NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
​Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
​Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Pedang Fana Pencabut Nyawa

​Hutan Bayangan mendadak terasa lebih sunyi. Angin yang berhembus seakan membeku saat aura membunuh yang sangat pekat menguar dari tubuh Lin Chen.

​Namun, ketiga tentara bayaran Taring Darah itu justru terdiam sejenak sebelum meledak dalam tawa yang meledak-ledak. Bagi mereka, ancaman dari seorang pemuda kurus berwajah pucat yang baru berada di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 3 terdengar seperti lelucon paling lucu yang pernah mereka dengar.

​"Mati bunuh diri? Hahaha! Bos, apa anak ini kehilangan akal sehatnya karena ketakutan?" ejek salah satu tentara bayaran di sebelah kiri sambil menghunus golok besarnya.

​Pria berwajah codet itu menyeringai kejam. "Bocah bodoh yang tidak tahu luasnya langit dan bumi. Potong kedua kakinya, lalu bawa kepalanya padaku!"

​Mendapat perintah, kedua tentara bayaran di sisi kiri dan kanan langsung melesat secara bersamaan. Tubuh mereka memancarkan Qi tingkat 3 yang ganas, mengayunkan senjata mereka dengan niat untuk melumpuhkan Lin Chen dalam satu gerakan.

​Lin Chen hanya menghela napas tipis. Mata gelapnya menatap kedua orang itu dengan pandangan kasihan.

​"Kalian yang memilihnya."

​Sring!

​Pedang besi berkarat di pinggang Lin Chen akhirnya tercabut dari sarungnya. Senjata itu hanyalah pedang fana berkualitas rendah yang tidak memiliki ukiran formasi apa pun, namun begitu berada di tangan mantan Kaisar Pedang, besi rongsokan itu bertransformasi menjadi pusaka dewa kematian.

​Lin Chen tidak menggunakan teknik pedang tingkat dewa, karena tubuhnya belum mampu menopangnya. Ia hanya menggunakan teknik dasar: Tebasan Horisontal.

​Wush!

​Sebuah kilatan cahaya perak melengkung membelah udara. Kecepatannya melampaui batas pandangan manusia biasa. Tidak ada suara benturan senjata, tidak ada ledakan Qi yang heboh. Hanya ada keheningan yang mematikan.

​Dua tentara bayaran yang sedang melayang di udara itu tiba-tiba kaku. Senjata mereka terlepas dari genggaman. Mereka mendarat di tanah dengan posisi berdiri, namun mata mereka membelalak ngeri.

​Sedetik kemudian, sebuah garis merah tipis muncul di leher mereka berdua secara bersamaan. Darah segar menyembur keluar bagai air mancur, dan kedua kepala itu menggelinding jatuh ke tanah berlumpur.

​Hanya butuh satu ayunan pedang fana untuk mencabut dua nyawa.

​Senyum kejam di wajah pria bercodet seketika membeku. Matanya nyaris melompat keluar dari rongganya. Ia adalah kultivator Ranah Kondensasi Qi Tingkat 4 yang telah melalui ratusan pertempuran hidup dan mati, namun ia bahkan tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana pedang pemuda itu bergerak!

​"T-teknik pedang macam apa itu?! Siapa kau sebenarnya?!" pria codet itu berteriak, suaranya kini bergetar hebat. Rasa percaya dirinya hancur lebur digantikan oleh teror murni.

​"Orang mati tidak perlu tahu nama tuannya," jawab Lin Chen dingin. Ia melangkah perlahan mendekati pria itu. Ujung pedang besinya meneteskan darah, seirama dengan detak jantung sang pemimpin tentara bayaran.

​Mengetahui ia tidak bisa melarikan diri dari monster bertopeng pemuda ini, pria bercodet itu menggertakkan giginya. Ia menyalurkan seluruh Qi Tingkat 4 ke dalam belati beracunnya.

​"Mati kau, Iblis Kecil! Sabetan Taring Berdarah!"

​Pria itu menerjang maju dengan kekuatan penuh. Bayangan belatinya membelah menjadi tiga, mengincar jantung, tenggorokan, dan mata Lin Chen sekaligus. Ini adalah teknik bela diri tingkat fana kelas menengah, jurus andalan yang selalu menyelamatkan nyawanya.

​Namun, di mata Lin Chen, serangan itu penuh dengan celah sebesar gerbang kota.

​Lin Chen hanya memutar pergelangan tangannya. Pedang besinya bergetar dan melesat maju menyongsong serangan tersebut.

​Tring! KRAK!

​Belati beracun yang terbuat dari baja hitam itu patah menjadi dua bagian seketika saat bertabrakan dengan ujung pedang Lin Chen yang telah dilapisi Sutra Pedang Kehampaan. Tanpa berhenti sedikit pun, pedang besi fana itu terus meluncur maju dan menembus dada pria bercodet itu, menancap tepat di jantungnya hingga menembus punggung.

