NovelToon NovelToon
MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:993
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.

Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...

bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??

kisah CHICK-LIT ROMANCE

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: NASI UDUK, HARGA DIRI, DAN "BEGAL SYARIAH"

Sisa-sisa alkohol semalam telah menguap, meninggalkan sakit kepala yang berdenyut di pelipis Vanya. Sepanjang malam ia terjaga, memasang telinga pada setiap gerak-gerik di balik gorden ruang depan. Ia takut Reyhan akan menerjang masuk dan mengambil "hak"-nya sebagai suami dadakan. Namun, hingga dini hari, pria itu justru tampak pulas seolah kepahitan hidup telah membuatnya kebal terhadap kerasnya lantai.

​Sebelum semburat fajar menyentuh langit, Vanya tersentak oleh suara gemericik air. Ia mengintip. Di ruang depan yang remang, Reyhan sedang bersujud. Suara pria itu terdengar lirih namun jernih, membacakan ayat-ayat suci dalam tahajudnya. Iramanya begitu tenang, nada bicaranya tertata, jauh dari kesan kasar seorang pria jalanan.

​Kenapa dia sholat? batin Vanya bingung. Masa ada begal syariah? Apa dia cuma mau cari simpati supaya aku tidak lapor polisi?

​Usai Subuh, Reyhan mengenakan jaket ojolnya yang sudah rapi disampirkan. Ia melirik gorden kamar. "Aku keluar sebentar beli sarapan," pamitnya singkat.

​Di lapak nasi uduk Mpok Wati, suasana sudah seperti pasar kaget. Ibu-ibu desa yang sedang mengantre langsung menoleh saat motor matik Reyhan berhenti.

​"Mas Reyhan! Wah, pengantin baru sudah bangun pagi saja!" ledek Mpok Wati sambil tertawa renyah.

​"Alhamdulillah Bu, saya baik," jawab Reyhan datar, berusaha tetap sopan meski tahu dirinya sedang jadi bahan tontonan.

​"Gimana kabar istrinya? Betah tidak di kontrakan sempit?" tanya seorang ibu sambil menyikut temannya.

​"Oh, dia... tanya saja langsung padanya kalau lewat," sahut Reyhan pendek. "Mpok, nasi uduk dua bungkus, ya."

​"Dua bungkus sekarang mah? Biasanya cuma satu plastik polos," goda Mpok Wati lagi.

​"Iya Bu, sekarang ada makhluk lain di kontrakan," jawab Reyhan, teringat wajah Vanya yang galak.

​Marni, putri Kang Dadang yang sedari tadi merengut, diperintah ibunya untuk membungkus nasi. "Marni, buatkan dua bungkus untuk Mas Reyhan. Nyak lagi ladenin yang lain."

​"Sama Nyak aja!" jawab Marni ketus. Matanya menatap Reyhan dengan kilat cemburu yang tak tertutup-tutupi. Ia tidak rela pria idamannya kini punya urusan dengan "makhluk lain" itu.

​Di saat itulah Malik muncul dengan gaya sok jagoannya. "Marni, sudah jangan berharap sama 'Mas Ganteng'-mu ini. Dia sudah punya bini. Sama Abang saja, apa sih kurangnya Abang?"

​"Abang... apaan sih! Malu dilihat orang!" Marni memalingkan wajah, merapikan bungkusan nasi dengan kasar. "Ini Mas Reyhan nasinya. Biar istrinya tidak nunggu kelamaan."

​"Terima kasih, Marni," ucap Reyhan.

​"Oh iya, Mas. Ini kunci motornya. Kemarin suami saya yang amanin motor Mas di pos ronda," Mpok Wati memberikan kunci motor matik Reyhan.

​"Assalamu’alaikum," ucap Reyhan saat membuka pintu kontrakannya.

​"Salam," jawab Vanya malas dari arah kamar mandi.

