Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.
Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.
Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.
Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.
Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKAN SOAL AZURA
Danang berjalan mendekat, langkahnya pelan dan tidak lagi menggebu-gebu seperti kemarin. Ia berdiri di samping Mira, ikut menatap gerbang rumah yang kini telah tertutup rapat. Keheningan setelah keramaian kakak-kakaknya pulang membuat suasana terasa lebih emosional.
Danang menoleh, menatap adik bungsunya itu dengan sorot mata yang hangat namun tetap tegas.
"Kamu sekarang tau, kan, kamu nggak sendirian?" tanya Danang rendah.
Mira menunduk, memainkan ujung hijabnya, namun kali ini ia tidak menangis. Ia hanya mengangguk pelan.
"Selama ini mungkin kamu pikir kami terlalu ikut campur, atau Mas terlalu galak sama pilihan kamu," lanjut Danang sambil menepuk pundak Mira. "Tapi itu semua karena kami tau nilai kamu, Dek. Kamu itu berharga. Sepuluh tahun itu waktu yang lama, tapi bukan berarti hidup kamu selesai karena satu laki-laki yang nggak punya keberanian."
Danang menarik napas panjang, menatap langit siang itu. "Mas Darma, Mas Danu, Damar, apalagi Mas... kami nggak akan pernah biarkan kamu jatuh tanpa ada yang menangkap. Jadi, mulai sekarang, tolong jangan merasa harus menanggung semuanya sendiri. Kalau kamu sakit, bilang. Kalau kamu marah, teriak."
Mira menoleh ke arah Danang, mencoba tersenyum meskipun tipis. "Makasih ya, Mas. Maafin Mira kalau selama ini keras kepala."
Danang berjalan mendekat, langkahnya pelan dan tidak lagi menggebu-gebu seperti kemarin. Ia berdiri di samping Mira, ikut menatap gerbang rumah yang kini telah tertutup rapat. Keheningan setelah keramaian kakak-kakaknya pulang membuat suasana terasa lebih emosional.
Danang menoleh, menatap adik bungsunya itu dengan sorot mata yang hangat namun tetap tegas.
"Kamu sekarang tau, kan, kamu nggak sendirian?" tanya Danang rendah.
Mira menunduk, memainkan ujung hijabnya, namun kali ini ia tidak menangis. Ia hanya mengangguk pelan.
"Selama ini mungkin kamu pikir kami terlalu ikut campur, atau Mas terlalu galak sama pilihan kamu," lanjut Danang sambil menepuk pundak Mira. "Tapi itu semua karena kami tau nilai kamu, Dek. Kamu itu berharga. Sepuluh tahun itu waktu yang lama, tapi bukan berarti hidup kamu selesai karena satu laki-laki yang nggak punya keberanian."
Danang menarik napas panjang, menatap langit siang itu. "Mas Darma, Mas Danu, Damar, apalagi Mas... kami nggak akan pernah biarkan kamu jatuh tanpa ada yang menangkap. Jadi, mulai sekarang, tolong jangan merasa harus menanggung semuanya sendiri. Kalau kamu sakit, bilang. Kalau kamu marah, teriak."
Mira menoleh ke arah Danang, mencoba tersenyum meskipun tipis. "Makasih ya, Mas. Maafin Mira kalau selama ini keras kepala."
Danang terkekeh pendek, lalu mengacak puncak kepala adiknya dengan gemas. "Keras kepala itu turunan, kita semua sama. Sudah, masuk sana. Temani Ibu."
Bukannya berjalan menuju mobil seperti kakak-kakaknya yang lain, Danang justru melangkah masuk kembali ke dalam rumah. Ia memang tidak ke mana-mana; sebagai anak kedua, Danang masih tinggal di rumah itu bersama Ayah, Ibu, dan Mira. Kehadirannya di rumah inilah yang selama ini menjadi "penjaga" utama bagi Mira dari jarak dekat.
"Mas mau masuk kamar dulu, mau istirahat sebentar. Tapi ponsel Mas aktif terus," ucap Danang sambil berjalan menuju kamarnya yang terletak tidak jauh dari ruang tengah. "Kalau si pengecut itu kirim pesan atau telepon lagi, jangan dibalas. Kasih tahu Mas, biar Mas yang urus lewat telepon."
Mira menatap punggung kakaknya yang menghilang di balik pintu kamar. Perasaan lega menyelimutinya. Mengetahui bahwa Mas Danang hanya berjarak beberapa meter darinya—selalu ada di rumah yang sama—membuat Mira merasa benar-benar terlindungi.
Rumah yang tadinya riuh kini kembali tenang, namun tidak terasa sepi. Mira menarik napas dalam, merasakan kedamaian yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia melangkah menuju dapur untuk menemani Ibu, sadar bahwa ia tidak perlu lagi menanti jemputan atau kabar dari orang yang salah. Penjaganya sudah ada di sini, di bawah atap yang sama.
Mira berjalan pelan menuju kamarnya. Ia ingin merebahkan diri sejenak, mencoba mencerna semua emosi yang menguras tenaganya sejak kemarin. Namun, saat ia mendekat ke jendela dan menyibak sedikit gordennya, jantungnya kembali mencelos.
Di sana, di seberang pagar rumahnya, Nayaka masih ada.
