah, mirip geraman singa yang sedang mengintai mangsa.
Zoya membeku. Ia melihat buku pemberian Liam yang ia peluk erat-erat. "Tuan Arvin..."
"Apa itu?" Arvin berdiri, melangkah mendekat dengan langkah yang mengintimidasi. Ia merampas buku itu dari pelukan Zoya secara kasar.
"Hati-hati, Tuan! Itu buku langka!" seru Zoya spontan.
Arvin tertawa sinis, ia membuka lembar pertama dan melihat sebuah tulisan tangan di sana.'Untuk Zoya, semoga ini menjadi awal dari cerita kita. -Liam.'
Wajah Arvin memerah padam. Ia melemparkan buku itu ke lantai dengan keras. "Awal dari cerita kita? Luar biasa! Jadi ini alasanmu tidak mau pulang cepat? Untuk berkencan dengan bocah ingusan ini di perpustakaan?"
"Itu hanya buku referensi, Tuan! Liam hanya membantuku kuliah!"
"Membantu? Atau sedang mencuri apa yang secara hukum adalah milikku?" Arvin mencengkeram bahu Zoya, memaksanya menatap matanya yang berkilat amarah. "Kau memakai cadar untuk menjaga kehormatan, tapi kau membiarkan pria lain memberikan hadiah-hadiah romantis seperti ini? Kau munafik, Zoya!"
Zoya tersentak. Hinaan itu kembali muncul. "Aku tidak munafik! Aku hanya ingin dihargai sebagai manusia! Sesuatu yang tidak pernah Kau berikan sejak kita menikah!"
"Dihargai?" Arvin mendekatkan wajahnya, deru napasnya yang panas menerpa cadar Zoya. "Kau ingin dihargai? Baik. Kalau begitu, mulai besok kau tidak perlu ke kampus. Aku akan mengurungmu di sini sampai kau sadar siapa suamimu yang sebenarnya."
"Kau tidak bisa melakukan itu!"
"Coba saja kalau kau berani," tantang Arvin. Ia meraih ponselnya, lalu menunjukkan sebuah draf pesan. "Satu kali klik, dan aku akan mengirimkan foto pernikahan kita ke seluruh grup WhatsApp kampusmu. Kau ingin identitasmu diketahui? Aku akan melakukannya dengan cara yang paling menghancurkan reputasimu dan pria itu."
Zoya jatuh terduduk di lantai, tepat di samping buku pemberian Liam yang kini tergeletak malang. Ia menangis sesenggukan. Keangkuhan Arvin benar-benar tidak memiliki batas.
Arvin menatap Zoya yang menangis di bawah kakinya. Ada secercah rasa sakit di dadanya melihat air mata itu, namun egonya yang terluka menutupinya dengan kemarahan yang baru.
"Ambil bukumu, dan masuk ke kamar. Jangan keluar sampai aku mengizinkannya," ucap Arvin dingin, lalu melangkah pergi ke lantai atas, meninggalkan keheningan yang jauh lebih mencekam daripada badai apa pun.
Zoya memeluk buku itu, bukan karena cintanya pada Liam, tapi karena buku itu adalah simbol satu-satunya kebebasan yang kini sedang diancam oleh suaminya sendiri.
...----------------...
To Be Continue .....