​Tak lama kemudian, Vanya keluar dari kamar mandi dalam yang sempit. Namun, ia lupa bahwa ia tidak punya baju ganti. Ia hanya melilitkan handuk putih seadanya, memperlihatkan bahu mulusnya yang masih basah.

​"Astagfirullohaladzim!" Reyhan langsung membalikkan badan, menghadap tembok. "Cepat pakai bajumu!"

​Vanya justru mencibir, merasa Reyhan terlalu berlebihan. "Kenapa sih? Jangan sok suci kamu! Memang kamu tidak pernah lihat perempuan?" jawab Vanya ketus, meski sebenarnya ia merasa sedikit canggung.

​"Tunggu di situ!" Reyhan masuk ke kamar dengan mata setengah terpejam, lalu menyodorkan kemeja flannel dan celana training miliknya melalui celah pintu. "Ini, pakai. Jangan memancing keributan di rumah saya."

​Vanya terpaksa menerimanya. Ia melihat gaun satin mahalnya yang sudah robek dan kotor. Dengan enggan, ia mengenakan kemeja itu. Saat kain itu menyentuh kulitnya, sebuah aroma maskulin yang segar dan elegan meresap ke indra penciumannya.

​Seperti parfum mahal... apa ada parfum murahan yang sewangi ini? bisik Vanya dalam hati. Aroma itu sangat kontras dengan status Reyhan sebagai ojol. "Awas ya, jangan mengintip!" teriak Vanya dari dalam.

​"Siapa juga yang mau mengintip nona manja sepertimu," sahut Reyhan dari ruang depan.

​Setelah selesai berganti, Vanya keluar dengan kemeja yang kedodoran, membuatnya tampak mungil. Ia berdiri di depan Reyhan dengan gaya menantang. "Eh, Begal. Kalau kamu memang butuh uang, cepat katakan. Kamu minta tebusan berapa juta? Seratus? Dua ratus? Sebutkan saja, asal aku bisa pergi dari sini."

​Reyhan menghentikan kegiatannya menata nasi uduk. Ia menatap Vanya tajam. "Nona, aku tidak butuh uangmu. Dan satu lagi, aku bukan begal. Kalau aku begal, sudah kumutilasi kamu dari semalam dan kujual ginjalmu. Masih saja menuduh."

​Vanya bergidik ngeri. Kalimat itu terdengar sangat serius hingga bulu kuduknya berdiri. Tapi di sisi lain, hatinya mulai membisikkan bahwa pria ini mungkin benar-benar bukan bagian dari komplotan semalam.

​Reyhan menghampiri Vanya ke arah kamar. Vanya langsung mundur ketakutan, tangannya melindungi dadanya. "Mau apa kamu?!"

​Reyhan hanya melewati Vanya dan mengambil gelas kosong bekas teh semalam di atas meja kecil. "Tolong ya, ini rumahku. Bekas minumnya simpan di kamar mandi, biar aku yang cuci kalau kamu tidak mau mencuci. Sekarang, makan. Aku sudah beli nasi uduk."

​"Gak! Aku gak mau! Ih, apaan itu? Pasti tidak higienis," Vanya menatap bungkusan kertas cokelat itu dengan jijik. Terbayang sarapan omelette dan smoked salmon yang biasa ia makan.

​"Ya sudah, terserah. Aku makan sendiri saja," sahut Reyhan tenang. Ia mencuci gelas, lalu duduk bersila di atas tikar pandan. Ia membuka bungkusannya. Aroma bawang goreng, santan, dan sambal terasi langsung memenuhi ruangan.

​Reyhan makan dengan sangat lahap. Bunyi kecapan bibirnya seolah mengejek perut Vanya yang belum terisi sejak kemarin sore.

​Kruyuuukk... krukk...

​Perut Vanya tidak bisa diajak kompromi. Suaranya terdengar jelas di ruangan yang sepi itu. Reyhan melirik sambil menahan tawa. "Benar tidak mau? Aku habiskan ya?"

​Vanya berdiri mematung sebentar, lalu dengan langkah malu-malu, ia menghampiri Reyhan dan duduk di sudut tikar. Reyhan menggeser satu bungkusan lagi ke hadapan Vanya.

