NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis / Tamat
Popularitas:494
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 31 Aura Selir Ratih Masih Seorang Ratu

Malam di kediaman utama ratu terasa sunyi namun berat, seolah udara sendiri ikut menahan napas. Lampu-lampu emas di sepanjang koridor tetap menyala terang, memantulkan kemewahan yang dingin di dinding marmer.

Di dalam ruang utama, Ratu Shima duduk tegak di singgasananya, jemarinya memegang cangkir teh dengan gerakan perlahan yang terukur, seperti seseorang yang selalu terbiasa mengendalikan segalanya.

“Ada kabar apa lagi malam ini?” suara Ratu Shima terdengar tenang, tapi ada tekanan halus di setiap katanya.

Seorang pelayan menunduk dalam sebelum menjawab, “Selir Ratih… datang menghadap, Yang Mulia.”

Gerakan tangan Ratu Shima berhenti sejenak. Tatapannya tidak berubah, tetapi udara di sekitarnya terasa sedikit lebih dingin.

“Biarkan dia masuk,” ucapnya singkat.

Tak lama kemudian, pintu besar itu terbuka. Selir Ratih melangkah masuk dengan tenang, wajahnya tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Meski pakaiannya sederhana dibanding kemegahan ratu, setiap langkahnya membawa wibawa yang tidak bisa diabaikan.

Dua wanita itu saling memandang cukup lama tanpa kata. Hening yang terjadi bukan kosong, melainkan penuh perhitungan.

“Aku kira kau sudah tidak tertarik lagi pada urusan istana,” ucap Ratu Shima akhirnya, dengan senyum tipis yang sulit dibaca.

Ratih membalas pelan, “Aku memang tidak tertarik pada istana.” Ia berhenti sejenak. “Aku hanya tertarik pada batas yang tidak boleh kau lewati.”

Senyum Ratu Shima sedikit memudar.

“Batas?” ulangnya pelan.

Ratih berjalan beberapa langkah, berhenti di dekat jendela besar yang memperlihatkan langit malam. Suaranya tetap tenang, tapi ada ketegasan yang tidak bisa disembunyikan.

“Jangan jadikan Aruna sebagai alat dalam permainanmu,” ucapnya. “Apa pun yang kau rencanakan untuk pernikahan itu.”

Ruangan menjadi semakin sunyi.

Ratu Shima akhirnya berdiri, tatapannya berubah tajam. “Kau datang jauh-jauh hanya untuk mengancamku?”

Ratih menoleh pelan. “Aku tidak mengancam.” Suaranya turun lebih pelan. “Aku mengingatkanmu, karena aku tahu apa yang bisa terjadi jika kau memaksakan kehendakmu.”

Beberapa pelayan menunduk lebih dalam, tidak berani bergerak sedikit pun. Aura dua wanita itu membuat ruangan terasa seperti medan yang bisa pecah kapan saja.

Ratu Shima tersenyum dingin. “Kau berbicara seolah masih menjadi ratu di sini.”

Ratih tidak tersinggung. Justru tatapannya menjadi lebih dalam. “Dan kau berbicara seolah tak pernah menjadi selir.”

Kalimat itu membuat udara seketika membeku.

Ratu Shima mengepalkan tangannya di balik lengan bajunya, tetapi wajahnya tetap terjaga. “Pergi sebelum aku menganggap ini sebagai penghinaan.”

Ratih tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ratu itu beberapa detik, lalu berbalik perlahan.

Sebelum benar-benar pergi, suaranya terdengar pelan namun jelas, “Aku tidak akan diam jika putraku dijadikan korban.”

Setelah itu, langkahnya menghilang di balik pintu.

Ratu Shima tetap berdiri lama di tempatnya, tanpa bergerak. Untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan sepenuhnya—dan itu membuatnya tidak nyaman.