​Pria itu memuntahkan darah segar. Matanya menatap ketidakpercayaan ke arah dadanya sendiri.

​Lin Chen menarik pedangnya dengan satu gerakan bersih. Tubuh pria itu ambruk ke tanah, menyusul kedua anak buahnya menuju neraka.

​Menyingkirkan darah dari bilah pedangnya dengan sekali kibasan, Lin Chen segera menggeledah tubuh ketiga korbannya. Di hutan liar ini, hukum rimba berlaku: yang kuat memangsa yang lemah.

​Hasil Jarahan:

​3 Kantong Penyimpanan tingkat rendah.

​80 Batu Spiritual.

​Berbagai tanaman obat penambah darah.

​Sebuah peta perkamen kuno yang sudah usang.

​Lin Chen membuka peta perkamen tersebut. Peta itu menunjukkan wilayah terdalam Hutan Bayangan, dan ada sebuah tanda silang merah yang digambar di tengah-tengah ngarai yang dikelilingi tebing. Di bawah tanda itu tertulis samar: Mata Air Roh Es.

​"Mata Air Roh Es?" Alis Lin Chen terangkat, menunjukkan sedikit ketertarikan. "Mata air yang terbentuk dari kondensasi energi murni elemen air dan es selama ratusan tahun. Sangat cocok untuk mendinginkan meridian yang terlalu panas akibat kultivasi Sutra Pedang Kehampaan."

​Tanpa membuang waktu, Lin Chen menyimpan barang-barang tersebut dan melesat ke arah yang ditunjukkan oleh peta. Ia bertekad untuk menghabiskan sisa waktunya sebelum Ujian Evaluasi Tahunan di sekitar mata air tersebut.

​Waktu berlalu dengan cepat. Satu bulan kemudian.

​Hutan Bayangan bagian dalam telah menjadi ladang pembantaian. Berbagai binatang buas tingkat 3 hingga tingkat 5 ditemukan mati dengan luka sayatan pedang yang sangat bersih dan rapi. Para tentara bayaran di sekitar kota bahkan mulai menyebarkan rumor tentang sesosok "Hantu Pedang" yang berkeliaran di dalam hutan.

​Di dasar sebuah ngarai yang tersembunyi, seorang pemuda bertelanjang dada sedang duduk bersila di tengah-tengah kolam kecil yang airnya berwarna biru es. Udara di sekitarnya begitu dingin hingga membentuk embun beku di bebatuan sekitarnya.

​Pemuda itu perlahan membuka matanya. Sebuah pilar Qi yang kuat meledak dari tubuhnya, menghancurkan bebatuan es di sekeliling kolam.

​Lin Chen berdiri. Otot-ototnya kini terbentuk sempurna, tidak terlalu besar, namun terlihat padat dan menyimpan tenaga ledak yang mengerikan. Luka-luka kecil akibat pertarungan selama sebulan terakhir telah hilang tak berbekas, digantikan oleh kulit yang sekeras tembaga.

​Ia telah mencapai Ranah Kondensasi Qi Tingkat 5!

​"Mata Air Roh Es ini benar-benar membantu memperkuat fondasi fisikku. Sekarang, meridianku sudah cukup tangguh untuk menampung aliran Sutra Pedang Kehampaan tanpa risiko meledak," gumam Lin Chen puas.

​Ia mengenakan kembali jubah lamanya dan mengambil pedang besinya yang tergeletak di tanah. Bilah pedang fana itu kini dipenuhi retakan dan kerutan. Senjata biasa tidak bisa lagi menahan tekanan Qi murninya dalam waktu lama.

​"Sudah waktunya untuk kembali," ucap Lin Chen sambil melihat ke arah langit timur, tempat Kota Daun Musim Gugur berada. Sudut bibirnya melengkung ke atas, membentuk senyuman dingin yang sangat berbahaya.

​"Keluarga Lin... Ujian Evaluasi Tahunan. Lin Tian, aku harap kau sudah menyiapkan lehermu."

​Hari ini adalah hari di mana seluruh petinggi dan anggota Keluarga Lin berkumpul di alun-alun utama. Hari di mana "Sampah Terbesar" akan secara resmi mengguncang langit Benua Langit Biru untuk pertama kalinya.

1
Eddy S
kecewa cerita tanpa kelanjutan episode nya
Anonim: sabar lah bos ya kali langsung tamat
total 1 replies
Eddy S
pasti cerita ga ada kelanjutan nya 🤣🤣🤣cape deh
Albiner Simaremare
lanjut thor
Zero_two
👍👍👍👍
Zero_two
Dewi teratai udah terpesona sama 'kekuatan' terpendam si naga hitam kayaknya/Doge//Doge//Doge//Blush/
Romansah Langgu
Mantap thor,,, bar bar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!