​Vanya membukanya dengan ujung jari, wajahnya masih menunjukkan ekspresi "jijik" yang dipaksakan. "Iiiihh... nasinya kenapa berantakan begini?"

​"Sudah, makan saja. Harganya memang murah, tapi tidak murahan," sindir Reyhan sambil melirik Vanya.

​"Maksud kamu apa? Kamu bilang aku murahan, begitu?!" sentak Vanya.

​"Kalau Nona tidak berpakaian sesumbar semalam, pria-pria mesum itu tidak akan terpancing syahwatnya. Jadinya seperti semalam, kan?" jawab Reyhan tenang namun pedas.

​"Itu salah pria-pria itu saja yang pikirannya kotor! Kamu juga sama kan? Dasar munafik!"

​"Sudah, makan saja. Susah bicara dengan nona manja yang merasa dunia berputar di sekitarnya. Baca doa dulu," perintah Reyhan.

​Vanya akhirnya menyuapkan sesendok kecil nasi uduk itu ke mulutnya. Begitu rasa gurih santan dan pedas sambal menyentuh lidahnya, matanya membelalak. Enak. Sangat enak. Tanpa sadar, ia mulai menyuap lebih besar.

​"Kenapa enak?" gumamnya tak percaya.

​"Ya... kan sudah kubilang, yang murah bukan berarti murahan," jawab Reyhan pendek.

​Vanya tidak lagi mempedulikan gengsinya. Rasa lapar mengalahkan segalanya. Sambil mengunyah, ia memberanikan diri bertanya, "Kenapa kamu sholat?"

​Reyhan menoleh. "Pertanyaan random. Ya aku sholat karena aku muslim. Terus, kenapa kamu tidak sholat? Jangan-jangan bukan muslim, atau kamu lagi 'M'?"

​"M? Maksudmu menstruasi?" tanya Vanya polos.

​"Bukan. Males," sahut Reyhan datar.

​Vanya mencibir keras. Aku tidak pernah diajarkan sholat. Al-Fatihah saja aku tidak hafal benar, batinnya sedih. Ada yang aneh dengan pria ini. Suaranya saat mengaji, caranya bersikap... Aku harus berhati-hati, mungkin ini bagian dari rencana jahatnya untuk membuatku jatuh cinta lalu dia mengambil semua harta Papa.

​Selesai makan, Reyhan membereskan bekas bungkusan dengan rapi. Ia lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan dua lembar uang lima puluh ribuan. Ia meletakkannya di atas tikar.

​"Nih. Anggap saja ini uang nafkah pertamaku untukmu," ucap Reyhan.

​Vanya menatap uang itu dengan hina. Seratus ribu? Itu bahkan tidak cukup untuk membeli satu cup kopi di kafe langganannya. Ia tidak mau menyentuhnya.

​Melihat Vanya diam, Reyhan menyimpan uang itu di dekat tas Vanya. "Bagiku, pernikahan—apapun bentuknya—adalah hal sakral dan harus dihormati. Aku minta maaf nafkahnya tidak sebesar uang jajanmu, tapi itu uang halal."

​Vanya hanya terdiam, tenggelam dalam dilema. Siapa sebenarnya pria ojol ini? Kenapa kata-katanya seringkali membuat Vanya merasa... kecil?

​Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar dari pintu depan. Tok! Tok! Tok!

​"Papa?" seru Vanya penuh harap. Ia langsung berdiri, berharap satu minggu neraka ini berakhir dalam hitungan jam. Namun, saat pintu dibuka, wajah yang muncul bukanlah ayahnya.

1
Dhatu Lukita
halo thor ceritanya menarik berbau2 cio ala ala dracin. saya suka saya suka 🤭😍
Katumbiri Lazuardi: terima kasih...
dracin religi 😄😄😄.

🤭🤭...

sehat dan sukses ya kak
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
chikc-lit..
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!