NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Andara

Cinta Untuk Andara

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bareta

Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.



Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.



Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.



Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.




Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?



Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sambil menunggu Deswita, Andara tidak bisa berhenti berdecak, mengagumi rumah mewah ala kota besar yang baru pertama kali dipijaknya seumur hidup.

Rumah keluarga Irfan, mantan suami Andara, mendadak jadi tidak ada apa-apanya padahal di desa tempat tinggal Andara, keluarga Kuncoro adalah orang terkaya se-kabupaten.

Tatanan rumah Baskara tidak bergaya Versace tapi minimalis didominasi perabotan kayu dengan warna alami. Meski modelnya simple tanpa ukiran, Andara yakin nilainya sangat mahal karena terlihat elegan dan artistik.

“Kagum sih boleh tapi jangan norak gitu dong ! Wong ndeso-nya kambuh,” ledek Rio.

“Memang saya wong ndeso,” sahut Andara santai dan tetap sibuk mengamati seantero rumah.

“Di kampung nggak ada yang punya rumah kayak gini. Kesempatan langka bisa masuk rumah orang kaya jadi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya biar besok-besok nggak norak lagi.”

Rio terkekeh, sikap polos dan kekanakan Andara tidak bisa lepas dari usianya.

“Ngomong-ngomong pak Rio nggak dicariin pak Baskara ? Kan situ aspri-nya, tumben banget bisa pergi lama-lama.”

“Pak Bas lagi ke Singapura sama tuan Herman, suaminya nyonya Deswita alias bapak kandungnya pak Bas.”

Andara menoleh, ditatapnya Rio dengan kedua alis menaut.

“Tinggal bilang pak Bas lagi pergi sama papanya ribet amat sih. Muter-muter kayak gasing.”

Kembali Rio terkekeh namun tidak lanjut bicara karena yang ditunggu sudah datang.

”Selamat sore Nyonya.”

Melihat Rio berdiri, Andara cepat-cepat bangun dan ikut membungkukkan badan sedikit.

“Sudah menunggu lama ya ?”

Memang beda kalau orang kaya beneran, batin Andara yang menganggumi cara bicara Deswita.

“Tidak nyonya.”

Sebelum diminta, Andara tidak berani mendongak bahkan melirik pun tidak. Namun matanya sempat melihat kaki Deswita yang putih bersih.

“Kamu yang namanya Andara ya ?”

Rio menyikut lengan Andara dan memberi isyarat supaya menatap Deswita saat menjawab

“Iya Nyonya.”

Suara Andara bergetar bahkan wajahnya kelihatan tegang padahal Deswita sedang tersenyum padanya.

“Kok kamu kelihatan kayak masih anak-anak. Umur berapa ?”

“Duapuluh tahun Nyonya.” Deswira menganggguk-angguk

“Duduk sini, biar lebih enak ngobrolnya.”Deswita menunjuk tempat kosong di sampingnya, di sofa panjang.

Andara tidak langsung bergerak, ia melirik Rio dan setelah pria itu mengangguk barulah Andara berani mengikuti permintaan Deswita.

Saking gugupnya, amplop cokelat besar yang dibawa-bawa untuk melamar kerja jatuh ke lantai. Bentuknya sudah tidak terlalu rapi gara-gara Andara pakai sebagai kipas.

“Itu apa ?”

“Ngggg…. Surat lamaran saya Nyonya. Tadi sebelum dijemput pak Rio, saya sedang mencoba melamar pekerjaan.”

“Boleh saya lihat isinya ? Anggap saja kamu sedang melamar untuk kerja sama saya.”

Tidak mungkin Andara bilang tidak boleh. Ia pun mengeluarkan berkas pribadinya dan memberikan pada Deswita.

“Sambil duduk.” Desiwta mempersilakan kedua tamunya duduk.

Selama menunggu Dewita membaca, Andara melirik Rio tapi sayangnya pria itu malah sibuk dengan gawai.

“Saya dengar anakmu baru meninggal. Sakit ?”

“Iya Bu… eh Nyonya,” sahut Andara dengan wajah sendu.

“Nggak apa-apa mau panggil ibu juga, tidak usah tegang begitu,” canda Deswita sambil tertawa pelan.

“Rio aja sukanya panggil nyonya padahal saya lebih suka dipanggil ibu,”

“Maaf, biar saya tidak tertukar dengan panggilan pak Baskara dan almarhum ibu Fanny,” sahut Rio.

“Paham Rio,” sahut Deswita di sela tawanya.

“Kamu hamil karena nikah paksa atau kecelakaan Andara ?”

“Panggil saja Ara, Bu. Saya sudah yatim piatu sejak kelas 2 SMA, begitu lulus paman menyuruh saya menikah dengan harapan ada yang membimbing dan kehidupan saya lebih terjamin.”

