"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 36
•••
"Kenapa diam?" tanya Bara ketika menoleh dan malah melihat Anya masih saja berdiri terdiam di daun pintu. Tidak juga keluar dari kamar hotel. Anya membuang pandangannya, sedikit gugup dengan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Aku ... sedikit merasa malu. Ini bakal menjadi pertama kalinya aku interview di tempat seperti perusahaan," ungkap Anya, menunjukan keresahan yang sedari tadi memenuhi isi kepalanya.
Mendengar itu, membuat Bara membuang nafas pendeknya pelan. Menatap kebawah sebelum akhirnya menarik tangan Anya agar segera keluar dan berjalan di sampingnya.
"Eh?"
"Tidak perlu khawatir. Aku akan menemani mu," balas Bara meyakinkan Anya agar tidak ada lagi kecemasan dari wajahnya. Kini, Bara akhirnya berjalan keluar meninggalkan kamar hotel bersama Anya.
Saat baru saja berjalan beberapa langkah ingin menuju lift. Setiap orang yang bertemu Bara, selalu menyapa dan mengucapkan salam dengan sopan.
"Pagi pak ..." ucap dua orang yang bertemu Bara dengan pakaian kantor yang rapih. Ia menunduk berbarengan ketika berpapasan dengan Bara.
"Pagi," ucap Bara dingin. Langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka yang masih menunduk memberi hormat. Membuat Anya yang berada di sampingnya merasa heran.
"Kenapa orang-orang begitu menghormati pria seperti Bara?" gumam Anya pelan, berbicara sendiri di dalam hatinya. Kalau boleh jujur, Anya sedikit merasakan perbedaan yang besar. Saat sedang berjalan bersama Bara seperti ini.
Di tengah-tengah Anya yang masih melamun bingung, Bara kembali menarik sedikit tangan Anya agar terus berjalan di sampingnya. Ia tidak ingin terlambat saat sampai di perusahaan besar yang bernama Ara Tech.
•••
Ting!
Pintu lift yang sudah berada di lobby, otomatis terbuka dengan sendirinya. Di saat Anya dan Bara yang hanya berdua keluar dari dalam. Anya masih sedikit merasa cemas dengan pikirannya sendiri. Sesekali juga ia melirik wajah Bara yang terlihat sangat serius.
Dari sudut pandang Bara dan Anya yang baru saja melewati lorong, mereka melihat dua karyawan wanita yang berada di meja resepsionis terkesiap di saat Bara mendatanginya.
"Selamat pagi pak Bara ..." ucap salah satu wanita itu. Seraya menunduk memberi salam hormat pada Bara. Dan lagi-lagi hal ini membuat Anya semakin bingung. Apakah ini bagian dari SOP hotel?
"Pagi. Dimana kunci mobil ku?" tanya Bara dingin. Dengan ekspresinya yang datar ketika bicara dengan mereka.
"Ini pak ..." Salah satu dari mereka memberikan kunci mobil Bara. Kemudian, Bara kembali berjalan menuju mobilnya yang sedang terparkir di basement.
"Aaa ... siapa wanita beruntung di sebelah pak Bara yang ganteng itu? Aku iri ..." ucap wanita yang sempat berbicara sebentar dengan Bara.
"Entahlah ... mungkin tunangannya," sambung wanita di sebelahnya. Yang tidak mau ingin tahu urusan orang lain seperti temannya.
"Beruntungnya ..." sambungnya, sambil memangku wajah dengan kedua tangan di atas meja. Ia merasa cemburu dengan Anya yang terus di pegang tangannya oleh Bara.
•••
Ketika mereka telah sampai di depan pintu mobil Bara yang mewah. Bagaimana tidak, mobil pribadi dengan merek Porsche 911 berwarna hitam menjadi andalan Bara ketika ingin berpergian.
Mobil sport ikonik dari Jerman yang terkenal dengan desain khas, performa tinggi, dan mesin rear-engine (mesin di belakang) yang legendaris, berevolusi dari model klasik berpendingin udara menjadi teknologi modern dengan berbagai varian seperti Carrera, Targa, Turbo, dan GT3 untuk berbagai kebutuhan, dari harian hingga balap ekstrem.
"Yaa, ampun ... mobil ini bagus sekali. Walaupun aku tidak begitu mengerti mobil, tapi kurasa ini adalah mobil yang mahal," gumam Anya bermonolog dalam hati. Ia terpana merasa kaget saat melihat dirinya berada di depan mobil mewah seperti ini.
