NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Empat hari, selama itu hatiku hancur, melihat wajahnya pucat, berkali-kali muntah, dan kuperhatikan hanya sedikit yang mampu dia makan. Aku hanya berdiri dari jauh, memastikan dia tak terjatuh. Sakit, tatkala melihatnya seperti itu aku tak bisa mendekapnya, memberikan pelukan, atau setidaknya menggenggam erat tangannya seraya berkata “Sedikit lagi, Ghea. Bertahanlah!”. Aku tak bisa melakukan itu semua. Beruntungnya selama dua kali naik kapal dan 3 kali naik bus aku tak melihat asmanya kambuh.

Akhirnya setelah perjalanan panjang, aku menyadari bahwa Yogyakarta tidak pernah terasa sedingin ini. Aku memarkir sepeda motor tua milikku di gang sempit, sekitar lima puluh meter dari rumah Ghea. Rumah itu tampak tenang, lampu ruang tamu masih menyala, memancarkan bias kuning yang hangat ke jalanan depan.

Ini adalah hari ketiga sejak perjalanan dari Tora-tora. Aku tidak pulang. Aku menetap di sini, di sebuah kamar sewaan murah yang jaraknya cukup untuk memantau, tapi dekat untuk bereaksi.

Taktikku sederhana, Pola yang tidak berpola. Aku tidak pernah memantau dari titik yang sama lebih dari dua jam. Aku tahu, jika ada pengintai lain yang dikirim oleh sisa jaringan Marko, atau siapapun yang mungkin menyimpan dendam, mereka pasti akan melakukan pengamatan serupa. Jika aku menetap di satu titik, aku justru akan menjadi sasaran.

Aku menghabiskan waktu dengan berpindah-pindah. Terkadang aku duduk di warung kopi di seberang jalan, terkadang aku berjalan kaki menyusuri gang di belakang rumahnya. Aku mempelajari ritme rumah itu, pukul berapa Ghea membuka jendela ruang tamu pukul berapa dia akan keluar rumah, selalu mengecek kunci pintu dua kali, dan pukul berapa lampu teras menyala secara otomatis.

Aku mencatat semuanya di kepalaku, bukan di buku catatan. Buku catatan bisa ditemukan, ingatan adalah satu-satunya tempat yang aman.

Untuk memastikan rumah itu benar-benar aman, aku melakukan "uji penetrasi" kecil. Malam ini, aku sengaja mematikan sekring listrik di luar rumahnya agar dia keluar untuk mengecek. Aku bersembunyi di balik pohon besar di seberang jalan, memperhatikan apakah ada orang lain yang mendekat saat dia keluar.

Ghea keluar dengan wajah waspada, memegang ponsel di tangannya, mungkin bersiap menelepon polisi. Aku menahan napas. Jika ada orang asing yang muncul dari balik bayang-bayang, aku akan menghabisinya sebelum dia sampai di jangkauan Ghea.

Kosong. Hanya ada suara jangkrik dan lampu jalan yang berdesis.

Ghea kembali masuk setelah menyalakan sekringnya. Dia tidak curiga. Dia tidak tahu bahwa di balik pohon yang gelap, mantan kekasihnya sedang memastikan tidak ada satu pun orang asing yang berani mendekati pintunya.

Ada saat-saat di mana aku melihatnya duduk di sofa, menonton televisi sendirian. Kadang dia tampak menangis pelan, atau sekadar melamun menatap layar yang tidak dia perhatikan. Tanganku sering kali gatal ingin mengetuk pintu, ingin masuk dan berkata bahwa semuanya sudah berakhir, bahwa pria yang memburunya sudah tidak ada.

Tapi aku tidak bisa.

Jika aku muncul, kehadiranku justru akan membawa kembali bayang-bayang masa lalu yang kelam. Ghea pantas mendapatkan ketenangan, dan ketenangan itu tidak bisa dia dapatkan jika aku ada di sana sebagai pengingat akan kekerasan yang baru saja kulakukan.

Aku kembali ke motorku, menyalakan mesin dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Aku akan kembali besok pagi, sebelum fajar, untuk memulai siklus pengamatanku lagi.