“Tapi saya dengar kamu kabur ke Jakarta sama anak kamu ?”

“Saya bukan kabur Bu tapi dicerai suami karena dituduh berzinah begitu tahu saya hamil.”

Deswita menautkan kedua alisnya menatap Andara yang tersenyum tipis.

“Maaf Bu, ceritanya panjang dan harus membuka aib rumah tangga saya dan suami. Saya cuma bisa bilang kalau semua itu tidak benar.”

“Saya setuju dengan pemilkiranmu, Ara,” puji Deswita. “Saya percaya kalau kamu adalah anak baik-baik.”

“Terima kasih Bu.”

“Itu sebabnya saya minta Rio membawa kamu kemari. Saya ingin secepatnya mempekerjakan kamu sebagai pegasuh sekaligus ibu susunya Lily.”

Mata Andara membola. “Memangnya Lily kenapa lagi Bu ? Apa Lily sakit atau rewel lagi ? Waktu bu Mira menjemputnya….”

Rio berdehem dan menggeleng pelan.

“Maaf Bu.”

Deswita tertawa. “Tidak apa-apa. Kekhawatiranmu adalah bentuk kasih sayang dan kepedulian pada cucu saya.”

“Apa kamu bersedia menerima tawaran saya ?”

“Nnggggg….” Andara tidak berani menjawab karena yang terbayang justru wajah Baskara.

“Soal Baskara jadi urusan saya.” Seakan-akan Deswita bisa membaca pikiran Andara.

“Meskipun bekerja di rumah Baskara dan mengasuh anak-anaknya, kamu bertanggungjawab pada saya.”

“Anak-anak ?” gumam Andara dengan dahi berkerut.

“Selain Lily ada Daisy, putri pak Baskara yang berumur 6 tahun,” ujar Rio menjelaskan.

“Tentu saja kamu tetap menjadi ibu susunya Lily juga dan Deasy punya pengasuh sendiri. Akhir-kahir sikap Daisy suka melawan apalagi setelah mamanya meninggal.”

“Saya mengerti Bu.”

“Soal gaji tidak usah khawatir. Saya akan memberikan kamu sesuai tanggungjawab dan tugasmu di rumah ini.”

“Baik Bu.”

“Kamu bisa bekerja mulai besok. Hari ini Rio akan membantu mengurus kepindahanmu kemari.”

Sekilas Andara dan Rio bertatapan.

“Baik Nyonya.”

“Boleh saya bertanya Bu ?” Dengan suara takut-takut Andara angkat bicara.

“Tentu saja.”

“Bagaiamana dengan bu Mira ? Apa beliau tidak masalah saya kembali jadi ibu susu Lily dan membantu mengasuh Daisy ?”

Deswita menghela nafas sambil tersenyum tipis.

“Saya belum bisa menceritakan detilnya sekarang tapi seiring berjalannya waktu, kamu pasti akan paham dengan sendirinya. Bukan Mira yang perlu kamu khawatirkan tapi bagaimana menghadapi Baskara yang keras.”

Andara tidak berani bertanya lebih lanjut.

“Tapi tidak usah takut, Rio akan membantumu, mengajarkan bagaimana menundukkan Baskara. Bukan begitu Rio,”

Rio menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Tentu saja saya akan membantu Ara.”

“Ada lagi yang mau ditanyakan ?” Deswita menatap Andara yang menggeleng.

“Untuk sementara belum ada Bu.”

“Oh ya, saya tidak tinggal di sini tapi kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi saya. Rio, berikan nomor saya ke Andara, kasih yang belakangnya 1112.”

“Baik Nyonya.”

“Kalau begitu Rio akan mengantarmu pulang supaya kamu bisa berkemas. Besok pagi kita bertemu lagi di rumah Mira untuk menjemput anak-anak.”

“Baa…ik Bu.”

Tanpa menunggu lebih lama, Rio mengajak Andara berpamitan.

“Besok aku jemput jam setengah tujuh di ujung gang,” ujar Rio saat mobil sudah meluncur di jalan raya.

“Memangnya pak Rio tahu dimana saya tinggal ?” Andara mengangkat alisnya sebelah karena pria itu tidak bertanya soal alamat.

“Tentu saja tahu. Jangankan tempat kostmu, siapa mantan suamimu saja aku tahu.”

“Jadi pak Rio menyelidik diam-diam ?”

“Tentu saja. Aku harus memastikan tujuan orang-orang yang mendadak muncul di keluarga Adiguna.”

“Bukan aku yang ingin dekat-dekat mereka tapi karena dokter Dita memaksaku !” protes Andara.

Rio hanya tersenyum tanpa bicara panjang lebar.

1
Baretta
Terima kasih Kak Evi Lusiana 😊😊
Evi Lusiana
mampur thor,awal yg menyedihkan smoga andara sgra mnemukan kebahagiaan,semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!