"Kenapa diam? Cepat masuk," kata Bara, yang membuat Anya merasa heran kini menatapnya. Kening Anya mengkerut sebelum melihat tangannya yang masih di pegang Bara terus.
"Bagaimana aku bisa masuk, jika kamu memegang tangan ku terus?" oceh Anya, yang sekarang malah merasa kesal dengan sifat Bara yang sering lupa.
"Hm?"
Karena merasa malu, Bara langsung dengan cepat melepaskan genggamannya. Ia membuang pandangannya karena tidak tahu harus berkata apa.
Bara berjalan masuk lebih dulu meninggalkan Anya yang masih berdiri dengan perasaan malunya. Bara membukakan pintu mobil Anya dari dalam. Lalu fokus mengarahkan pandangannya ke depan kaca mobil.
"Hmm ..." kata Anya, menggeleng-gelengkan kepalanya seraya membuang nafas pendek sebelum masuk kedalam mobil dan duduk di sebelah Bara yang sudah siap mengemudi.
•••
Di dalam mobil. Tepatnya ketika Anya dan Bara sedang bersama menuju ke perusahaan Ara Tech. Perusahaan besar yang berjalan di bidang teknologi.
Anya duduk di samping Bara yang sedang mengemudi. Dengan perasaannya yang masih cemas dan gelisah, Anya perlahan menoleh ke Bara.
"Aku ... masih merasa gugup saat ingin wawancara seperti ini," ungkap Anya. Menggenggam erat baju kemeja putih panjang yang di gulung tanggung ke siku.
Sekilas Bara memperhatikan Anya. Lalu kembali fokus menyetir mobilnya.
"Kamu hanya harus menjawab apa yang di tanyakan."
Saat tangan Anya berada di pangkuannya, Bara salah memegang Gear Selector. Ia malah memegang tangan Anya tanpa sadar.
Deg! Jantung Anya sempat berhenti beberapa detik.
"Hm?"
Anya yang merasa kaget, sontak langsung melepaskan tangannya menjauh dari tangan Bara yang tidak sengaja menyentuh punggung telapak tangannya.
"Ah ... maaf! Aku tidak sengaja," ucap Bara dengan cepat. Muncul sedikit kepanikan di wajahnya sebelum kembali fokus menyetir. Bara takut Anya berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
Anya menggenggam kedua tangannya sendiri. Meletakkannya di depan dada sambil menatap Bara sekilas.
"Ti-tidak ... apa-apa," ucap Anya kikuk. Merasa canggung dengan situasinya saat ini. Bagaimana tidak, tangan mereka baru saja bersentuhan secara tidak langsung tanpa sadar. Membuat Anya menjadi gugup.
Bara langsung kembali mentralkan ekspresinya. Fokus dengan setirnya agar tidak terjadi hal-hal yang membuatnya celaka.
"Setelah tiba di perusahaan. Aku ingin minta tolong ..." kata Bara, menggantungkan kalimatnya ketika Anya sedang memperhatikan.
"Hmm ... minta tolong?"
"Apa?" tanya Anya, dengan ekspresi polos dan lugunya sebagai kepribadian Anya.
"Tolong panggil saya pak Bara. Agar tidak menimbulkan pertanyaan aneh yang tidak inginkan," jelas Bara. Memberitahu Anya tanpa melihatnya karena fokus menyetir.
"Ah, itu ... baik. Ba—"
"Maksudku pak Bara."
Hampir saja Anya salah menyebut. Padahal, Anya baru saja di beritahu. Walaupun tidak tahu apa maksudnya, hal itu sempat membuat Anya bingung.
Bara sekilas melirik Anya, menarik nafas pendek dan mengeluarkannya secara pelan.
Huu ...
"Kenapa dia mendadak ingin di panggil pak? ... padahal, dari kemarin aku langsung menyebut namanya tidak mengapa," gumam Anya. Berpikir keras karena kepolosan yang ia miliki dan tidak tahu apa-apa.
Anya kembali fokus melihat jalanan di depan kaca. Begitu juga Bara yang fokus menyetir. Tidak ada lagi obrolan yang terjadi diantara mereka. Setelah situasi canggung singkat yang terjadi barusan.
Bersambung ...