transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.
#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
reputasi ancur, doni remuk
Dua wanita di pojok masih saling cerita, cekikikan kayak kuntilanak abis dapet pesugihan. Cafe mahal vibes-nya malah lebih mirip warung pecel lele pinggir jalan jam 11 malem. Yang satu dress navy elegan, yang satu merah cabe. Kontras, tapi sama-sama berisik.
Pelayan Le Blanche udah 3 kali ngelirik sambil ngelap gelas. Batinnya: _Ini tamu apa preman pasar?_
Selang setengah jam, mereka nunggu. Mojito tinggal es batu. Truffle fries udah dingin. Tapi sabar. Mangsa belum datang.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang.
"Sayang."
Suaranya sok maskulin. Berat. Dibikin serak-serak basah kayak vokalis band. Spontan bikin semua orang noleh, termasuk Vivian dan Silvi yang duduk di pojok.
Doni beneran dateng. Pintu cafe kebuka lebar. Kayak ada efek cahaya dari belakang, spotlight Tuhan, yang bikin Doni jadi pusat perhatian. Sayang efeknya kebanting sama bau minyak wangi murahan yang nusuk duluan.
Dadanya busung. Jalannya sombong. Dagu diangkat 45 derajat. Seolah tahu apa yang Vivian akan lakukan siang ini: dia pasti bakal minta maaf, sujud-sujud, nangis-nangis, buat balikan.
Terbayang di pikirannya, kali ini dia gak mau maafin Vivian dengan mudah. Dia bakal tolak. Bikin Vivian nangis di lantai, nyium sepatunya. Baru dia angkat dagu Vivian pake jari, terus bilang, "Telat, Sayang." Adegan sinetron banget.
Itu baru di pikirannya. Apa bakal jadi kenyataan? Kita lihat.
Vivian sama Silvi melongo. Bukan kagum. Jijik.
"Najis, bajunya masih yang tadi pagi," batin Vivian. Kemeja putih yang udah lecek, kancing atas kebuka tiga, keteknya ada bekas keringet. _Gak mandi lu, Don?_
Sementara Silvi, sambil menahan tawa sampe bibirnya gemeter. "Pria jamet ini lagi," batin Silvi tak kalah nyengir. "Jaket kulit gak ada, motor kredit nunggak, gaya selangit. Pantas Vivian mau putus, jijik liatnya. Gue aja yang liat mau muntah."
Langkahnya mantap langsung ke arah meja pojok. Klek. Klek. Klek. Suara pantofelnya nyaring. "Sayang, apa kamu sudah tau kesalahanmu?" tanya pria itu sambil membetulkan kerah kemejanya. Gayanya sok bijak. Sok ganteng.
Vivian mengernyitkan dahi. Jijik. Mual. Tapi harus dia tahan karena punya rencana. Dia tarik napas, pasang topeng "Vivian bucin" yang udah dia simpen di gudang.
"Iya sayang," ucapnya, suaranya dilemah-lembutin. Geli sendiri dengernya. "Aku minta maaf. Aku khilaf. Duduklah di sini." Sambil ngomong, dia nepuk kursi yang ada tepat di sampingnya. Deket banget. Nempel.
Doni senyum menang. _Tuh kan bener._ Dia duduk. Langsung.
Vivian langsung ke mode manja level dewa. Dia meluk lengan Doni, gelendotan, kepalanya dia senderin di bahu Doni. Padahal hatinya menggerutu jijik, kulitnya merinding, bulu kuduknya berdiri semua. _Ya Allah, bau keteknya. Tadi pagi belum mandi emang._
Sementara Silvi cuman senyum iseng di seberang mereka. Silang kaki, ngaduk mojito yang udah jadi air putih. Matanya jelalatan ngeliatin jam. Menunggu waktu yang pas. _Sabar... sabar... 3... 2... 1..._
Selang beberapa menit, pas Doni udah mulai elus-elus rambut Vivian sambil bilang, "Nah gitu dong, Sayang. Harusnya dari dulu nurut," pintu cafe kebuka lagi.
Ting.
Masuk 1 wanita cantik. Mukanya galak. Dandan menor. Tapi yang bikin semua orang salfok: perutnya besar. Hamil 7 bulan, minimal.
Tangannya mengepal. Matanya nyalak. Dia jalan cepet ke arah meja pojok. Targetnya jelas.
"Sayang, kamu ngapain di sini?" desisnya. Suaranya dingin, nusuk. Langsung narik Doni dari rangkulan Vivian. Jambak. "Kamu janji mau anterin gue USG hari ini!"
Doni kaget. Kayak kesetrum. "Sinta?! Kenapa kamu bisa ada di sini?" suaranya terbata. Mukanya pucet. Keringet dingin langsung ngucur.
Vivian cuman senyum. Tipis. Misterius. _Drama udah mulai. Duduk manis, Vi. Nonton._
Di novel, Doni itu kelewat brengsek. Beberapa detik terakhirnya sebelum meninggal, dia ninggalin Vivian asli sambil gandeng wanita yang gendong anak. Dia selingkuh di mana-mana. Dan inilah dia. Pemeran utamanya.
Sinta.
"Harusnya aku yang nanya!" Sinta bentak. "Kamu masih sama wanita ini?! Doni, aku udah hamil anak kamu! 7 bulan! Tuh liat perut gue! Gimana bisa kamu khianatin aku?! Kamu bilang mau tanggung jawab!"
PLAK!
Sinta mendaratkan tamparan pedas ke wajah Doni. Kenceng. Bunyinya nyaring. Kepala Doni sampe noleh. Bekas telapak tangan langsung merah di pipinya.
