"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30 Vitamin Cinta
Xavier memaksa tubuh lemasnya bangkit dari posisi berbaring. Otot-ototnya bergetar, tapi tekadnya mengalahkan segala keterbatasan fisik.
"Ryu, gue mau ke Desa W sekarang," ujarnya lirih.
Refleks, Ryuga sigap menopang bahu Xavier, lalu menata dua bantal agar punggung kakak iparnya itu bisa bersandar dengan nyaman.
"Istirahat dulu, Vier. Besok kalau kondisi lo udah stabil, baru kita berangkat," tutur Ryuga tegas.
"Gue udah baikan. Tadi, gue cuma kurang tidur."
"Bukan cuma kurang tidur. Lo dehidrasi, kurang gizi, dan defisit vitamin C parah."
"Ck, nanti gue beli sendiri di apotek," sahut Xavier, sambil berusaha menggeser posisinya.
"Vitamin C yang lo butuhin nggak dijual di apotek. Limited edition."
Xavier mengernyit, alisnya saling bertaut. "Maksud lo?"
"Vitamin Cinta," sahut Ryuga cepat, sudut bibirnya terangkat tipis. "Lo butuh cinta, kehadiran, dan penerimaan. Dan sumber cinta lo ada di tempat yang lumayan jauh. Karena kondisi fisik lo masih lemah, biar gue yang jemput dia ke sini."
Xavier terdiam sejenak, mencerna kata-kata Ryuga. Otaknya yang masih kabur langsung mengarah pada satu nama: Gea.
"Ngaco! Lo nggak mungkin bisa bawa Gea kembali ke dunia," cetus Xavier dingin, meski ada getar sedih di suaranya.
"Bukan Gea. Tapi Sukma. Wanita yang mengandung anak lo."
Hening menyergap ruangan.
Dada Xavier sesak mendengar nama itu disebut. Ia menunduk, menatap telapak tangannya yang gemetar.
"Gue... cuma butuh maaf," bisiknya parau. "Gue cuma butuh diterima. Gue nggak berani berharap lebih. Gue sadar diri. Gue nggak pantas dicintai wanita yang udah gue hancurin kehormatannya."
"Bukan nggak pantas, tapi belum," potong suara lembut namun tegas.
Atensi Xavier seketika beralih.
Di ambang pintu kamar, Nara berdiri tepat di sisi Haidar. Gadis itu menatap Xavier lekat-lekat, seolah ingin menembus topeng kesombongannya yang mulai retak.
"Insyaf, tobat, perbaiki diri, dan berusahalah meluluhkan hati Sukma, sebelum terlambat," lanjut Nara. Setiap katanya jatuh dengan bobot yang berat di telinga Xavier.
Xavier mengerutkan kening, firasat buruk tiba-tiba menyergap dadanya. "Maksud lo... apa?"
Nara menarik napas panjang, lalu melepaskan bom kalimat yang membuat darah Xavier seakan membeku.
"Kyai Farhan dan keluarganya berniat melanjutkan niat tulus mereka. Meminta Sukma untuk menjadi bagian dari keluarga besar pesantren. Menikahkannya dengan Ustaz Reinan."
Deg!
Jantung Xavier berdenyut nyeri, serasa diremas tangan tak kasatmata.
Entah mengapa, ia merasa tak rela--bahkan marah--jika Sukma lebih memilih sosok suci seperti Ustaz Reinan ketimbang dirinya yang penuh noda.
"Reinan?" desis Xavier, suaranya bergetar menahan amarah dan kecemburuan yang seketika hadir--menyusup ke dalam relung kalbu.
Ia memaksa tubuhnya bangkit dari ranjang, namun segera dicegah oleh Ryuga.
"Lo masih harus istirahat, Vier. Besok pagi baru boleh pulang."
"Ck, kelamaan. Gue udah baikan."
"Dasar keras kepala!"
"Kita sama."
"Jelas beda. Gue nikahin Aluna dulu baru nanam benih. Lo, nyicil dulu baru mau tanggung jawab."
Xavier mendengus kesal. Ingin rasanya menggeplak kepala Ryuga, sayang tangannya masih terasa lemas.
"Gue bilang ke Dokter Raikhan dulu, lo tunggu di sini," titah Ryuga yang tak menerima bantahan, lantas berlalu meninggalkan ruang rawat inap yang dihuni oleh Xavier.
