Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyebab utama
Di ruang kerjanya yang luas dan tenang, Danish duduk bersandar santai di kursi kerjanya yang empuk. Jari-jarinya bergerak pelan memutar pulpen, sedangkan pikirannya terus saja terlintas kembali pada ucapan satu per satu anggota keluarganya yang seolah mendukung hubungannya dengan Alma.
Danish menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Benarkah aku sudah jatuh cinta padanya?" batinnya bertanya dengan bimbang. "Tapi kan, aku sama dia sudah bersahabat sejak lama. Selama ini kami memang dekat, tapi hanya sebatas saling bantu dan memberi dukungan, nggak ada apa-apa. Aku selalu menganggapnya seperti saudara sendiri."
"Tapi... kenapa setiap kali aku melihatnya menangis dan terluka, hatiku ikut merasakan perih? Di saat membantunya, seakan ada kekuatan yang entah apa itu, muncul dari dalam diriku? Apakah benar... rasaku ini sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan?"
Danish masih larut dalam kebingungannya sendiri, berusaha menelaah apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya. Hingga ponsel di atas meja kerjanya bergetar tanda pesan masuk. Dia meraihnya, dan melihat nama Darrel tertulis di layar.
Dengan penasaran, Danish segera membuka pesan tersebut yang ternyata berupa file video. Dia pun memutar video tersebut.
Di dalam video itu, memperlihatkan sosok Nova tengah berdiri gugup di depan meja besar. Wajahnya tampak bingung dan tidak tenang sama sekali. Hingga akhirnya pria itu gagal menjelaskan laporannya dengan berbicara tidak karuan dan terbata-bata, tanpa ada selembar pun berkas di tangannya. Mukanya terlihat merah padam ketika mendapat teguran tegas oleh Darrel, serta menunduk tak berkutik mendengar kekecewaan atasannya.
Melihat pemandangan itu, yang mana selama ini Nova selalu tampil sempurna dan merasa paling hebat, kini jatuh terpuruk dan malu tak berdaya. Bibir Danish perlahan terangkat. Mulanya hanya senyum tipis, lalu melebar, hingga akhirnya pemuda itu tertawa begitu lepas seakan menikmati ketidakberdayaan Nova.
"Hahaha... Hahaha...!" tawanya bergema renyah di ruangan itu. Matanya berkilat penuh kepuasan saat mematikan layar ponselnya.
"Kerja bagus," gumamnya pelan, senyum puas masih menghiasi bibirnya. "Ternyata cuma segitu kemampuanmu. Tanpa Alma, kamu hanyalah sampah yang nggak ada apa-apanya!"
"Ini baru permulaan, tapi kamu sudah kalah telak. Bagaimana nanti saat Alma duduk di posisi itu... aku ingin lihat seberapa keras kamu bisa bertahan."
Danish meletakkan kembali ponselnya di meja, senyum puas belum hilang dari wajahnya. Tiba-tiba, bayangan wajah Alma melintas begitu saja di benaknya. Rasa bimbang yang tadi mengganggunya perlahan hilang, digantikan perasaan hangat yang merayap ke setiap sudut hatinya.
"Mungkin... mungkin mereka memang benar," batinnya tersenyum kecil, kini tak lagi bingung. "Mungkin aku memang sudah jatuh cinta padanya sejak lama tanpa kusadari."
"Tapi, apa pun yang terjadi nanti, aku akan tetap ada di sampingnya dan mendukungnya. Aku akan pastikan si pecundang itu menanggung semua rasa sakit yang pernah dia berikan padanya!"
Kemudian, Danish meneruskan pesan dari Darrel tersebut ke nomor Alma, lalu menulis pesan. "Semoga kamu suka." disertai emoticon tertawa.
Di apartemennya, Alma yang sedang berkutat di dapur membuat sarapan, langsung mematikan kompor begitu terdengar bunyi pesan di ponselnya. Ia tersenyum kala mendapati nama Danish tertera di layar, lalu dengan tidak sabar langsung membuka pesan itu dan memutarnya.
Senyum Alma berubah dingin saat menyaksikan bagaimana Nova yang sangat tidak kompeten dalam berpresentasi. Ia pun langsung menghubungi Danish.