Pria itu tidak pulang. Ia menyandarkan tubuhnya di kap mobil, menunduk dalam dengan bahu yang tampak merosot layu. Dari jarak ini, Mira bisa melihat betapa berantakannya pria yang selama sepuluh tahun ini selalu ia puja. Nayaka terlihat hancur, sendirian, dan kehilangan arah.
Hati Mira berdenyut nyeri. Ia tidak bisa berbohong bahwa rasa cintanya tidak hilang dalam semalam. Di satu sisi, ia kecewa luar biasa karena Nayaka tidak membelanya. Namun di sisi lain, ia tahu betul bahwa Nayaka juga korban. Korban dari dominasi ibunya yang terlalu kuat, korban dari ketidakberdayaan yang ia pelihara sendiri selama bertahun-tahun atas nama bakti.
"Kamu juga sakit, kan, Nay?" batin Mira perih.
Ia tahu Nayaka tidak merencanakan kehadiran Azzura. Ia tahu Nayaka terkejut. Tapi Mira juga sadar, menjadi "korban" tidak lantas memberi Nayaka hak untuk mengorbankan harga diri Mira.
Mira memegang dadanya yang sesak. Ia ingin sekali lari ke depan, membuka pagar, dan memeluk pria itu untuk terakhir kalinya. Namun, bayangan tatapan dingin Ayah dan ultimatum Mas Danang di kamar sebelah menahannya.
Ia teringat kata-kata Mas Danang tadi: Kamu berharga.
Jika ia turun sekarang, ia akan kembali ke lingkaran setan yang sama. Ia akan kembali menjadi wanita yang "menunggu" dan "dimaklumi".
Dengan tangan bergetar, Mira perlahan melepaskan gorden itu hingga tertutup rapat. Ia membelakangi jendela, merosot duduk di lantai, dan membekap mulutnya agar isakannya tidak terdengar sampai ke kamar Mas Danang.
Mira memilih untuk berhenti. Bukan karena tidak lagi cinta, tapi karena ia sadar bahwa cinta saja tidak cukup untuk menghadapi dunia yang tidak merestui mereka. Biarlah Nayaka di sana, menghadapi konsekuensi dari diamnya sendiri, sementara Mira harus mulai belajar bernapas tanpa bayang-bayang pria itu.
Keesokan harinya, Mira mencoba kembali ke rutinitas. Meskipun hatinya masih terasa berat, ia tidak ingin terus terpuruk di dalam kamar. Baginya, bekerja adalah satu-satunya cara untuk mengalihkan pikiran dari bayang-bayang Nayaka dan ruang tamu yang mencekam itu.
Siang itu, saat jam istirahat baru saja dimulai, seorang petugas keamanan menghampiri meja kerjanya.
"Mbak Damira, ada yang cari di depan," ucap satpam itu dengan nada sungkan.
Mira mendongak, jemarinya yang sedang mengetik seketika membeku. "Siapa ya, Pak? Teman kantor?"
"Bukan, Mbak. Katanya... teman lama. Orangnya nunggu di lobi, kelihatannya sudah dari tadi," jawab Pak Satpam.
Mira menarik napas panjang. Ia sudah bisa menebak siapa yang datang. Tidak mungkin Mas Danang, karena kakaknya itu pasti langsung masuk tanpa perlu lapor satpam. Dan tidak mungkin kakak-kakaknya yang lain karena mereka sudah kembali ke kota masing-masing.
Dengan langkah ragu, Mira berjalan menuju lobi. Dari kejauhan, ia melihat punggung seorang pria yang sangat ia kenali. Nayaka berdiri di sana, mengenakan kemeja yang sama dengan yang ia pakai kemarin, seolah ia tidak sempat pulang atau bahkan tidak peduli lagi dengan penampilannya.
Begitu mendengar suara langkah kaki Mira, Nayaka berbalik. Matanya yang merah dan cekung menunjukkan bahwa ia tidak tidur sama sekali.
"Mir..." suaranya serak, nyaris berbisik.
Mira berhenti beberapa langkah di depan pria itu. Ia tidak ingin terlalu dekat. Aroma parfum Nayaka yang biasanya menenangkan, kini justru terasa menyesakkan.
"Mau apa lagi, Nay? Mas Danang bisa tahu kalau kamu ke sini," ucap Mira, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil meski hatinya kembali bergejolak.
Nayaka melangkah maju, mencoba meraih tangan Mira, namun Mira segera menyembunyikan tangannya di balik punggung.
"Aku sudah bicara sama Mama, Mir. Aku... aku bilang kalau aku nggak mau sama Azzura," ucap Nayaka cepat, seolah takut Mira akan pergi sebelum ia selesai bicara. "Aku minta maaf soal kemarin. Aku bodoh, aku diam karena aku bingung, aku nggak tahu Mama bakal senekat itu."
Mira menatap Nayaka dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu kaget, aku tahu. Kamu juga korban rencana Mamamu, aku tahu itu, Nay. Tapi yang bikin aku sakit bukan karena Azzura ada di sana."
Mira menjeda kalimatnya, menelan ludah yang terasa pahit.
"Yang bikin aku berhenti adalah saat kamu melihat aku dihina, saat aku dianggap nggak ada, kamu lebih takut kehilangan restu Mamamu daripada kehilangan aku yang sudah nunggu kamu sepuluh tahun. Di situ aku sadar... tempatku memang bukan di sampingmu."