Selepas Ryuga pergi, Xavier berniat memindah posisi duduknya ke sofa. Haidar tidak tinggal diam. Ia bergerak cepat membantu Xavier, menopang tubuh lelaki itu agar tidak jatuh.
Tanpa menunggu waktu lama, Ryuga kembali dengan membawa kabar baik, tentu bersama Dokter Raikhan. Dokter berusia sepuh tapi masih terlihat tampan dan kharismatik.
"Jadi benar, kamu ingin pulang hari ini?" tanya Dokter Raikhan.
Xavier mengangguk pelan. "Iya, Dok."
"Baiklah, tapi ada beberapa syarat yang harus kamu patuhi." Dokter Raikhan menjeda sejenak ucapannya, lantas mengalihkan atensinya pada Ryuga. "Ryu, kamu sampaikan syarat yang sudah saya tuturkan tadi."
"Baik, Dok." Ryuga mengindahkan perintah itu, lalu mengunci perhatiannya pada Xavier.
"Pertama," ujarnya dengan nada suara tenang, namun tegas khas seorang Presma, "Lo wajib minum obat antiemetik tiap enam jam sekali buat nahan mual. Nggak ada alasan lupa atau males."
Lagi, Xavier mengangguk pelan, namun matanya sesekali melirik ke arah jam yang tergantung di dinding kamar rumah sakit. Ketidak sabarannya semakin meronta, tapi ia tahu tak ada gunanya membantah.
"Kedua," lanjut Ryuga serius, "Lo harus banyak minum cairan elektrolit. Tubuh lo kekurangan ion karena kebanyakan muntah. Kalau lo pusing lagi atau pandangan mulai gelap, langsung duduk atau tiduran. Jangan sok kuat."
Ryuga mengambil napas pendek, memastikan Xavier benar-benar menyimak setiap kata yang ia ucapkan.
"Ketiga, dan ini yang paling penting," Ryuga menatap tajam, suaranya merendah namun sarat peringatan. "Nggak ada aktivitas fisik berat. Stres bisa memicu mual lo kambuh lagi. Jadi, kalau ketemu Sukma nanti, jaga emosi lo. Buat dia tenang, bukan malah bikin lo sendiri yang kolaps di depan dia."
Hening kembali menyelimuti ruangan. Xavier menelan ludah, mencerna instruksi terakhir itu.
"Dokter Raikhan," panggil Xavier pelan, mencoba meyakinkan sosok medis di hadapannya. "Saya janji akan menjaga diri. Tapi... saat ini waktu sangat berarti bagi saya."
Dokter Raikhan tersenyum tipis, mengangguk paham. "Saya mengerti urgensi-mu. Namun, ingatlah: tubuh yang masih lemah tidak akan bisa dipaksa untuk menempuh perjalanan jauh. Pulang dan beristirahatlah dulu. Tunggu sampai kondisimu benar-benar membaik," tuturnya, menepuk pelan bahu Xavier sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Begitu suara derap langkah kaki Dokter Raikhan tak terdengar, Xavier berbisik lirih.
"Anter gue ke Desa W sekarang," pintanya penuh harap.
Ryuga menggeleng pelan, wajahnya datar namun sepasang matanya menatap tajam. "Kita ke rumah lo dulu, pamit sama papa mama karena gue nggak mau dibebani wasiat. Setelah itu... kita gas ke Desa W. Tapi ingat, lo harus jadi penumpang yang nurut. Bawa kantong plastik, biar nggak muntah di jok mobil."
Senyum tipis terukir di bibir Xavier, sebagai tanda persetujuan.
Setelah menyelesaikan administrasi, Ryuga menuntun Xavier melangkah menuju lobi klinik.
Ia merengkuh lengan Xavier, memastikan kakak iparnya tidak oleng meski langkah kakinya masih goyah. Di belakang mereka, Haidar dan Nara melangkah beriringan seperti dua pengawal yang turut memastikan ayunan kaki Sang Narendra.
Di parkiran, mobil sporty putih sudah menunggu, berkilau memantulkan sinar matahari siang yang terik.
Ryuga membukakan pintu untuk Xavier dan memintanya duduk di samping kemudi, lalu menghubungi Tara agar segera datang ke Kafe Renjana, mengambil sepeda motor Xavier.