Satu cafe langsung diem. Semua sendok berhenti. Semua HP diangkat, rekam.
Vivian yang tau ini bakal kejadian langsung ikut drama. Dia pasang muka syok. Matanya dia bikin berkaca-kaca. Bibirnya gemeter. Akting terbaik.
"Doni, kamu!!!" ucapnya, suaranya parau kayak mau nangis. "Jadi selama ini kamu khianati aku?! Kamu bilang cuma aku satu-satunya?! Kamu bilang aku calon ibu dari anak-anakmu?!"
PLAK!
Tanpa ba-bi-bu, Vivian langsung mendaratkan tamparan di pipi Doni satu lagi. Sisi yang masih mulus. Kenceng. Pake tenaga dalam. Pake dendam 2 tahun Vivian asli.
"Aku mau putus!" ucap Vivian, teriak. Terus dia tambah lagi.
PLAK! Lebih kenceng.
Rasanya puas. Beban di dadanya kayak hilang separo. Sakit hati Vivian asli sedikit terbalas.
Doni megangin kedua pipinya. Bengong. Otaknya nge-lag.
"Aku mau kamu tanggung jawab, Don!" Sinta makin emosi. Dia narik kerah kemeja Doni. "Anak lu nih! Mau lu buang?!"
PLAK! PLAK!
Sinta nampar lagi wajah Doni makin kenceng sampai Doni tersungkur jatuh dari kursi. Brak. Lututnya nyium lantai marmer.
Belum selesai.
Silvi juga ikut campur. Dia udah gatel dari tadi. Dengan anggun dia berdiri, nyabut tas LV merahnya dari meja. Terus dia lompat kecil, nginjek Doni yang lagi nyungsep pake heels-nya.
"Bajingan!" teriaknya semangat. "Kamu bilang setia sama sahabatku?! Kamu bilang Vivian satu-satunya?! Ternyata lu kontainer berjalan, hah?!"
BUG. BUG. BUG.
Silvi nyerang Doni pake tas LV mahalnya. Digebuk-gebukin ke punggung Doni. Harga tas 80 juta, dipake buat mukul benalu.
Bikin Doni gak bisa berkutik lagi. Dia cuma bisa nutupin kepala, "Ampun! Ampun! Salah paham!"
Salah paham matamu.
Sebelum Doni benar-benar bangkit, hening sekejap. Terus...
Ting. Ting. Ting.
Pintu cafe kebuka 3 kali. Berurutan.
Masuk 3 wanita. Cantik-cantik. Dandan menor. Dan... perutnya besar semua. Hamil. Ada yang 5 bulan, 6 bulan, 8 bulan.
Mereka jalan bareng, kayak geng. Target sama. Meja pojok.
"Sayang~" seru mereka bebarengan. Suaranya nyaring, cempreng, kompak.
Doni, Sinta, bahkan Vivian melongo. Kaget. Syok. Gak nyangka.
Doni noleh. Matanya mau copot. "L-Lia? M-Mel? Ti-Tika? Kalian... ngapain di sini?"
Silvi yang dari tadi cuman senyum sambil elus-elus tasnya yang lecet, akhirnya buka suara. "Bagus kan rencanaku?" batinnya sambil tersenyum licik. Dia kedip ke Vivian.
Dia tahu semuanya. Yang Vivian gak tau, bukan cuman Sinta. Doni nyimpen 3 cewek lain. Selama 2 tahun. Silvi udah nyelidikin dari sebulan lalu. Demi sahabatnya.
"Jadi... semua hamil anak kamu, Don?" tanya Silvi, polos. Tapi nadanya ngeledek. "Wah, hebat. Sekali dayung 4 pulau terlampaui. Produktivitas lu tinggi juga."
Vivian sama Silvi pelan-pelan keluar dari kerumunan. Mundur. Ngasih panggung. Sambil tertawa menang. Vivian bahkan belum bisa percaya adegannya semulus ini, tapi dia acungin jempol buat Silvi. _Kerja bagus. Lu lebih iblis dari gue._
Suasana cafe yang adem ayem, yang tadinya wangi kopi, jadi ricuh. Kayak pasar. Kayak sidang tilang.
4 wanita hamil bergantian namparin Doni. PLAK! PLAK! PLAK! PLAK! "Dasar buaya!" "Lele lu!" "Monyet!" "Biadab!"
Doni terkapar di lantai. Mukanya udah gak berbentuk. Merah, biru, lecet. Bibirnya jontor. Kemeja putihnya sobek. Kalung emasnya putus. Dia cuma bisa teriak, "AMPUN! GUA KHILAF! JANGAN DI VIDEO!"
Tapi telat. Satu cafe udah rekam. Besok pasti viral. Judulnya: "Cowok Mokondo Dikeroyok 4 Bumil di Cafe Mewah".
Vivian ketawa puas. Lepas. Bahagia. Bukan cuman mutusin hubungan, tapi bikin reputasi Doni jatuh ke comberan. Hancur. Gak bakal bisa angkat muka lagi se-Jakarta.
Dia ngerasa enteng. Beban 2 tahun, beban Vivian asli, hilang semua.
Di pintu cafe, dia sama Silvi tos. Plok.
"Misi selesai," kata Silvi, nyengir.
Vivian ngangguk. "Lu emang sahabat terbaik sedunia."
Mereka jalan keluar cafe dengan kepala tegak, ninggalin Doni yang masih dikeroyok, masih dihujat, masih direkam.
Di luar, Vivian hirup napas dalam. Lega.
Satu masalah beres. Tinggal keluarga Wijaya yang harus diselametin.
like komen ya besti🥰