"Lihatlah, betapa bodoh dan memalukannya dia! Aku jadi makin nggak sabar pengin melihatnya langsung. Pasti akan sangat menarik!" ucapnya seraya mengepalkan kedua tangannya di atas meja. Netranya berkilat dengan seringai licik terukir di bibirnya.
Tawa renyah Danish terdengar dari seberang, mendengar ucapan Alma. Pemuda itu pun ikut merasakan apa yang sahabatnya rasakan.
"Ya, kamu benar. Tanpa kamu, dia sama sekali nggak punya kemampuan apa-apa. Lihat saja kelakuannya di video itu, kacau balau dan menyedihkan sekali," jawab Danish dengan nada meremehkan.
"Karena selama ini dia cuma tahu menikmati hasilnya saja, tak perlu bersusah payah kerja keras. Dan sekarang dia baru tahu rasa. Itulah akibatnya jika dia berani berbuat sewenang-wenang padaku," sahut Alma, suaranya rendah namun penuh penekanan.
Alma berjalan pelan menuju jendela, menatap ke luar sana dengan pandangan tajam.
"Saat ini dia pasti sedang bingung mencariku ke mana-mana, karena dia sadar betul, nggak akan sanggup bertahan satu hari pun tanpa bantuanku. Dia butuh aku hanya sebagai alat penunjang kesuksesannya yang palsu itu."
"Tapi, alat itu sekarang sudah berubah menjadi ancaman terbesarnya," sela Danish cepat.
"Ingat, minggu depan saat kamu bertemu langsung dengan Papi dan tim penilai, tunjukkanlah kemampuan terbaikmu. Buktikan pada mereka siapa sosok yang sebenarnya berhak menduduki posisi itu. Darrel sudah sangat kecewa melihat kinerja Nova, itu artinya peluangmu sudah terbuka sangat lebar."
Alma tersenyum tipis, begitu dingin tetapi penuh tekad dan keyakinan.
"Tenang saja, Nish. Aku sudah menyiapkan segalanya dengan matang. Aku akan datang bukan hanya untuk bersaing, tapi untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku sejak dulu."
"Ketika nanti aku resmi menjadi atasannya, aku pastikan dia akan merasakan bagaimana hari-harinya nggak ada ketenangan dan terus tertekan sampai akhirnya aku membuangnya ke tempat yang semestinya!"
"Bagus sekali. Aku mendukungmu sepenuhnya. Nikmati prosesnya, Al. Ini baru permulaan dari segala pembalasan yang pantas dia terima," ucap Danish tegas sebelum memutus sambungan telepon.
Alma meletakkan ponselnya kembali ke meja dapur, menatap makanan yang sudah matang, tetapi tak lagi menjadi prioritasnya. Di dalam hatinya, rasa puas dan semangat berjuang bercampur menjadi satu. Langkah besarnya kini sudah di depan mata, dan Nova tak akan punya jalan lain selain menunggu kehancurannya.
.
Sementara itu, Nova tampak semakin stres dengan tumpukan berkas yang seakan tak ada habisnya. Pikirannya kacau tak bisa fokus dengan pekerjaan. Matanya menatap berlembar-lembar dokumen di atas meja, tetapi tak satu pun kalimat yang masuk ke akal sehatnya.
Dia mengacak-acak rambutnya dengan kasar, napasnya memburu tak beraturan. Berkali-kali pria mencoba mengetikkan sesuatu, tetapi selalu berujung berantakan dan gagal. Sementara di telinganya, kata-kata Darrel masih terus bergaung laksana kutukan. Kekecewaan itu, tatapan tajamnya dan peringatan keras soal posisi yang diincarnya... semuanya terasa mencekik lehernya.
"Di mana kamu, Alma? Menghilang ke mana kamu, hah!" geramnya pelan, suaranya parau menahan emosi yang meledak-ledak.
"Kalau saja kamu ada di sini, semua ini pasti sudah beres. Kamu yang akan selesaikan semuanya sampai rapi, tinggal aku tanda tangan saja! Kenapa kamu harus pergi dan membuat hidupku susah begini? Kenapa...!!!"
Alih-alih menyalahkan dirinya sendiri, Nova justru makin mengkambinghitamkan Alma. Di benaknya, wanita itu adalah penyebab utama atas segala malapetaka yang menimpanya sekarang.