Aku hanyalah penjaga yang tidak diharapkan. Aku adalah bayangan yang memastikan bahwa saat Ghea memejamkan mata, tidak ada mimpi buruk yang berani mendekat. Bagiku, itulah bentuk pengabdian terakhir.

Pengabdianku adalah menjaganya secara fisik dan kemudian aku juga akan menjaganya dari dunia digital. Jika aku adalah dinding fisik yang melindungi Ghea, maka di dunia digital, aku adalah kabut. Musuh-musuh seperti Marko, atau siapa pun yang menggantikannya, tidak akan datang dengan hanya mengetuk pintu. Mereka akan datang melalui metadata, alamat IP, dan histori pencarian.

Aku duduk di sebuah warnet kecil di pinggiran Yogyakarta, jauh dari jangkauan sinyal Wi-Fi rumah Ghea. Layar monitor memantul pada kacamata hitamku yang sengaja kupakai untuk meminimalkan pantulan cahaya.

Langkah pertamaku adalah memastikan Ghea tidak "terdeteksi". Aku sudah meretas, atau lebih tepatnya, melakukan social engineering halus, pada akun penyedia layanan internet rumahnya. Aku memanipulasi log aktivitas agar trafik data dari rumahnya terbaca sebagai traffic dari server anonim di luar negeri.

Bagi siapa pun yang mencoba melacak lokasi Ghea melalui ISP (Internet Service Provider), mereka hanya akan melihat koordinat acak yang melompat-lompat antara Singapura, Berlin, dan Tokyo.

Selain itu akan membuat umpan digital. Musuh membutuhkan titik masuk. Maka, aku menciptakan "titik masuk palsu". Aku mengunggah fragmen data lama milik Ghea, foto-foto tidak penting, catatan perjalanan usang, dan email cadangan yang sudah tidak terpakai, ke forum-forum dark web yang sering digunakan oleh pemburu informasi.

Aku menanamkan malware pelacak di dalam fragmen data tersebut. Sekarang, siapa pun yang mencoba mencari informasi tentang Ghea, justru akan memberikan identitas mereka kepadaku. Setiap kali ada alamat IP yang mengakses "umpan" tersebut, sistemku akan memberikan alarm. Aku tidak lagi bertahan; aku kini berbalik memburu pemburu.

Selanjutnya adalah pembersihan sisa-sisa. Aku mengakses akun media sosial Ghea. Aku tidak mengubah kata sandinya, itu akan membuatnya sadar dan panik. Sebaliknya, aku memperketat privacy setting ke level militer. Aku menghapus seluruh geotag dari foto-foto lama, membersihkan metadata yang menyimpan koordinat GPS, dan mematikan fungsi sinkronisasi awan (cloud sync) yang secara otomatis mencatat lokasi perangkat.

Aku membuat Ghea tampak "mati" di internet. Dia masih bisa menggunakan ponselnya, tapi dia tidak lagi meninggalkan jejak digital yang bisa ditarik oleh pelacak amatir maupun profesional.

Dan yang terakhir adalah monitoring konstan, Mataku menatap deretan baris kode yang berjalan cepat di layar hitam. Ini adalah custom script yang kutulis khusus untuk memonitor aktivitas mencurigakan di sekitar identitas digital Ghea. Jika ada query pencarian di mesin pencari yang menyertakan nama lengkap atau alamat rumahnya, sistemku akan langsung memblokir akses tersebut dan mengirimkan spoofed error kepada pihak pencari.

Aku menutup laptop, memastikan tidak ada file temporary yang tersisa di hard drive warnet ini. Aku keluar ke jalanan Yogyakarta yang mulai basah oleh gerimis.

Ghea mungkin sedang asyik membalas pesan di ponselnya di dalam rumah, tidak menyadari bahwa di luar sana, aku baru saja membangun benteng setinggi langit yang tak terlihat. Dia bebas berselancar, bebas berkomunikasi, tanpa sadar bahwa setiap langkah digitalnya telah kupagari dengan kerahasiaan total.

Bagi orang lain, Ghea adalah sosok yang mudah ditemukan. Bagiku, dia adalah rahasia yang terkunci rapat di dalam labirin digital yang hanya aku yang memegang kuncinya.

1
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!