Mobil sporty yang dikendarai Ryuga melesat, membelah kepadatan kota.
Begitu tiba di pertigaan Jalan Kenari, ia membelokkan setir ke arah kompleks perumahan elit tempat keluarga Xavier tinggal, kediaman Aditama.
"Lo serius mau pamit?" tanya Xavier ragu.
"Serius. Gue nggak mau nanti Mama Raina nangis-nangis nelpon gue, nanyain kenapa anaknya dibawa kabur dalam keadaan setengah hidup," jawab Ryuga datar, meski matanya menyiratkan kekhawatiran.
"Kalau ditanya Mama, gue mesti jawab apa? Sumpah, gue nggak tega nambahin beban. Masalah keluarga gue udah banyak, dan gue... malah nyiptain masalah baru yang lebih besar."
"Telmi! Harusnya, lo mikir kayak gitu sebelum merenggut paksa kesucian Sukma."
Xavier menunduk, mengepalkan kedua tangannya, lantas mengembus napas berat. "Gue emang telmi. Gue bodoh. Gue selalu ngandelin emosi. Nggak pernah nyelesaiin masalah pakai otak."
Hening sejenak menyelimuti kabin mobil.
Ryuga tidak langsung membalas. Ia hanya menatap lurus ke arah gerbang besi megah kediaman Aditama yang semakin terlihat dekat, memberikan Xavier ruang untuk menelan rasa bersalahnya sendiri.
"Gue nggak butuh lo jadi jenius, Vier," ucap Ryuga akhirnya, suaranya lebih rendah dan tenang. "Gue cuma butuh lo jadi lelaki yang bertanggung jawab. Dan langkah pertama tanggung jawab itu bukan lari, tapi menghadapi. Termasuk menghadapi orang tua lo sendiri."
Perlahan, Xavier mengangkat wajahnya. Memperlihatkan sepasang mata elangnya yang mengembun. "Tapi gue belum siap buat ngomong jujur. Bilang yang sebenarnya... kalau gue udah ngelakuin dosa besar dan mau nikahin Sukma. Mama pasti syok. Papa bakalan marah besar kalau tahu anak laki-laki yang harusnya bisa diandelin, ternyata blangsak. Lebih parah dari beliau."
Ryuga tersenyum getir. Ia sangat paham kegalauan yang dirasakan Xavier saat ini.
"Gini aja. Kita pamit mo observasi tempat buat ngejalanin proyek bakti sosial BEM. Gimana? Kebetulan, gue lagi ada proyek sama anak-anak. Mengedukasi warga mengenai ilmu hukum dan bagi-bagi sembako."
Xavier mengerutkan kening, mencoba mencerna alasan tersebut. "Bakti sosial? Di Desa W?"
"Iya. Kan Desa W ... daerah terpencil yang butuh perhatian. Alasan itu masuk akal buat dapat izin. Mama Raina pasti bangga anaknya mau berbuat baik."
Xavier terdiam sesaat, mempertimbangkan opsi itu. Jauh lebih ringan daripada harus menjelaskan tentang perbuatan terkutuk yang dilakukannya hingga membuat Sukma hamil.
"Oke," desis Xavier pelan, suaranya terdengar serak. "Gue ikut skenario lo. Tapi ... jangan lama-lama pamitnya. Gue nggak mau Reinan melangkah lebih jauh."
"Bilang aja, lo takut kehilangan Sukma." Ryuga mengulum senyum. Ia mematikan mesin mobil sporty putih miliknya tepat di depan garasi rumah megah bercat putih krem.
Kediaman Aditama tampak tenang, namun bagi Xavier, setiap pilar-pilar megah di sana seolah menatapnya dengan tatapan penghakiman.
🍁🍁🍁
Bersambung
intinya..Sukma itu sebenarnya sdah tidak marah. sudah memaafkan. hanya belum disadari. belum dirasakan. atau justru sdah disadari, tapi ditolak..
pertanyaannya, dgn itu, dia lagi menghukum sapir, atau menghukum dirinya sendiri...
apa nyampek beringharjo..diam bentar. trus ngomong gitu..aja..ya udah terserahlah..
Aku suka ini Sapirr
sukma itu lagi menemukan salah satu tanda kebesaran Allah..harusnya bertasbih dia, bukan disuruh baca istighfar
sekarang kau dh nggk benci lho ma kamu🤭