Di tempat lain, malam di aula cenayang masih menyisakan dingin yang belum hilang. Cahaya lilin berpendar pelan, menciptakan bayangan panjang di lantai kayu. Arum duduk diam, tubuhnya sedikit gemetar, wajahnya pucat seperti seseorang yang baru saja tersentuh sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.

“Aku melihatnya lagi…” suara Arum lirih, hampir seperti bisikan. “Aruna… dia seperti akan hilang.”

Cenayang Wu yang berdiri di depannya langsung menatap tajam, lalu berjongkok sedikit agar sejajar dengan Arum.

“Tarik napas,” ucapnya tegas namun terkendali. “Jangan biarkan penglihatan menguasaimu.”

Arum menggeleng kecil, napasnya tidak stabil. “Tapi rasanya nyata… seperti benar-benar terjadi.”

Suasana di aula langsung berubah tegang. Beberapa cenayang muda saling pandang, tidak berani berbicara keras.

“Kalau itu penglihatan masa depan,” ucap salah satu dari mereka pelan, “berarti sesuatu akan terjadi pada garis takdir mereka.”

Cenayang Wu mengangkat tangan, menghentikan bisik-bisik itu. “Tidak semua yang kau lihat adalah kepastian.” Tatapannya kembali pada Arum. “Ada kalanya itu hanya pantulan dari ketakutanmu.”

Arum menunduk, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Kalau aku salah… kenapa rasanya sakit sekali?”

Cenayang Wu terdiam sejenak. Lalu ia berkata lebih pelan, “Karena hatimu sudah mulai terhubung dengan takdir itu.”

Kalimat itu membuat Arum diam.

Malam semakin larut ketika aula akhirnya mulai kosong. Arum masih duduk di tempatnya, tidak mampu benar-benar tenang. Di luar, angin malam bergerak pelan, membawa suara lonceng kecil yang bergoyang tanpa arah.

“Aku tidak ingin melihat itu lagi…” suara Arum hampir tidak terdengar.

Cenayang Wu menatapnya lama sebelum menjawab. “Kau tidak bisa memilih apa yang kau lihat.”

Arum menggenggam tangannya sendiri kuat-kuat. “Kalau begitu… aku harus apa?”

Cenayang Wu berdiri perlahan, bayangannya jatuh panjang di lantai.

“Bertahan,” ucapnya singkat. “Karena mulai sekarang, yang kau hadapi bukan hanya masa lalu.”

Arum mengangkat wajah, bingung.

“Tapi juga masa depan yang belum seharusnya terjadi.”

Hening jatuh di antara mereka.

Dan untuk pertama kalinya, Arum merasa bahwa dunia yang ia jalani bukan lagi sekadar hidup—melainkan sesuatu yang sedang bergerak menuju sesuatu yang tidak bisa ia hentikan.

Malam di kediaman Cenayang Wu terasa semakin pekat, hanya ditemani cahaya lampu minyak yang berayun pelan diterpa angin. Bayangan pepohonan di halaman bergerak seperti sesuatu yang hidup, membuat suasana terasa sunyi namun tidak benar-benar tenang.

Di teras kayu, Arum dan Ravin masih duduk berhadapan, suara mereka turun pelan seperti takut mengganggu malam.

“Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat tadi,” ucap Arum pelan, jemarinya meremas ujung kain bajunya sendiri. “Itu benar-benar Selina… tapi kenapa dia seperti orang lain?”

Ravin tidak langsung menjawab. Tatapannya kosong, masih terjebak pada sosok yang baru saja muncul di hadapannya. Setelah beberapa detik, ia baru membuka suara, “Aku juga tidak ngerti…” suaranya terdengar berat. “Dia bahkan bilang tidak mengenal kita.”

Arum menoleh cepat. “Tapi itu adikmu, kan?”

Ravin mengangguk pelan, lalu tertawa kecil pahit. “Iya… harusnya iya.”

Suasana langsung hening. Angin malam berhembus lebih dingin dari sebelumnya, membuat keduanya terdiam cukup lama.

“Aku takut kalau dunia ini memang berubah lebih dari yang kita kira,” ucap Arum akhirnya, suaranya hampir seperti bisikan. “Kalau orang yang kita kenal saja bisa menjadi seperti orang asing…”

Ravin menatap ke arah halaman gelap di depannya. “Atau kita yang sebenarnya sudah tidak ada di tempat yang sama lagi.”

Kalimat itu membuat Arum terdiam. Dadanya terasa sesak, tapi ia tidak tahu harus membantah apa.

Di saat yang sama, dari dalam aula Cenayang Wu, cahaya lilin bergetar lembut. Ruangan itu masih menyisakan aroma dupa yang pekat. Cenayang Wu duduk santai di hadapan seorang wanita muda bernama Yen, yang tengah menyeruput tehnya pelan dengan ekspresi lelah.

“Guru masih saja memanggilku di waktu seperti ini,” ucap Yen pelan, tanpa menatap langsung. “Aku hampir tidak punya waktu untuk bernapas sekarang.”

Cenayang Wu tersenyum kecil. “Kalau kau benar-benar tidak bisa datang, kau tidak akan ada di sini.”

Yen mendengus pelan. “Terlalu mengenalku, seperti biasa.”

Ia meletakkan cangkir tehnya, lalu menyandarkan tubuh dengan malas. “Jadi, langsung saja. Kau butuh apa dariku?”

Cenayang Wu tidak menjawab langsung. Tatapannya menjadi sedikit lebih serius.

“Shima mulai bergerak,” ucapnya akhirnya.

Yen terdiam sesaat. Lalu tertawa kecil tanpa humor. “Wanita itu memang tidak pernah berubah.”

“Karena itu aku butuh bantuanmu,” lanjut Cenayang Wu.

Yen menghela napas panjang. “Aku tahu ini bukan hal kecil kalau sampai kau memintaku turun tangan lagi.”

Tatapannya berubah lebih dingin. “Tapi kalau ini menyangkut istana… berarti akan banyak darah di baliknya, kan?”

Cenayang Wu tidak menyangkal. Hanya diam.

Yen memejamkan mata sebentar, lalu membuka lagi dengan ekspresi datar. “Baiklah. Tapi kali ini aku tidak akan bermain lembut.”

Suasana kembali sunyi, hanya suara angin yang masuk dari jendela kayu.

Di sisi lain istana, pagi mulai terasa sibuk sejak matahari belum sepenuhnya naik. Kediaman calon Putri Mahkota dipenuhi langkah tergesa para pelayan yang membawa kain, perhiasan, dan perlengkapan upacara. Ajeng duduk di tengah ruangan dengan surat terbuka di tangannya, matanya tidak berkedip cukup lama.

“Apa ini benar…” gumamnya pelan.

Pelayan di sampingnya tersenyum hati-hati. “Itu surat resmi dari Putra Mahkota, Nona.”

Ajeng mengangkat wajahnya perlahan. “Dia… mengajakku keluar?”

Pelayan itu mengangguk.

Untuk sesaat, ruangan itu terasa berhenti.

Lalu tiba-tiba—

Ajeng tersenyum kecil, lalu perlahan berubah menjadi senyum gugup yang tidak bisa ia sembunyikan. “Aku harus bagaimana…?”

Ia berdiri panik kecil, mondar-mandir di ruangan. “Kalau aku salah pilih pakaian… kalau aku terlihat tidak pantas…”

Pelayan langsung tertawa pelan. “Nona, Putra Mahkota pasti sudah tahu Nona seperti apa.”

“Tapi…” Ajeng berhenti, menatap cermin. “Bagaimana kalau ini hanya formalitas?”

Suasana berubah sedikit hening.

Namun kemudian ia tersenyum lagi, lebih kecil,

lebih rapuh. “Tapi kalau ini bukan…”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Di luar, angin pagi bergerak pelan di antara pepohonan istana, seolah membawa harapan yang tidak berani diucapkan keras-keras oleh siapa pun di dalam ruangan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!